NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Malam Sepi Tanpa Ada Pembelaan Suami

Malam sepi tanpa ada pembelaan suami benar benar dirasakan Hana sewaktu ia menatap nanar ruko berlantai dua miliknya yang kini terasa sangat lengang setelah kepergian ayahnya ke luar kota. Di dalam kamar atas yang bernuansa putih bersih, ia duduk memeluk lutut sambil mendengarkan deru angin malam yang berembus kencang menerpa kaca jendela luar. Keadaan batinnya kembali terguncang ketika sebuah kiriman gawai digital memunculkan rekaman suara rekonsiliasi sepihak yang diadakan oleh Umi Kalsum di aula utama pesantren tadi sore. Dalam rekaman audio tersebut, suara lantang ibunda Azzam dengan sangat tega menuduh Hana sebagai menantu pembangkang yang tidak tahu adat kesopanan surau.

"Umi sengaja menyebarkan fitnah keji ini ke seluruh wali santri agar posisi sosial kita di kota hancur lebur, Hana," ujar pengacara keluarga melalui sambungan suara nirkabel yang mendadak memecah kesunyian.

Hana memejamkan mata erat erat, merasakan denyut nyeri yang teramat sangat di bagian pelipis kepalanya akibat tekanan mental yang bertubi tubi. "Apakah tidak ada satu pun kalimat dari mulut Mas Azzam yang meluruskan kesalahpahaman kronologi ujian mengaji itu, Pak?"

"Sama sekali tidak ada, suami Anda justru memilih bungkam dan meninggalkan ruangan rapat yayasan sebelum acara doa bersama selesai diadakan," jawab pengacara tersebut dengan nada kecewa yang berat.

Kenyataan pahit mengenai sikap diam sang suami laksana hantaman ombak besar yang meruntuhkan sisa harapan perdamaian di dalam lubuk hati Hana. Kesendirian malam ini terasa kian mencekam sewaktu ia menyadari bahwa perjuangan hukumnya melawan kesombongan kaum surau akan berjalan sangat panjang dan melelahkan. Hana bangkit berdiri perlahan, melangkah menuju meja kerja butik untuk meninjau ulang lembaran berkas pengajuan pembagian harta bersama yang sempat tertunda. Air mata duka kembali menetes membasahi sketsa gaun muslimah yang sedang ia rancang, lambang dari kehancuran impian masa depan yang dahulu sempat ia bangun bersama Azzam.

Sementara itu, di sudut koridor rumah sakit daerah yang remang, Azzam sedang duduk termenung memandangi selembar kertas pengunduran diri yang masih tersimpan rapat di dalam saku jubahnya. Langkah radikal yang ia ambil ternyata harus terbentur oleh kondisi kesehatan Umi Kalsum yang mendadak kritis akibat serangan jantung koroner pasca rapat pleno yayasan. Sarah berjalan mendekat dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin, lalu duduk di kursi kosong sebelah Azzam sambil menyodorkan secangkir kopi hitam hangat. Tatapan mata Sarah memancarkan kilatan kemenangan yang samar, merasa di atas angin karena berhasil memisahkan Hana dari lingkaran utama keluarga besar pesantren.

"Azzam, minumlah dahulu agar fisikmu tidak tumbang sebelum besok pagi memimpin upacara peletakan batu pertama gedung baru asrama putri," ucap Sarah dengan nada suara yang lembut penuh perhatian.

Azzam menggeser cangkir tersebut tanpa berniat menyentuhnya sedikit pun, wajahnya tampak sangat kaku laksana ukiran batu paras yang dingin. "Kehadiranmu di sini hanya memperkeruh suasana batin saya, Sarah, sebaiknya kamu segera pulang ke rumah orang tuamu."

"Mengapa kamu selalu ketus kepada saya, padahal selama ini hanya saya dan Umi yang setia menjaga kehormatan nama baikmu di hadapan para santri," kilat Sarah dengan raut muka yang merengut manja.

"Kesetiaan yang kamu agungkan itu bersumber dari ketamakan tanah wakaf milik keluarga Hana, saya tidak sebodoh yang kamu bayangkan," tegas Azzam seraya berdiri menjauh.

Sikap tegas dari sang ustaz muda membuat nyali Sarah menciut seketika, menguapkan seluruh keberanian yang tadi ia kumpulkan untuk merayu calon suaminya tersebut. Azzam melangkah menuju ruang rawat intensif, memandangi tubuh tua ibundanya yang kini dipenuhi oleh lilitan kabel medis kedokteran yang berbunyi dengan irama konstan. Dilema moral kembali merantai kebebasan jiwanya, memaksanya untuk terus mengenakan topeng kesalehan semu demi menjaga ketenangan pikiran sang ibu yang sedang diambang maut. Di dalam keheningan koridor rumah sakit yang sunyi, Azzam meratapi kelemahannya yang kembali membiarkan Hana berjuang sendirian menghadapi badai gunjingan masyarakat kota.

Malam kian larut mematangkan kesunyian, memaksa Hana untuk turun ke lantai bawah ruko guna memeriksa kembali sistem keamanan pintu gerbang besi butiknya. Saat melintasi ruang pajang gaun muslimah, pandangan matanya tertuju pada sebuah gaun pengantin sutra putih yang sengaja diletakkan di bagian sudut teratas etalase kaca. Gaun indah tersebut adalah hasil karya pertama yang ia selesaikan dengan penuh cinta, terinspirasi dari janji suci pernikahan yang dahulu diucapkan Azzam di bawah naungan pohon asoka pesantren. Keindahan masa lalu itu kini menjelma menjadi sebuah monumen kepedihan yang mengingatkan Hana akan status dirinya yang seolah tidak pernah dianggap ada oleh keluarga suaminya.

Tiba tiba, bunyi ketukan keras di pintu kaca depan ruko mengejutkan Hana dari lamunan panjangnya yang emosional. Sesosok wanita paruh baya yang merupakan tetangga sebelah ruko berdiri di luar dengan wajah penuh kepanikan sambil menunjuk nunduk ke arah jalan raya utama.

"Hana, cepat buka pintunya, ada sekelompok orang tidak dikenal berpakaian serba hitam sedang menempelkan selebaran brosur di dinding pagar depanmu," teriak tetangga tersebut dari balik celah pintu.

Hana segera membuka kunci selot besi, melangkah keluar menembus angin malam yang dingin untuk melihat langsung kekacauan yang terjadi di halaman tokonya. "Astaga, siapa yang berbuat keji seperti ini di lingkungan niaga kita, Ibu?"

"Saya melihat mereka mengendarai mobil bak terbuka dari arah pinggiran desa pesantren tadi sore, sepertinya ini urusan internal keluargamu," jawab tetangga itu sambil menggeleng geleng kepala prihatin.

Puluhan lembar kertas putih kini telah mengotori dinding marmer ruko Hana, berisi tulisan provokatif yang menuduh butik muslimah milik Hana dibangun menggunakan uang haram hasil penipuan dana yayasan. Fitnah keji yang berhembus teratur ini jelas sengaja dirancang untuk menghancurkan kredibilitas bisnis mandiri yang sedang Hana rintis dari puing puing air mata duka. Hana merobek lembaran kertas tersebut dengan jemari tangan yang gemetar hebat akibat luapan amarah yang sudah mencapai batas maksimal kesabaran seorang wanita tegar. Di bawah temaram lampu jalan kota, ia bersumpah tidak akan pernah sujud memohon maaf kepada pihak pesantren yang telah menginjak injak kehormatan nama baik mendiang ibunya.

Kesunyian malam kota besar berubah menjadi medan pertempuran batin yang sangat kejam bagi sepasang suami istri yang terpisah jarak geografis dan status sosial tersebut. Azzam yang masih berada di rumah sakit daerah mendadak menerima pesan digital berisi foto foto kekacauan di ruko Hana yang dikirimkan oleh salah seorang alumni santri perkotaan. Jantung sang ustaz muda berdenyut kencang, menyadari bahwa tindakan intimidasi fisik ini pasti didalangi oleh lingkaran pengikut fanatik Sarah yang ingin mengusir Hana secara permanen. Tanpa mempedulikan larangan dokter jaga, Azzam berlari cepat menuju area parkir kendaraan, berniat memacu sepeda motor tuanya menembus kegelapan malam demi melindungi wanita yang sangat dicintainya.

Namun, baru beberapa meter sepeda motor itu bergerak meninggalkan gerbang rumah sakit, mesin kendaraan tersebut mendadak mati total akibat putusnya rantai penggerak utama. Azzam terlempar kecil ke atas aspal jalanan yang basah, membiarkan jubah abu tuanya kotor berselimut debu hitam dan oli mesin yang berceceran di sekitar ban. Ia memukul stang motor dengan kepalan tangan yang terluka, meratapi nasib sial yang seolah terus menghalangi langkahnya untuk menjadi pahlawan pelindung bagi rumah tangganya sendiri. Langit malam yang pekat tanpa bintang seolah menertawakan ketidakberdayaan seorang lelaki yang telanjur kehilangan hak asasi atas cinta sejatinya karena kepatuhan yang keliru.

Di sisi lain kota, Hana kembali masuk ke dalam kamarnya setelah membersihkan seluruh sisa sisa kertas fitnah yang mengotori halaman depan ruko. Ia duduk di meja kerja, mengambil sebuah amplop cokelat berisi surat undangan pengajian akbar tahunan yang secara sengaja dikirimkan oleh panitia yayasan ke alamat barunya. Undangan formal tersebut terasa sangat salah alamat, sebuah ejekan tidak langsung yang menegaskan bahwa dirinya masih dianggap sebagai bagian dari properti spiritual pesantren yang bisa diatur sesuka hati. Hana menarik napas panjang, mengambil sebuah pena tinta hitam lalu menuliskan kata penolakan mutlak di atas lembaran kertas undangan suci tersebut.

Langkah kaki Hana yang tegas menuju kotak pos depan menjadi penanda bahwa jembatan komunikasi dengan masa lalu telah runtuh sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!