NovelToon NovelToon
Gadis Montok Sang Don

Gadis Montok Sang Don

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Asmara / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Lenardt

Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.

Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.

Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.

Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Bianca Kusuma

"Kita mulai dari awal dulu ya. Kamu membayangkan pernikahanmu itu di mana, tepatnya?"

"Kakakmu pasti sudah cerita soal apa yang kualami." Aku mengangguk pelan sambil menatapnya hangat. Aku tidak kasihan, aku menghormati ceritanya dan semua yang sudah dia hadapi sendirian. "Karena itu aku nggak akan nyaman di gereja. Aku tahu itu bukan salahku, tapi itu urusanku sendiri, dan aku nggak akan sanggup masuk gereja dengan gaun pengantin."

"Aku nggak akan mencoba mengubah cara pikirmu, Cantik. Aku tahu butuh waktu sampai luka-lukanya mulai menutup, dan sesudah menutup pun masih bisa terasa sakit. Tapi gimana kalau pernikahannya di taman yang indah?" Matanya berbinar.

"Waktu aku kecil, Ibu bilang dari dulu dia bermimpi menikah di taman penuh bunga. Pasti indah kalau mimpinya bisa terwujud, jadi seolah-olah Ibu ada bersamaku." Senyumnya manis sekali, seperti sedang melamun. Baru kali ini aku melihatnya bersemangat soal hari itu.

"Aku suka. Serahkan padaku, aku punya ide bagus."

"Ide apa?"

"Coba lihat ini. Menurutmu taman dan rumah-rumah ini gimana buat upacaranya? Jadi ada tempat buat para pendamping pengantin dan kamu bersiap-siap." Kutunjukkan padanya beberapa rumah dengan taman yang menawan. Dia tidak tahu, ideku sebenarnya memilih rumah yang akan mereka tinggali. Jadi pas pernikahan nanti, acaranya di rumah mereka sendiri. Nah, siapa bilang orang nggak bisa jadi psikopat sekaligus romantis?

Kami melihat-lihat rumah lama sekali, sampai akhirnya memilih satu yang, jujur saja, nggak mungkin kupilih lebih bagus lagi. Rumahnya punya tiga kamar tidur, ruang makan, dapur, ruang tamu, empat kamar mandi, area santai yang luar biasa, dan taman yang spektakuler dan luas banget. Serius, rumah yang sempurna.

Laras tidak suka ide menghabiskan uang, tapi aku melihat matanya berbinar membayangkan pernikahan di taman itu dan betapa dia menyukai semuanya. Jadi tentu saja aku akan membelinya, sebagai hadiah pernikahan dari aku untuk mereka berdua. Memang sih yang bayar kakakku, tapi aku kerja buat dia tanpa digaji, jadi dia nggak berhak protes soal pengeluaranku yang berlebihan. Lagi pula ini demi menyenangkan calon istrinya, jadi salah dia sendiri kalau mau mengusikku.

Laras dan aku berjam-jam duduk di depan komputer, dan begitu sadar hari sudah sore, aku memutuskan ke kamar untuk mandi dan bersiap makan malam. Rendra mengirim pesan, katanya dia ikut makan malam bersama kami. Meski secara resmi kami belum punya hubungan apa-apa, perutku tetap geli cuma karena tahu dia akan datang.

Aku memutuskan harus santai dulu, jadi mulai dari mandi premium. Lilin wangi, bak mandi dengan garam mandi, musik tenang, dan buku bagus, karena kalau ada yang kucintai, itu membaca, apalagi buku horor atau thriller. Itu kegemaranku.

Sementara bak terisi air, aku melepas pakaian, sekalian menaruh semua yang akan kupakai nanti di bilik shower. Produk kecantikanku, scrub, masker pelembap. Aku mau keluar dari bak ini lalu mandi yang benar-benar layak, dan kurasa setelah hari ini aku memang butuh.

Kupasang musik pelan tanpa lirik, sekadar sentuhan lembut buat relaksasi. Aku tahu aneh baca buku sambil dengar musik, tapi aku suka. Buatku itu seperti suara latar.

* * *

Selesai mandi yang nikmat itu, aku mengoleskan pelembap ke badan dan hampir selesai berpakaian ketika kamarku diserbu Rendra. Aku melompat dan hampir menarik pistol yang kusimpan di laci, sampai kulihat itu dia.

"Lo gila, ya? Gimana bisa lo masuk begitu aja ke sini? Gimana kalau ada yang lihat lo nerobos kamar gue, dasar sinting?"

"Gue emang lagi gila. Gila gara-gara nyembunyiin apa yang udah kita lakuin, gila gara-gara tahu lo bakal nikah, gila cuma bayangin ada orang nyentuh apa yang jadi milik gue." Dia kelihatan kacau, sesuatu yang sudah lama tidak kulihat. Tapi harus kuakui, waktu dia bilang aku miliknya, jantungku sempat meleset satu detak.

"Hei, santai, semuanya bakal baik-baik aja."

"Gimana lo bisa setenang itu? Sialan, Bi, gue lagi kalang kabut. Biasanya gue pegang kendali penuh, kerjaan gue beres dengan santai, gue ngurus anak buah, semua misi gue jalanin sempurna. Tapi kalau soal lo, gue jadi kayak orang bego yang nyasar." Aku tidak tahan dan tertawa, dan dia langsung cemberut padaku.

"Kayaknya cuma gue yang punya keberanian ngakuin perasaan gue, padahal lo juga ngerasain hal yang sama."

"Bianca, gue ngehindarin lo dari akhir masa remaja lo, waktu lo hampir dewasa. Gue tahu yang gue rasain bukan cemburu seorang kakak, dan gue harus sebisa mungkin menjauh. Tapi sekarang, setelah gue pernah memeluk lo, gue nggak akan biarin cowok lain nyentuh lo. Dulu aja gue nggak yakin bakal ngebolehin." Dia mendekat cepat dan menjepitku ke lemari laci di kamar. "Lo milik gue, bangsat."

Rendra menciumku. Ciuman yang dalam, yang membuat seluruh tubuhku terbakar dan kehilangan arah. Tapi aku melepaskan bibirnya dari bibirku untuk bicara.

"Salah, Sayang. Gue milik gue sendiri. Gue bukan milik laki-laki mana pun dan nggak akan pernah. Buat gue nggak ada istilah 'di balik pria hebat selalu ada wanita hebat'. Buat gue, entah berdampingan, entah nggak sama sekali." Dia menatapku lain dari biasanya, matanya sampai berkilat.

"Sialan, gue suka banget tekad lo itu. Brengsek, Bianca, kok bisa-bisanya gue jatuh cinta sama lo." Dia masih sangat dekat dan sekarang menyelipkan seuntai rambutku ke belakang telinga, sementara ibu jarinya mengusap pipiku.

"Kita harus ngomong serius." Aku bicara sambil menjauh sedikit. "Rendra, gue tahu apa yang gue lakuin waktu tidur sama lo, dan waktu gue ngancurin pernikahan sialan itu, walau belum ada yang tahu. Tapi gue juga tahu gue bakal jatuh sendirian. Gue nggak akan pernah bilang siapa yang bersama gue, nggak akan gue biarin lo diperlakukan sebagai pengkhianat."

"Jangan harap. Kalau lo jatuh, gue ikut jatuh bareng lo." Sial, sekarang giliranku yang meleleh total. Hati memang tidak bisa diatur.

* * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!