“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bab 23: Janji Suci di Bawah Naungan Ridha
Pagi hari di penghujung musim kemarau menyapa kota dengan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah dedaunan rindang di halaman masjid agung kota. Suasana di sekitar area masjid tampak begitu hidup namun khidmat. Deretan mobil mewah berjejer rapi di pelataran parkir, berdampingan dengan kendaraan keluarga sederhana yang membawa sanak saudara terdekat. Hari itu adalah hari yang paling sakral—puncak dari segala penantian, air mata perjuangan, dan ketulusan cinta yang telah diuji oleh waktu serta badai kehidupan.
Di dalam ruang tunggu khusus pengantin pria, Rangga Dewantara Aldebaran duduk tegap mengenakan busana pengantin tradisional bernuansa putih bersih, dipadukan dengan selendang songket senada melingkar di pinggangnya. Meskipun ia kini telah menjadi direktur operasional muda yang disegani di perusahaan keluarganya, sorot mata tajam pemuda itu tampak menyiratkan degup jantung yang tidak biasa. Di hadapan meja akad nikah yang beralaskan permadani merah marun, penghulu dan para saksi telah duduk bersiap.
"Santai, Bos! Tarik napas dalam-dalam, jangan kayak mau maju perang lawan geng Viper jilid dua," bisik Satria menggoda sambil menepuk pelan bahu Rangga, mencoba mencairkan ketegangan yang terlihat jelas di wajah sahabatnya itu.
Bara yang berdiri di sisi sebelah kanannya ikut terkekeh pelan. "Bener tuh, Kak. Kalau waktu ngadepin preman pelabuhan aja muka lu lempeng tanpa ekspresi, giliran mau ucapin ijab kabul malah pucat begitu."
Rangga mendengus pelan, melempar senyuman tipis kepada kedua sahabat setianya itu. "Beda urusannya, Sat, Bar. Ini bukan soal adu jotos di jalanan. Ini menyangkut masa depan hidupku seumur hidup."
Di ruangan terpisah tidak jauh dari aula utama masjid, Keisha Zahra Aurellia duduk dengan anggun di depan meja rias berbingkai ukiran kayu. Mengenakan gaun pengantin berwarna putih mutiara dengan detail payet berkilau lembut ecantikan gadis itu tampak begitu memukau, memancarkan aura ketenangan dan keanggunan seorang wanita shalihah.
Ibu Keisha berdiri di belakang putrinya, dengan mata berkaca-kaca penuh haru . Tangan keriput sang ibu mengusap lembut bahu putrinya.
"Masya Allah... anak perempuan Ibu hari ini benar-benar terlihat sangat cantik," bisik sang ibu dengan suara bergetar menahan tangis bahagia. "Ibu bangga sama kamu, Keish. Kamu sudah memilih pria yang tepat—pria yang mau berjuang dari titik terendah demi membuktikan tanggung jawabnya."
Keisha menoleh ke arah cermin, menggenggam tangan ibunya erat-erat sambil tersenyum hangat, sementara air mata bahagianya menetes perlahan membasahi pipinya. "Terima kasih, Bu... berkat doa dan kesabaran Ibu juga semua ini bisa sampai di titik sekarang."
Beberapa menit kemudian, suara mikrofon berderik pelan menandakan prosesi akad nikah akan segera dimulai. Para saksi, keluarga besar, serta para tamu undangan telah menempati kursi masing-masing di dalam aula utama masjid yang berarsitektur megah.
Rangga melangkah masuk dengan langkah tegap namun penuh kehati-hatian, didampingi oleh sang ayah, Danendra Aldebaran, yang berjalan di sebelah kirinya dengan setelan jas formal terbaik. Hubungan ayah dan anak yang sempat retak parah di masa lalu kini telah sepenuhnya pulih, disatukan oleh rasa hormat dan kebanggaan mendalam yang terpancar dari sorot mata Danendra melihat putranya kini resmi menjadi kepala keluarga mandiri.
Rangga duduk bersila tepat di hadapan penghulu. Di tangan kanannya, penghulu menyambut uluran telapak tangan Rangga dengan erat, siap mengikat janji suci pernikahan. Di balik tirai pembatas transparan di sisi kiri ruangan, siluet lembut Keisha tampak duduk tenang didampingi oleh ibunya.
"Saudara Rangga Dewantara Aldebaran bin Danendra Aldebaran," ucap penghulu dengan suara tegas dan jelas, memecah keheningan seisi ruangan. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Keisha Zahra Aurellia binti Almarhum Ahmad Fauzan, dengan maskawin seperangkat alat salat dan perhiasan emas sepuluh gram dibayar tunai!"
Tanpa keraguan sedikit pun, dengan suara bariton yang sangat lantang, tegas, namun sarat akan getaran emosi ketulusan yang mendalam, Rangga membalas jabat tangan tersebut dalam satu tarikan napas:
"Saya terima nikah dan kawinnya Keisha Zahra Aurellia binti Almarhum Ahmad Fauzan dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu kepada para saksi kehormatan.
"Sah!" jawab para saksi dan seluruh tamu undangan secara serempak dengan penuh kelegaan.
"Alhamdulillah..." ucap penghulu memimpin doa penutup akad.
Seketika itu juga, desahan napas lega berhembus di seluruh ruangan. Danendra menepuk pundak anaknya dengan penuh rasa bangga, sementara Satria dan Bara di barisan belakang langsung bertepuk tangan meriah disusul isak tangis haru dari keluarga besar.
Beberapa saat kemudian, pintu tirai pembatas terbuka. Keisha melangkah keluar dengan anggun didampingi oleh ibunya, berjalan menghampiri tempat duduk pengantin pria di mana Rangga kini berdiri menantinya dengan seulas senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya.
Begitu Keisha tiba di hadapannya, Rangga maju beberapa langkah, menyambut tangan istrinya yang kini resmi menjadi separuh jiwanya. Mereka saling menatap lekat-lekat; tidak ada lagi dinding pembatas, tidak ada lagi bayangan kelam masa lalu, tidak ada lagi ancaman dunia jalanan. Yang ada hanyalah pancaran cinta suci yang tulus dan abadi.
Rangga memasangkan cincin emas pernikahan di jari manis tangan kanan Keisha, diikuti oleh Keisha yang melakukan hal serupa pada jari manis suaminya. Setelah itu, dengan penuh kelembutan, Rangga mencium kening istrinya untuk pertama kalinya sebagai suami sah di hadapan Allah SWT dan para saksi.
Suasana aula masjid mendadak dipenuhi oleh tepuk tangan meriah dan ucapan selamat dari seluruh keluarga dan sahabat yang hadir. Satria dan Bara maju memberikan selamat sambil bergurau kecil, sementara ibu Keisha memeluk erat menantu kesayangannya itu dengan linangan air mata kebahagiaan.
Resepsi pernikahan sederhana namun penuh kehangatan digelar pada sore harinya di sebuah taman semi-outdoor berhiaskan ribuan lampu gantung kuning temaram di kawasan perbukitan kota. Udara sejuk pegunungan berpadu dengan alunan musik akustik romantis yang mengalun lembut membuai suasana.
Di atas panggung pelaminan berdekorasi bunga-bunga putih segar, Rangga dan Keisha duduk berdampingan menyambut para tamu undangan yang silih berganti memberikan doa restu.
Di antara kerumunan tamu yang hadir, tampak rekan-rekan kuliah mereka, para insinyur dari perusahaan Aldebaran, serta beberapa mantan anggota Black Raven yang kini telah beralih profesi menjadi pemuda-pemuda mandiri yang sukses di bidang masing-masing. Semua orang hadir dengan senyuman tulus, merayakan kemenangan cinta atas segala rintangan dunia.
Menjelang malam, ketika acara resepsi mulai berangsur sepi dan sebagian besar tamu undangan telah pulang, Rangga mengajak Keisha berjalan-jalan sejenak ke tepi balkon kaca taman yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota di bawah sana. Jutaan lampu perkotaan berkilauan bagai bintang-bintang yang jatuh ke bumi, menciptakan pemandangan malam yang teramat magis.
Rangga melingkarkan kedua tangannya di pinggang Keisha dari belakang, memeluk tubuh istrinya erat-erat sambil meletakkan dagunya di atas pundak wanita itu.
"Capek, Nyonya Aldebaran?" bisik Rangga lembut tepat di dekat telinga istrinya, menghirup aroma wangi melati dan parfum lembut dari rambut Keisha.
Keisha menyandarkan punggungnya nyaman pada dada bidang suaminya, menangkup tangan Rangga yang melingkar di pinggangnya dengan kedua tangannya sendiri. "Sedikit pegal karena berdiri seharian, Kak... tapi rasanya bahagia banget. Rasanya kayak semua mimpi indah yang selama ini kita bayangin waktu di masa-masa sulit dulu akhirnya bener-bener jadi kenyataan."
Rangga tersenyum, mengeratkan pelukannya. "Itu karena kita nggak pernah menyerah, Keish. Ingat malam waktu kita pertama kali ketemu di lorong sekolah dulu? Aku cuman anak berandalan arogan yang hampir merusak masa depannya sendiri, dan kamu adalah gadis sederhana yang ketakutan."
"Dan sekarang..." sambung Keisha melanjutkan kalimat suaminya dengan suara bergetar lembut, "...kita berdiri di sini, sebagai suami istri, memegang masa depan kita dengan tangan kita sendiri."
Rangga memutar tubuh Keisha secara perlahan agar menghadap langsung kepadanya. Ia menatap lekat-lekat manik mata wanita yang telah melengkapi separuh agamanya itu dengan sorot mata penuh cinta yang tak terhingga.
"Mulai hari ini, besok, dan selamanya... tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi perpisahan, dan tidak ada lagi rasa takut," ucap Rangga tegas penuh janji suci. "Aku akan selalu ada di sampingmu, melindungi, mencintai, dan membimbing keluarga kecil kita sampai maut memisahkan."
Keisha tersenyum manis, air mata haru kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia mengangguk pelan, lalu membenamkan wajahnya ke dada bidang Rangga. "Aku pegang janji Kakak... selamanya."
Di bawah naungan langit malam kota yang bertabur bintang, dua jiwa yang dulunya terperangkap dalam kerasnya takdir dan perbedaan dunia kini resmi menyatu dalam satu ikatan suci pernikahan. Menyongsong fajar baru kehidupan rumah tangga yang penuh berkah, cinta abadi, dan harapan terang yang takkan pernah padam.