Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Bulan berganti bulan, bahkan hampir satu tahun terlewati tapi Andriana belum juga ditemukan. Devan semakin frustasi dan tak bisa lagi memikirkan hal lain.
Perasaan marah, sedih, bahkan di matanya semua orang adalah musuh yang tak layak di kasihani.
"Leo, bawakan kontrak dari group Garuda, pastikan tidak ada masalah!" Titah Devan sambil terus mengotak atik laptopnya.
Leo yang sejak tadi berada di depannya pun menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
"Baik tuan, tapi"
Mendengar kata tapi dari bawahannya itu, Devan segera menatap tajam ke arah Leo.
"Tapi apa!"
"Tapi, tuan Reno CEO Garuda group bukanlah orang yang mudah diajak kerjasama. Dia akan mudah menandatangani kontrak apabila ada wanita yang menemaninya".
Devan mengernyitkan keningnya " Laki laki brengsek! Kalau begitu batalkan saja! ".
"Baik tuan muda, tunggu tuan Devan, sepertinya anak buah tuan Reno menghubungiku".
"Angkat saja Leo!"
"Baik tuan "
Leo pun segera melangkah beberapa langkah untuk menjawab panggilan masuk dari kliennya.
Setelah selesai dengan telponnya, Leo segera mendekat pada Devan.
"Tuan muda Devan, tuan Reno yang menginginkan kerjasama ini dan akan segera menandatangani kontrak tanpa syarat, tapi kita diminta datang ke tempatnya yang ada di jalan Soekarno-Hatta malam ini juga" Ucap Leo.
Devan berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk perlahan "Baik, kita akan datang ke sana malam ini! Kita lihat apa maunya".
Leo pun mengangguk sebelum pergi dari ruangan atasannya itu.
...
Malam harinya, Devan dan Leo benar benar datang ke tempat Reno sesuai alamat yang diminta.
Devan dan Leo sempat tertegun sejenak menyaksikan tempat yang begitu syahdu dengan lampu lampu yang menyala remang dan beberapa buket bunga tergeletak di meja. Suasana yang sangat romantis seperti sebuah tempat yang memang didesain khusus untuk melamar seseorang.
"Tuan, yakin kita akan masuk ? Seperti baru saja ada acara lamaran ".
"Ehem, kita masuk, tapi tetap hati hati!".
"Baik tuan...kira kira tempat apa ini, sepi banget tapi suasananya sangat romantis" Gumam Leo sambil berjalan di belakang Devan
"Jangan pikirkan, sekarang fokus mencari keberadaan Reno" Jawab Devan dingin.
"Iya tuan " Jawab Leo sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Tak lama kemudian terdengar suara seseorang memanggil namanya.
"Tuan Devan!"
Devan dan Leo pun menoleh mencari sumber suara.
Terlihat juga Agatha berada di samping Reno, keduanya saling bergenggaman tangan.
"Agatha! Apa yang kamu lakukan?" Tanya Devan dengan dingin.
Agatha tersenyum tipis lalu melepaskan genggaman tangan Reno '' Kak Devan, sebelumnya aku buta tidak bisa melihat cinta sejati tapi justru mengejar cinta semu yang tidak terbalas".
"Agatha maksudmu apa?" Tanya Devan lembut.
"Kak Devan, sekian lama aku bodoh sudah menaruh harapan besar padamu. Berharap kamu akan mencintaiku dan menjadikan aku pengantinmu. Maafkan aku kak Devan sudah banyak menyusahkanmu".
" Hem ngomong saja terus terang Agatha, aku tidak punya waktu mendengarkan kata katamu yang tidak jelas!".
"Aku dan Reno saling mencintai" Jawab Agatha.
Devan tersenyum tipis " Baguslah, kita tidak perlu melanjutkan pertunangan ini".
Agatha tertunduk dan bulir bulir air mata mulai menetes dari sudut matanya.
Devan terdiam sejenak, ia meraih tubuh Agatha dan memeluknya. Tangisan Agatha pun pecah.
"Devan, aku bodoh aku bodoh sekali, sekarang aku sadar tidak ada gunanya mencintai seseorang yang tidak pernah mencintai kita, aku sudah melewatkan sekian lama hanya untuk menggali kepedihan, hiks hiks hiks".
"Agatha terimakasih sudah mau mengerti, mencintai orang yang tidak mencintai kita itu menyakitkan. Ketahuilah aku sebenarnya sangat menyayangimu"
Agatha melepaskan pelukan Devan kemudian menatapnya lekat" Benarkah?".
"Aku menyayangimu seperti adikku sendiri" Jawab Devan sambil tersenyum untuk pertama kalinya setelah hampir setahun memendam rasa sakit.
Reno pun tersenyum tipis lalu beranjak dan berjalan mendekati Devan.
"Tuan Reno terimakasih anda sudah menyayangi Agatha, tapi aku memang sangat mencintainya"
Devan menepuk pundak Reno " Tuan Reno, jagalah Agatha, sayangi dia, kalau dia terluka aku orang pertama yang akan mematahkan tulang tulangmu".
Reno dan Agatha saling berpandangan sejenak sebelum saling berpelukan.
"Agatha, aku akan segera menikahimu" Ucap Reno.
"Tuan Reno,sebenarnya apa tujuan anda meminta ku datang kemari, saya yakin pasti ada tujuan lain" Ucap Devan.
Reno dan Agatha saling mengedarkan dekapannya.
"Tuan Devan terimakasih sudah memenuhi undangan saya, sebenarnya saya meminta bantuan kepada anda untuk menyakinkan tuan Damar untuk merestui hubungan kami, itu saja tuan, saya benar benar mencintai Agatha" Jawab Reno di luar ekspektasi Devan dan Leo.
"Baik, saya bisa membantu kalian. Tapi bersihkan dulu nama anda yang sudah dicap sebagai laki laki mesum, mau menandatangani kontrak kalau ada wanita yang mau tidur dengan anda"
Reno pun tertawa lebar begitu juga dengan Agatha.
"Tuan Devan, itu hanya rumor, meskipun begitu tapi tidak ada satupun bukti yang bisa membuktikan kebenaran berita itu, tapi tuan Devan anda ada benarnya juga mungkin karena gosip murahan itu selama ini tuan Damar tidak menyukaiku " Ucap Reno.
Devan dan Leo pun tersenyum tipis.
"Tapi bagaimana dengan kerja sama kita tuan?" Tanya Leo.
"Kita pasti akan menjadi partner bisnis yang saling menguntungkan, dan karena anda menganggap Agatha sebagai adik sendiri maka saya juga menganggap anda sebagai kakak saya" Jawab Reno kemudian meminta Devan dan Leo untuk duduk bersama dan membahas pekerjaan.
***
Satu bulan setelah Devan dan Agatha benar benar memutuskan pertunangan.
Devan berhasil meyakinkan orang tua Agatha untuk menerima Reno sebagai suami Agatha.
Dengan ketulusan dan kesungguhan Reno, Tuan Damar menerima Reno sebagai menantunya, pesta pernikahan mereka pun digelar sangat mewah dan super megah.
Semua orang bersuka cita memberikan restunya, termasuk Sarah yang sadar akan kesalahannya memaksakan menjadikannya menantu justru semakin mendorong Agatha ke jurang penderitaan.
Setelah acara selesai semua orang pulang ke rumah masing masing termasuk Devan yang diminta oleh oma untuk mampir ke rumah besar, karena sudah hampir setahun semenjak kepergian Andriana belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di sana.
Tentu saja Devan enggan datang ke rumah besar dan bertemu dengan keluarganya karena merekalah yang telah menghancurkan hidupnya.
Setelah ia menemukan setumpuk uang dan selembar cek senilai total lima miliar di laci kamar Andriana, kebenarannya terhadap Sarah semakin besar, apalagi semua bukti mengarah kepadanya, menurut cctv Sarah datang ke sana, dan bisa dipastikan ia memberikan uang kepada Andriana tapi Andriana tidak pernah mengambilnya.
"Devan, demi oma datanglah ke rumah,Oma kangen sama kamu ?" Rengek oma.
Devan tidak bergeming, tanpa suara dan tanpa menatapnya.
"Tuan, sebaiknya kita mampir dulu" Belum selesai bicara Leo terdiam setelah Devan menoleh padanya dengan tatapan buas penuh kebencian.
Leo menunduk seketika lalu mengusap lengan oma " Oma, maaf ya kita tidak bisa mampir".
Devan pun melangkah pergi tanpa memperdulikan oma, Sarah dan Dimas yang tidak berani angkat suara.
Setelah Devan masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan mereka semua, Leo pun duduk di belakang kemudi dengan penuh rasa takut dan gemetar.
"T-tuan k-kita mau ke mana,?"
"Ke rumah sakit, ada pasien yang harus dioperasi " Jawabnya dingin bahkan melebihi dinginnya gunung es di puncak Everest.