NovelToon NovelToon
Satu Imam Dua Makmum

Satu Imam Dua Makmum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Adiba Aza hra

Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Dendam yang Tertahan

"Tempat ini sering sekali digunakan untuk penculikan," kata polisi.

"Baiklah kalau begitu, mari kita segera masuk sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi," ajak polisi yang lain, lalu mereka pun memasuki rumah terbengkalai itu.

"Aira!!! Kinan!!! Kalian di mana, Nak?!" teriak Ayah Fikri, dan Azam mengikutinya di belakang.

Aira yang samar-samar mendengar teriakan sang ayah, mencoba memanggil sang ayah dengan suara parau.

Di pojok ruangan, Kinan menyuruh anak buah Ayah Vito untuk meneteskan cairan agar dia terlihat sedang menangis tersedu-sedu.

"Mungkin ada di ruang bawah tanah. Kalian cepat geledah tempat yang lain, dan yang lain ikut saya," perintah kepala polisi.

Dengan langkah cepat, mereka menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah, dan benar saja di sana ada satu pintu.

"Cepat kita masuk!" tegas kepala polisi lalu mendobrak pintu tersebut.

Semua orang berhenti di depan pintu.

"Berani maju, siap-siap kehilangan cewek ini!" kata salah satu anak buah Vito.

Azam yang melihat kondisi Aira mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

"Lepaskan mereka atau kali...?"

Ketiga preman itu tertawa terbahak-bahak, lalu mengeluarkan botol kecil dari saku celana mereka masing-masing.

Salah satu dari anak buah Vito dengan berani memukul punggung Aira dengan keras, membuat perempuan itu seketika tidak sadarkan diri. Lalu mereka beralih ke arah Kinan dan melakukan hal yang sama, namun tidak sekeras saat memukul Aira.

"KALIAN BERANI-BERANINYA MENYENTUH WANITAKU DI HADAPANKU!!!!" teriak Azam yang hendak menghampiri anak buah Vito. Namun, dengan cepat langkahnya dihalangi oleh Seno dan Ardi.

"Ini bukan waktu yang tepat buat ngasih mereka pelajaran, Zam!" kata Seno cepat.

"Lihat!!! Hahaha!!!"

Suara tawa ketiga anak buah Vito terdengar begitu berani. Namun, beberapa detik kemudian mereka meminum cairan yang ada di tangan mereka dan seketika mereka tewas.

Azam berlari dengan cepat ke arah Aira. Dia tidak memedulikan siapa pun. Laki-laki itu menangis pilu saat melihat luka yang begitu menyakitkan di tubuh sang istri.

......

Hari ini Azam memutuskan untuk memanggil sahabatnya, Andika. Andika adalah sahabat Azam sejak SMA dan sekarang dia bekerja di sebuah rumah sakit ternama di Eropa. Azam lebih percaya kepada Andika untuk menangani Aira.

Setibanya di Indonesia, Azam sendirilah yang menjemput Andika, lalu membawanya ke rumah sakit tempat di mana Aira dirawat.

"Sabar, Bro. Gue baru sampai. Lagian gimana sih kejadiannya?" tanya Andika yang melihat kekhawatiran begitu mendalam di wajah tampan Azam.

"Tangani istriku dulu, baru tanya, Dika!" kata Azam yang menambah kecepatan laju mobilnya.

Andika geleng-geleng kepala. Dia sudah tidak heran kenapa Azam begitu khawatir kepada Aira, karena sejak Aira kecil mereka tumbuh bersama. Meski Andika baru mengenal Aira sejak SMA, tetapi itu sudah lebih dari cukup bagi Andika untuk mengenal Aira.

Saat ini, Aira sedang ditangani oleh Dokter Risma. Kondisi Aira sebenarnya tidak begitu berbahaya. Hanya saja, dengan kejam anak buah Vito memaksa Aira untuk meminum obat tidur dosis tinggi. Ditambah lagi, pukulan keras di pinggangnya membuat tulang belakangnya terkena cedera.

Ayah Fikri menjaga Kinan di kamar inapnya. Sejak malam itu, Kinan jadi lebih pendiam.

"Ayah ke kamar Aira saja, Yah. Kinan tidak apa-apa, kok," kata Kinan, terlihat tulus.

Ayah Fikri menggeleng cepat. "Ayah jagain kamu dulu. Nanti kalau pemeriksaan Aira dan kabar dari dokter sudah jelas, Ayah ke sana sebentar."

Kinan hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

***

Setibanya Azam dan Andika di rumah sakit, Azam langsung membawa Andika ke kamar inap Aira. Sebelum masuk, Andika mencium punggung tangan Bu Nilta yang kebetulan berada di depan kamar inap Aira ditemani Hanum.

"Di dalam ada Dokter Risma," kata Azam tak sabaran.

Andika mengangguk, lalu meminta Azam untuk menunggu di depan.

"Vito sialan!" geram Azam, lalu menghubungi seseorang.

"Cepat cari tahu di mana keberadaan Vito!" kata Azam tegas, yang langsung diiyakan oleh orang di seberang telepon.

"Nak, kamu mau kemana?" tanya Bu Nilta saat melihat Azam yang akan meninggalkan ruang inap Aira.

Azam berjalan ke arah sang ibu dan sang adik.

"Azam ingin memberi pelajaran buat Vito, Bu! Vito harus merasakan apa yang Aira rasakan!" kata Azam marah. Namun, meskipun sedang marah, Azam tetap berkata lembut kepada ibunya.

Bu Nilta tersenyum, lalu mengusap lembut pundak sang putra. "Belum waktunya, Nak. Dalam keadaan seperti ini, apa kamu akan meninggalkan Aira yang sedang berjuang?" kata Bu Nilta.

Azam terdiam, lalu menggeleng cepat. "Baiklah, Bu. Azam akan tetap di sini," kata Azam pelan, lalu kembali berdiri dan berjalan ke arah depan pintu kamar inap Aira.

"Bang, mau Hanum belikan sesuatu? Abang dari kemarin belum makan," tawar Hanum yang sudah berdiri di belakang Azam.

"Tidak usah, Dek," tolak Azam cepat.

Hanum menghela napas dalam. "Nanti kalau Abang sakit, siapa yang akan jagain Mbak Aira? Pasti nanti Mbak Aira marah loh kalau tahu Abang tidak makan," kata Hanum.

Azam terdiam sejenak. "Belikan burger saja sama kopi hangat," jawab Azam malas.

Hanum tersenyum senang. "Nah, gitu dong, Bang. Ya sudah, Hanum keluar dulu, ya," pamit Hanum dan langsung diiyakan oleh Azam.

1
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍🙏
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut👍
Saddam Husein
lanjut👍
Saddam Husein
Semangat terus kak 😎👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
hubungan sama orang tua atau saudara terasa asik biasanya kebanyakan kn nya fokus ke pemeran utama yg ini nih asikkkk gokil /Drool//Joyful//CoolGuy/
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Mantap gw yg cowo aja ngakak bca nya 🤣😄
Adiba Azahra
Wah, terima kasih banyak, Kak! 😍 Semoga makin baper ke depannya, ya. Ikuti terus kelanjutan ceritanya! 🔥🚀
Ridwan Hasan: Dari judul nya udah nyesek 🙏 Bagus kak semangat siap menyemak 👍
total 3 replies
Redmi
Lanjuttttttttttt 😍
Redmi
Aaaa ikut baper 😍🙏
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍
Redmi
Lanjut kak Bagus
Adiba Azahra: Terima kasih banyak, Kak! 🥰 Ditunggu kelanjutannya, ya, secepatnya! 🚀🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!