Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7
Bapak Datang Saat Fajar
“Belum ada,” jawab Nara.
Ia baru menyadari jawaban itu membuat dadanya lebih sesak daripada semua pertanyaan medis malam ini.
Perawat rumah sakit meminta nomor yang bisa dihubungi. Nara menyebut nomor rumah Bu Sari dan kantor Raka dari ingatan. Sambungan pertama tidak terangkat. Nomor kedua diterima petugas jaga yang hanya mengatakan Raka sedang kembali dari tugas luar kota.
Pesan ditinggalkan.
Setelah itu waktu bergerak lambat.
Nara mendapat penanganan untuk tekanan darah dan perdarahannya. Kirana tetap di ruang observasi bayi dengan bantuan napas. Vania menyelesaikan serah terima, lalu duduk di kursi lorong sambil memeluk tas yang berisi kartu memori dan gelang palsu.
Pukul tiga pagi, dr. Laila memastikan warna kulit Kirana membaik.
Pukul empat, Nara diizinkan melihat bayi dari balik jendela ruang observasi.
Pukul lima, hujan mengecil menjadi rintik.
Namun Raka belum datang.
Nara tahu suaminya masih hidup. Ia tahu pria itu sedang dalam perjalanan. Tetap saja, setiap menit menyalakan kembali ingatan pada kehidupan pertama, ketika berita tentang Raka tiba terlalu terlambat untuk mengubah apa pun.
Ia menekan telapak tangan ke dada.
“Bu Nara?” Perawat yang berjaga mendekat. “Sesak?”
“Tidak. Hanya... menunggu.”
Langit mulai memucat ketika suara langkah cepat terdengar dari ujung lorong.
Seorang pria tinggi muncul dengan kemeja kusut, celana basah di bagian bawah, dan jaket yang belum sempat dilepas. Rambutnya terkena hujan. Wajah yang biasanya tenang terlihat keras karena kurang tidur.
Raka.
Nara berhenti bernapas.
Dalam ingatannya, wajah itu pernah pucat dan diam. Tubuhnya pernah terbujur tanpa kehangatan, sementara Nara berdiri terlalu jauh untuk menyentuhnya.
Sekarang Raka berjalan ke arahnya.
Hidup.
“Nara.”
Suara itu meruntuhkan pertahanan terakhirnya.
Nara mencoba turun dari ranjang.
Raka mempercepat langkah dan menahan bahunya. “Jangan bangun.”
Tangannya hangat.
Nara meraih bagian depan kemejanya, memastikan ada napas di balik kain, ada detak di bawah telapak tangannya.
“Kamu hidup.”
Raka membeku. “Apa?”
Air mata Nara jatuh tanpa izin. “Kamu datang.”
“Tentu aku datang.”
Ia membiarkan Nara menariknya mendekat. Tidak bertanya mengapa istrinya menangis seperti baru menerima seseorang kembali dari kematian. Satu lengannya menahan punggung Nara tanpa menekan tubuh yang baru melahirkan.
“Aku di sini,” katanya pelan. “Lihat aku. Aku di sini.”
Nara mengangguk, tetapi tangannya tidak mau melepaskan kemeja itu.
Raka menunggu sampai napasnya lebih teratur. Baru setelah itu ia bertanya, “Kamu sakit di mana? Dokternya siapa? Bayinya?”
Pertanyaan tentang Kirana mengembalikan Nara ke pagi ini.
“Ruang observasi. Napasnya sempat turun.”
“Bima dan Bayu?”
“Di rumah Ibu.”
Raka menggunakan telepon rumah sakit untuk menghubungi Bu Sari. Ia meminta ibunya tidak membawa kedua anak sebelum diizinkan, memastikan mereka sarapan dan tetap berangkat sekolah, lalu menyerahkan gagang kepada Nara.
Suara Bima dan Bayu terdengar bergantian. Mereka bertanya apakah adiknya kecil dan berjanji tidak akan berisik saat berkunjung.
“Ibu pulang setelah diizinkan dokter,” kata Nara. “Dengarkan Mbah Sari.”
Setelah sambungan berakhir, Raka mengembalikan telepon ke meja. “Mereka aman.”
Nara mengangguk. Untuk pagi ini, seluruh keluarganya masih lengkap.
Raka mencatat waktu panggilan itu di buku kecilnya.
Raka menoleh ke perawat. “Boleh saya bicara dengan dokter yang menangani?”
Nada suaranya sopan, tidak membawa jabatan atau ancaman. Perawat memanggil dr. Laila.
Dokter datang membawa map. Ia menjelaskan usia gestasi Kirana, gangguan adaptasi napas, tindakan awal, kondisi terakhir, serta keadaan Nara. Raka mendengarkan tanpa memotong. Ia mengulang bagian penting untuk memastikan tidak salah paham.
“Jadi keduanya stabil, tetapi masih harus dipantau?”
“Benar.”
“Apa yang perlu saya tanda tangani?”
“Belum ada tindakan tambahan yang memerlukan persetujuan. Untuk sekarang, pastikan data keluarga lengkap.”
Raka mengeluarkan dompet dan menyerahkan identitas yang diminta. Setelah petugas pergi, ia kembali ke sisi Nara.
“Kenapa klinik tidak menghubungiku?”
“Katanya sambungan telepon bermasalah.”
“Mereka punya nomor kantor.”
“Tidak ada yang menelepon sampai rumah sakit bertanya.”
Raka tidak langsung menuduh. Ia mengambil buku kecil dari tas dan menulis waktu dirinya menerima pesan.
“Aku dapat kabar pukul empat lewat tujuh. Dari petugas jaga kantor, bukan dari klinik.”
“Kamu mencatatnya?”
“Supaya nanti kita tidak bertengkar dengan ingatan.”
Kalimat sederhana itu menusuk Nara. Dalam kehidupan pertama, mereka terlalu sering mengandalkan asumsi. Sama-sama lelah, sama-sama diam, lalu jarak tumbuh tanpa disadari.
Raka menutup buku. “Ada apa sebenarnya?”
Nara menatap Vania yang masih duduk di lorong. Perawat itu segera menunduk.
“Ada masalah dengan gelang bayi.”
“Masalah bagaimana?”
“Aku belum bisa menjelaskan semuanya.”
Alis Raka bergerak sedikit. “Belum bisa atau tidak mau?”
Nara menggigit bagian dalam bibir.
Ia ingin mengatakan bahwa dirinya datang dari masa depan yang hancur. Bahwa ia telah melihat kematian suami dan anak-anak mereka. Bahwa perempuan di klinik baru saja mencoba mengganti putri mereka.
Namun jika Vania saja hampir tidak percaya pada hal yang bisa dilihat, bagaimana Raka akan menerima ingatan dari kehidupan lain?
“Aku perlu memastikan beberapa hal dulu.”
Raka menatapnya lama. Nara menunggu kekecewaan atau desakan.
Yang ia lakukan justru menarik kursi lebih dekat.
“Baik. Tapi kalau ada orang yang bisa membahayakan kamu atau bayi, katakan sekarang.”
“Ada.”
Tubuh Raka menegang.
“Siapa?”
“Bu Rini.”
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia mematikan lampu. Gelang Kirana sempat tidak sesuai. Vania punya foto awal.”
Raka memandang Vania. “Apakah itu benar?”
Vania berdiri. “Ada ketidaksesuaian, Pak. Saya sudah menyampaikan kepada rumah sakit. Saya belum berani membuat kesimpulan lebih jauh.”
“Saya tidak meminta kesimpulan.” Suara Raka tetap tenang. “Saya hanya perlu tahu apakah istri dan anak saya aman sekarang.”
“Di rumah sakit ini, ya.”
Raka mengangguk. “Terima kasih sudah ikut rujukan.”
Tidak ada ancaman. Tidak ada perintah agar Vania menyerahkan ponsel. Ia hanya meminta rumah sakit mencatat bahwa Kirana tidak boleh dipindahkan tanpa persetujuan Nara atau dirinya.
Setelah Vania pergi untuk berbicara dengan bagian rekam medis, Raka membasahi kain kecil dan membersihkan keringat di pelipis Nara.
“Kamu belum tidur?”
“Takut kalau aku tidur, semuanya berubah lagi.”
Tangan Raka berhenti.
“Berubah lagi?”
Nara menyadari kesalahannya. “Maksudku, gelangnya.”
Raka tidak mengejar. Ia hanya menyelipkan rambut basah dari wajah istrinya dan memeriksa kembali bahwa tombol panggil masih berada dalam jangkauannya.
“Tidur sebentar. Aku yang berjaga.”
“Jangan pergi.”
“Aku tidak pergi.”
Nara akhirnya melepaskan genggaman pada kemejanya. Ketika ia menggeser tangan ke bawah selimut, sesuatu terjatuh ke lantai.
Sebuah gelang bayi yang dibungkus kasa.
Raka membungkuk dan mengambilnya.
Ia membaca nama di permukaannya, lalu melihat nomor yang berbeda dari gelang Kirana di catatan rumah sakit.
“Nara,” katanya pelan. “Ini milik siapa?”