NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Ruang rapat Nusantara lebih panjang daripada data room, tetapi lampunya sama putihnya. Jendela di sisi timur tidak ditutup penuh. Di sela kerai, SCBD terlihat seperti maket yang terlalu mahal untuk disentuh. Alina tidak mendapat kursi di meja. Adrian menunjuk kursi tunggal di dinding, dekat sudut, cukup jauh dari map dan cukup dekat untuk ia awasi tanpa menoleh sering-sering. Sari sudah berdiri di dalam, tablet diturunkan, wajahnya tidak menawarkan penjelasan kepada siapa pun.

Di meja duduk tiga orang yang memang punya alasan berada di sana. Pria di sisi kiri, kemeja tanpa jas, membuka berkas dengan gerakan orang yang tidak suka kertas terlambat. Alina mendengar Sari menyapanya Pak Oscar. Di seberang, seorang pria seusia Adrian bersandar sedikit, mug kopi masih ada di dekat siku, papan kecil penuh coretan yang tidak ia tunjukkan. Ketika Adrian masuk, pria itu mengangkat dagu sekali. Bukan hormat bawahan. Lebih seperti teman yang sudah belajar tidak bercanda di ruangan yang ada tamunya.

Tamu itu duduk di kursi undangan, bukan di deretan direksi. Vanya Kusuma tidak membawa banyak kertas. Ia membawa pena tipis dan ketenangan orang yang tahu ia tidak perlu membuktikan ia berhak ada di ruangan. Rambutnya ditata rapi tanpa terlihat susah payah. Senyumnya tidak lebar. Ketika Adrian meletakkan map abu-abu di tempatnya, Vanya sudah lebih dulu melihat perempuan di kursi dinding.

“Kita mulai,” kata Adrian. “Hari ini status, bukan tanda tangan. Tidak ada keputusan harga.”

Oscar mengangguk dan tidak membuang waktu pada sambutan. “Operasional Pesisir Garuda masih sesuai laporan kunjungan September. Yang belum rapi ada di kewajiban lama. Saya ingin membersihkannya dari draf sebelum ada yang membaca angka yang salah.”

Kata membersihkan membuat jari Alina diam di atas tas. Ia tidak membuka resleting. Adrian tidak menoleh.

Oscar membalik satu halaman yang bukan lampiran di data room, atau setidaknya bukan lembar yang Alina hafal barisnya. “Rekonsiliasi masih memunculkan kode vendor yang seharusnya sudah tidak aktif. Namanya PT Lazuardi Mitra Logistik. Jumlahnya tidak besar untuk ukuran deal ini, tetapi namanya tidak boleh ikut berjalan ke draf berikut. Tim akan menandai ulang sebelum salinan pergi ke Aruna.”

Di kursi dinding, ejaan itu jatuh tepat seperti di foto. Lazuardi. Masih muncul. Alina tidak mengerti apa yang diangkut perusahaan itu, tidak tahu siapa yang membiarkannya hidup, dan tidak tahu apakah lima koma enam miliar di lampiran adalah angka yang sedang Oscar sebut tidak besar. Yang ia tahu, seseorang di meja ini ingin nama itu tidak sampai ke pembaca berikutnya. Ia menahan wajahnya tetap datar. Di pangkuannya, kamera saku terasa lebih berat daripada tadi.

Vanya mengulang nama itu sekali, bukan seperti orang yang mengenang, lebih seperti orang yang memastikan ia tidak salah dengar. “Lazuardi. Itu vendor kalian, atau vendor target?”

“Tercatat pada berkas target,” jawab Oscar.

“Dan akan dibersihkan oleh tim kalian,” kata Vanya. Nadanya halus. “Kalau nama lama masih hidup di kertas yang kalian minta kami percayai, sebaiknya ia mati sebelum ada yang mengira rumah ini yang menaruhnya.”

Adrian tidak membuka map abu-abu. “Itu urusan rekonsiliasi. Bukan urusan harga hari ini.”

“Harga yang duduk di atas rekonsiliasi yang masih bernapas bukan harga yang saya bawa pulang,” sahut Vanya. Ia tersenyum tipis, dan senyum itu tersimpan di pilihan katanya, bukan di gigi. “Saya tidak meminta isi lemari kalian. Saya meminta jangan mengirim kami lembar yang masih bisa berubah setelah kami membacanya.”

“Draf berikut tidak akan berangkat sebelum lampiran dan ringkasannya berkata hal yang sama,” kata Adrian.

Oscar meliriknya, sedikit terkejut, tetapi tidak membantah. Dimas, yang sejak tadi memainkan pena, berhenti. Matanya tidak pergi ke nama vendor. Matanya pergi ke kursi dinding, lalu ke denah tempat duduk yang tercetak di sudut agenda.

“Kursi itu tidak ada di denah pagi ini,” katanya.

“Nanti,” jawab Adrian.

Dimas mengangkat bahu sekali, kecil, dan tidak menambahkan analogi. Ia kembali ke mugnya. Vanya tidak segera melepaskan pertanyaan yang tadi ia simpan.

“Kita belum dikenalkan,” katanya, kepada Alina, bukan kepada meja.

“Bukan bagian sesi ini,” potong Adrian.

“Tamu yang tidak dikenalkan biasanya yang paling mahal.” Vanya tidak mengeraskan suara. Ia hanya menunggu, pena belum bergerak, seperti orang yang menawarkan ruang dan menghitung siapa yang mengisinya.

Alina bisa diam. Diam akan terlihat seperti perintah Adrian yang ia turuti. Ia tidak mau terlihat menurut, dan ia juga tidak mau memberi ruangan ini lebih dari satu kata yang sudah terlanjur ia pakai di lobi.

“Pramesthi,” katanya. “Saya tidak menawar apa pun hari ini.”

Vanya mempelajari wajahnya selama satu napas, lalu kembali ke halaman Oscar seolah pertukaran itu hanya konfirmasi kehadiran, bukan awal percakapan. “Baik. Kalau begitu saya mendengar sisanya sebagai pengamat, bukan sebagai orang yang harus menebak siapa saja yang duduk di dinding.”

Rapat berjalan lagi. Oscar membahas depo di Tanjung Perak, masa sewa gudang Jakarta, dan klausul karyawan operasional yang tidak boleh dipindah dalam enam bulan pertama. Ia menyebut sopir dan staf gudang sebagai angka tetap, bukan sebagai catatan kaki. Dimas menambahkan bahwa rute malam Pesisir Garuda tumpang tindih dengan jalur yang sudah Mahendra pakai.

“Kalau dihitung sebagai bonus, kita membayar dua kali untuk truk yang bisa saling menganggur,” katanya. “Itu bukan efisiensi. Itu dua jadwal yang tidak saling menyapa.”

“Masukkan sebagai biaya,” kata Adrian. “Jangan sebagai cerita.”

Oscar mencatat. Tidak ada yang kembali ke nama vendor. Adrian bertanya dua hal lagi, keduanya tentang klausul yang bisa digeser di kontrak, bukan tentang baris yang tadi ingin ditandai ulang. Map abu-abu tetap tertutup di siku kirinya. Alina memperhatikan itu lebih lama daripada ia memperhatikan Vanya. Pria yang menyita ponselnya tidak membuka bukti selisih di depan tamu. Ia hanya mengubah kalimatnya: draf berikut tidak akan berangkat sebelum dua halaman berkata hal yang sama. Tidak ada yang di meja bertanya halaman mana. Alina tidak diberi ruang untuk menjawab.

Ia tidak mengambil kesempatan yang tidak diberi. Ia mendengarkan kata draf, bersih, dan Aruna berpindah dari mulut ke mulut sampai artinya menjadi sederhana. Halaman yang tidak cocok akan diperbaiki sebelum orang luar yang lebih besar melihatnya. Di kursi dinding, perbaikan terdengar seperti penghapusan.

Ketika sesi ditutup, tidak ada yang berjabat tangan lama. Vanya berdiri lebih dulu. Di pintu, ia berhenti hanya untuk Adrian.

“Kalau rumah ini mulai menyimpan tamu tanpa nama, pasar akan memberi nama sendiri,” katanya. “Saya lebih suka mendengarnya dari Anda daripada dari orang lain.”

“Tidak ada yang perlu diberi nama hari ini,” jawab Adrian.

Vanya tersenyum seperti orang yang mengizinkan kalimat itu hidup sampai sore, belum sampai besok. Ia pergi tanpa menoleh ke kursi dinding. Oscar mengumpulkan kertasnya dan berjanji salinan yang sudah ditandai ulang akan naik sebelum makan siang esok. Dimas mengikuti Oscar keluar, tetapi di ambang ia melirik Alina sekali lagi, kali ini lebih lama, seperti orang yang menyimpan pertanyaan untuk lorong, bukan untuk meja.

Ruangan tinggal Adrian, Sari, dan Alina.

Sari menunggu instruksi dengan tablet di depan dada. Adrian mengangguk ke arah data room. “Kembali ke sana. Jangan lewat lobi dulu.”

Alina berdiri. Kakinya kaku dari duduk tanpa meja. Di kepala, nama Lazuardi sudah tidak lagi hanya berupa baris. Nama itu sudah diucapkan, lalu dijadwalkan untuk dibersihkan. Ia tetap tidak tahu apa artinya. Ia hanya tahu rapat ini tidak membuang angka yang salah. Rapat ini berencana membuat angka itu tidak terlihat.

Adrian mengambil map abu-abu. Ponsel Alina masih belum kembali. Dan dari cara Sari sudah membuka pintu tanpa bertanya siapa perempuan itu, Alina mengerti bahwa di lantai dua puluh delapan hari ini, asisten yang tidak bertanya lebih rapat daripada kunci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!