Selama lima tahun, Vincent Huang tidak pernah berhenti mengejar Stella Mo.
Namun, Stella selalu menolaknya dan memilih menjaga jarak tanpa pernah menjelaskan alasannya.
Ketika rahasia masa lalu Stella akhirnya terungkap, Vincent harus menghadapi pilihan sulit. Tetap menggenggam tangan wanita yang dicintainya, atau menjauh setelah mengetahui luka yang selama ini Stella sembunyikan.
Apakah cinta Vincent cukup kuat untuk menerima seluruh masa lalu Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
“Aku baik-baik saja. Terima kasih,” ucap Stella.
Dia ingin melangkah pergi, tetapi Vincent kembali menahan lengannya.
“Tuan Huang, Direktur Fung sedang menunggu kita,” ujar Stella dengan tenang.
Vincent menatapnya dalam.
“Selama enam bulan ini... apa kau tidak pernah merindukanku?”
Stella terdiam.
“Tidak pernah berniat menghubungiku?” tanya Vincent lagi.
“Tidak!” jawab Stella tegas. “Pada pertemuan terakhir, aku sudah menjelaskan bahwa kita tidak mungkin bersama. Jadi, untuk apa aku harus menghubungimu?”
Tatapan Stella tetap dingin.
“Tuan Huang, lepaskan aku.”
Vincent menatap wajah gadis itu tanpa berkedip.
Beberapa detik kemudian, perlahan dia melepaskan tangannya.
“Maaf,” ucapnya pelan.
Stella tidak mengatakan apa pun.
Dia langsung membuka pintu dan keluar dari toilet.
Vincent tetap berdiri di tempatnya.
Tatapannya kosong.
“Stella... kau masih saja sedingin ini kepadaku,” gumamnya lirih.
Malam hari.
Di ruang kerja Mingyuan Architecture.
Stella masih duduk di depan meja gambar.
Pensil di tangannya bergerak perlahan membentuk rancangan sebuah gedung yang dilengkapi taman dan area parkir.
Namun, tiba-tiba gerakan tangannya terhenti.
Bayangan pertemuannya dengan Vincent kembali memenuhi pikirannya.
“Vincent Huang... bukankah kau sudah bertunangan? Kalau begitu, kenapa kau masih mendekatiku?”
Stella menundukkan kepalanya.
“Tidak mudah bagiku untuk bangkit. Aku tidak ingin terpuruk untuk kedua kalinya.”
Saat itu juga, ponselnya yang berada di atas meja bergetar.
Nama kontak Mother muncul di layar.
Stella menarik napas panjang sebelum mengangkat panggilan.
“Halo.”
“Stella, besok adalah hari peringatan kepergian nenekmu. Mama ingin kau pulang,” ujar Lussy dari seberang telepon.
“Tidak. Aku tidak akan datang.”
Tanpa memberi kesempatan Lussy berbicara lagi, Stella langsung memutuskan sambungan telepon.
Dia mengepalkan tangannya.
“Nenek... sejak Papa meninggal, tidak ada lagi yang benar-benar menyayangiku. Selain Papa... kalian semua hanyalah manusia yang tidak punya hati.”
Malam itu.
Di mansion keluarga Huang.
Vincent duduk di ruang tamu sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Sebatang rokok terselip di antara jarinya, sementara segelas anggur merah berada di atas meja.
Willy berjalan mendekat sambil membawa beberapa dokumen.
“Tuan, mengenai proyek Vanguard International Group, seperti biasa saya yang akan mengawasi pelaksanaannya.”
“Tidak,” jawab Vincent singkat.
“Aku yang akan turun tangan sendiri.”
Willy sedikit terkejut.
“Biasanya Tuan tidak pernah menangani proyek secara langsung. Semua urusan lapangan selalu diserahkan kepada saya dan tim proyek.”
Vincent mematikan rokoknya.
“Proyek ini berbeda.”
Willy terdiam.
Dalam hati, dia sudah mengetahui alasannya.
"Apakah karena Nona Mo?" batin Willy.
“Baik, Tuan. Apakah masih ada hal lain yang perlu saya siapkan?” tanya Willy.
“Ada.”
Vincent menutup dokumen di hadapannya.
“Aku ingin pembangunan proyek Vanguard International Group dimulai minggu depan.”
Willy terkejut.
“Minggu depan? Bukankah sesuai jadwal, pembangunan baru akan dimulai bulan depan?”
Vincent mengangkat pandangannya.
“Kau ingin membantah keputusanku?”
“Tentu tidak, Tuan. Hanya saja waktunya terlalu mendadak. Masih banyak persiapan yang belum selesai, mulai dari material, perizinan, hingga tenaga kerja,” jelas Willy.
“Kalau begitu, percepat semuanya. Pastikan minggu depan proyek sudah dimulai.”
“Baik, Tuan,” jawab Willy.
Dia membungkuk hormat sebelum keluar dari ruang kerja.
Sesampainya di luar, Willy menghela napas panjang.
“Tuan benar-benar berubah. Selama ini beliau tidak pernah ikut mengawasi proyek secara langsung. Tapi demi proyek yang ditangani Nona Mo, beliau bahkan mempercepat jadwal pembangunan.”
Willy menatap pintu ruang kerja Vincent.
“Bahkan Nona Fanny Mu yang cantik dan sempurna pun tidak bisa menggantikan posisi Nona Mo di hati Tuan. Aku harus mencari tahu... apa sebenarnya alasan Nona Mo menolak Tuan selama lima tahun.”
Keesokan harinya.
Apartemen Stella.
Stella baru saja duduk di meja makan untuk sarapan ketika bel pintu berbunyi.
Ting tong...
Dia bangkit dan berjalan menuju pintu.
Klik.
Begitu pintu terbuka, Stella langsung memasang wajah dingin.
Di depan pintu berdiri Lussy dan Jason Xu.
“Untuk apa kalian datang?” tanya Stella datar.
“Kak, Mama membuatkan sarapan untukmu,” jawab Jason sambil mengangkat kotak makanan di tangannya.
“Tadi pagi Mama sengaja bangun lebih awal untuk membeli bahan-bahannya.”
Tanpa menunggu izin, Jason masuk ke dalam apartemen.
Lussy ikut melangkah masuk sambil mengeluarkan beberapa kotak makanan dari tas belanjanya.
“Stella,” ucap Lussy lembut, “kau terlalu sibuk bekerja. Mama khawatir kau tidak menjaga kesehatan. Makanan di luar tidak sesehat masakan rumah. Jadi Mama membuat semua makanan kesukaanmu.”
Stella berdiri memandang mereka tanpa ekspresi.
Tatapannya sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.
Di saat yang sama...
Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan gedung apartemen.
Vincent turun dari mobil dan mendongak menatap lantai tempat Stella tinggal.
“Willy.”
“Ya, Tuan.”
“Bagaimana dengan apartemen yang kemarin aku minta?”
“Sudah selesai, Tuan. Sesuai perintah Anda, saya sudah membeli satu unit di gedung ini.”
Vincent mengangguk pelan.
Tatapannya kembali tertuju ke arah jendela apartemen Stella.
Stella melangkah menghampiri meja makan. Di atas meja telah tersaji beberapa hidangan hangat yang dulu merupakan makanan kesukaannya.
Dia hanya melirik sekilas, lalu menatap Lussy dan Jason dengan tatapan dingin.
“Kali ini...” ucap Stella pelan. “Obat apa yang kalian campurkan ke dalam masakan ini?”
Lussy langsung terkejut.
“Stella! Apa yang kau katakan? Mama hanya ingin membuatkan sarapan untukmu.”
“Hanya ingin?” Stella tersenyum sinis. “Aku tidak percaya lagi dengan semua yang kalian lakukan.”
Jason segera menyela.
“Kak, Mama bangun sejak subuh untuk memasak. Jangan berpikir sejauh itu.”
Stella menatap adik tirinya tajam. “Jason Xu, tutup mulutmu.”
Lussy menggenggam kedua tangannya.
“Stella, Mama benar-benar tidak melakukan apa pun. Mama hanya ingin memperbaiki hubungan kita.”
“Memperbaiki?” Stella tertawa pelan. “Kalau waktu bisa diputar kembali, mungkin masih ada kesempatan. Tapi sekarang... sudah terlambat.”
Tatapannya beralih ke hidangan di atas meja.
“Aku tidak akan menyentuh sedikit pun makanan yang kalian bawa. Karena aku tidak pernah percaya lagi pada keluarga ini.”
“Kakak, jangan keterlaluan. Kau hanya akan membuat Mama semakin kecewa,” ucap Jason.
Stella tidak menggubrisnya.
Dia mengangkat satu per satu kotak makanan yang berada di atas meja, lalu berjalan menuju tempat sampah.
Brak!
Seluruh hidangan itu dilemparkannya ke dalam tong sampah tanpa ragu.
Lussy dan Jason langsung membelalakkan mata.
“Stella!” seru Lussy dengan wajah pucat.
Stella menoleh perlahan.
“Lebih baik berhati-hati daripada terjebak.”
Tatapannya dingin menatap ibu dan adik tirinya.
“Zaman sekarang, bahkan keluarga sendiri pun bisa menjadi pengkhianat.”
Mendengar kalimat itu, wajah Lussy langsung memucat.
Dia tahu...
Ucapan Stella bukan sekadar sindiran.
Melainkan luka yang selama sepuluh tahun tidak pernah sembuh.