NovelToon NovelToon
Terjebak di Antara Si Kembar: Dosa Terlarangku

Terjebak di Antara Si Kembar: Dosa Terlarangku

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Cinta Terlarang / Beda Usia / Satu wanita banyak pria / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: DulceSilencio

Valentina Mahendra tidak pernah benar-benar menjadi putri keluarga Mahendra. Ia dibesarkan sebagai pengganti Sofia, gadis yang mati meninggalkan luka di rumah itu, lalu dijadikan syarat dalam aliansi politik dengan keluarga Raharja. Ketika Sebastian Mahendra membakar surat penerimaannya dari Universitas Nasional dan memaksanya menikah, Valentina akhirnya melawan.
Namun kebebasan tidak datang tanpa harga. Di satu sisi ada Sebastian, pewaris dingin yang mengendalikan segalanya dengan rasa takut. Di sisi lain ada Satria, saudara kembarnya yang menawan, berbahaya, dan terlalu pandai membaca kelemahannya. Di luar mereka, Alexander Raharja menawarkan perlindungan yang terasa seperti jalan keluar, sementara Mateo Raharja datang dengan ketulusan yang justru membuat semuanya semakin rumit.
Di antara cinta terlarang, rahasia adopsi, permainan kekuasaan, dan kematian Sofia yang tidak pernah benar-benar selesai, Valentina harus memilih: tetap menjadi bidak yang diperebutkan, atau menghancurkan papan permainan yang sejak awal dibangun di atas hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DulceSilencio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Pernyataan

Pak Ricardo Mahendra secara resmi meninggal pukul sebelas pagi pada hari Selasa, akibat henti jantung-paru yang berasal dari karsinoma paru stadium akhir. Akta kematian ditandatangani dokter yang tidak mengajukan pertanyaan. Siaran pers disusun Ana Lestari kurang dari satu jam. Berita menayangkannya sebelum pukul dua siang: "Pak Ricardo Mahendra, patriark Grup Mahendra, meninggal dunia di usia 78 tahun."

Valentina melihat berita itu di televisi kamar klinik. Wajah Pak Ricardo muncul di layar, foto arsip ketika ia masih berbobot sembilan puluh kilo dan suaranya bisa menghentikan rapat pemegang saham dengan satu kalimat. Pria di foto tidak mirip pria yang ia lihat di kamar 507. Pria itu kerangka dengan mata.

Shhh-click.

Bunyi respirator datang seperti gema. Valentina menekan kedua tangan di antara lutut sampai buku jarinya sakit.

Pemakaman diadakan tiga hari kemudian. Valentina hadir mengenakan gaun hitam yang dikirim Ana Lestari tanpa catatan. Sebastian memimpin upacara dengan ketenangan CEO yang mengubur pendirinya: punggung tegak, rahang batu, tiga kalimat terima kasih yang terdengar seperti pidato pengacara, bukan kata-kata seorang anak. Satria tidak datang. Tak ada yang menjelaskan kenapa.

Masa berkabung menutup kantor Grup Mahendra selama satu minggu. Para pengacara mengurung diri bersama wasiat. Pemegang saham menelepon untuk menyampaikan belasungkawa yang sebenarnya pertanyaan menyamar: siapa mewarisi kendali? Sebastian mewarisi semuanya. Kekuasaan yang Pak Ricardo genggam dengan tangan besi jatuh ke bahu putra sulungnya seperti mantel yang lebih berat daripada melindungi.

Valentina melihat jendela dan melompat.

Bukan secara harfiah. Secara kiasan. Masa berkabung adalah kekosongan kuasa. Sebastian terkubur dalam rapat hukum dan pertemuan dewan. Alexander sibuk dengan transisi kepresidenan. Satria mengurung diri di apartemennya tanpa menjawab telepon. Tak ada yang mengawasi Valentina. Itu pertama kalinya dalam delapan tahun tak seorang pun mengawasinya.

Ia menelepon Alexander. Meminta Alexander mengaktifkan pendaftaran PNCC, Program Nasional Kader Warga, yang memberinya akses ke Universitas Nasional. Alexander melakukan tiga panggilan. Dalam empat puluh delapan jam, Valentina punya surat penerimaan yang ditandatangani rektor.

Ia menelepon Satria. Meminta bantuan.

"Aku butuh kamu menjadi Sebastian," katanya.

Sunyi di ujung telepon. Lalu tawa pendek, kering, tanpa gembira.

"Kapan?"

"Besok. Pukul sebelas. Auditorium Pusat Kebudayaan Mahendra."

Konferensi pers diatur Valentina dengan bantuan Julia, yang menelepon tiga wartawan yang berutang budi kepada ayahnya dan seorang produser Televisa yang bersedia menyiarkan langsung dengan imbalan eksklusif di masa depan. Panggungnya sederhana: podium berlogo Grup Mahendra, dua kursi, dan satu mikrofon.

Valentina naik ke podium tepat pukul sebelas. Ia mengenakan setelan abu-abu, setelan formal pertama yang ia pakai seumur hidup, dan liontin giok tersembunyi di balik lapel. Tangannya gemetar, tetapi ia menyembunyikannya di balik podium.

"Selamat pagi," katanya ke mikrofon. Suaranya menggema di auditorium setengah kosong. "Nama saya Valentina Mahendra. Saya putri angkat Keluarga Mahendra. Dan hari ini saya ingin mengumumkan bahwa saya telah diterima di Universitas Nasional, jurusan Kesejahteraan Sosial, melalui Program Nasional Kader Warga."

Kilatan kamera berkedip. Wartawan mencatat.

"Keputusan ini mendapat dukungan penuh dari keluarga saya," lanjut Valentina. "Dan untuk menegaskan dukungan itu, saya persilakan kakak saya, Sebastian Mahendra."

Satria naik ke podium. Ia mengenakan salah satu setelan gelap Sebastian, lensa kontak biru, dan rambut tersisir ke belakang yang dipakai kakaknya seperti seragam. Dari kamera, dari baris depan, dari sudut mana pun yang bukan tiga puluh sentimeter dari wajahnya, ia adalah Sebastian Mahendra. Rahang sama, mata sama, postur predator yang sedang istirahat sama.

"Keluarga Mahendra mendukung keputusan Valentina," kata Satria, suaranya hampir seperti Sebastian, tetapi membawa kehangatan yang tak akan pernah dimiliki aslinya. "Pendidikan adalah hak mendasar. Adik saya telah menunjukkan tekad luar biasa dan layak mendapatkan kesempatan ini."

Para wartawan bertepuk tangan. Judul berita esok hari akan menjadi variasi dari hal yang sama: "Keluarga Mahendra Dukung Pendidikan Putri Angkat." "Sebastian Mahendra: 'Pendidikan Adalah Hak Mendasar.'" "Valentina Mahendra, dari Anak Yatim ke Mahasiswi."

Krisis citra yang diciptakan Valentina dengan kalimat "kakak laki-laki saya adalah bajingan" larut dalam gelombang hubungan masyarakat positif. Pemegang saham bernapas lega. Bursa tidak bergerak.

Di Kediaman Mahendra, Sebastian yang asli duduk di ruang kerja di depan televisi. Ana Lestari berdiri di belakangnya, tablet di tangan dan ekspresi netral profesional tetapi waspada secara manusiawi.

Sebastian melihat wajahnya sendiri di layar mengucapkan kata-kata yang tak akan pernah ia ucapkan. Ia melihat Satria, adiknya, pantulannya, saingannya, memakai identitasnya sebagai kostum untuk memberikan kepada Valentina persis hal yang pernah ia tolak.

Ekspresinya melewati tiga fase dalam lima detik: syok, murka, lalu sesuatu yang belum pernah Ana Lestari lihat. Senyum. Bukan senyum menantang untuk Alexander. Bukan senyum dingin negosiasi. Senyum yang berisi kekaguman bercampur racun.

"Permainan bagus," katanya pelan, menatap layar.

Ana Lestari tidak mengatakan apa pun. Tetapi jemarinya bergerak di tablet, mencatat hal-hal yang tak seorang pun minta.

Valentina kembali ke kediaman sore itu. Naik tangga. Masuk kamar. Mengunci pintu.

Ia berdiri di tengah kamar sesaat. Setelan itu menekan bahunya. Liontin giok berat di dada. Surat penerimaan Universitas Nasional ada di saku. Formulir penundaan pernikahan ada di tas, tertanda tangan. Pak Ricardo mati. Linda Wijaya di ruang perawatan intensif. Konferensi pers berjalan sempurna.

Ia menang. Dalam satu bulan, ia berhasil melakukan hal yang tampak mustahil: menunda pernikahan, masuk universitas, bertahan dari Sebastian.

Harganya: dua nyawa. Sedatif dalam segelas air. Pisau lipat yang melonggarkan sekrup. Kabel yang tercabut di kamar lantai lima. Kebohongan ditumpuk di atas kebohongan seperti bata dinding yang suatu hari akan runtuh menimpanya.

Lututnya menekuk.

Ia jatuh ke lantai kamar seperti bangunan yang fondasinya dicabut. Ia berlutut di atas karpet, karpet yang sama tempat Sebastian mengikatnya dengan dasi, lalu menutup wajah dengan tangan.

Ia menangis.

Tanpa suara. Tanpa isak. Air mata keluar dari matanya seperti air dari pipa pecah yang tak bisa ditutup siapa pun. Tubuhnya tersentak dalam kejang sunyi yang sakit di dada, di perut, dan di suatu tempat di belakang mata yang tak punya nama medis tetapi dikenali semua orang: tempat menyimpan hal yang tak terampuni.

Ia menangis sampai kosong. Sampai matanya perih, hidungnya berair, tangannya gemetar karena letih dan bukan emosi. Ia menangis untuk Linda Wijaya dan gaun merahnya. Untuk Pak Ricardo dan respiratornya. Untuk gadis empat belas tahun yang dikeluarkan Sebastian dari kamar gelap dan yang kini melakukan hal lebih buruk daripada apa pun yang pernah dilakukan orang kepadanya.

Ia menangis untuk Valentina. Yang dulu. Yang tak bisa ia jadi lagi.

Ketika air mata habis, ia berdiri dari lantai. Melepas setelan. Memakai kaus tua dan celana olahraga. Duduk di ranjang dan menatap dinding.

Universitas dimulai minggu depan. Dunia baru. Tetapi hantu dunia lama akan ikut bersamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!