Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Agung di Istano Basa Pagaruyung
Kehangatan pesta Baralek Gadang Dika dan Hani di Nagari Batipuh masih berbekas manis di hati. Sebelum kembali ke ibu kota, Kian, Maya, dan Rosa memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menyusuri kekayaan budaya Tanah Datar. Tujuan mereka selanjutnya adalah bangunan megah yang menjadi simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau: Istano Basa Pagaruyung.
Pagi itu, langit di atas Batusangkar membiru bersih. Kemegahan Istano Basa Pagaruyung berdiri anggun dengan lanskap perbukitan hijau sebagai latar belakangnya. Bangunan Rumah Gadang tiga tingkat bernilai sejarah tinggi tersebut tampil begitu perkasa dengan atap gonjong berderet melengkung tajam menembus awan.
Atas ide hangat dari Rosa yang ingin mengabadikan momen kebersamaan mereka secara istimewa, mereka bertiga memutuskan untuk menyewa pakaian adat Minangkabau di kawasan Istana.
Saat keluar dari area ganti, suasana di pelataran istana mendadak lengang sejenak.
Kian melangkah dengan gagah mengenakan pakaian adat pengantin pria Minang Marapulai. Ia memakai baju Marapulai beludru hitam berhiaskan sulaman benang emas yang mewah, dipadu Samping kain tenun Songket Silungkang merah keemasan, serta Saluak di kepalanya. Aura ketampanan dan ketegasan seorang CEO kini menyatu sempurna dengan ketangguhan ala pria Minang.
Namun, langkah Kian terhenti saat melihat Maya keluar dari ruangan.
Maya tampil begitu memesona dan anggun tiada tara. Ia mengenakan Baju anak daro beludru hitam berlapis benang emas, kain Songket tenun yang elegan, dan di atas kepalanya terpasang Suntiang emas bertingkat megah yang berkilau diterpa sinar matahari pagi. Riasan wajahnya yang lembut terpancar sempurna, menjadikan Maya bagaikan seorang Ratu Kerajaan Pagaruyung dari masa lampau.
"Maya..." bisik Kian tanpa sadar, matanya tak berkedip menatap wanita di hadapannya.
Maya tersenyum malu-malu, pipinya merona merah di balik kemewahan Suntiang yang mengenakan kepalanya. "Kian... apa Pakaian Adat ini terlihat terlalu berlebihan untuk saya?"
"Tidak, Maya..." jawab Kian lembut, melangkah mendekat dan memegang jemari Maya. "Kamu terlihat sangat cantik. Begitu sempurna."
Rosa yang mengenakan Baju Kurung anggun berwarna hijau zamrud mengusap air mata harunya dari samping. "Putri Ibu sungguh cantik sekali..."
Para wisatawan lokal, mancanegara, hingga para petugas resmi dan pemandu wisata di Istano Basa Pagaruyung mulai berkumpul di halaman luas depan rumah gadang tersebut. Kencangnya pesona Kian dan Maya dalam balutan pakaian pengantin Minang menarik perhatian semua orang, menyangka mereka adalah sepasang pengantin yang sedang melakukan sesi foto pra-nikah resmi.
Namun, Kian tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah pelataran utama, berhadapan langsung dengan tangga besar Istano Basa Pagaruyung.
Kian melepaskan genggaman tangannya, lalu berbalik menghadapi Maya. Suasana di pelataran istana yang tadinya riuh perlahan mereda. Semua mata—ratusan pengunjung dan petugas istana—kini tertuju pada mereka berdua.
"Kian...? Ada apa?" tanya Maya heran, merasakan degupan jantungnya makin kencang.
Kian menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam mata Maya dengan seluruh ketulusan dan keberanian yang ia miliki. Pria itu lalu perlahan merogoh saku dalam baju kurungnya.
Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil, lalu... berlutut dengan satu kaki di atas rumput hijau di depan Istano Basa Pagaruyung.
Suara histeris dan tepuk tangan spontan langsung meledak dari ratusan pengunjung dan petugas istana!
"Ciyeee! Ada yang melamar!" seru seorang wisatawan dari barisan belakang.
"Wah, romantis sekali di depan Rumah Gadang!" sahut pemandu wisata setempat dengan riang.
Wajah Maya mendadak merah padam. Matanya berkaca-kaca, tak menyangka Kian akan melakukan tindakan yang begitu berani dan dramatis di tempat bersejarah ini.
"Maya..." suara Kian terdengar mantap menembus keriuhan di sekitar mereka. "Di hadapan keindahan Istano Basa Pagaruyung yang menjadi saksi sejarah ini, di depan Ibuku yang kini sangat mencintaimu, dan disaksikan oleh semua orang di tempat ini..."
Kian membuka kotak beludru tersebut, menampilkan sepasang cincin berlian yang berkilau indah di bawah sinar matahari.
"Dulu, aku adalah pria kaku yang tak paham arti ketulusan. Kamu datang ke hidupku sebagai guru, lalu menjadi penyelamat jiwaku. Hari ini, di tanah Minang yang penuh berkah ini, aku ingin mengikat janji yang tak akan pernah lekang oleh waktu."
Kian menatap Maya dengan binar mata yang sarat akan rasa cinta.
"Maya ... maukah kamu menikah denganku, menjadi ratu di dalam hidupku, dan mendampingiku selamanya?"
Suasana di pelataran istana mendadak hening seketika. Ratusan pasang mata menahan napas, menunggu jawaban dari wanita ber-Suntiang megah itu. Rosa menangkupkan kedua tangannya di dada, berdoa dengan mata berbinar air mata.
Maya mengusap air mata bahagianya yang menetes membasahi pipi. Ia menatap Kian, pria yang telah melewati badai longsor, koma, hingga perjuangan meluluhkan hati ibunya demi dirinya.
Dengan senyuman paling manis dan anggun, Maya mengangguk pelan.
"Satu poin sempurna untuk keberanianmu hari ini, Kian..." bisik Maya dengan suara bergetar penuh emosi, namun cukup keras untuk didengar. "Jawabannya... iya, aku bersedia menjadi istrimu."
"DITERIMA! ALHAMDULILLAH!"
Sorak-sorai dan tepuk tangan gemuruh seketika meledak dari seluruh pengunjung dan petugas Istano Basa Pagaruyung!
Kian tersenyum lebar penuh kemenangan. Ia berdiri dan memasangkan cincin tersebut di jari manis Maya, lalu merengkuh tubuh Maya ke dalam pelukan hangat diiringi riuh tepuk tangan yang tak henti-hentinya bergema di sekeliling Rumah Gadang megah itu.
Di bawah naungan kemegahan Istano Basa Pagaruyung, sebuah ikatan cinta yang dulunya penuh cobaan kini telah mengukir sejarah baru—sebuah lamaran agung yang abadi dan tak terlupakan.