NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara di Kampus dan Getaran Cemburu yang Tertahan

Pagi hari di Universitas Airlangga Nusantara kembali berdenyut dengan ritme kesibukan yang biasa. Suara deru kendaraan bermotor, gelak tawa mahasiswa di kantin, serta langkah kaki yang berlalu-lalang di koridor fakultas kedokteran seolah menghapus sisa-sisa ketegangan dari insiden buruk yang terjadi beberapa waktu lalu.

Bagi dunia luar, kehidupan berjalan normal tanpa ada yang berubah. Kasus penyerangan dan skandal yang melibatkan Jessica telah ditutup rapat setelah mahasiswi manipulatif itu resmi dijatuhi sanksi drop out permanen dan diproses secara hukum oleh pihak berwenang. Tidak ada lagi teror, tidak ada lagi tatapan sinis yang berlebihan.

Namun, di balik normalnya suasana kampus tersebut, tersimpan sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Di balik pintu kamar ndalem pesantren, Nayara dan Revan adalah sepasang suami istri yang sah di hadapan Allah dan hukum. Namun, begitu menginjakkan kaki di gerbang Universitas Airlangga Nusantara, mereka harus kembali mengenakan topeng sandiwara: dua orang mahasiswa biasa yang pura-pura bersikap biasa saja, menjaga jarak, dan hidup di dunia masing-masing sesuai dengan kesepakatan rahasia mereka.

Nayara melangkah menyusuri koridor lantai dua gedung utama bersama Alya. Buku catatan tebal dipeluk erat di depan dadanya, sementara jilbab navy yang ia kenakan melambai lembut diterpa angin pagi.

"Nay, kamu benar-benar yakin mau terus-terusan main 'kucing-kucingan' kayak gini?" bisik Alya sambil melirik ke arah sahabatnya dengan nada penasaran yang tertahan. "Maksud aku, status kalian kan udah halal. Nggak risi apa pura-pura jadi orang asing pas papasan sama Revan di kampus?"

Nayara menghela napas pelan, merapikan letak tas ranselnya. "Ini demi kebaikan kita bersama, Al. Kamu tahu sendiri kan akibatnya kalau satu kampus tahu aku menikah sama Revan? Aku nggak siap mental menghadapi sorotan, gosip miring, atau tatapan iri dari mahasiswi lain. Cukup biarkan orang-orang di pesantren dan kamu saja yang tahu."

Alya mendengus kecil, meski ia mengangguk paham. "Iya sih... aku ngerti kekhawatiran kamu. Tapi jujur ya, Nay, semenjak Revan masuk Islam dan resmi jadi suami kamu, auranya beda banget. Dia sekarang kelihatan jauh lebih tenang, kharismatik, dan... well, banyak cewek-cewek fakultas ekonomi atau hukum yang masih sering curi-curi pandang ke arah dia."

Mendengar kalimat terakhir sahabatnya, langkah kaki Nayara mendadak melambat. Ada secercah perasaan aneh yang bergemuruh kecil di dalam dadanya sebuah rasa asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa tidak rela, atau lebih tepatnya... cemburu.

Tentu saja, batin Nayara berbisik pelan. Revan sekarang adalah suamimu, Nay. Wajar kalau kamu merasa terusik saat perempuan lain meliriknya.

Sebelum Nayara sempat merespon ucapan Alya, suara gaduh dari arah ujung koridor membuat perhatian mereka berdua teralihkan. Sejumlah mahasiswa tampak berkumpul di dekat mading fakultas, berbisik-bisik sambil melihat ke arah satu titik yang sama.

"Eh, itu kan Revan? Mau ke mana dia pagi-pagi begini?" bisik salah seorang mahasiswi yang berdiri tidak jauh dari posisi Nayara.

Nayara spontan menoleh. Di ujung koridor, sosok Revan tampak berjalan tenang dengan kemeja kasual berwarna abu-abu terang dan tas ransel yang disampirkan di satu bahu. Penampilannya tetap memancarkan karisma yang kuat, membuat siapa pun yang melihatnya terpesona.

Namun, yang membuat jantung Nayara berdegup kencang bukan karena ketampanan suaminya, melainkan karena arah langkah Revan saat ini: pemuda itu sedang berjalan lurus mendekati arah tempat ia dan Alya berdiri.

Panik seketika melanda diri Nayara. Ia menyenggol lengan Alya dengan panik. "Al... Al! Dia ke sini! Gimana nih?!" bisik Nayara setengah berbisik, napasnya tertahan.

Alya terkekeh pelan melihat kepanikan sahabatnya. "Ya tinggal pura-pura nggak kenal lah, Bu Dokter! Kan kalian lagi akting jadi orang asing."

Sebelum Nayara sempat bergeser atau mencari alasan untuk menghindar, Revan sudah berdiri tepat di hadapan mereka berdua.

Suasana di sekitar koridor mendadak terasa senyap bagi Nayara, meski sebenarnya banyak mahasiswa lain yang lalu-lalang. Revan menghentikan langkahnya, memasukkan sebelah tangan ke dalam saku celana jeans-nya, lalu menatap lurus ke arah Nayara dengan sorot mata yang menyembunyikan sejuta makna di balik wajah datarnya.

"Pagi, Nayara... Alya," sapa Revan dengan suara baritonnya yang tenang dan berwibawa. Nada bicaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti sapaan biasa antar sesama mahasiswa kampus.

Alya langsung merespons dengan senyuman canggung yang dibuat-buat. "P-pagi juga, Revan! Wah, rajin banget pagi-pagi udah di gedung fakultas kedokteran. Ada urusan apa nih?"

Revan tidak langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Nayara yang kini menunduk, berusaha menghindari tatapan intens sang suami.

"Cuma mau balikin buku literatur perpustakaan ke dosen pembimbing di lantai atas," jawab Revan tenang, lalu pandangannya beralih menatap Nayara lekat-lekat. "Oh ya, Nay... soal tugas kelompok mikrobiologi kemarin, catatan yang kamu pinjamkan ke aku sudah selesai aku pelajari. Nanti siang, kalau kamu ada waktu luang di perpustakaan lama, bisa kita diskusikan sebentar?"

Nayara mendongakkan kepalanya perlahan. Ia tahu betul, kalimat diskusi tugas mikrobiologi itu hanyalah sebuah sandiwara atau alasan agar mereka bisa berbicara berdua secara diam-diam di tempat sepi.

"Eum... iya, Revan. Nanti siang aku ada waktu luang di sana," jawab Nayara berusaha bernada profesional, meski pipinya sudah merona merah jambu karena menahan malu.

"Bagus. Kalau begitu, aku duluan ya. Permisi," pamit Revan sopan.

Pemuda itu menganggukkan kepalanya sedikit ke arah Alya dan Nayara, lalu kembali melangkah meneruskan jalannya menuju lantai atas.

Begitu punggung Revan menghilang di balik tikungan koridor, Alya langsung menyenggol bahu Nayara sambil terkekeh geli. "Wah, wah, wah! Hebat banget akting kalian berdua! Hampir mirip adegan drama korea, tahu nggak? 'Diskusi tugas mikrobiologi' katanya!" ledek Alya tanpa suara, sengaja menggoda sahabatnya.

Nayara merona malu, mencubit pelan lengan Alya. "Ssst! Udah, ayo masuk kelas! Nanti keburu dosennya datang!" ucap Nayara salah tingkah, lalu bergegas mempercepat langkahnya meninggalkan koridor.

Waktu menunjukkan pukul satu siang. Suasana perpustakaan lama di lantai dua terasa begitu tenang dan sepi. Cahaya matahari siang merobos masuk melalui jendela kaca besar, menyinari deretan rak buku klasik berdebu. Di sudut paling belakang tempat yang sama di mana badai kehidupan mereka bermula beberapa waktu lalu Nayara duduk seorang diri di balik meja kayu panjang, membuka lembaran laptop dan buku catatan jurnalnya.

Ia menunggu selama kurang lebih sepuluh menit, sebelum akhirnya suara derit pintu kayu perpustakaan terbuka pelan.

Kriek...

Sosok Revan muncul dari balik rak buku. Pemuda itu langsung melangkah cepat menghampiri meja Nayara, lalu menarik kursi di sebelah istrinya dan duduk tanpa membuang waktu.

Begitu duduk, topeng formalitas dan sikap dingin yang ia tunjukkan di koridor tadi pagi langsung runtuh seketika. Revan mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap wajah Nayara dengan lekat.

"Tadi pagi di koridor... akting kamu bagus banget, Zawjati," bisik Revan pelan, ada nada gemas di balik senyuman tipis yang tersungging di bibirnya. "Rasanya aneh banget harus pura-pura jadi orang asing padahal semalam kita baru saja makan malam bersama di ndalem."

Nayara menutup laptopnya pelan, lalu menoleh ke arah suaminya dengan tatapan protes yang setengah bercanda. "Mau bagaimana lagi, Mas? Itu kan kemauan kita berdua supaya nggak jadi pusat perhatian satu kampus. Kalau tadi pagi aku salah ngomong sedikit saja, gosip tentang kita pasti langsung meledak."

Revan meraih tangan kanan Nayara yang tergeletak di atas meja, mengusap pelan jemari istrinya dengan penuh kelembutan. Jemari Nayara terasa pas dan hangat di dalam genggamannya.

"Aku tahu, Nay... aku ngerti," ucap Revan dengan suara yang jauh lebih lembut. Sorot matanya menatap dalam manik mata istrinya. "Tapi jujur saja, tadi pagi waktu aku lihat ada dua mahasiswa fakultas hukum yang berdiri di dekat kalian sambil ngeliatin kamu terus... rasa cemburuku hampir nggak bisa aku tahan."

Mendengar pengakuan jujur itu, pipi Nayara merona merah seketika. Jantungnya berdegup kencang. "Mas... mereka kan cuma mahasiswa yang lewat. Kenapa harus cemburu?"

"Karena kamu milikku, Nay. Hanya milikku seorang," jawab Revan tegas namun penuh cinta, membuat debaran di dada Nayara semakin tidak beraturan. "Meskipun di luar sana kita harus pura-pura nggak kenal demi menjaga privasimu, di dalam hatiku—di hadapan Allah—kamu adalah satu-satunya perempuan yang bertahta di hidupku."

Nayara menundukkan kepalanya, tersenyum simpul menahan rasa malu yang teramat sangat. Ia tidak menyangka pemuda arogan yang dulunya terkenal dingin dan tidak peduli pada siapa pun, kini bisa berbicara selembut dan sekromantis itu setelah ia mendalami agama Islam dan menjadi suaminya.

"Iya, Mas... aku tahu," lirih Nayara lembut. Ia membalas genggaman tangan suaminya dengan erat. "Tapi kita harus tetap bersabar. Masa kuliahku tinggal dua semester lagi. Setelah aku lulus nanti, kita bisa memikirkan cara yang tepat untuk memberi tahu semuanya secara terbuka."

Revan mengangguk pelan. "Apapun keputusanmu, aku bakal ikut, Nay. Selama kamu di sampingku, aku sabar."

Namun, di tengah momen kebersamaan dan percintaan rahasia mereka yang manis di sudut perpustakaan itu, takdir seolah gemar menguji kesabaran mereka kembali.

Langkah kaki...

Suara derit sepatu pantofel pria terdengar menggema cukup keras dari arah lorong depan perpustakaan, mendekat dengan kecepatan yang tidak biasa. Tidak lama kemudian, suara seorang mahasiswa pengurus perpustakaan terdengar memanggil dari balik rak buku.

"Eh? Kak Revan? Katanya mau cari jurnal ekonomi di rak depan, tapi kok malah ke sini?" suara seorang mahasiswa terdengar mendekat ke arah sudut tempat mereka duduk.

Deg!

Napas Nayara seketika tercekat. Revan langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Nayara dengan sigap, lalu dalam waktu kurang dari satu detik, ia menarik sebuah buku tebal dari tumpukan di atas meja dan berpura-pura membaca isinya dengan serius.

Nayara juga langsung membuka kembali layar laptopnya, mengetik beberapa kata acak untuk menutupi kepanikannya.

"Ya... saya lagi nyari referensi tambahan di sudut sini," jawab Revan dengan suara tenang dan datar tanpa menoleh ke belakang, mempertahankan akting sempurnanya sebagai mahasiswa biasa.

"Oh, begitu! Silakan diterusin, Kak. Saya cuma mau ngecek ventilasi jendela atas," balas mahasiswa perpustakaan itu, lalu langkah kakinya perlahan menjauh pergi.

Di balik meja sudut perpustakaan, Revan dan Nayara saling bertukar pandang, lalu tanpa bisa ditahan, mereka berdua sama-sama tersenyum kecil menahan tawa karena hampir saja kepergok sedang bermesraan secara diam-diam.

"Hampir saja..." bisik Nayara pelan sambil mengelus dadanya karena kaget.

Revan terkekeh pelan. "Makanya, kalau mau pacaran sama suami sendiri, risikonya tinggi banget ya?" ledek Revan dengan tatapan penuhgoda.

Nayara mencubit pelan lengan suaminya dengan gemas. "Udah, jangan mulai menggombal! Cepat selesaikan tugas bacaanmu, sebentar lagi jam kuliah siangku mulai!"

Meskipun harus hidup dalam bayang-bayang sandiwara rahasia di balik tembok kampus Universitas Airlangga Nusantara, hari-hari Nayara dan Revan kini dipenuhi dengan warna baru—warna cinta yang halal, ketulusan hijrah, dan ikatan suci yang dijaga rapat demi meraih rida Ilahi. Dan badai sebesar apa pun di luar sana tidak akan pernah mampu meruntuhkan keteguhan cinta yang telah mereka bangun bersama.

1
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!