NovelToon NovelToon
Ketika Hati Berubah Arah

Ketika Hati Berubah Arah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: Fina Indri

Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.

Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.

Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.

Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?

Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar Menyampaikan

Pagi itu, Almeera kembali duduk di bangku kelas seperti biasanya. Tidak ada acara kampus, tidak ada kesibukan kepanitiaan, hanya jadwal kuliah dan tugas yang menunggu untuk diselesaikan.

Di atas meja, Almeera membuka catatan yang sudah ia susun sejak malam sebelumnya.

Tugas kelompok yang diberikan dosen masih harus diselesaikan. Waktu pengumpulannya tinggal dua hari lagi.

Eliza yang duduk di sebelahnya melirik catatan Almeera.

“Sudah sampai mana tugasnya?” tanya Eliza.

“Bagian aku hampir selesai,” jawab Almeera.

“Tinggal dirapikan dan disesuaikan sama bagian yang lain.” lanjut Almeera.

Eliza mengangguk.

“Bagian yang lain sudah dikumpulkan semua?” tanya Eliza.

“Belum semuanya,” jawab Almeera.

Almeera sebenarnya sedikit khawatir. Bukan karena tugas itu terlalu sulit, tetapi karena ia tahu bagian setiap anggota saling berhubungan.

Kalau satu bagian terlambat, bagian lainnya juga akan ikut tertunda.

Setelah kelas selesai, Almeera dan Eliza langsung menuju perpustakaan. Beberapa anggota kelompok mereka sudah lebih dulu datang.

Mereka duduk mengelilingi sebuah meja dan membuka laptop masing masing.

Salah satu anggota kelompok menyerahkan hasil pekerjaannya.

“Maaf, bagian aku baru selesai,” ucap anggota kelompok itu.

Almeera melihat dokumen yang diberikan kepadanya.

“Tidak apa apa. Kita cek dulu bagian ini,” jawab Almeera.

Ia membaca beberapa paragraf dengan teliti.

Setelah beberapa saat, Almeera menemukan ada beberapa bagian yang belum sesuai dengan pembagian tugas sebelumnya.

“Bagian ini sebenarnya masuk ke pembahasan yang tadi dikerjakan oleh bagian lain,” ujar Almeera.

Anggota kelompok itu langsung melihat layar laptopnya.

“Oh iya, aku kira bagian itu masih termasuk tugas aku,” jawab anggota kelompok tersebut.

Almeera menarik napas pelan.

Dulu, mungkin ia akan langsung kesal dan mengatakan bahwa orang tersebut tidak memperhatikan pembagian tugas.

Namun sekarang Almeera mencoba menahan diri.

“Kalau begitu, bagaimana kalau bagian ini kita pindahkan saja?” tanya Almeera.

“Boleh. Terus bagian yang kosong bagaimana?” tanya anggota kelompok tersebut.

Almeera berpikir sebentar.

“Bagian kosongnya bisa kamu lanjutkan dari sumber yang ini. Nanti aku bantu cek supaya pembahasannya tetap nyambung,” jawab Almeera.

Eliza tersenyum kecil melihat Almeera.

Setelah anggota kelompok itu kembali mengerjakan tugasnya, Eliza mendekat sedikit.

“Sekarang kamu beda,” ucap Eliza.

Almeera menoleh.

“Beda bagaimana?” tanya Almeera.

“Dulu kalau ada yang bikin tugas kelompok berantakan, kamu biasanya langsung ngomel,” jawab Eliza.

Almeera tertawa kecil.

“Jangan diingat ingat,” ucap Almeera.

Eliza ikut tertawa.

“Sekarang kamu lebih sabar,” kata Eliza.

Almeera kembali melihat laptopnya.

“Mungkin aku cuma lagi belajar,” jawab Almeera.

“Belajar apa?” tanya Eliza.

“Belajar kalau menyampaikan sesuatu dengan marah belum tentu membuat masalah selesai,” jawab Almeera.

Eliza mengangguk.

“Benar juga,” ucap Eliza.

Tidak lama kemudian, Almeera berdiri untuk mengambil buku referensi dari rak.

Saat kembali ke meja, ia melihat Rafael dan Daffa baru saja masuk ke perpustakaan.

Daffa membawa beberapa buku, sementara Rafael membawa laptop.

Mereka juga sedang mengerjakan tugas kelompok yang sama.

“Masih mengerjakan tugas?” tanya Daffa.

“Iya, masih,” jawab Almeera.

Daffa meletakkan bukunya di meja.

“Kelompok kalian sudah selesai?” tanya Daffa.

“Belum. Masih ada beberapa bagian yang harus disesuaikan,” jawab Almeera.

Rafael membuka laptopnya.

“Kelompok kami juga masih menyusun bagian akhir,” ucap Rafael.

Daffa kemudian melihat catatan Almeera.

“Bagian pembahasan kalian pakai sumber yang mana?” tanya Daffa.

Almeera menunjukkan beberapa referensi yang sudah ia kumpulkan.

“Yang ini dan beberapa jurnal yang tadi aku temukan,” jawab Almeera.

Rafael melihat salah satu judul referensi tersebut.

“Coba cek bagian metode penelitiannya juga. Kadang kesimpulannya kelihatan cocok, tapi konteks penelitiannya berbeda.” ucap Rafael.

Almeera mengangguk.

“Iya, nanti aku cek lagi,” jawab Almeera.

Daffa kemudian membuka laptopnya.

“Kalau kalian mau, aku punya satu sumber lain yang mungkin bisa dipakai,” ucap Daffa.

“Boleh. Kirim saja ke grup,” jawab Almeera.

“Siap” jawab Daffa.

Percakapan itu berlangsung singkat sebelum mereka kembali mengerjakan tugas masing masing.

Tidak ada hal istimewa.

Hanya beberapa orang mahasiswa yang sedang sibuk dengan tugas.

Namun bagi Almeera, hari itu terasa berbeda.

Ia mulai menyadari bahwa bekerja sama bukan hanya tentang menyelesaikan bagian sendiri.

Ada saat ketika seseorang harus mendengarkan.

Ada saat ketika seseorang harus menjelaskan.

Dan ada saat ketika seseorang harus mengingatkan tanpa membuat orang lain merasa diserang.

Menjelang sore, pekerjaan kelompok mereka mulai terlihat lebih rapi.

Almeera menutup laptopnya sebentar.

“Kayaknya kita cukup sampai sini dulu,” ucap Almeera.

Eliza melihat jam.

“Kenapa? Bukannya masih ada waktu?” tanya Eliza.

“Masih ada. Tapi kalau dipaksakan sekarang, aku takut malah banyak yang kelewat,” jawab Almeera.

Eliza mengangguk.

“Besok kita lanjut?” tanya Eliza.

“Iya. Besok kita cek semuanya dari awal sampai akhir,” jawab Almeera.

Setelah berpamitan dengan anggota kelompok lainnya, Almeera dan Eliza meninggalkan perpustakaan.

Di perjalanan menuju pintu keluar, Eliza kembali berbicara.

“Menurut kamu, kamu berubah karena kejadian kejadian yang kemarin?” tanya Eliza.

Almeera terdiam sebentar.

“Mungkin,” jawab Almeera.

“Dulu aku terlalu gampang bereaksi. Kalau sesuatu tidak sesuai keinginanku, aku langsung kesal,” lanjut Almeera.

Eliza mendengarkan.

“Sekarang?” tanya Eliza.

“Sekarang aku masih bisa kesal, cuma aku belajar kalau aku tidak harus langsung melampiaskannya.” jawab Almeera sambil tersenyum kecil.

Eliza mengangguk.

“Berarti kamu masih kamu,” ucap Eliza.

Almeera tertawa pelan.

“Iya. Aku cuma sedang belajar menjadi versi diriku yang lebih baik,” jawab Almeera.

Sesampainya di rumah, Almeera langsung mengganti pakaian dan beristirahat sebentar.

Mama yang sedang berada di ruang tengah melihat Almeera datang.

“Sudah pulang?” tanya Mama.

“Sudah, Ma,” jawab Almeera.

“Tugas kuliahnya bagaimana?” tanya Mama.

“Masih dikerjakan. Besok lanjut lagi,” jawab Almeera.

Mama mengangguk.

“Jangan terlalu dipaksakan kalau sudah capek,” ucap Mama.

“Iya, Ma,” jawab Almeera.

Malamnya, setelah menyelesaikan beberapa bagian tugas, Almeera menutup laptop.

Ia mengambil buku catatannya.

Hari itu ia kembali menulis beberapa kalimat.

Hari ini aku belajar bahwa cara menyampaikan sesuatu juga penting.

Kadang kita merasa benar, tetapi cara kita berbicara justru membuat orang lain sulit menerima apa yang kita maksud.

Dulu aku sering berpikir bahwa bersikap keras berarti menunjukkan bahwa aku tidak lemah.

Sekarang aku mulai memahami bahwa menahan diri bukan berarti kalah.

Almeera berhenti menulis sejenak.

Kemudian ia melanjutkan.

Aku masih belajar. Masih sering kesal. Masih bisa salah.

Tapi setidaknya sekarang aku mencoba berpikir sebelum berbicara.

Ia menutup bukunya.

Setelah itu, Almeera mengambil waktu untuk berdoa.

Ia tidak meminta agar hidupnya selalu berjalan sesuai keinginannya.

Ia hanya meminta agar Allah membantunya menjadi seseorang yang lebih baik dalam menjalani setiap proses.

Sebab semakin hari, Almeera semakin memahami bahwa hijrah bukan hanya tentang mengubah penampilan atau kebiasaan.

Ada cara berbicara yang harus diperbaiki.

Ada sikap yang harus dikendalikan.

Ada ego yang harus diturunkan.

Dan ada banyak hal dalam dirinya yang masih perlu ia pelajari.

Perjalanannya masih panjang.

Namun untuk pertama kalinya, Almeera tidak lagi merasa harus menyelesaikan semuanya dalam satu hari.

Ia hanya perlu terus melangkah.

Sedikit demi sedikit.

Selama langkah itu membawanya menjadi lebih dekat kepada Allah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!