Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ruangan yang beberapa detik lalu dipenuhi sorak sorai kemenangan finansial mendadak senyap. Tatapan semua orang beralih dari layar monitor ke arah Devan, yang kini berdiri tegak dengan sorot mata sedingin es abadi.
Clarissa bisa merasakan perubahan aura suaminya secara instan. Ini bukan lagi Devan yang santai, bukan pula Devan yang penuh intimidasi elegan saat menghadapi koruptor. Ini adalah aura seorang penguasa medan perang yang seolah-olah siap mengubur siapa pun yang berani mengusik kedamaiannya.
"Badan Intelijen Militer Pusat?" bisik Clarissa, suaranya sedikit bergetar saat ia memegang lengan jas Devan. "Devan... apa maksudnya ini? Kenapa mereka mencarimu?"
Devan menoleh, tatapan matanya melunak sesaat ketika melihat raut cemas di wajah istrinya. Ia menepuk tangan Clarissa lembut.
"Tenanglah, Nyonya Bos. Hanya seorang teman lama yang keras kepala," jawab Devan, suaranya kembali terdengar santai walau ada nada berat yang tak bisa disembunyikan. "Tunggu di sini. Aku akan menemuinya di ruang tamu VIP."
"Aku ikut," tegas Clarissa, ego CEO-nya menolak untuk ditinggalkan dalam ketidaktahuan.
Devan menatapnya cukup lama, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi apa pun yang kamu dengar di dalam nanti, tetaplah berada di belakangku."
Ruang Tamu VIP, Lantai Atas Grup Rajawali
Pintu kayu jati berukir itu terbuka. Di dalam ruangan, berdiri seorang pria tegap berambut cepak dengan setelan jas abu-abu formal. Postur tubuhnya yang lurus seperti tiang pancang memancarkan disiplin militer yang sangat ketat. Di dadanya, tersemat samar sebuah lencana perak berlambang Garuda Cengkeram—simbol divisi intelijen tertinggi negara.
Pria itu adalah Kapten Arya.
Begitu Devan melangkah masuk, Arya langsung membalikkan badannya. Matanya yang tajam mengunci sosok Devan. Detik berikutnya, Arya secara refleks menegakkan tubuh dan memberikan hormat militer yang sangat sempurna.
"Hormat saya, Jenderal!" ucap Arya dengan suara lantang yang menggetarkan ruangan.
Clarissa yang berjalan di belakang Devan langsung terkesiap. Jenderal? Langkah kakinya terhenti, matanya membelalak menatap punggung suaminya dengan seribu pertanyaan yang berputar di kepalanya. Pria yang selama ini membersihkan koridor kantornya dengan sapu, baru saja dipanggil Jenderal oleh perwira intelijen tertinggi negara?
Devan tidak membalas hormat itu. Ia hanya berjalan santai menuju kursi kulit tunggal dan mendudukinya dengan menyilangkan kaki.
"Aku sudah pensiun, Arya. Pangkat itu sudah terkubur di lumpur perbatasan tiga tahun lalu," ucap Devan datar, mengambil sebatang rokok kretek dan menyalakannya. "Panggil aku Devan. Dan turunkan tanganmu, kamu membuat istriku bingung."
Arya perlahan menurunkan tangannya, pandangannya beralih ke Clarissa sejenak sebelum kembali menatap Devan dengan tatapan memohon.
"Jenderal... maaf, Tuan Devan. Keberadaan Anda terendus setelah sistem kami mendeteksi adanya penghapusan data logistik militer dan pembersihan massal jaringan Gagak Hitam secara tidak wajar semalam di kota ini. Hanya ada satu orang di negeri ini yang bisa membantai delapan pembunuh elit itu tanpa meninggalkan jejak sidik jari," jelas Arya panjang lebar.
"Lalu? Apa urusannya denganmu?" tanya Devan acuh tak acuh, menghembuskan asap rokoknya ke udara.
Arya maju selangkah, wajahnya tampak sangat serius. "Ibukota sedang bergejolak. Mantan musuh-musuh Anda dari aliansi tentara bayaran internasional Black Cobra mengetahui bahwa Anda masih hidup. Mereka telah mengirim pembunuh kelas tertinggi untuk memburu Anda. Kami di sini untuk menawarkan perlindungan—"
"Perlindungan?" Devan tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Arya, sejak kapan seekor naga butuh perlindungan dari sekumpulan cacing?"