Vita adalah seorang gadis jenius yang merupakan anak angkat, yang sering
mendapatkan perkataan tidak bersahabat dari ibunya. Pada kelas tiga SMA dia
pindah dari Surabaya ke Jakarta dan bertemu dua laki-laki populer yang
menyukainya. Andra dan Rafka. Andra adalah penerima juara umum selama
bertahun-tahun, dan Rafka adalah siswa tukang bolos yang tak asing bagi Vita.
Kemudian Vita berteman dekat dengan keduanya, terutama dengan Rafka.
Di sekolah, bersama teman-teman barunya ini, Vita akan mengalami
pengalaman terasa begitu
manis. Vita akan bertengkar dengan sepupunya, dibully oleh teman sekelasnya,
tapi tidak ada yang dapat membuat Vita takut atau berhenti berteman dengan
Rafka juga dekat dengan Andra.
Hingga beberapa bulan kemudian Vita bertengkar dengan Rafka
setelah Vita menolak Andra. Namun, pertengkaran itu
tidak bertahan lama, Vita dan Rafka kembali bersahabat. Dan Vita pun pergi ke
London. Meninggalkan Rafka yang khawatir dan Andra yang menanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sisa-sisa tawa Rafka masih membayang di wajahnya yang tampan. Ia melangkah ringan di koridor kosong yang telah ditinggalkan para penghuni setianya yang hobi bergosip. Ia, seperti biasa, akan pulang terlambat karena harus mengikuti kelas tambahan bersama Vita. Makin lama ia makin menikmati kelas-kelasnya bersama gadis itu. Semua teori yang rumit dan berbelit-belit dan selalu diharapkannya tak usah ditemukan seakan semakin mudah. Ia berterimakasih pada semua tokoh penting dalam ilmu Fisika, Kimia, dan Matematika karena membuat rumus yang sulit sehingga ia membutuhkan Vita untuk mengajarinya, membuatnya semakin dekat dengan gadis itu.
Ingin sekali rasanya ia memberitahu Vita tentang hal yang dirasakannya, sulit sekali menahannya. Tapi ia takut akan reaksi Vita.
Belum pernah ia merasa tak seberdaya ini tentang perasaannya. Ia benar-benar takut ditolak, mungkin karena hal itu belum pernah terjadi. Mana ada gadis yang pernah menolaknya, bahkan jika Rafka secara terang-terangan menunjukan bahwa ia tak begitu tertarik menjalani hubungan. Tak jarang Rafka menjalin hubungan hanya agar tak di cemooh teman-temannya, tahu sendiri bagaimana teman-temannya. Mereka tak akan melewatkan kesempatan untuk mengejeknya.
Rafka melirik ruang UKS yang dilewatinya, sebentar lagi ia akan sampai ke kelas, tempat Vita menunggu bersama teman-teman melewati siang menjelang sore mereka, buku-buku tebal penuh rumus yang sekarang nampak begitu menarik di mata Rafka.
“Kayaknya Vita bikin lo jadi manusia,” sebuah suara berkomentar. Andra muncul dari kelas terdekat dari UKS. Entah apa yang dilakukan laki-laki itu di kelas yang sudah kosong melompong, yang lagi, bukan kelasnya.
Rafka berhenti. Ia pikir Andra terlihat aneh saat ini. Ekspresinya tak seperti biasa. Ia terlihat seperti dirinya jika akan mencari masalah dengan seseorang. Apa Andra memang berniat seperti itu? Tapi, ia kira yang seharusnya mencari perkara itu dia, bukanya Andra, karena laki-laki sinting itulah yang lebih dulu memukulnya tempo hari. Jika Vita tidak berkata bahwa Andra beraksi seperti yang juga akan dilakukannya, akan ia buat babak belur makhluk hidup di depannya ini.
“Biasanya ‘kan lo berangkat sekolah tiga kali seminggu, di tambah hampir selalu bolos jam pertama dan terakhir,” Andra berkata santai, tapi bagi Rafka begitu mengundang, dan lagi tempat ini sepi. Ah, menyebalkan sekali! Jujur saja, ia masih kesal soal kemarin, seberapa pun kerasnya ia menekan rasa kesalnya.
“Seharusnya kita jadi temen, kayaknya lo perhatian banget sama gue.” Jangan sampe gue temanan sama makhluk ini.
“ Gue juga gak mau temanan sama makhluk kayak lo lagi,” ucap Andra seolah mengetahu apa yang Rafka pikirkan. “Gue gak perduli sekaya apa keluarga lo, tapi makhluk kayak lo gak pantes sekelas sama gue atau Vita. Lo, tuh, cuma ngotorin kelas. Sampah.”
“Heh!” Tangan Rafka telah mencengkram kerah baju Andra. Ia benar-benar tak terima dikatakan sampah.
“Gue gak tahu apa maksud lo nyari masalah sama gue, tapi gue gak akan diam aja lo ngatain gue seenaknya.”
“Sampah.”
Satu tangan Rafka terlepas dari kerah seragam Andra, dan beralih ke depan wajah laki-laki itu, siap meninjunya. “Sekali lagi lo bilang kayak ‘gitu, gue gak akan mikir dua kali buat bikin lo babak belur!”
“Sampah!”
Bugh!
Tangan Rafka menghantam keras wajah Andra, menyebabkan laki-laki itu jatuh ke belakang. Napas Rafka menderu. Ia mendekat ke arah Andra, tapi laki-laki itu menendang dadanya. Sial! Rafka mundur beberapa langkah dengan tangan memegang rusuk-rusuknya yang nyeri.
Ketika Andra sudah bangkit berdiri, Rafka meluruskan posisinya, siap melanjutkan perkelahiannya dengan laki-laki itu. Ia tak akan menahan diri lagi sekarang. Si berangsek sialan ini sudah mengusiknya yang mulai insyaf. Dan ia akan menjelaskan pada Vita yang sebenarnya, bahwa Andralah yang mulai duluan.
“Gue udah nahan-nahan buat gak bales pukulan lo kemarin cuma karena Vita, tapi sekarang gue punya alasan yang lebih kuat buat mukulin lo.”
“Lo cuma banyak ngomong doang, gue tahu.”
Rafka melontarkan tinjunya ke arah Andra, tapi laki-laki tanpa diduga menghindar dengan mulus. Reaksinya bagus. Entah itu hanya keberuntungan Andra, atau dia sudah belajar bela diri.
“Sebagai troublemaker dari kita mulai satu sekolah sampai sekarang, bela diri lo itu parah... benget.”
Rafka mencoba sekali lagi untuk mengenai Andra, lagi laki-laki itu menghindar, dan balas meninju hidung Rafka. Ia bisa merasakan sesuatu yang panas mulai mengalir keluar dari hidungnya. Yang pasti bukan ingus.
Jari Rafka menyentuh cuping hidungnya. Ada darah yang keluar tersentuh jarinya. Ia berdarah.
“‘Gimana rasanya?”
Belum sempat Rafka bereaksi dengan pertanyaan Andra yang meremehkannya, Vita berkelebat ke arahnya. Nyaris saja terjadi tubrukan jika gadis yang disukainya itu tak pandai mengerem langkahnya. “Stop! Oke?” Ia berucap, mencoba menghentikan Andra dan Rafka. Tangannya membentang, memberi jarak sejauh mungkin agar Andra dan Rafka tak melanjutkan aksi mereka berdua. Sekejap kemudian, ia berpaling pada Rafka. “Hidung kamu berdarah, Raf,” ucap Vita, ia langsung bereaksi melepaskan dasinya dan menggunakannya untuk menyeka darah yang menetes dari hidung Rafka. Dan emosi Rafka yang meledah-ledak langsung padam.
“Pegang!” suruh Vita. Rafka menurutinya. Kemudian gadis itu menghela tangannya, dan membawanya ikut melangkah bersama.
Tak seperti yang diharapkan Rafka, Vita juga menarik tangan Andra. Rasanya seperti di ajak naik ke atas tangga, lalu didorong tanpa peringatan apapun sebelumnya. Menyakitkan.
“Ayo ke UKS!”
***
Orang-orang yang tak pernah merasakan pengalaman patah hati akan menganggapnya lebay pada apa yang dirasakannya. Tapi jika mereka sedang merasakan atau pernah merasakan apa yang dirasakan dan dialaminya sekarang tak akan mencelanya.
Menyedihkan sekali mengetahui ia kembali menyukai gadis yang dekat pada laki-laki yang menjadi salah satu penyebab ia patah hati di waktu sebelumnya. Ia sama sekali tak mengerti, kenapa hal seperti ini bisa terjadi. Ia sungguh tak suka merasakan hal seperti ini. Ia merasakan campuran antara putus asa, cemburu, dan amarah pada saat yang bersamaan saat melihat Vita meraih tangan Rafka. Haruskah ia dan Rafka selalu terhubung pada seorang gadis yang sama? Dulu Tiara, sekarang Vita. Kebetulan macam apa ini, bagaimana bisa kedua gadis itu bersaudara...
Andra tersentak saat Vita mengambil tangannya dengan tangan gadis itu yang dingin. Gadis itu menariknya pelan sembari berkata, “Ayo ke UKS!” Rasanya semuanya jadi bergerak lambat dan dramatis. Dan musik pengiringnya adalah jantung yang menabuh rusuknya—jelas itu hanya hiperbola. Namun ia benar-benar berdebar. Ia sudah lupa bahwa ada tangan Rafka di salah satu tangan gadis yang menggenggam tangannya. Setidaknya ia belum tersingkir.
“Di mana ada kapas atau kasa sama obat merah?” tanya Vita sementara ia sibuk membuka laci-laci dan lemari kecil yang menempel di dinding.
Tak ada jawaban.
Vita melihat wajah Rafka yang kesal dan ekspesi Andra yang aneh.
“Di mana, Raf?”
“Di laci yang itu,” tunjuk Andra.
“Aku nanya yang mana yang jawab yang mana,” gumam Vita amat pelan. Lalu ia menunduk dan menemukan kain kasa dan obat merah, bahkan plester luka. Baguslah. Semua yang dibutuhnya ada di tempat yang sama. Terima kasih pada yang menyusunnya.
“Apa?” tanya Andra yang sudah sadar dari alam lambatnya.
“Bukan apa-apa,” Vita berujar sambil menguluarkan benda-benda yang diperlukannya.
Andra sangat berharap tak ada perusak suasana di sini. Seandainya ada cara yang bisa membuat Rafka enyah dari sini. Ia ingin sekali tak perlu melihat wajah Rafka yang masam itu. Nampaknya laki-laki itu sangat tak terima Vita juga memerhatikannya.
“Raf,” Vita berbalik. Ia sudah siap melontarkan perintahnya.
“Aku gak pa-pa. Aku mau pergi sekarang, hampir lupa aku mau jalan sama pacarku. Belajarnya besok aja, ya.”
Andra melihat Vita melongo, ia sendiri pun begitu. Ia sama sekali tak tahu Rafka memiliki seorang pacar. Jika si Sinting itu punya pacar, pasti siswi satu sekolahan ini heboh, kecil kemungkinana ia tak tahu, bukan karena ia sangat memerhatikan Rafka.
“Kamu punya pacar? Sejak kapan?”
“Tadi.”
“Eh?” tanya Vita tak mengerti, seperti juga yang dialami Andra. Tadi apanya? Mereka baru jadian, tapi Rafka masih terus menempel pada Vita? Dasar tak tahu diri makhluk satu ini.
***
soal rahasia
gak sebuah rahasia cuma selama ini gak ada yang nanya,jadi gak ada yang tau
ternyata Vita anak angkat,pantes Bu Helena ke vita dah kayak ibu tiri
lihat dr profil nya kak Uci banyak cerita gak sampai ending.
padahal bagus banget lho karya2 dari kak Uci ini....pemilihan katanya oke,penataan kosakata-good,sama perbendaharaan katanya tuh banyak,ceritanya tuh jadi kaya karya penulis2 profesional tau gak.berkelas gitu.
wajib dicetak kedalam buku kak....kaya karya2 kak shephinasera bagus2 semua.
sayang ya q baru sekarang nemu karya sebagus ini....telat banget
jangan lupa feedbacknya 😊🙏😊
semangat up Thor 💪💪