Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Siasat Ranjang yang Tertukar
Odelia melangkah mundur dari depan pintu kamar utama dengan dada yang naik turun menahan pasokan udara. Wajahnya yang biasa dipasang seramah mungkin kini tampak distorsi oleh rasa dengki yang luar biasa. Jemarinya mencengkeram pembatas tangga koridor hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bagaimana bisa...?" desis Odelia, giginya berantuk menahan geram. "Obat itu dosis tinggi! Seharusnya dia tidak sadarkan diri di ruang kerja, bukan malah merayu wanita penyakitan itu!"
Dari dalam kamar yang pintunya sedikit renggang, tawa Diane kembali terdengar. Suara yang sudah bertahun-tahun tenggelam dalam tangis dan depresi itu kini terdengar begitu renyah di telinga Sylvester—yang kini berada di dalam tubuh James.
"James, lepaskan tanganmu. Sejak kapan kau menjadi seposesif ini?" Diane berbisik, wajahnya merona merah saat jemari kokoh James merapikan anak rambut di pelipisnya.
James—atau sang bos mafia Sylvester—menatap manik mata Diane dengan pandangan yang dalam, sarat akan kerinduan yang teramat sangat. Belasan tahun hidup di dunia bawah tanah yang dingin tanpa sentuhan seorang wanita membuat jiwanya kering. Dan malam ini, melihat sosok Diane yang lembut, ingatan Sylvester mendadak ditarik pada mendiang wanita yang paling dicintainya di dunia nyata dulu. Garis wajah, kelembutan, dan sorot mata pasrah itu... begitu serupa.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh menyentuh istriku sendiri?" James berbisik rendah, menyandarkan dahinya pada dahi Diane, mengabaikan total presensi Odelia yang menguping di luar. "Maafkan aku karena selama ini terlalu mengabaikanmu, Diane. Mulai malam ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun membuatmu menangis lagi. Termasuk para parasit di rumah ini."
Diane tertegun, matanya berkaca-kaca mendengar janji yang begitu kokoh keluar dari bibir suaminya. "Kau... kau benar-benar berjanji, James?"
"Aku bersumpah dengan nyawaku," sahut James dingin namun penuh penekanan, sebuah sumpah khas seorang penguasa Minerva yang takkan pernah dilanggar.
...****************...
Sementara itu, di sisi lain kota, sebuah taksi berhenti di depan lobi hotel mewah berbintang lima. Lucianna keluar dari mobil dengan bersusah payah, memapah tubuh Javier Enrique yang sudah setengah tidak sadar. Aroma alkohol yang menyengat menguar kuat dari napas pria itu.
"Unghh... Bellamy... menjauh dariku..." racau Javier, kepalanya terkulai lemah di bahu Lucianna.
"Javier, ini aku, Lucianna. Tenanglah, kita sudah sampai di tempat yang aman," bisik Lucianna, matanya berkilat penuh ambisi yang nekat.
Mendengar kabar dari ibunya lewat telepon tadi bahwa rencana menjebak James gagal total, Lucianna tahu posisinya di ujung tanduk. Jika esok hari mereka benar-benar didepak dari mansion Guinevere, maka satu-satunya sekoci penyelamatnya adalah Javier. Rencana cadangannya harus dieksekusi malam ini juga: mengikat pewaris utama Enrique Group di atas ranjang agar pernikahan mutlak terjadi.
Dengan bantuan pelayan hotel yang ia suap dengan sisa uang tabungannya, Lucianna berhasil membawa Javier masuk ke dalam Presidential Suite. Pintu kamar ditutup dengan bunyi klik yang sunyi.
Lucianna menjatuhkan tubuh Javier ke atas ranjang berukuran king size. Ia segera melepas jas hitam Javier, menyisakan kemeja putih pria itu yang beberapa kancing atasnya sudah terbuka.
"Javier... bangunlah... lihat aku..." Lucianna merangkak naik ke atas ranjang, menangkup wajah tampan Javier yang memerah akibat pengaruh alkohol dosis tinggi yang sengaja ia campurkan ke dalam minumannya di lounge tadi.
"Dingin..." Javier mengerang, matanya perlahan terbuka, namun pandangannya sangat kabur dan berbayang. Kesadarannya berada di ambang batas terbawah. "Siapa... siapa kau...?"
"Aku wanita yang akan bersamamu selamanya, Javier," bisik Lucianna manis, mulai mendaratkan kecupan-kecupan kecil di rahang pria itu, mencoba memancing insting kelelakian Javier yang sedang mabuk berat.
Rupanya, pengaruh alkohol dan sentuhan fisik itu berhasil membakar gairah Javier. Dengan erangan rendah, Javier tiba-tiba membalikkan posisi tubuh mereka. Ia mengunci kedua pergelangan tangan Lucianna di atas kepala, menindih tubuh gadis itu dengan napas yang memburu panas.
"Ah... Javier..." Lucianna mendesah puas, merasa kemenangannya sudah di depan mata.
Javier menundukkan kepalanya, berniat menyerang bibir di bawahnya dengan brutal akibat hasrat yang terlanjur tersulut. Namun, tepat ketika wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter, bayangan kabur di matanya mendadak berubah.
Wajah Lucianna yang memelas dan memohon di bawahnya perlahan melebur, digantikan oleh seraut wajah cantik berambut hitam dengan tatapan mata yang luar biasa dingin, tajam, dan penuh dengan aura meremehkan.
Wajah Bellamy Guinevere sore tadi di tepi kolam renang.
"Kau... tidak lebih dari sekerikil kecil di jalananku. Mengerti?" Suara dingin Bellamy terngiang begitu nyata di dalam gendang telinga Javier, memutus paksa kabut gairah yang sempat menguasai otaknya.
Javier tersentak hebat. Matanya membelalak lebar. "Bellamy...?"
Lucianna mengernyitkan dahi, merasa terhina di tengah situasi krusial ini. "Javier, apa yang kau katakan? Aku Lucianna! Lihat aku!"
"Sialan! Berani-beraninya kau menyentuhku, Bellamy!" teriak Javier tiba-tiba. Di dalam delusi mabuknya, ia merasa Bellamy yang barbar sedang merendahkan harga dirinya, mencoba menjebaknya dengan cara murahan seperti ini.
Rasa benci, penasaran, dan harga diri yang terluka bergolak menjadi satu di dada Javier. Dengan cengkeraman yang semakin kasar dan menyakitkan pada pergelangan tangan Lucianna, Javier menatapnya dengan napas tersengal-sengal. "Kau bilang aku sekerikil kecil, hm? Kau bilang kau tidak sudi melihatku lagi?! Lalu apa yang kau lakukan di bawah tubuhku sekarang, Bellamy?!"
"Javier! Lepaskan! Sakit! Aku bukan Bellamy!" Lucianna menjerit panik. Rencananya berubah menjadi mimpi buruk saat melihat sepasang mata Javier yang menatapnya penuh kilat amarah dan obsesi gelap yang salah sasaran.
"Jangan berbohong, Bellamy! Kau sengaja memancingku, bukan?!" bentak Javier, suaranya meninggi dengan nada serak yang berbahaya.
Cengkeramannya pada kedua pergelangan tangan Lucianna semakin mengencang tanpa ampun hingga meninggalkan bekas memerah yang kontras. Dengan gerakan kasar yang sarat akan dominasi, Javier menyatukan kedua tangan itu dalam satu kuncian tangan kirinya, sementara tangan kanannya bergerak liar mencengkeram rahang Lucianna, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata miliknya yang memerah penuh gairah dan kemarahan.
"Javier! Lepas! Aku mohon, ini sakit!" Lucianna menangis histeris, tubuhnya gemetar hebat di bawah kungkungan Javier yang terasa begitu asing dan menakutkan. Rasa sakit fisik dan hancurnya harga diri bercampur menjadi satu.
"Menangislah sesukamu, Bellamy. Bukankah ini yang kau inginkan selama bertahun-tahun?" Javier berbisik tepat di depan bibir Lucianna, napas panasnya yang memburu terasa begitu mengintimidasi. Sebuah senyuman obsesif yang dingin terukir di wajah tampannya. "Kau bilang aku hanya kerikil di jalananmu? Sekarang, lihat siapa yang sedang memohon di bawah tubuhku!"
Tanpa menunggu jawaban lagi, Javier langsung menyerang dan mengklaim bibir di bawahnya dengan penuh tuntutan kasar. Ia menyalurkan seluruh rasa frustrasi, ketertarikan yang tak disadari, serta obsesi gilanya untuk menguasai Bellamy sepenuhnya malam itu—mengabaikan fakta bahwa wanita yang sedang ia nikmati tubuhnya dengan penuh kebrutalan adalah Lucianna yang kini menangis dalam penyesalan terdalam.
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣