NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 05

Entah keberanian dari mana kalimat itu tercetak jelas di dalam komentar yang menarik perhatian Yudha saat ini. "Apa dia Yumna yang aku kenal?" Kening tidak begitu lebar itu terlihat mengerut samar, saat membaca ulang komentar dari Yumna.

Suara pintu yang terbuka membuat Yudha menyimpan handphonenya, sembari berdiri dari duduknya. Melihat artisnya yang menatap Yudha sebentar, sebelum berjalan ke arah dapur rumahnya berada.

"Dia yang membuat masalah, dan aku yang merasa bersalah. Apa ini benar?" Gumam Yudha dipenuhi keheranan pada dirinya sendiri.

Kenapa dia harus bersikap seolah-olah yang menciptakan masalah itu? Padahal Yudha tidak melakukan apapun. Tapi benaknya benar-benar merasa gelisah, dihantui rasa bersalah yang tertutup dengan kekhawatiran.

Napas lelah Yudha hembuskan sebelum melangkah mengikuti atasnya. Karena Yudha saat ini harus mengawasi anak nakal itu. Agar tidak melakukan hal yang tidak diinginkan.

"Kau lapar? Aku akan membuatkan makanan untuk mu." Tanpa menunggu persetujuan dari sang artis, Yudha dengan cekatan membuka pintu lemari es untuk melihat apa yang ada didalam. "Kau tidak memiliki bahan apapun untuk diolah."

Yudha menatap sang artis yang hanya diam membuang napas, dan kembali menegak minumannya. Duduk di atas kursi makan, sembari memainkan handphonenya. Mengabaikan Yudha, tersenyum getir.

Menyisir surainya ke belakang, duduk di hadapan pria muda yang entah sampai akan akan mendiamkan Yudha. "Mau sampai kapan kau akan mendiamkan ku?" Kesal Yudha yang masih bisa menahan emosinya.

"Bukankah kau ingin membuatkan ku makanan enak?" Timpal sang artis sebagai balasan. Sekilas menaikan alisnya, dan kini memilih pergi meninggalkan Yudha sendiri.

"Wahhhh__" tawa hambar Yudha yang sudah menggambarkan semua isi benak dan kepalanya. Lihat tingkah laku artisnya benar-benar membuat Yudha kehilangan akalnya.

"Tidak mungkin jika aku pergi sekarang." Monolog Yudha dengan kepala yang berpikir keras untuk mencari cara. Agar dia tidak meninggalkan anak nakal itu sendiri. Tapi jika Yudha diam di tempat, perut artisnya akan perih karena tidak makan sebutir nasi.

Sedangkan orang yang menerima pesan dari Yudha kini dengan cepat berjalan kearah dimana ruangannya berada untuk mengambil tasnya. "Kenapa dia tidak meminta teman gilanya itu?" Gumam Sella yang terus melangkah tanpa memikirkan apapun.

Masuk ke dalam ruang kerjanya yang masih mendapati rekan kerjanya, tidak membuat Sella merasa terbebani jika harus meninggalkan anak buahnya di saat kerjaan menumpuk. Namun sebuah panggilan masuk ke dalam handphonenya, yang mau tidak mau membuat Sella mengurungkan niatnya untuk meraih tas selempangnya.

Sebentar melihat nama yang tertera di layar handphone, sebelum menerima dengan senyum khas dari Sella. "Selamat malam pak Tirtha apa ada yang bisa saya bantu?"

Sella berharap, sangat berharap jika Tirtha tidak memintanya untuk menemuinya saat ini juga di ruangannya. Karena Sella harus membantu Yudha sekarang. Tapi demi dewi fortuna, harapan Sella pupus ditelan bumi.

"Bisakah kau datang keruangan ku?" Suara dari seseorang di seberang sana, mampu membuat senyum manis itu berubah menjadi kepedihan yang sangat terlihat jelas.

"Haruskah aku kesana?" Sekali lagi, Sella berusaha untuk memastikan. Jika telinganya tidak salah dengar.

"Baiklah, aku akan kesana." Pasrah Sella setelah mendengar penuturan dari Tirtha.

Menutup panggilan itu. Sella membuang napas gusar, melihat keempat karyawannya yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Hingga pandangan matanya terhenti pada dua gadis muda yang tengah berdiskusi tuk memilih iklan untuk artis mereka.

Jika pun sang artis tengah dilanda skandal, tapi job pekerjaan terus mengalir datang untuknya. Dan itu membuat mereka harus lembur dihari pertama mereka bekerja.

"Kalian berdua." Panggil Sella yang ditunjukkan untuk Yumna dan Vallen. Tapi keempat karyawan itu menoleh secara kompak kearah Sella dengan sorot mata berbeda. "Yumna, Vallen."

Saat tahu siapa yang dibutuhkan Sella, dua diantara empat orang itu kembali fokus pada layar komputer mereka. Tanpa peduli apa yang ingin Sella katakan pada Yumna dan Vallen.

"Maaf sebelumnya. Apa kalian berdua bisa membantuku saat ini?" Ragu Sella yang sadar jika seharusnya dia tidak meminta bantuan pada orang-orangnya. Tapi, Sella tidak memiliki cara lain selain itu.

"Memangnya apa yang kau butuhkan? Kopi? Atau makanan ringan?" Cetus Vallen dengan tampang datarnya. Tapi Vallen bukanlah orang yang berhati dingin. Hanya saja wajah Vallen memang terlihat seperti ingin menantang siapapun yang tengah beradu argumen dengannya.

"Aku tidak membutuhkan apapun. Tapi artis perusahaan yang membutuhkannya." Tangan kiri Sella refleks terjulur kedepan, dengan langkah kaki yang mendekat ke arah Yumna dan Vallen.

"Memangnya apa yang dia butuhkan?" Sekarang Yumna yang melontarkan perkataannya.

"Bahan makanan." Cetus Sella. Membuat kening kedua wanita muda itu mengerut.

"Dia meminta kalian untuk membeli bahan makanan di supermarket, dan kalian juga harus mengantarnya ke rumahnya. Itu yang ingin Sella katakan pada kalian." Tidak begitu cepat wanita muda, bersurai sebahu dengan poni di bawah alis membuka suara, tanpa mengalihkan pandangannya.

Kepala Sella mengangguk dengan memilin bibirnya sebentar. Menyetujui apa yang baru saja dikatakan rekan kerjanya itu. "Mungkin ini diluar dari pekerjaan kalian. Tapi bisakah kalian membantu ku kali ini? Jika Tirtha tidak menelpon ku, aku tidak akan meminta bantuan kalian."

"Apa kita boleh pulang setelah itu?" Pertanyaan yang memang harus diucapkan oleh Yumna.

"Setelah kalian mengantarkan bahan makanan itu, kalian tidak perlu kembaki ke perusahaan. Kalian bisa langsung pulang ke rumah." Balas Sella.

"Baiklah jika seperti itu. Kita akan menerima pekerjaan itu." Final Vallen, kini membereskan meja kerjanya. Dan tidak lupa mematikan layar komputer itu.

"Aku akan mengirimkan alamat rumahnya di grub obrolan. Kalian berdua bisa melihatnya disana." Lengkungan tidak sempurna Sella perlihatkan. Kini menyodorkan kartu debit perusahaan kepada Yuman. "Dan kode digit PIN kartunya juga akan aku taruh di obrolan grub."

"Kau tidak membeli bahan makanan?" Tanya sang artis yang duduk tidak jauh dari Yudha.

"Bahan itu akan datang, jadi tahanlah sebentar untuk kali ini." Balas Yudha. Meluruskan pandangannya, menatap anak nakal di hadapannya dengan.

Yudha menelan ludah getirnya, sebelum merubah posisi duduknya. "Lingga."

Pemilik nama itu masih diam, sibuk dengan game di handphonenya. Tidak membuat Yudha merasa diabaikan. Karena Yudha tahu, jika pun Lingga tidak memperhatikannya. Telinga pemuda itu pasti mendengarkan apa yang akan keluar dari mulut Yudha.

"Kau sungguh tidak ada niat mengatakan alasan itu padaku?" Dengan hati-hati Yudha melontarkannya. Karena mau sampai kapanpun, Yudha akan tetap mendesak Lingga untuk mengatakan kebenarannya seperti apa.

Jika Lingga tetap diam, itu akan merugikan diri Lingga sendiri. Entah dari pekerjaan ataupun kepercayaan orang-orang disekitarnya.

"Untuk apa kau butuh penjelasan dari ku, jika aku tidak pernah masuk kedalam tempat itu. Jika pun aku ada di sana, aku akan meminta mu untuk menemani ku!" Timpal Lingga yang kini menghitamkan layar handphonenya. Membalas tatapan Yudha, tanpa ekspresi.

"Teknologi saat ini benar-benar canggih, wajah mu bisa berubah menjadi wajah ku. Jadi kau tidak perlu memusingkan hal itu. Setelah kau mengantar ku pulang, aku tidak pergi kemana pun." Jelas Lingga apa adanya.

"Jika kau masih ragu, aku tidak mempermasalahkannya. Karena itu hal yang sangat wajar." Cepat Lingga yang merasa jika Yudha belum seutuhnya menerima pengakuannya.

"Aku mempercayai mu. Aku akan terus mempercayai mu. Karena bagaimanapun, aku harus melindungi mu."

1
Lepidoptera
Penulisannya unik, semangat jugaaaa❤️
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!