Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Begitu bertemu dengan Rose, raut wajah Clark langsung berubah, tentu saja ia menjadi kesal melihat gadis sekelas dengannya dulu yang selalu saja menyindirnya.
Clark kemudian tersenyum tipis sebelum menjawab, "Sebelumnya aku baik-baik saja..." ia berhenti sejenak, "tapi setelah melihat wajahmu, perasaanku berubah jadi buruk. Kak Yohan, kalau sudah selesai makan, ayo kita pergi." Tatapannya kini berubah penuh rasa jijik.
Yohan segera menutup makannya saat mendengar perintah itu. Rose meledak marah, merasa dihina habis-habisan.
"Sombong sekali kau! Jangan merasa hebat hanya karena sudah menikah dengan Dante! Ingat saja, kau hanyalah tumbal yang dikirim ayahmu untuk melunasi hutangnya padanya! Sekarang dia mungkin memperlakukanmu baik, tapi itu takkan bertahan lama!" hardiknya tajam.
Mendengar ucapan yang merendahkan majikannya, Yohan segera bersiap melangkah maju. Namun Clark mencegahnya.
"Kak Yohan, biarkan saja. Pernah dengar pepatah 'anjing menggonggong, kafilah berlalu'?"
"Kau bilang aku anjing?!" Rose meluap.
"Tuh kan, anjingnya mulai menggonggong lagi. Ayo pergi," ucap Clark tak peduli. Sikap itu membuat Rose semakin memuncak emosinya. Ia meraih gelas di meja dan hendak melemparnya, namun Yohan lebih sigap mencegahnya, memelintir pergelangan tangan wanita itu hingga ia menjerit kesakitan.
Clark berpura-pura terkejut, menarik perhatian pengunjung lain. "Maaf atas keributan ini. Saya tak mengenal wanita ini dan tak tahu asalnya. Ia mencoba menyerang saya, jadi pengawalku menahannya," jelasnya tenang.
Bisik-bisik pun terdengar, dan mayoritas memihak Clark. Tak lama petugas keamanan datang, meminta maaf pada Clark, lalu membawa Rose pergi saat wanita itu berteriak histeris mengutuknya.
Suasana hati Clark yang tadinya gembira kini mendadak kelam. Hampir setahun ini ia berusaha melepaskan dendam pada keluarganya, berfokus memperbaiki hubungan dengan Dante, dan menebak segala kesalahpahaman di kehidupan sebelumnya.
Meski diperlakukan buruk oleh ayahnya, ia tetaplah darah dagingnya. Namun lebih dari itu, ia bersyukur pada takdir yang memberinya kesempatan kedua untuk membangun rumah tangga bersama pria yang dicintainya, dan kini harapannya sederhana yaitu menua bersama Dante.
Clark menatap hasil persiapannya dengan puas, bukan sendirian, beberapa pelayan membantunya menata segalanya. Kini ia hanya menunggu kepulangan suaminya untuk merayakan ulang tahun pernikahan pertama mereka. Ia segera membersihkan diri, tak ingin terlihat berantakan saat Dante pulang.
Setelah mandi, dengan jubah mandi yang masih melekat, ia duduk di depan cermin, merawat kulit dan menyemprotkan wangi-wangian. Ia menatap selembar pakaian yang tersimpan, terasa malu untuk memakainya.
'Ah, tidak usah berlebihan. Lagipula Kak Dante pasti lebih suka kalau aku tidak memakai apa-apa,' pikirnya.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, namun sosok yang ditunggu tak kunjung datang. Biasanya Dante selalu pulang tepat waktu, atau setidaknya memberi kabar. Clark meraih ponselnya, namun wajahnya mendadak pucat karna baterainya habis total.
Ia bergegas turun mencari Paman Luis untuk meminta bantuan menghubungi suaminya, namun langkahnya terhenti saat melihat sosok yang tak asing duduk di ruang tamu. Itu adalah Zeck.
'Apa yang dia lakukan di sini? Apakah dia ingin memberi ucapan selamat? Tidak mungkin... dia tak pernah menyukaiku,' batinnya.
Pandangan mereka bertemu. Meski merasa tak sopan mendatangi paman mertuanya dengan pakaian demikian, Clark tak mungkin menghindar. "Paman? Tumben datang malam-malam begini?" sapa sopan.
Zeck memandangnya dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan, lalu memalingkan wajah.
"Maafkan saya, Paman. Saya baru saja mandi dan hendak istirahat, tapi melihat Paman datang, saya langsung turun tanpa ganti baju," jelasnya cepat.
'Kau kira aku mau menggodamu? Tenang saja, akal sehatku masih utuh. Kau sama sekali bukan tipeku,' batinnya sinis.
Zeck diam sejenak, lalu bicara datar, "Dante belum pulang. Kalau kau ingin meneleponnya, percuma saja. Dia takkan mengangkat telepon darimu."
"Keponakanku sedang bertemu dengan calon istri keduanya."
Dunia serasa berhenti berputar bagi Clark.
"Sudah setahun kalian menikah, tapi sepertinya dia belum bosan denganmu. Aku yang mengatur pertemuan itu. Gadis itu cantik dan berpendidikan. Aku yakin Dante akan menyukainya. Jika dia belum ingin menceraikanmu, dia bisa menjadikan wanita itu istri kedua."
Clark terpaku kaku, tak mampu bergerak.
"Hanya itu tujuanku datang. Aku pulang. Kau tak perlu menunggunya malam ini. Segera tidurlah, udara malam tak baik untuk kesehatan." Zeck pergi dengan senyum puas melihat reaksi hancur yang terpancar jelas dari wajah menantunya.
Clark diam terpaku menatap pintu yang tertutup. Dadanya terasa begitu sesak dan perih. Ia percaya pada Dante, namun kata-kata Paman Zeck meresap masuk, meragukan keteguhan hatinya sendiri. Ia menepuk dadanya pelan, berusaha mengusir rasa sakit itu.
"Paman Luis!" teriaknya memecah kesunyian rumah.
Kepala pelayan segera datang dengan tergesa-gesa. "Ada apa, Nyonya?"
"Segera hubungi Kak Dante!" perintahnya gemetar.
Paman Luis segera mencoba menelepon berkali-kali, namun hasilnya tetap sama, tak ada jawaban. Hati Clark semakin teriris sakit.
"Panggil Kak Yohan sekarang juga! Aku harus menemui Kak Dante!" ucapnya penuh ketegasan yang tak bisa dibantah.
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭