AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
"Sumpah, Deno ternyata menjijikkan banget!"
"Ternyata dia yang nyolong uang kas waktu itu? Dan dia malah nuduh bendahara kelas?!"
Bisikan-bisikan para siswa dengan tatapan jijik, benci, dan amarah kepada Deno.
"De-deno, kau harus lihat ponsel mu," bisi temannya.
Deno yang mulai merasakan perubahan, ia merogoh kantongnya dan membuka ponselnya sendiri.
Begitu layar ponselnya menyala, wajah Deno seketika pucat pasi.
Matanya membulat lebar, menatap video dirinya yang merusak mobil Al, yang sedang memukul anak SD dan mencuri yang terpampang jelas di layar.
Tubuh Deno menegang kaku. Suara rekaman video dirinya yang sedang tertawa puas setelah memukul anak SD terdengar jelas.
"I-ini... ini manipulasi! Ini editan!" teriak Deno panik.
Ia menatap teman-temannya, mencari pembelaan. "Riko! Andi! Lu berdua tahu kan gua gak pernah kayak gini? Ini hoaks!" katanya dengan suara bergetar.
Namun, kedua temannya justru melangkah mundur, menjauhkan diri seolah Deno.
"Gila lu, Den. Gua tahu lu nakal, tapi soal uang kas dan gebukin anak SD? Sakit lu ya," bisik Riko sambil menggelengkan kepala, menatap Deno dengan pandangan asing.
"Bukan aku! Sumpah bukan aku! Kalian jangan percaya! Ini Ai! Ini editan si miskin ini!" kata Deno panik menatap kerumunan siswa yang kini menatapnya penuh cemoohan kepadanya.
"Teknologi satelit dan enkripsi peladen sekolah gak bisa dibohongi dengan alasan Ai, Deno. Semua video itu punya metadata asli. Jam, tanggal, dan lokasi kejadiannya valid. Mau mengelak gimana lagi?" ucap Al dengan nada dingin
"Lu... bajingan! Lu sengaja mau hancurin aku?! Bokap ku bisa tuntut lu karena pencemaran nama baik! Gua bisa bikin lu membusuk di penjara!" kata Deno dengan frustrasi..
Al sama sekali tidak panik.
"Silakan panggil bokap mu, Sekalian kasih tahu dia, folder kedua yang siap aku rilis lima menit lagi adalah laporan keuangan komite sekolah yang dimanipulasi sama bokap mu buat korupsi dana yayasan," bisik Al terkekeh penuh kemenangan.
Mendengar bisikan itu, Wajahnya mendadak pucat pasi.
"K-kau... dari mana kau tahu itu?" tanyanya dengan gagap.
Al mundur satu langkah dan tersenyum tipis. "Aku udah bilang, kan? Tangan ku terlalu berharga buat mukul mu. Menghancurkan mu itu... jauh lebih mudah dari yang mu bayangkan."
"Deno! Al! Apa-apaan ini?! Kenapa ramai-ramai di koridor?"
Terdengar suara Ibu Sarah, Kepala Bagian Kesiswaan yang terkenal galak, berjalan cepat masuk dalam kerumunan siswa.
Di tangannya, ia juga memegang sebuah tablet yang menampilkan halaman web sekolah.
"Deno, ikut Ibu ke ruang Kepala Sekolah sekarang juga! Dan kamu, Al, bawa semua bukti asli yang kamu punya," perintah Ibu Sarah tegas.
Deno menatap Ibu Sarah dengan tatapan panik. Lututnya terasa lemas.
Di sekolah ini, ia selalu lolos dari sanksi karena jabatan ayahnya.
Dan bukti yang sudah menyebar ke seluruh media sosial dan ditonton oleh ribuan orang, bahkan kepala sekolah pun tidak akan berani melindunginya jika tidak ingin nama baik yayasan hancur.
Al mengangguk sopan pada Ibu Sarah. "Baik, Bu. Saya punya semua berkas digitalnya secara lengkap."
Sebelum melangkah mengikuti Ibu Sarah, Al sempat menoleh ke arah Deno yang masih mematung terlihat ingin menangis.
"Selamat menikmati konsekuensinya, Deno," ucap Al pelan, lalu berjalan melewati rivalnya itu tanpa menoleh lagi.