NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Hadiah Perkenalan dari Ibu Mertua

Keesokan paginya, Yuliana Kho menjemput Eve langsung di lobi RS Tan.

Eve mengira mereka hanya akan membeli beberapa kebutuhan Oma. Ia memakai blus sederhana, rambut diikat rendah, tas kecil di bahu. Yuliana datang dengan sedan hitam, kacamata hitam, dan senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang berkata, "Kita belanja sebentar."

Sebentar menurut Yuliana ternyata berarti Pacific Place.

Eve berjalan di sampingnya melewati butik-butik mewah yang nama mereknya pernah ia lihat hanya di majalah. Lantai berkilau, etalase rapi, parfum mahal di udara. Yuliana berbicara santai tentang bahan kain, potongan gaun, dan toko mana yang terlalu banyak menjual logo.

"Kamu suka yang mana?" tanya Yuliana.

Eve menatap deretan tas yang harga satu buahnya mungkin setara tabungan lamanya setahun. "Saya... tidak tahu harus suka yang mana."

"Tidak ada yang menarik?"

"Bagus semua. Tapi Oma lebih butuh selimut nyaman."

Yuliana menahan senyum.

Mereka akhirnya masuk ke toko aksesori yang lebih kecil. Eve memilih satu syal sutra berwarna biru lembut untuk Oma Ong. Tidak terlalu mencolok, tetapi halus saat disentuh.

"Ini saja, Mama."

Yuliana menatap syal itu, lalu menatap Eve. "Untukmu?"

"Untuk Oma. Kalau dia sadar, mungkin suka warnanya."

"Kamu tidak mau pilih sesuatu untuk diri sendiri?"

Eve menggeleng. "Nanti saja."

Yuliana membayar syal itu tanpa komentar, tetapi matanya melembut.

Di kafe kecil, setelah memesan teh, Yuliana mengeluarkan sebuah amplop putih. Ia mendorongnya ke arah Eve.

"Hadiah perkenalan."

Eve membuka amplop dan melihat cek kosong.

Darahnya langsung terasa turun.

Ia pernah melihat adegan seperti ini di drama televisi. Ibu orang kaya mengeluarkan cek, menyuruh perempuan biasa menulis angka, lalu pergi dari hidup putranya. Eve tidak menyangka adegan konyol itu bisa terasa menakutkan ketika benar-benar ada di tangan.

Yuliana melihat wajahnya dan langsung mengerti.

"Bukan untuk menyuruhmu pergi," katanya tenang.

Eve menatapnya.

"Perempuan harus punya uang sendiri. Ini bukan uang tutup mulut. Ini uang jaga diri."

Kata-kata itu menembus pertahanan Eve lebih cepat daripada nasihat panjang. Yuliana tidak bicara tentang status Kho, tidak bicara tentang gengsi keluarga, tidak bicara tentang berapa banyak yang boleh Eve ambil. Ia bicara seperti seorang ibu kepada anak perempuan: punya pegangan sendiri agar tidak bisa dipaksa siapa pun.

"Mama..."

Suara Eve pecah.

Yuliana menggenggam tangannya. "Aku tidak tahu semua luka yang kamu bawa. Tapi aku tahu satu hal. Menantu saya tidak boleh merasa tidak punya jalan keluar. Kamu masuk keluarga ini bukan untuk dikurung."

Ia berhenti sebentar, menatap Eve dengan sorot yang lebih tua daripada senyumnya. "Di keluarga besar seperti Kho, uang bisa menjadi pelindung, tapi juga bisa menjadi rantai. Banyak orang akan mencoba membuatmu merasa harus berterima kasih sampai tidak berani bicara. Jangan biarkan itu terjadi."

Eve mendengarkan dengan dada sesak.

"Mama dulu juga masuk keluarga ini dari luar," lanjut Yuliana. "Tidak semiskin kamu dulu, tapi tetap dianggap tidak cukup oleh beberapa orang. Aku belajar satu hal: perempuan yang punya uang sendiri bisa memilih diam karena bijak, bukan karena terpaksa."

Eve menunduk agar orang di meja sebelah tidak melihat matanya basah.

"Saya tidak tahu harus menulis angka apa."

"Tidak usah sekarang. Simpan saja. Kalau suatu hari kamu butuh, pakai."

"Kalau tidak pernah?"

"Lebih baik begitu."

Eve menyimpan cek itu kembali ke amplop dengan tangan hati-hati, seperti menyimpan sesuatu yang lebih besar daripada uang. Bukan karena ia ingin memakainya, melainkan karena untuk pertama kalinya seorang ibu tidak memberinya harga untuk pergi. Yuliana memberinya bekal untuk tetap berdiri.

"Terima kasih, Mama."

"Jangan berterima kasih terlalu cepat," kata Yuliana, kembali ringan. "Setelah ini kita lihat gaun. Itu jauh lebih melelahkan daripada rapat direksi."

Setelah itu, Yuliana membawa Eve ke Butik Lecard di Plaza Indonesia untuk melihat pilihan gaun pernikahan sederhana.

Mereka baru sampai di pintu ketika Eve melihat Calista Sia di dalam.

Calista sedang berdiri di depan cermin besar memakai gaun malam ivory yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Seorang staf butik memuji bahwa gaun itu edisi terbatas, hanya tiga di dunia. Calista tersenyum puas sambil menyerahkan kartu.

"Saya ambil."

Yuliana masuk dengan langkah santai.

Staf butik langsung mengenalinya. "Selamat siang, Nyonya Kho."

Calista menoleh.

Yuliana melihat gaun itu sekilas. "Berapa?"

Staf menyebut angka yang membuat Eve hampir tersedak.

"Saya bayar tiga kali lipat," kata Yuliana.

Calista membeku. "Maaf?"

Staf terlihat panik. "Nyonya, Ibu Sia sudah..."

"Kalau dia mau bayar tiga kali lipat, biarkan dia bayar," kata Yuliana, masih tenang. "Saya hanya bertanya apakah gaun itu cukup berharga untuk diperebutkan."

Calista baru sadar jebakan itu saat mesin kartu sudah memproses pembayaran. Ia tidak bisa mundur tanpa terlihat tidak sanggup. Wajahnya menegang, tetapi ia memaksa tersenyum.

"Tentu sanggup."

"Bagus," kata Yuliana. "Selera mahal harus didukung kemampuan mahal."

Staf butik menunduk, takut terjebak di antara dua pelanggan besar. Mesin kartu mengeluarkan bukti pembayaran. Angka di kertas itu membuat Calista menegang sampai senyumnya terlihat kaku. Ia bisa membayar, tetapi bukan tanpa rasa sakit. Sia bukan Kho. Di dunia Yuliana, sembilan ratus juta rupiah bisa menjadi pelajaran kecil. Di dunia Calista, itu adalah lubang yang harus dijelaskan kepada keluarganya.

Eve menutup mulut, tidak tahu harus kasihan atau takut.

Di saat yang sama, bagian kecil dalam dirinya yang dulu sering tidak dibela siapa pun merasa hangat. Ternyata dilindungi juga bisa terasa begini, nyaman.

Yuliana tidak membeli apa pun. Ia hanya berbalik keluar. Calista mengikuti dengan langkah cepat, membawa tas gaun seperti membawa batu.

"Nyonya, apa maksud Anda?" suara Calista bergetar.

Yuliana berhenti di koridor butik. "Maksud saya sederhana. Kalau ingin bermain di tempat mahal, jangan menangis saat harganya mahal."

"Anda tidak mengenal saya."

"Saya tahu cukup."

Calista menatap Eve, lalu kembali pada Yuliana. "Karena dia?"

Yuliana tersenyum dingin. "Menantu saya hanya Evelina. Sekarang dan selamanya."

Calista kehilangan napas.

Baru saat itu ia memahami siapa perempuan di depannya. Bukan pelanggan kaya biasa. Bukan ibu-ibu sosialita yang ingin berebut gaun.

Ibu Edric.

Yuliana menggandeng tangan Eve dan berjalan pergi.

Di belakang mereka, Calista berdiri di tengah koridor Plaza Indonesia dengan tas gaun bernilai nyaris sembilan ratus juta rupiah. Kuku jarinya menekan telapak tangan.

Ia dulu mengira lawannya hanya Eve.

Sekarang seluruh perempuan keluarga Kho berdiri di depan Eve.

Mata Calista menggelap.

Kalau begitu, ia akan menjatuhkan mereka bersama-sama.

1
aku
🌹 lgi biar semangat 😁
aku
next tor 🌹
aku
kok malah ingat masha yg dihukum berdiri di pojokan sama bear?? 🤣🤣
aku
lagi mewek ini, malah dikasih istilah kocak 😭😭
aku
OMG eevveeeee 😭😭 sabar
aku
msh ada rahasia besar lg ed 😭
aku
wow!! 😃🤣
aku
haih jgn smpe ya eve mati rasa ed.
aku
minta bonus jer 😁
aku
mewakili jerry 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku
eveee 😭😭😭
aku
halal disantet gunawan ini 🤬🤬
aku
fix kamu dieleminasi otomatis calista 😃
aku
gpp ed, meriah jd nya 😂
aku
mamvu* 😃 puass kali duo sampah kena malu 🤣
aku
cocok pasangan sm ed, killer 😭😭
aku
ada satu yg tegasnya ngalahin guru killer ya fel 🤣
aku
nah kan syokk semua 😃
aku
klo masih ngomel brti msh strong ya ed 🤣🤣
aku
jemput bahagyamu eve 😭😭 bawang oey bawang 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!