"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Nenek
"Pak Slamet jatuh!"
Kalimat Bu Suryani membuat darah Rangga langsung naik ke kepala.
"Bu, taruh ponselnya dekat Bapak. Saya mau dengar suaranya."
Di ujung sana, terdengar suara kursi digeser, langkah panik, lalu napas lelaki paruh baya yang berat karena malu.
"Nak..."
"Ayah sakit dada? Sesak? Kepala pusing?"
"Tidak. Ayah cuma... kaget."
Bu Suryani menyambar dari jauh, "Kaget kok jatuh dari kursi!"
Pak Slamet batuk kecil. "Kursinya licin."
"Kursi kayu kok licin, Pak?"
Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, Rangga tertawa pelan.
Di koridor RSUD Harapan Bangsa yang dingin, tawa itu terasa asing. Selama ini hidupnya dipenuhi monitor, darah, laporan, uang miliaran, dan wajah orang yang hampir mati. Mendengar ayahnya salah tingkah karena transfer Rp 50 juta membuat semua itu mendadak terasa nyata.
"Ayah, Ibu," katanya, suaranya melembut, "uang itu halal. Jangan terlalu hemat. Periksa kesehatan. Perbaiki atap kalau bocor. Beli makanan yang bagus."
Bu Suryani terdiam beberapa detik.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa di kota, Nak?"
"Saya baik, Bu."
"Kalau capek, pulang. Rumah tetap rumah."
Kalimat sederhana itu menusuk lebih dalam daripada pujian ribuan orang asing.
Rangga menatap layar ponselnya yang penuh notifikasi Dokter Ajaib, lalu menutup semuanya.
"Iya, Bu. Nanti saya pulang."
Ia tidak menyangka janji itu harus ditepati lebih cepat.
Dua malam kemudian, ponselnya berdering saat ia baru selesai memeriksa laporan produksi Trombosin Plus.
Nama Bu Suryani muncul.
Begitu ia mengangkat, suara ibunya sudah pecah.
"Rangga, Nenek... Nenek Warsih sakit dada. Keringat dingin. Napasnya pendek. Pak Dhe semua sudah berkumpul. Kami bawa ke rumah sakit daerah."
Rangga berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong ke belakang.
"Sejak kapan?"
"Sekitar setengah jam. Tadi sedang arisan keluarga kecil, tiba-tiba Mbah Warsih pegang dada. Pak Dhe Waluyo bilang mungkin masuk angin, tapi wajahnya pucat sekali."
"Jangan diberi minyak atau jamu apa pun. Pastikan Nenek duduk setengah berbaring, jangan banyak bicara. Minta dokter cek EKG, troponin, tekanan darah. Saya berangkat sekarang."
"Nak, biayanya..."
"Jangan pikirkan biaya."
Rangga sudah berlari.
Di ruang direktur, Pak Hendra baru saja hendak pulang ketika Rangga masuk tanpa mengetuk.
"Pak Direktur, saya harus ke Kabupaten Sukamakmur. Nenek saya kemungkinan infark miokard akut."
Pak Hendra tidak bertanya panjang.
"Berapa jauh?"
"Beberapa jam perjalanan."
"Ambil kendaraan operasional. Saya kirim satu dokter jantung senior ikut dengan kamu. Bawa Trombosin Plus?"
"Dua dosis."
Pak Hendra menatapnya sejenak.
"Pergi. Urusan administrasi saya tanggung."
Pak Bambang muncul di pintu, mungkin mendengar suara langkah Rangga.
"Aku ikut."
"Pak, rumah sakit butuh Anda."
"Kamu cucu pasien. Kamu butuh orang yang menjaga kepalamu tetap dingin."
Rangga hendak menolak, tetapi Pak Bambang sudah mengambil jasnya.
"Jangan debat dengan guru sendiri."
Malam itu, kendaraan operasional RSUD Harapan Bangsa melesat keluar dari Kota Cakrawala. Di kotak pendingin kecil di pangkuan Rangga, dua dosis Trombosin Plus tersimpan rapi.
Lampu jalan berubah menjadi garis panjang.
Kota mundur.
Jalan besar menjadi jalan kabupaten yang lebih gelap, dengan warung-warung kecil yang sebagian sudah tutup, sawah hitam di sisi jalan, dan udara lembap yang membawa bau tanah.
Rangga memandangi kaca depan.
Di kepalanya, potongan masa kecil datang tanpa diminta.
Ia teringat Nenek Warsih menyelipkan uang Rp 5.000 ke sakunya sebelum sekolah, menyuruhnya rajin belajar agar dapat menolong orang, dan menyimpan bagian ayam terbaik untuknya saat keluarga berkumpul.
Pak Bambang duduk di sampingnya, diam lama.
"Kamu takut?"
Rangga tidak berpura-pura.
"Takut."
"Bagus."
Rangga menoleh.
"Dokter yang tidak takut kehilangan keluarga sendiri biasanya sudah terlalu jauh dari manusia."
Rangga menggenggam kotak pendingin lebih erat.
Ketika mereka tiba di rumah sakit daerah di Kabupaten Sukamakmur, halaman depan penuh keluarga.
Pak Dhe Waluyo mondar-mandir sambil memegang kopiah. Pak Dhe Marto duduk dengan wajah pucat. Pak Dhe Dirjo sedang berdebat pelan dengan petugas administrasi soal biaya awal. Bu Suryani berdiri di dekat pintu IGD, matanya merah. Pak Slamet memegang bahunya, tetapi wajahnya sendiri terlihat lebih tua sepuluh tahun.
"Rangga!"
Bu Suryani hampir berlari ke arahnya.
Rangga mencium tangan ibunya, lalu ayahnya, tetapi tidak berhenti lama.
"Nenek di mana?"
"Di dalam. Dokternya bilang serangan jantung. Alatnya terbatas. Mereka mau rujuk, tapi perjalanan ke kota terlalu jauh."
Rangga masuk ke ruang IGD.
Nenek Warsih terbaring di ranjang sederhana. Tubuhnya kecil, kain jarik menutupi sebagian kaki, napasnya pendek-pendek. Di wajah keriput itu, Rangga melihat semua pagi masa kecilnya.
"Nenek."
Kelopak mata Nenek Warsih bergerak.
"Le... Rangga?"
Suara itu tipis seperti benang.
"Iya, Nek. Saya datang."
"Kamu kok jauh-jauh pulang malam-malam..."
"Nenek yang panggil, saya datang."
Dokter jaga menyerahkan EKG dan hasil darah dengan terburu-buru. Dokter jantung senior dari RSUD Harapan Bangsa langsung memeriksa, lalu menatap Rangga.
"Infark akut. Ada tanda sumbatan besar. Kalau dirujuk, waktunya mepet."
Rangga sudah tahu.
Tetapi mendengar kalimat itu dari mulut orang lain membuat dadanya tetap sakit.
Pak Bambang berdiri di belakangnya.
"Trombosin Plus?"
Rangga membuka kotak pendingin.
Keluarga besar yang menunggu di luar mulai berbisik ketika melihat cairan bening dalam spuit.
Pak Dhe Waluyo masuk setengah langkah.
"Rangga, itu obat mahal yang di berita itu?"
"Iya, Pak Dhe."
"Berapa harganya?"
"Jangan tanya harga sekarang."
Pak Dhe Dirjo bersuara dari belakang, gemetar, "Kalau harus bayar, kita jual sawah bagian keluarga. Yang penting Mbah Warsih selamat."
Rangga menoleh.
Untuk sesaat, ia melihat keluarganya seperti dulu: orang-orang sederhana yang menghitung uang dengan napas tertahan, tetapi tidak ragu mengorbankan apa pun untuk orang tua mereka.
"Tidak ada yang menjual sawah," katanya. "Nenek pakai obat cucunya."
Bu Suryani menangis.
Pak Slamet menunduk, menutup wajah dengan telapak tangan.
Rangga mendekat ke ranjang.
"Nek, saya akan beri obat. Rasanya mungkin dingin sedikit. Saya di sini sampai pagi."
Nenek Warsih membuka mata lebih lebar.
"Obatmu sendiri?"
"Iya."
"Kalau begitu Nenek percaya."
Trombosin Plus masuk perlahan melalui jalur intravena.
Ruang IGD yang sempit itu mendadak sangat sunyi.
Momen itu berlangsung tanpa reporter, komentar internet, atau tepuk tangan.
Hanya keluarga yang menahan napas dan seorang cucu yang berdiri di sisi ranjang neneknya.
Setengah jam pertama, nyeri dada Nenek Warsih mulai mereda.
Satu jam, tekanan darah membaik.
Dua jam, EKG menunjukkan perubahan yang lebih stabil.
Menjelang tengah malam, Nenek Warsih tertidur tanpa mencengkeram dadanya.
Rangga tetap duduk di samping ranjang.
Bu Suryani beberapa kali menyuruhnya makan, tetapi ia hanya minum teh manis hangat dari gelas plastik.
Pak Bambang berdiri di pintu, melihat muridnya seperti melihat sisi lain dari semua keajaiban yang selama ini terjadi.
Di luar IGD, keluarga besar mulai duduk di lantai koridor. Ada yang membawa tikar, ada yang membagikan pisang rebus, ada yang berdoa pelan. Arisan keluarga yang tadinya ringan berubah menjadi jaga malam bersama.
Menjelang subuh, Nenek Warsih terbangun.
"Le."
Rangga langsung mendekat. "Nek?"
"Kamu belum tidur?"
"Nanti."
"Dulu Nenek bilang kamu harus jadi orang pintar."
Rangga menggenggam tangan keriput itu.
"Saya ingat."
"Sekarang kamu sudah pintar?"
Rangga terdiam, lalu tersenyum kecil.
"Masih belajar."
Nenek Warsih menatapnya lama.
"Yang penting jangan lupa pulang."
Kata-kata itu membuat dada Rangga lebih sesak daripada suara monitor mana pun.
Pagi datang pelan.
Hasil pemeriksaan kontrol keluar setelah matahari menyentuh halaman rumah sakit. Dokter jantung senior membaca angka-angka itu dua kali, lalu mengangkat wajah dengan takjub yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Sumbatan utama larut. Parameter membaik drastis. Tidak ada tanda kerusakan baru."
Pak Bambang menghela napas panjang.
Bu Suryani langsung memeluk Pak Slamet.
Pak Dhe Marto membaca hasil itu tanpa mengerti semua istilah, tetapi ia mengerti wajah dokter.
"Berarti Mbah selamat?"
Rangga menoleh ke keluarganya.
"Iya. Nenek selamat."
Tangis pecah.
Tangis lega yang ditahan sepanjang malam akhirnya pecah. Pak Dhe Waluyo mengusap mata dengan ujung sarung. Pak Dhe Dirjo berkali-kali mengucap syukur. Bu Suryani mencium tangan Nenek Warsih sambil berbisik bahwa cucunya sudah pulang.
Siang itu, setelah kondisi Nenek Warsih stabil, keluarga besar berkumpul di rumah sederhana dekat jalan desa. Nasi hangat, tempe goreng, sayur bening, sambal, dan teh manis memenuhi meja panjang. Kehangatan pertemuan itu melampaui ruang rapat mana pun di Kota Cakrawala.
Rangga mengeluarkan kotak kecil dari tasnya.
Di dalamnya ada gelang emas sederhana.
"Nek, ini untuk Nenek."
Nenek Warsih menatap gelang itu, lalu menatap Rangga dengan mata membesar.
"Le, ini mahal."
"Dulu Nenek sering kasih saya uang jajan diam-diam. Sekarang giliran saya."
"Uang jajan Nenek cuma lima ribu."
"Nilainya tidak pernah lima ribu."
Nenek Warsih memalingkan wajah, tetapi air matanya tetap jatuh.
Pak Slamet, yang sejak tadi masih berusaha memahami semua kejadian, akhirnya bertanya pelan, "Rangga... orang-orang di berita itu memanggil Dokter Ajaib. Itu kamu?"
Semua kepala menoleh.
Bu Suryani memegang dada.
Rangga belum sempat menjawab ketika Pak Dhe Waluyo membuka ponsel dan menunjukkan video Pak Bambang menggulung lengan baju.
"Ini wajahnya Rangga, to?"
Pak Slamet menatap layar.
Wajah putranya ada di sana, berdiri di tengah dokter, reporter, dan pasien yang diselamatkan.
Mata Pak Slamet memerah.
"Anakku..."
Ia berdiri terlalu cepat.
Kursi di belakangnya bergeser.
Bruk.
Untuk kedua kalinya dalam beberapa hari, Pak Slamet jatuh karena terlalu bangga.
Kali ini, seluruh keluarga tertawa sambil panik.
"Ayah!" Rangga cepat menolongnya.
Pak Slamet duduk di lantai, malu, tetapi wajahnya bersinar.
"Tidak apa-apa. Bapak cuma... punya anak hebat."
Rangga membantu ayahnya berdiri.
Di tengah tawa, air mata, dan suara Nenek Warsih yang memarahinya agar jangan membuat orang tua jantungan, Rangga merasakan sesuatu yang lama hilang dari dadanya.
Ia pulang tanpa membawa dendam kepada Bimo atau kemarahan kepada orang yang dulu menyebutnya sampah. Yang menetap di dadanya adalah tanggung jawab.
Sore itu, ia kembali ke Kota Cakrawala. Dari kaca kendaraan, ia melihat rumah keluarga mengecil, Nenek Warsih duduk di teras dengan gelang emas di pergelangan tangan, Bu Suryani melambaikan tangan, dan Pak Slamet berdiri hati-hati agar tidak jatuh lagi.
Pak Bambang menyetir kali ini, membiarkan Rangga diam.
Di tengah perjalanan, ponsel Rangga bergetar.
Pesan dari Pak Hendra masuk di layar, diteruskan dari grup rumah sakit.
[Kembali setelah siap. Ada kejadian besar.]
[Jalan Cahaya Bangsa. Pabrik kimia meledak.]
[Korban banyak.]
Rangga menatap pesan itu.
Tangannya perlahan mengepal.
Di luar jendela, langit sore berubah merah.