Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.
Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Katai Putih
"Nathaaan..."
Suara lembut seseorang yang terdengar memanggil namanya. Akan tetapi, Nathan sama sekali tak bergeming, hanya diam membatu bak ikan di bibir pantai. Ia merasakan nuansa melankolis yang mengendap di lubuk hatinya. Bukan sebuah rasa kehampaan, namun lebih layak dinamakan bayangan ketenangan.
"Nathaaan..."
Sekian detik kemudian, suara itu terdengar kembali dan kian jelas dari yang sebelumnya. Diiringi tawa yang tak asing di telinga, sedikit mendobrak batas ingatannya.
Langit terhampar sempurna tanpa awan setitik pun. Deru ombak bergulung berulang, nyaris tak terdengar menyapu bibir pasir. Belaian angin sejuk menyapa wajahnya, memberikan ketenangan yang kian hangat di dadanya. Waktu seakan berhenti, seolah dunia memang tercipta hanya untuk satu momen ini.
Di bawah naungan payung pantai penuh warna, Nathan berbaring menikmati setiap alunan nada alam. Matanya terpejam merasakan kedamaian, tenggelam dalam keheningan yang tak seutuhnya sunyi.
Di sela deru ombak, suara hangat itu memanggil namanya, lagi dan lagi.
"Nathaaan..."
Kali ini, Nathan menolak untuk mengabaikannya. Ia perlahan membuka kedua kelopak matanya dan di ujung pandangannya, muncul siluet seorang gadis mengenakan topi pantai berpita biru yang membingkai rambut panjangnya berkibar diterpa angin di bawah mentari.
Nathan terus menatap wajah gadis di depannya itu, yang semakin lama semakin tampak jelas. Wajah yang dihiasi senyuman menenangkan serta sepasang mata indah yang menyimpan seluruh musim semi.
Gadis itu perlahan berlari, beranjak mendekat ke arah Nathan. Langkahnya begitu ringan, seakan pasir pun tak melunak di bawah telapak kakinya.
Saat jarak di antara mereka tersisa sejengkal, gadis itu merunduk. Tangan kirinya menahan topi agar tak terbawa angin, sementara tangan kanannya meraih jemari tangan Nathan untuk mencoba menariknya berdiri.
"Hei, tuan tukang tidur! Apa pasir-pasir ini terasa seperti kasur bagimu?" ucapnya sambil terkekeh kecil.
Nathan tak mengedipkan mata sedetik pun. Bibirnya terasa berat, tak mampu berucap sepatah kata pun. Dalam sekejap, dunia terasa lebih berwarna seperti baru saja dilukis ulang oleh tangan-tangan takdir. Keindahan yang tampaknya pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu nyata dan begitu sempurna.
Ia duduk terpaku, tak ingin mengusik momen indah ini. Sedikit saja ia berpaling, mungkin semuanya akan lenyap tanpa sisa dalam sekejap. Tatapannya enggan beranjak dari sosok di depannya.
Gadis itu perlahan melepaskan genggamannya. Ia berlari diiringi tawa, mengejar ombak menjauh dari Nathan, meninggalkan jejak-jejak kaki mungil yang langsung disambut air.
Langkahnya baru berhenti dan ia mendadak berbalik badan saat air laut mulai menggenang, menyentuh betisnya.
Pemilik senyum indah itu melambaikan kedua tangannya. Terpaan angin seketika menerbangkan topinya, membuat rambutnya terurai melambai. Tapi di detik berikutnya, ia melemparkan tatapan setajam sembilu tepat ke arah Nathan.
"Hei, apa kamu cuman mau terus duduk disana sendirian? Atau... berlari kesini mengejarku?"
Senyuman itu, celetukan itu, semakin membekukan dunia Nathan. Waktu seakan benar-benar berhenti sepenuhnya. Dan untuk beberapa saat, Nathan bahkan lupa cara untuk bernapas.
Ia berusaha menggerakkan tubuhnya untuk berdiri, beranjak menggapainya tanpa melepaskan pandangannya pada gadis itu.
Namun, semburat cahaya menyilaukan mendadak membutakan matanya. Merenggut paksa penglihatan Nathan dalam sekejap, lalu menamparnya untuk tersadar dari ilusi.
Saat membuka matanya perlahan, tanpa sadar Nathan mengulurkan tangan, seolah berusaha meraih kembali kepingan kenangan yang baru saja lenyap. Semuanya menguap begitu saja sebelum sempat ia genggam.
Tak ada lagi pasir di telapak kaki, tak ada lagi angin yang berembus, tak ada lagi desiran ombak, tak ada langit biru... dan tak ada lagi gadis itu.
Tak ada apa pun di depannya, hanya kehampaan yang kosong. Perlahan, kegelapan total menelan habis semuanya, merayap bersama bisikan-bisikan yang makin bising memenuhi kepala Nathan.
"Apa kamu benar-benar sayang padaku, Nathan?"
"Kenapa kamu membiarkanku merasakan kesendirian panjang ini, Nathan?"
"Semua yang aku punya sudah aku berikan untukmu tanpa terkecuali. Apakah itu masih belum cukup, Nathan?"
"Apa lagi yang kau inginkan, Nathan? Jawab aku."
"Kamu pembohong, Nathan. Kamu pembohong, kamu ingkar janji, kamu jahat, kamu begitu kejam, Nathan."
"Kamu pada akhirnya meninggalkanku kan, Nathan? Kau sungguh hebat dalam bersandiwara."
"Nathan... Nathan... Nathan... NATHAAAAAAAAAAN!"
Nathan jatuh berlutut, tak kuasa mendengarkan semuanya hingga hanya bisa menutup telinga erat-erat. Bukan hanya terasa menyakitkan, melainkan juga hampir meremukkan hatinya.
Perlahan, semua bisikan itu menghilang hingga muncul suara lainnya yang terus datang dan berulang. Bukan desiran ombak atau tawa ceria gadis itu, melainkan suara alarm yang terus berdering dari ponsel di atas meja sebelah kasur.
Nathan setengah sadar membuka mata. Jemarinya meraba-raba meja, mencoba meraih ponselnya untuk membungkam alarm secepatnya. Di atasnya, kipas angin tua berderit pelan di langit-langit serta terdengar kokokan ayam tetangga bersahutan seolah menggugat paginya yang enggan ia sambut.
Ia masih terbaring dalam dekapan kasur, tatapannya menerawang kosong. Napas Nathan terasa berat, seolah sisa-sisa sesak dari mimpi tadi masih mengganjal dan enggan lepas dari dalam dadanya yang kosong. Entah apa yang sebenarnya hilang, tapi rasa itu begitu jelas. Terlalu jelas hingga... membingungkan.
"Lagi," gumam Nathan lirih. Entah ditujukan pada dirinya sendiri atau pada sesuatu yang hadir di alam mimpinya.
Dentang pagi menyeretnya dari peraduan. Nathan duduk sejenak di pinggir kasur. Tampak sesekali mengucek matanya, seakan mimpinya masih tertancap sebelum akhirnya ia beranjak menuju kamar mandi yang terletak di lantai satu kosnya.
Setelah mencuci muka, dinginnya pagi merayap ke sekujur tubuhnya dari jendela yang baru saja ia buka. Nathan berusaha mengosongkan pikirannya serta mengubur wajah lesunya.
Nathan melangkah ke arah lemari es yang tingginya seukuran tubuhnya. Ia membukanya perlahan, mengambil sepotong pisang, sekotak susu almond dan tak lupa pula botol madu.
Dengungan blender yang hanya terdengar sesaat itu berhasil menyulap semua bahan tadi menjadi segelas smoothie. Hampir dua tahun racikan sederhana itu setia menemani Nathan di minggu pagi. Tak pernah sekalipun terlewat, seolah tubuhnya menyadari bahwa lari pagi takkan terasa lengkap tanpa minuman ini melewati tenggorokannya terlebih dahulu.
Nathan membawa gelasnya menuju area depan kost. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok yang masih terjaga duduk di atas sofa. Orang itu mengenakan kacamata, hoodie-nya melorot setengah, dan rambutnya kusut tak karuan. Di pangkuannya, laptop masih menyala yang menampilkan barisan kode rumit yang bagi orang awam mungkin tampak seperti aksara asing.
"Minimal tidur dulu, Rik. Mukamu udah gak mirip orang," sapa Nathan setengah mengejek, sembari tangannya membuka pintu kos.
Riki mengangkat wajahnya yang terasa berat, lalu menatap ke arah Nathan. Kedua matanya yang sembab dan merah menandakan bahwa ia memang belum tidur sama sekali.
"Jangan berlebihan sama diri sendiri. Ngejar apa? Pengen sukses kayak Larry? Atau mungkin Mark?" tutur Nathan.
"Bukan gitu juga. Tapi ya, mau gimana lagi. Besok aku ada acara camping ke gunung 3 hari 2 malam dan apesnya aku lupa kalo masih ada proyek dari dosenku yang belum kelar."
Nathan diam tanpa berkomentar apa pun sembari mengacungkan jempol ke arah Riki.
Riki meregangkan badan serta kedua tangannya tinggi-tinggi lalu bergumam. "Ahh... deadline ini bener-bener membunuhku."
Nathan hanya menyeringai seolah sudah terbiasa melihat temannya yang satu ini seperti itu. Selalu bersemangat jika berhubungan dengan game dan komunitasnya, namun tak jarang menyepelekan waktu jika menyangkut tugas dan proyeknya.
Setelah menghabiskan minumannya di teras, Nathan kembali ke kamar untuk berganti pakaian lari. Minggu pagi selalu menjadi waktu bagi Nathan untuk berolahraga yang menjadi rutinitasnya yang tak pernah terputus.
Nathan menenteng sepatunya, lalu duduk di sebelah Riki yang masih menyelesaikan tugasnya.
"Nath," ucap Riki tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop
"Apa?" balas Nathan singkat.
"Nanti pas balik dari lari, tolong mampir ke warung ya. Aku mau nitip kopi sachet merek biasanya sama mie instan yang goreng dua bungkus. Terus kalo ada telur, sekalian juga boleh," pinta Riki sembari menoleh ke arah Nathan dengan ekspresi memelas.
"Duitnya?" tanya Nathan dengan wajah datar.
"Pinjam punyamu dulu deh, nanti ku ganti." Riki hanya menyeringai lebar.
Nathan tak menjawab. Ia hanya menyelesaikan ikatan tali sepatunya, lalu berdiri dan berjalan membuka pintu.
"Jangan lupa ya, Nath," mohon Riki sekali lagi.
"Iya, kalo inget."
"Eh, seriusan ini, Nath. Sisa seminggu lagi lho sebelum perkuliahan masuk," rengek Riki, kini sambil memegang kepalanya, seolah seluruh dunia sekongkol untuk membuat hidupnya menjadi lebih rumit.
Nathan hanya mengangguk pelan sembari menutup pintu kos. Saat melangkah keluar melewati pagar kos, pandangan Nathan langsung tertuju pada Bu Wulan sang pemilik kos yang sibuk berbelanja di tukang sayur keliling langganannya di seberang jalan.
"Ampun deh! Kemarin daging ayam sama bawang merah yang harganya naik. Sekarang harga cabe juga ikutan naik," omel Bu Wulan sembari mengibaskan kantong plastik. Namun, omelannya terhenti saat matanya tak sengaja menangkap sosok Nathan.
"Baru berangkat lari paginya, Nathan?"
"Iya, Bu. Tadi bangunnya sedikit kesiangan."
"Gak apa, toh masih pagi juga. Mumpung masih muda harus semangat olahraga dan rajin menjaga kesehatan. Yang penting jangan lari dari kenyataan saja," seloroh Bu Wulan, membuat Nathan mengangkat alisnya lalu tersenyum.
"Aku duluan, Bu."
"Hati-hati. Jangan lupa tengok kanan kiri kalau mau nyebrang jalan," goda Bu Wulan yang sesaat kemudian kembali sibuk berbelanja.
Nathan mulai melangkahkan kaki sembari meregangkan otot tangan dan kaki. Jalanan kompleks di sekitar kos masih terkesan lengang. Hanya kicau burung yang sesekali bersahutan dari pepohonan rimbun, berpadu dengan udara segar Minggu pagi.
Langkah Nathan mendadak melambat saat matanya melihat Riska di ujung jalan. Cewek itu berdiri di depan pagar rumahnya, berkali-kali menatap layar ponsel lalu melirik ke arah jalanan seperti sedang menunggu seseorang. Seragam kerjanya tersembunyi rapi di balik jaket tebal berwarna krem, sementara rambut panjangnya diikat rapi ke belakang seperti biasa.
"Minggu pagi udah rapi aja, Kak Ris. Mau ke mana?" sapa Nathan seraya menghentikan langkah di depannya.
"Ah, kamu ternyata Nath. Iya nih, mau berangkat kerja. Sebenarnya minggu ini libur, tapi ada temanku yang tuker hari libur dadakan. Kamu sendiri mau ke mana? Lari pagi?"
"Seperti biasa." Nathan merapikan rambutnya, lalu memperhatikan raut wajah Riska lebih saksama. "keliatan kayak orang lagi bingung gitu. Ada apa?"
"Hmm," gumam Riska sembari menyodorkan layar ponsel. "Ini lho, ojol-nya di map udah deket tapi gak nyampe-nyampe juga dari tadi."
Belum sempat Nathan membalas, sebuah sepeda motor berhenti di pinggir jalan, tak jauh dari posisi mereka berdiri. Pengemudi ojek online itu mengangkat tangan memberi kode.
Riska menghembuskan napas lega. "Nah, itu dia akhirnya datang".
Cewek itu buru-buru melangkah menghampiri sang pengemudi, menerima helm lalu mengenakannya dengan cepat. Sebelum motor melaju, Riska sempat melambaikan tangan ke arah Nathan. "Duluan ya, Nath!"
Nathan hanya tersenyum tipis sembari membalas lambaian tangannya. "Hati-hati."
Pandangannya mengawal motor itu hingga menghilang di belokan. Setelahnya, Nathan melanjutkan rutinitas lari paginya. Setiap derap langkah sepatunya di atas aspal berirama tenang, menimbulkan gesekan kecil yang menyatu harmonis dengan kicauan burung dan dengung samar kendaraan yang melintas dari kejauhan.
Di dalam ketenangannya, sejujurnya masih bergelayut bayang samar dari mimpi misterius yang tadi membangunkannya. Wajah itu, senyum lembut itu, bayangan suara itu, serta kilatan cahaya yang tiba-tiba menelan segalanya.
Nathan menghela napas panjang, dibiarkannya kepingan-kepingan memori tak berakar itu berserakan dan menepi di sudut-sudut pikirannya yang kadang sama sekali tak tersentuh oleh logika. Sebuah bagian dari dirinya yang masih tertinggal di tempat jauh nan tak nyata itu. Hanya sebuah bumbu abstrak di pagi hari yang sedang ia tapaki saat ini.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, Nathan melambatkan ritme larinya lalu berhenti sejenak di sebuah taman. Ia duduk bersandar pada sebuah bangku besi, menyapu keringat di pelipis serta dahinya dengan tangan. Pandangannya perlahan teralihkan ke arah sekelompok anak kecil yang sedang bermain di bawah rindangnya pohon tabebuya yang kelopaknya bermekaran melayang jatuh.
Seketika, pikirannya langsung melayang jauh. Pergolakan batin semu kembali menyeruak saat potongan ingatan lama mendadak terbayang begitu nyata di pelupuk matanya.
Bagi kebanyakan orang, hari Minggu sebenarnya adalah waktu yang paling cocok untuk bermalas-malasan tanpa melakukan apapun. Tapi Nathan merasa lebih nyaman dan tenang seperti ini, setidaknya setelah lari pagi menjadi rutinitas wajibnya. Bangun lebih pagi, meneguk segelas smoothie, berlari sampai mandi keringat, lalu menantang matahari lebih dulu daripada kebanyakan orang.
Semua memang terasa lebih mudah kalau sudah terbiasa. Meskipun ia sadar, terkadang kebiasaan juga bermula dari sebuah paksaan hingga akhirnya menjadi kebiasaan.
Ada tipe orang yang selalu berusaha terlihat kuat di depan siapa pun, meskipun keadaannya justru berbanding terbalik dengan kenyataan. Orang yang tak ingin dikasihani, tak mau menjadi perhatian, dan pantang membuat orang lain merasa iba. Hanya perlu seseorang yang terus menggenggam tangannya saat ia tertatih berusaha untuk bertahan dan menjadi sosok yang lebih baik.
Dulu, Nathan selau berpikir bahwa melarikan diri adalah cara paling mudah untuk menenangkan riuhnya pikiran dari begitu banyaknya masalah. Hingga akhirnya ia sadar bahwa bukanlah pelarian yang ia butuhkan selama ini. Ia hanya perlu berdiri tegak dan menghadapinya tanpa rasa takut.
Terdengar sangat mudah memang. Ya, selalu terasa mudah kalau hanya dalam kata-kata.
Masa depan selalu menyimpan misteri, sekaligus penuh dengan tantangan yang tak terduga. Namun saat ini, ketika udara pagi masih terasa begitu bersih dan dunia belum riuh dengan kebisingan, Nathan merasa sedikit lebih kuat untuk menyongsong apa pun takdir yang menunggunya di depan.