NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 Awal kisah

Di sebuah desa terpencil yang gersang, bernama "Surya Kencana." Arman lahir ke dalam dunia yang penuh tantangan. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Dia dilahirkan di tengah-tengah ladang kering, di mana kehidupan terasa keras namun indah.

Kilas balik: Beberapa Tahun sebelum Kelahiran Arman.

Harjo seorang lajang, berusia 21 tahun dan belum pernah menikah. Harjo seorang yang rajin dan gigih dalam bekerja. dia memiliki sebidang tanah yang diperoleh dari peninggalan orangtuanya dan ditambah juga dari hasil kerja kerasnya mengolah tanah peninggalan orangtunya itu. Luasnya sudah berkali-kali lipat daripada luas masa peninggalan orangtuanya.

Karena kegigihannya dan kewajibannya, Harjo ternyata banyak juga disukai gadis-gadis di desanya. Tetapi Harjo yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai petani, kurang memperhatikan dan memikirkan soal pendamping hidup, sehingga Dia menjadi lelaki yang belum pernah menikah diusianya.

Harjo bersahabat karib dengan Jhon pria cerdas, anak mantan kepala kampung dan pengusaha muda. Dan juga Slamet seorang guru olahraga, yang jorok, rakus, suka umbar cinta, pembohong dan lucu.

Pada suatu sore, ketika Harjo pulang dari kebunnya, Slamet dan Jhon sedang bersantai di warung kopi.

"Jo, Jo.., teriak Slamet" teriak Slamet memanggil Harjo yang sedang melintas di dekat kedai kopi.

Harjo menoleh, mencari asal suara, dan melihat Jhon dan Slamet sedang duduk bersantai di warung kopi.

"Ada apa, Met?" Jawab Harjo, sambil menghentikan langkah kakinya sejenak.

"Sini, ngopi dululah." Jawab Jhon singkat.

"Iya, ngopi dulu, bareng kita-kita." Slamet menambahkan.

"Sudah, jarang banget, kita ngopi bareng..., sini." Pinta Slamet sambil berteriak.

"Aku masih kotor, baru pulang dari kebun." Harjo, mencoba menolak permintaan Slamet dan Jhon.

"Sudah, gak apa apa, kita juga belum ada yang mandi," jawab Slamet lagi, mencoba memaksa Harjo, supaya mau singgah juga.

Harjo berfikir sejenak, dan akhirnya Harjo mau untuk singgah,

"Baiklah." Jawab Harjo singkat, dan berjalan menuju warung kopi, tempat Slamet dan Jhon berada.

John segera memesankan kopi buat Harjo tanpa diketahui Harjo dan Slamet ,

"Mbak satu kopinya yang pahit ya!" Pesanan ini sesuai dengan kebiasaan Harjo saat memesan kopi.

Ketika Harjo sudah memasuki warung dan duduk, Dia terkejut!

"Waduh, tahu aja saya akan memesan kopi, Mbak!" Ujar Harjo.

Widuri pemilik warung sudah menyediakan kopi buatnya, hanya tersenyum. Karena dirinya biasa melayani pelanggan dengan cara itu.

Widuri adalah penjual kopi atau pemilik warung tempat John dan Slamet biasa duduk bersantai sambil minum kopi.

Widuri memiliki kemampuan membuat kopi dan kue serta makanan ringan lainnya yang termasuk enak di kampung itu. Banyak orang suka singgah di warungnya untuk sejenak menikmati kopi maupun kue-kue buatan Widuri.

Widuri juga masih gadis dan belum menikah, usianya 20 tahun anak tunggal dalam keluarganya yang adalah penduduk asli desa tersebut.

"Siapa yang memesankan kopi ini, perasaan aku belum ada pesan"

Tanya Harjo terkejut ketika kopi telah tiba di atas meja dihadapannya saat ia sudah memasuki kedai atau warung milik Widuri, lalu duduk di samping Slamet dan John.

Wajah Widuri semakin tampak memerah, karena sedikit malu-malu.

"Hebat kamu Widuri, bisa tahu Aku akan pesan kopi" Canda Harjo.

"Itu Mas Jhon yang pesankan"

Sahut Widuri menjelaskan.

"Kalau nggak dipesan tidak mungkin aku buatkan."

Kata Widuri malu-malu sambil berlalu pergi masuk ke dalam kedai kopinya.

"Iya hebat lu Jo, belum sampai udah dibuatkan." Canda Slamet Sambil tertawa, "Hahaha... hahaha" Jhon juga ikut tertawa.

Widuri tersenyum malu-malu sambil kelihatan grogi sekali, wajahnya semakin bertambah memerah, karena malu ditambah warna kulitnya yang putih itu.

Widuri pun berjalan ke belakang warung supaya tidak kelihatan grogi.

"Ada aja lu Met, lihat tuh Widuri jadi malu-malu, kan?" Seru Jhon.

"Hebat lu Jo, bisa membuat Mbak Widuri jadi malu-malu begitu." Tambah Slamet, memindahkan fokus pembicara ke Harjo.

"Ada apa ya dengan Widuri dan kamu Jo"

Pancing Slamet, yang pernah menggoda Widuri, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Widuri.

" Iya nih Jo, aku juga jadi penasaran." Sambung John ikut memanas-manasin.

Harjo hanya tersenyum saja, Dia tidak terlalu memikirkan setiap perkataan John dan Slamet, Dia menganggap itu semua hanya candaan belaka.

Sementara itu, dibelakang warung kelihatan wajah Widuri semakin memerah, mendengar pembicaraan mereka bertiga. Kebetulan juga karena waktu sudah agak sore, semua para pelanggan sudah berpulangan ke rumah masing-masing. Ia semakin kelihatan grogi sekali.

"Sudah sudah tertawanya, kasihan Mbak Widuri, dikiranya nanti kita bermaksud meledeknya lagi."

Harjo berkata begitu, supaya menghentikan pembicaraan mengenai Mbak Widuri.

"Oh iya Jo, Bagaimana kebun kamu sekarang, menanam apa kamu?" Tanya Jhon yang mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Harjo.

"Oh, aku tanam jagung sekarang, karena mulai memasuki musim kering walaupun masih ada sedikit hujan. Aku rasa itu tanaman yang paling cocok untuk saat ini." Jawab Harjo kepada Jhon.

"Hebat kamu Jo, tahu aja Kamu sudah mendekati musim kemarau, sehingga Kamu bisa menduga, tanaman apa yang cocok saat musim seperti ini"

John merasa salut terhadap keputusan Harjo yang menanam jagung pada saat ini.

"Namanya petani ya harus tahu dong, dan aku juga ya asal coba saja, ternyata tepat." Harjo mencoba merendahkan diri.

Harjo memang setiap musimnya sering mendapatkan hasil yang baik di pertaniannya. Berbeda dengan petani lain yang terkadang asal memilih tanaman, sehingga sering salah memilih tanaman yang sesuai dengan musim pada saat itu.

Pada saat kemarau menanam padi, akan rusak karena kekeringan, petani jadi mengalami kerugian. Atau sebaliknya, pada saat musim penghujan petani di desa itu banyak yang menanam jagung dan ubi, sehingga ubi menjadi busuk di akar dan jagung busuk juga batangnya. Tanaman mati, padahal sudah dipupuk, dan disemprot, petani itu pun menjadi merugi.

Oleh sebab itu banyak di antara petani, yang merasa cemburu atau curiga, kalau Harjo memakai guna-guna atau semacamnya. Banyak diantara mereka yang iri, mencibir dan menggosipi Harjo di belakangnya.

Keberhasilan Harjo, dibandingkan petani lain, adalah karena Harjo, mau belajar, dan mengikuti setiap arahan dari petugas Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL, yang pernah hadir dikampung Surya Kencana.

Harjo dengan tekun, mengikuti dan mendengarkan setiap arahan dari petugas PPL pertanian. Petugas PPL pertanian yang pernah datang ke desa Surya Kencana ditugaskan dari pemerintah pusat, Provinsi dan juga pernah datang dari pemerintah Kabupaten atau Dinas Pertanian Daerah juga.

Warga kampung pada saat itu, banyak yang menolak PPL. Mereka berpandangan petugas PPL hanyalah anak kemarin sore, tidak berpengalaman dan tidak tahu tentang pertanian. Hanya akan membuat mereka rugi, karena harus memupuki, menyemprot insektisida (penyemprotan hama dengan larutan anti hama) dan sistem tumpang sari (dua atau tiga atau lebih jenis tanaman dalam satu Areal pertanian) dan sistem pertukaran jenis tanaman setiap kali habis musim panen akan merepotkan dan tentunya tidak akan memberikan hasil yang maksimal.

Misalnya menanam Jagung setelah musim panen padi pasti merepotkan, sebab mereka tahunya menanam padi.

Atau melihat keadaan musim cuaca pada saat anda melakukan penanaman.

Misalnya menanam ubi, jagung atau kacang hijau pada saat musim kemarau.

Banyak petani yang merasa direpotkan, dirugikan kalau harus mengikuti anjuran PPL. Hal inilah yang membuat mereka menolak setiap apa yang diajarkan oleh PPL.

Namun sebaliknya dengan Harjo yang dengan tekun, mengikuti dan tetap belajar untuk mengembangkan sistem yang sudah diajarkan PPL kepada warga Kampung Surya Kencana.

(latar belakang kegagalan petani di Kampung Surya Kencana).***

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!