"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
"Clara, keran air di kamar mandi kamu rusak. Airnya mampet."
Pagi-pagi sekali, Elzio sudah berdiri di ambang pintu dapur sempit rumah kontrakan Clara. Pria itu hanya mengenakan kaus polos putih yang melekat ketat di dada bidangnya dan celana training hitam. Rambutnya sedikit acak-acakan, tapi justru membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih mempesona dibanding saat memakai jas.
Clara yang sedang membalikkan telur dada di atas wajan tua menoleh, memelototi Elzio dengan spatula di tangan.
"Perasaan kemarin kerannya lancar-lancar aja! Lu apain lagi, hah?!" cetus Clara curiga.
Elzio melangkah mendekat, tanpa rasa canggung langsung menyelusupkan kedua tangannya di pinggang Clara dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu mulus wanita itu.
"Saya cuma mau cuci muka," bisik Elzio rendah, menempel ketat seperti benalu mahal. "Tapi ulir kerannya sepertinya sudah tua. Jadi kamu harus temani saya di kamar mandi."
Clara mencoba melepaskan cengkeraman tangan Elzio di pinggangnya, tapi pria itu justru semakin mempererat pelukannya, menghirup aroma sampo dari rambut Clara dengan nyaman.
"Elzio! Lepas! Gue lagi masak!" bentak Clara, pipinya mendadak panas karena hembusan napas hangat Elzio di lehernya. "Nanti telurnya gosong!"
"Biarkan saja gosong, nanti saya beli warungnya," sahut Elzio santai tanpa dosa.
"Lu kata lu masih kaya?! Lu kan bangkrut, bodoh!" semprot Clara galak, mematikan kompor dengan gusar. "Lepas gak?! Katanya mantan CEO, tapi kelakuan kaya anak TK nempel-nempel mulu!"
Elzio terkekeh pelan—sebuah tawa bass yang menggetarkan dada tegapnya di punggung Clara. Dia bukannya melepas, malah membalikkan tubuh Clara hingga wanita itu berhadapan langsung dengannya, terkunci di antara meja dapur dan tubuh tegap Elzio.
"Pria bangkrut butuh kehangatan, Clara," bisik Elzio dengan binar mata kejailan yang pekat. "Dan sumber kehangatan saya cuma kamu."
"Basi!" Clara memutar bolanya malas, mencoba mendorong dada Elzio, tapi tenaganya sama sekali tidak sebanding. "Lu tuh sebenernya sengaja kan numpang di sini cuma buat gangguin gue?!"
"Saya tidak punya tempat tinggal lagi, sweetheart," kilat dusta di mata Elzio memancar sempurna. "Ingat, kakek saya membekukan semua rekening dan menyita rumah saya."
Clara menghela napas panjang, menatap wajah tampan di depannya dengan perasaan campur aduk antara kasihan dan jengkel. Mana tahu dia kalau pria 'kasihan' di depannya ini adalah pemilik konsorsium raksasa dunia yang hartanya tak akan habis tujuh turunan.
"Ya tapi gak usah nempel-nempel terus juga! Gue mau napas!" cicit Clara.
"Tidak bisa," balas Elzio cepat, menunduk sedikit hingga hidung mereka saling bersentuhan. "Setiap kali saya jauh satu meter dari kamu, jantung saya rasanya mau berhenti."
"Gila! Gombalan lu makin murahan ya sejak gak jadi CEO!"
"Tapi kamu suka, kan?" goda Elzio, menyunggingkan senyum tipisnya yang memabukkan.
Clara memalingkan wajahnya yang makin memerah. "Enggak! Udah sana, gue mau antar berkas ke tempat Anya!"
"Saya ikut."
"Enggak ada ikut-ikut! Gue naik angkot!"
"Kalau begitu, saya yang naik angkotnya duluan."
"Elzio!"
Sepanjang perjalanan di dalam angkutan umum KRL yang lumayan padat, Elzio benar-benar melancarkan aksi 'menempel'-nya tanpa batas.
Pria dengan tinggi hampir 190 cm itu berdiri pas di depan Clara yang terduduk di kursi penumpang. Kedua tangan Elzio memegang besi pegangan di atas kepala Clara, secara efektif mengurung tubuh mungil Clara di antara kedua lengannya.
Setiap kali kereta berguncang, dada bidang Elzio makin rapat menempel ke wajah Clara.
"El... mundur dikit kenapa sih?" bisik Clara setengah berbisik, risih karena perhatian beberapa penumpang wanita di KRL tertuju pada mereka. "Dilihatin orang-orang tuh!"
"Mundur?" Elzio menyipitkan matanya, merendahkan posisinya hingga bisikannya terdengar pas di telinga Clara. "Kereta ini ramai, Clara. Banyak pria di sekitar sini. Saya tidak akan biarkan bahu kamu tersenggol siapapun."
"Gak ada yang mau menyenggol gue, Elzio! Lu-nya aja yang kelewat protektif!"
"Mencegah lebih baik daripada saya harus menghajar orang di dalam kereta umum," sahut Elzio tenang, namun nada suaranya sama sekali tidak bernada bercanda.
Seorang pria muda yang berdiri di dekat mereka tak sengaja terdorong oleh desakan penumpang lain dan hampir mengenai bahu Clara.
SRET!
Dengan gerakan kilat, Elzio menggeser posisi kakinya, meletakkan badannya sendiri di antara pria itu dan Clara, menatap pria tersebut dengan pandangan dingin yang tajam bagaikan pisau.
Pria muda itu langsung menciut, menelan ludah kasar dan menggeser posisinya sejauh mungkin dari Elzio.
Clara menepuk paha Elzio pelan. "Elzio, jangan melototin orang random kaya gitu!"
"Dia mau menyentuh kamu," desis Elzio kaku, menyilangkan tangan di depan dadanya sambil tetap membentengi Clara.
"Dia gak sengaja terdorong, El!" Clara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lu tuh bener-bener ya... dari CEO dingin berubah jadi pengawal pribadi posesif!"
"Saya lebih suka posisi ini," jawab Elzio tanpa ragu, menatap lurus ke dalam mata Clara. "Jadi pengawal pribadi kamu seumur hidup."
Clara membisu, bibirnya terkatup rapat. Ada desiran hangat yang melingkupi dadanya, meruntuhkan sisa-sisa bentakan yang tadinya ingin dia lontarkan.
Siang harinya, di kafe milik Anya.
Anya menatap heran pada pemandangan di depannya. Clara sedang sibuk mengetik laporan freelance di laptopnya, sementara Elzio duduk rapat di samping Clara. Pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Clara, memegang jemari kiri Clara yang bebas, dan memainkan cincin polosan yang tadi pagi dibelinya di jalanan.
"Clar..." panggil Anya pelan dari balik meja kasir. "Ini Pak Elzio... beneran udah gak jadi CEO lagi?"
Clara menoleh, menghela napas. "Iya, Nya. Dia dilepas dari jabatannya gara-gara belain gue kemarin."
Anya membelalakkan mata kaget, lalu melirik Elzio yang sama sekali tidak terlihat tragis ataupun sedih. Pria itu justru tampak sangat menikmati momen bermanja-manja pada Clara.
"Tapi kok... ekspresi Pak Elzio bahagia banget ya?" bisik Anya bingung.
Elzio mendongak dari bahu Clara, menatap Anya dengan senyum tipis. "Kehilangan jabatan ratusan triliun itu tidak ada artinya, Anya. Yang penting saya dapat aset paling berharga di dunia ini."
Clara langsung menepuk lengan Elzio keras. "Elzio! Bisa diam gak?!"
"Aww, sakit, sweetheart," ringis Elzio berpura-pura, tapi malah makin mengencangkan pelukannya di pinggang Clara dari samping. "Anya, tolong buatkan teh hangat. Calon istri saya ini galak sekali hari ini."
"Siapa yang calon istri lu?!" semprot Clara.
"Tuh kan, galak lagi," gumam Elzio, menyembunyikan senyum puasnya di leher Clara.
Anya yang melihat interaksi itu terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya. "Gila ya... dulu Pak Elzio kalau di kantor nakutin banget, serasa mau makan orang. Sekarang malah kaya kucing penurut yang nempel terus sama induknya."
"Kucing gila lebih tepatnya, Nya!" gerutu Clara, meski tangan kanannya tanpa sadar usil mengelus rambut halus Elzio yang berada di bahunya.
Elzio memejamkan matanya, menikmati usapan lembut jemari Clara di kepalanya. Trik berpura-pura bangkrut dan menempel tanpa henti ini ternyata bekerja seribu kali lebih efektif dibanding membawa ribuan dokumen kontrak kerja lima miliar.
"Clara..." bisik Elzio rendah di tengah keheningan.
"Apa lagi?"
"Malam ini masak apa?"
"Gak ada masak-masak! Lu yang beli bahan makanannya pake uang kerja serabutan lu!"
Elzio tersenyum makin lebar, mengencangkan dekapannya. "Siap, Calon Istri."