NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

****

Pagi hari di batas perbatasan Hulu Rawa diselimuti kabut tipis yang dingin. Di bawah gapura kayu perbatasan, Pak Rahardjo siap melangkah naik ke dalam mobil penjemputan pengganti yang telah dipesan untuk membawanya kembali ke kota. Melani berdiri di samping ayahnya, memegang erat jemari pria paruh baya itu dengan rasa haru yang masih membumbung di dada. Rangga Wira berdiri tegap di sisi Melani, memancarkan wibawa pimpinan adat yang kokoh.

Namun, sebelum roda mobil sempat berputar, sebuah sedan hitam berpelat dinas melaju kencang dari arah luar dan berhenti mendadak tepat di tengah jalur perbatasan.

Dua orang pria berseragam dinas dengan raut wajah angkuh turun dari mobil tersebut. Salah seorang dari mereka, pria paruh baya berbadan gempal bernama Hendra—utusan kepercayaan Pak Pramono—melangkah maju seraya mengibaskan sebuah amplop cokelat tebal bermaterai resmi.

"Bidan Melani!" panggil Hendra dengan suara lantang yang memotong keheningan perbatasan. "Atas perintah langsung dari Kepala Dinas Kesehatan Kota, Pak Pramono, hari ini juga tugas Anda di Pustu Hulu Rawa resmi dihentikan!"

Melani tersentak kaget, melangkah satu tapak mundur. "Dihentikan? Atas dasar apa, Pak?"

Hendra tersenyum sinis, menyerahkan lembaran kertas dari dalam amplop cokelat itu secara kasar. "Ini Surat Penarikan Tugas Resmi dan mutasi paksa Anda kembali ke kota! Anda diperintahkan untuk segera mengemasi barang-barang Anda dan menghadap sidang disiplin dinas esok pagi!"

Pak Rahardjo membelalakkan matanya, melangkah maju membela putrinya. "Tunggu dulu! Surat penarikan apa ini?! Putri saya menjalankan tugasnya di sini dengan sangat baik dan penuh dedikasi!"

"Jangan ikut campur, Pak Tua!" bentak Hendra tanpa rasa hormat. Ia menatap Melani dengan pandangan mengintimidasi. "Dengar Bidan Melani! Laporan yang masuk ke dinas menyebutkan bahwa Anda telah melakukan pelanggaran berat! Anda membiarkan praktik liar dan memperkerjakan dukun-dukun beranak tanpa sertifikat medis di Pustu ini!"

Mendengar tuduhan kejam itu, dada Melani bergemuruh hebat. "Itu tidak benar! Saya tidak melakukan praktik liar! Saya merangkul para dukun beranak untuk menjadi asisten medis yang steril demi menyelamatkan nyawa ibu dan anak di desa ini!"

"Tuduhan Anda sangat tidak berdasar!" tegas Pak Rahardjo dengan suara bergetar menahan amarah. "Saya sendiri menyaksikan bagaimana keteraturan dan kebersihan sistem pelayanan putri saya di sini!"

Hendra terkekeh dingin, mengibaskan tangannya meremehkan. "Penjelasan Anda tidak berlaku di mata hukum dinas! Jika Bidan Melani menolak surat penarikan tugas ini dan enggan ikut kembali ke kota hari ini juga... Surat Tanda Registrasi (STR) dan izin praktik kebidanannya akan dicabut secara permanen! Tidak hanya itu, kami akan memproses hukum tuduhan pidana atas praktik medis ilegal!"

Melani membeku, napasnya tertahan di tenggorokan. Ancaman pencabutan izin praktik dan pidana adalah pukulan mematikan bagi seorang tenaga medis yang mengabdikan seluruh jiwanya untuk kemanusiaan.

Tepat saat ketakutan mulai merayapi wajah Melani, sebuah langkah kaki tegap maju memotong jarak.

Rangga Wira melangkah berdiri tepat di depan Melani dan Pak Rahardjo, menyerupai benteng baja yang tak tertembus. Manik mata hitam sang Ketua Adat menatap tajam ke dalam manik mata Hendra, memancarkan aura tekanan dan intimidasi mutlak yang membuat utusan kota itu seketika menelan ludah dengan tenggorokan kering.

"Siapa yang memberi kalian hak untuk mengancam Bidan Pelindung kami di atas tanah ini?" pukas Rangga Wira. Suara baritonnya yang berat bergema tenang namun sarat akan ancaman mematikan.

Hendra mencoba membusungkan dadanya, meski tangannya agak gemetar. "K-kami menjalankan hukum negara! Jangan coba-coba menghalangi petugas dinas, Ketua Adat! Hukum dinas kota lebih tinggi dari aturan hutan kalian!"

Rangga Wira menarik napas panjang. Pria tegap itu tidak membalas dengan bentakan emosi, melainkan dengan ketenangan seorang pimpinan sejati yang menguasai kebenaran.

"Hukum negara dibuat untuk melindungi keselamatan rakyat, bukan dijadikan alat dendam oleh pejabat korup seperti atasanmu!" seru Rangga mantap. Ia menatap lurus ke arah Hendra. "Bidan Melani tidak pernah melakukan tindak pidana ataupun kesalahan administrasi. Semua tindakan medis di Pustu Hulu Rawa dilakukan atas persetujuan resmi Dinas Kesehatan Kabupaten dan dilindungi penuh oleh Hukum Adat tertinggi Hulu Rawa!"

Melani menatap punggung tegap Rangga dari belakang, air mata keharuan dan rasa aman kembali menggenang di pelupuk matanya.

"Bidan Melani tidak akan menghadapi tuduhan palsu kalian seorang diri," lanjut Rangga Wira dengan nada tegas yang tak terbantahkan.

Rangga memutar tubuhnya menatap Melani dan Pak Rahardjo. "Melani... Pak Rahardjo... kita berangkat ke kota hari ini juga."

Pak Rahardjo tersentak kaget. "Rangga? Kamu... kamu ikut ke kota?"

"Tentu saja, Pak," jawab Rangga mantap tanpa ragu sedikit pun. Jemari kekarnya menggenggam erat telapak tangan Melani yang dingin. "Saya sendiri yang akan melangkah ke kantor dinas kota. Saya akan berdiri sebagai saksi utama dan pelindung bagi Melani di hadapan sidang dinas dan di depan Pak Pramono. Saya akan membuktikan kepada seluruh pejabat di kota bahwa Bidan Melani adalah pahlawan yang suci dari segala tuduhan keji!"

Hendra terbelalak tak percaya. "K-kamu... orang dalam hutan mau datang ke kantor dinas kota?!"

"Tutup mulutmu dan jalan di depan kami!" bentak Seno yang melangkah maju bersama para pemuda adat, membuat Hendra dan rekannya buru-buru mundur masuk ke dalam mobil dinas mereka dengan wajah pucat pasi.

Rangga Wira berpaling menatap Melani. Jemari tangannya mengusap lembut pipi mulus sang bidan seraya menyunggingkan senyum amat tampan yang menenangkan jiwa.

"Jangan takut, Melani-ku," bisik Rangga penuh kelembutan mutlak. "Di mana pun kamu berada, di dalam hutan maupun di tengah hiruk-pikuk kota... saya akan selalu menjadi tameng dan rumah tempatmu berlindung."

Melani mengangguk mantap, menyunggingkan senyum paling indahnya di tengah lelehan air mata haru. "Terima kasih... Rangga."

Pak Rahardjo menepuk bahu tegap calon menantunya dengan rasa bangga yang tak terhingga. "Mari kita selesaikan kezaliman orang-orang kota itu bersama-sama, Rangga!"

Rangga Wira memberi isyarat kepada Seno untuk menjaga keutuhan desa selama ia pergi. Setelah memastikan segala sesuatunya aman, Sang Ketua Adat Hulu Rawa bersama Bidan Pelindung dan calon ayah mertuanya melangkah naik ke dalam kendaraan, bergerak meninggalkan perbatasan menuju kota demi memperjuangkan keadilan dan kebenaran cinta mereka.

Bersambung..

Ehemm, sebelum sahhh kita bikin drama lagi aja yaa biar seru....

Nanti abis itu kita bikin yang manis dan gemes gemesnya aja yaaa,,,

Di sini author terbuka banget lhoo, jika kalian mau ngasih saran, kritik, masukan, atau ide cerita buat bab bab selanjutnya,,,

Author palahh seneng bgttt 😍😍😚

Walaupun author jarang balas komen komen kalian, tapi author bacaa semuaaa kok...

Terimakasih sudah menikmati dan mengikuti karya author satu ini....

semoga kalian happy selalu 🫶🫶🫶❤️✨

1
Apis
knp g di jelasin jg kejahatan pramono lainya thor kaya ke Melani dendamnya karna Melani menolak di nikah sirih jd istri ke 2 biar tambah malu sekalian jd tambah seru biar di rujak sama istrinya 😄
neng ade
akhirnya di tindak tegas juga itu pak Pramono..
Nurul Boed
ceritanya beda dgn novel yang lain,, bagus kak,,, semangat up ya kak 😍😍
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
neng ade
up yang banyak dong thor 🙏
Apis
dramanya jngn berat" ya thor tipis" aj kalo manis"nya baru boleh bnyk 😄
nunik rahyuni
klo menikah aoa cuma di drsa hulu rawa sj...g ke kampung melani dlu baru di boyong je desa suami...masa melani di tinggal di hulu rawa
neng ade
menunggu acara upacara pelaminan adat Hulu Rawa
Kusii Yaati
pejabat Pramono harus di tindak lanjuti itu, laporkan saja biar di pecat 😡
neng ade
selamat untuk Rangga dan Melani karena udah dapat restu dari ayahnya Melani
neng ade
Sutan harus dihukum bersama orang yang menyuruh nya
dika edsel
keren ceritanya...,bintang lima untukmu thor🌟
Kusii Yaati
semangat pak ketua,raih restu keluarga calon Bu ketua suku...ku doa' kan lancar...💪😘
pasti lancar ya Thor 🤭
neng ade
Rangga dan Melani semoga keduanya mendapatkan restu dari kedua orang tua Melani ❤️
Kusii Yaati
dua duanya tapi yang paling berat akan berpisah dengan pak ketua suku 🤭
neng ade
Melani takut karena harus berpisah dengan mu Rangga 😊
Apis
duh pak rangga udah mulai ter ter Melaniku nich 🤣🤣🤣🤣
neng ade
manis dan romantis yang indah dan syahdu ❤️
neng ade
setelah itu akan ada pernikahan adat antara Rangga dan Melani
neng ade
Alhamdulillah.. ..🤲
neng ade
Rangga dan Melani berjodoh .. mereka berdua akhirnya bisa menangkap basah Sutan dengan barang bukti yang ada di tangan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!