Sebuah liburan akhir pekan berubah menjadi mimpi buruk saat sekelompok remaja menemukan rahasia kelam di balik keindahan sebuah air terjun terpencil.Satu persatu dari mereka mulai menghilang,memaksa yang tersisa untuk memecahkan kutukan kuno sebelum fajar tiba atau menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stychin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Sementara di gubuk milik ki jaksa.keempat teman aulia masih berada di sana,karena lelah semalaman mencari salah satu temannya yang hilang.Kini tubuh mereka terbaring..seolah tidur mereka kali ini sangat panjang.
Tak terkecuali dengan Citra.Tubuhnya yang sudah terpengaruh oleh Lastri seolah sangat Terobsesi melihat ketampanan dery saat tertidur.Ia menidurkan kepalanya di dada bidang milik laki laki itu.
Ia memandang gelang yang di berikan oleh nenek tua yang ia temui di taman.karena gelang itu,ia bisa menyetir hidup Dery seolah dery benar benar mencintai citra sebagaimana laki laki itu selalu mengusahkan apapun untuk Aulia.
Setelah bu wida di tarik paksa oleh ki jaksa masuk ke dalam gerbang cahaya bersama Aulia yang tengah pingsan,suasana di pusat Desa Ghaib mendadak berubah menjadi senyap.
Kabut hitam yang tadinya bergulung perlahan,kini melesat cepat dan mengepung Arman yang berdiri sendirian di atas tebing batu ghaib dimana tempat Lastri terjatuh dulu.
"Arrr.maaannn..."
Suara bisikan itu bukan berasal dari satu arah,melainkan bergema di dalam kepala Arman.Suaranya tedengar ganda,perpaduan antara rintihan Lastri saat masih hidup dan geraman monster yang mengerikan.
Air di bawah tebing yang semula tenang mendadak bergolak pasang.Dari dalam pusaran air hitam itu,sesosok makhluk melayang naik secara perlahan.Kain putih yang membungkus tubuhnya tampak compang-camping dan basah kuyup.
Rambut hitamnya yang panjang dan kusut menjuntai ke depan,menutupi seluruh wajahnya yang sudah hancur.Hawa dingin yang di pancarkan makhluk itu begitu pekat hinga membuat napas Arman menguap putih.
Arman gemetar hebat,nyalinya ciut.Namun ia memaksakan kedua kakinya untuk tetap tegak.Ia tahu,jika ia lari satu langkah saja malam ini,nyawa putri dan istrinya di dunia nyata akan menjadi gantinya.
"Lastri.."Suara Arman bergetar,tercekat di tenggorokan.
"Aku disini.aku tidak akan lari lagi seperti waktu itu"
Sosok Lastri mendongak dengan patahan leher yang berbunyi mengerika.Ia menyibak rambutnya.Di bawah temaram sinar bulan ghaib,Arman melihat wajah yang hancur karena benturan batu kali.Dengan kedua matanya yang bolong dan mengalirkan darah hitam pekat.Seringai lebar penuh taring tajam terukir di wajah pucat makhluk itu.
"Kamu membiarkan aku membusuk.."desis Lastri.Suaranya sarat akan rasa sakit yang teramat dalam.
"kamu membiarkan aku mati dengan cinta yang belum kamu balas"
"Maafin aku lastri"air mata arman menetes.Bercampur dengan keringat dingin.Ia merentangkan kedua tangannya secara pasrah,menyerahkan dada dan lehernya terbuka tanpa perlindungan.
"Ambil nyawaku..jadikan aku tebusan atas semua rasa sakitmu.tapi aku mohon..setelah malam ini,lepaskan keluargaku.jangan pernah sentuh mereka lagi"
Mendengar ucapan arman hantu Lastri melengkingkan tawa yang memekakkan telinga.Tubuhnya melesat secepat kilat menerobos kabut hitam.
SLAAAAASHHH CHURRRRR!!!
Kuku-kuku hitam panjang milik lastri langsung mencengkeram kuat leher Arman.Mengangkat tubuh laki laki itu ke udara,Arman tidak memberontak.Meskipun dadanya terasa meledak karena kehabisan oksigen.
Matanya tetap menatap sayu ke arah wajah mengerikan Lastri dengan tatapan penuh penyesalan.
"Ma..maaf...kan..a-kuu.." bisik Arman dalam sisa napas terakhirnya.
Gemercik air terjun yang dahulu terdengar merdu,kini hanya menyisakan kepedihan mendalam bagi bu wida.Di tempat itulah Arman,sang suami yang ia cintai tewas dengan tragis akibat luapan dendam lastri di masa lalu.
Kehilangan yang tiba tiba dan mengerikan sempat membuat dunia bu wida runtuh seketika.
Bu wida bersimpuh dan berdoa dengan berserah diri sepenuhnya.Ia menyadari bahwa sekencang apapun ia menangis.Arman tidak akan pernah kembali.
Sejak kejadian itu lastri menghilang tak memunculkan dirinya lagi.Sementara bu wida dan anaknya Aulia masih berada di desa ghaib itu.
Dengan tangis air mata,bu wida mengelus rambut anak gadis nya yang kini berada di pelukannya.Ia mengasihani nasib anaknya,yang selalu menyangka jika papanya adalah laki laki terbaik yang pernah ia temui.
Tak bisa bu wida bayangkan antara emosi,kehilangan,marah yang mencampur aduk perasaan Aulia saat gadis itu mengetahui bahwa laki laki yang menjadi papanya sudah tak ada.
Suasana di dimensi lastri begitu mencekam.Di penuhi kabut merah dan rintihan angin yang menyayat hati.Namun,keteguhan hati bu wida yang telah ikhlas.Berpadu dengan karomah dan kesaktian ki jaksa menjadi kunci pembuka gerbang ghaib yang mengurung mereka.
Ki jaksa menghentakkan tongkat kayunya 3x ke tanah.Memecah dinding ilusi yang di buat oleh Lastri.
Semua menjadi berubah,tak ada lagi kabut yang menggulung di sekitar sana.Berbalik dengan suasana air terjun yang tampak menjadi mengerikan setelah bu wida menyaksikan sendiri suaminya tewas di tangan Lastri.
Tubuh bu wida melemas,ia sudah tak mempunyai sandaran.tak punya lagi tempat bercerita,tempat bermanja.Namun,ia masih mempunyai Aulia.seorang ibu itu akhirnya bangkit memapah tubuh Aulia untuk berjalan ke arah gubuk dimana teman teman anaknya masih berada di sana.
Bu wida sendiri tidak tahu kemana perginya ki jaksa,setelah kakek tua itu mengeluarkan bu wida dan aulia.Sosok dirinya juga ikut menghilang tak meninggalkan jejak sedikit pun.
Di gubuk reot itu,Dinda bangun terlebih dulu.Ia mengerutkan keningnya saat langit yang awalnya cerah berubah menjadi gelap.Ia melirik ke arah teman temannya yang masih tertidur dengan pulas.
Ia mencari bu wida dan pak arman di sekelilingnya,namun tak ada.Dengan kepala yang masih pusing,tubuh yang terasa lemas.Ia mencoba untuk duduk,dan membangunkan satu per satu teman temannya.
"Martin,Dery..bangunn!!!!" Dinda menepuk nepuk pipi kedua laki laki itu sampai mereka terbangun.
Martin bangun dengan terkejut karena melihat pagi yang sudah menjadi malam.
"Din..kok?" Ucapnya merasa kebingungan.Dinda hanya meresponnya dengan menganggukan kepala.
"Ada yang aneh,masa kita semua tidur sampe malam gini sih.Terus tante wida sama om arman juga gak balik balik,ayo bangun kita cari mereka..jangan sampe mereka juga hilang kaya aulia."Ucap arman.
Dery yang baru bangun menggeleng gelengkan kepalanya yang terasa berat.
"Dery!!Ayo..bangun,Der ini udah malem dan Aulia belum di temukan itu artinya..." Ucapan dinda terhenti dengan wajah yang memelas.
"Aulia gak akan kembali lagi.."Lirih Dery dengan mengusap wajahnya.
Ketiga teman aulia duduk dengan kesedihan,merasa putus asa dan gagal menemukan temannya yang hilang karena ulah mereka.
"Aulia..."Dinda menangis histeris.
"Tol..o..ng.." Teriak seseorang di pintu masuk air terjun.
Dinda memberhentikan tangisannya,ia melirik ke arah dery dan martin.
"Kalian denger?"Tanya gadis itu yang di angguki oleh keduanya.
"Jangan-jangan itu hantu.."Ucap dinda lagi.
"hus..kita lihat sama sama ayo"Ajak martin yang diikuti oleh dinda dan dery.
Mereka bertiga turun dari gubuk itu berjalan ke arah asal suara itu.Dengan langkah kaki yang menguntit.Dinda memegang baju martin dengan erat,rasa takutnya membuat ia tak ingin memandang sekeliling.
"Hah" Martin menegakkan tubuhnya yang semula membungkuk.Menyoroti seseorang disana dengan sebuah senter.
"Itu tante wida..."
Seketika Dinda membuka matanya dan memandang seorang perempuan tengah duduk di tanah.
Ketiganya berlarian dengan meneriaki bu wida.