Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Kesalahanpahaman
Pagi itu, Nara datang ke kantor lebih awal dari biasanya.
Namun berbeda dengan hari-hari sebelumnya, pikirannya tidak benar-benar fokus pada pekerjaan.
Ucapan Damar semalam terus terngiang di kepalanya.
"Jangan menganggap saya orang lain hanya karena mengetahui siapa keluarga saya."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi entah kenapa sulit dilupakan.
Nara menghela napas panjang.
Lalu menggeleng pelan.
"Aku harus fokus kerja."
gumamnya.
Sayangnya, takdir tampaknya memiliki rencana lain.
---
Begitu memasuki ruang proyek, Nara langsung melihat keramaian kecil.
Beberapa karyawan sedang berkumpul sambil melihat layar ponsel.
Wajah mereka tampak antusias.
Bahkan terlalu antusias.
"Ada apa?"
tanya Nara.
Salah satu staf langsung menoleh.
"Kamu belum lihat?"
"Lihat apa?"
Staf itu memperlihatkan ponselnya.
Dan dalam sekejap, Nara membeku.
Di layar terlihat sebuah foto.
Foto dirinya.
Bersama Damar.
Di warung makan malam beberapa hari lalu.
Jelas sekali.
Sangat jelas.
Mereka sedang duduk berhadapan.
Tampak seperti pasangan yang sedang berkencan.
Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
"Ini dari mana?"
tanya Nara.
"Tidak tahu."
jawab staf tersebut.
"Tapi sejak pagi sudah beredar di grup kantor."
Jantung Nara langsung berdegup lebih cepat.
Masalah.
Ini jelas masalah.
---
"Nara!"
Siska datang setengah berlari.
"Aku baru mau mencarimu."
"Kamu sudah lihat?"
"Sudah."
Siska mengangguk.
Kemudian menatap Nara.
"Wajahmu pucat."
"Aku baik-baik saja."
"Kamu tidak terlihat baik-baik saja."
Nara memejamkan mata sesaat.
Ia tidak peduli jika orang membicarakannya.
Namun yang membuatnya kesal adalah foto itu diambil diam-diam.
Dan sekarang semua orang membuat asumsi sendiri.
---
Tak lama kemudian.
Suasana semakin ramai.
Karena versi cerita yang beredar mulai bermacam-macam.
Ada yang bilang Nara dekat dengan Damar karena ingin naik jabatan.
Ada yang bilang Damar memberikan perlakuan khusus.
Ada pula yang menganggap mereka diam-diam berpacaran.
"Manusia memang suka berimajinasi."
gerutu Nara.
Siska duduk di sampingnya.
"Tenang."
"Aku tenang."
"Kamu sedang menggenggam pulpen seperti mau mematahkannya."
Nara langsung meletakkan pulpennya.
Siska memang terlalu jeli.
---
Pukul sepuluh pagi.
Rapat mendadak diadakan.
Seluruh tim inti hadir.
Termasuk Damar.
Pria itu terlihat tenang seperti biasa.
Seolah gosip yang sedang beredar tidak memengaruhinya sama sekali.
Namun begitu rapat selesai...
Damar berkata,
"Nara, ikut saya."
Beberapa pasang mata langsung menoleh.
Nara bisa mendengar bisikan kecil di belakangnya.
Dan itu membuat suasana semakin tidak nyaman.
---
Sesampainya di ruang kerja Damar, pintu ditutup.
Hening.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Damar meletakkan sebuah tablet di atas meja.
Di layar terlihat foto yang sama.
"Aku sudah melihatnya."
ucap Nara lebih dulu.
"Menurutmu siapa yang menyebarkannya?"
tanya Damar.
Nara menggeleng.
"Aku tidak tahu."
Damar terdiam.
Tatapannya serius.
"Kamu terganggu?"
Pertanyaan itu membuat Nara tertawa kecil.
"Bukankah itu pertanyaan yang jelas?"
Untuk pertama kalinya, Damar terlihat sedikit bersalah.
"Maaf."
Nara terkejut.
Jarang sekali mendengar kata itu keluar dari mulut pria tersebut.
"Kenapa minta maaf?"
"Karena sebagian besar gosip muncul karena saya."
Nara tidak langsung menjawab.
Karena sebenarnya masalah itu bukan sepenuhnya salah Damar.
Tetapi juga bukan sesuatu yang mudah diabaikan.
---
Saat Nara keluar dari ruangan itu, keadaan justru semakin buruk.
Karena Bianca datang.
Dan seperti biasa, kemunculannya langsung menarik perhatian.
Wanita itu berjalan elegan melewati ruang kerja.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Lalu berhenti pada Nara.
"Aku dengar ada gosip menarik."
ucapnya.
Nara langsung tahu.
Wanita itu pasti sudah mendengar semuanya.
"Orang-orang memang suka bergosip."
jawab Nara singkat.
Bianca tersenyum.
"Kamu benar."
Lalu ia menambahkan pelan.
"Tapi biasanya gosip muncul karena ada alasannya."
Kalimat itu terdengar seperti sindiran.
Dan Nara mulai kehilangan kesabaran.
---
Siang hari.
Kabar mengenai foto tersebut ternyata sudah menyebar ke beberapa divisi lain.
Bahkan ada yang mulai membicarakannya di kafetaria.
Siska yang mendengar beberapa komentar langsung kesal.
"Kalau aku menemukan penyebarnya..."
"Jangan."
potong Nara.
"Aku serius."
"Aku tahu."
Siska mendesah.
Meski cerewet, sahabatnya itu memang selalu membela dirinya.
Dan Nara menghargai hal itu.
---
Sore hari.
Masalah baru muncul.
Seorang staf dari HRD datang ke ruang proyek.
"Mbak Nara."
"Iya?"
"Manajer HR ingin bertemu."
Seketika ruangan menjadi hening.
Semua orang saling berpandangan.
Nara bisa menebak isi pikiran mereka.
Pasti berkaitan dengan gosip tersebut.
Dan tebakan itu ternyata benar.
---
Di ruang HRD.
Seorang manajer perempuan paruh baya duduk di seberang Nara.
Ekspresinya tidak galak.
Namun cukup serius.
"Kamu tahu kenapa dipanggil ke sini?"
"Saya punya dugaan."
jawab Nara.
Manajer itu mengangguk.
"Kami hanya ingin memastikan satu hal."
"Apa?"
"Apakah hubunganmu dengan Pak Damar bersifat profesional?"
Pertanyaan itu membuat Nara menarik napas panjang.
Tentu saja profesional.
Namun ia tetap merasa kesal harus menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi.
"Profesional."
jawabnya tegas.
Manajer itu mencatat sesuatu.
Kemudian tersenyum tipis.
"Baik."
Pertemuan selesai lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Namun tetap saja meninggalkan rasa tidak nyaman.
---
Saat kembali ke ruang proyek, hari sudah hampir berakhir.
Sebagian besar karyawan mulai bersiap pulang.
Namun Nara memilih duduk diam beberapa saat.
Melepaskan lelah.
Melepaskan kesal.
Dan mencoba menenangkan pikirannya.
"Aku boleh duduk?"
Suara itu membuatnya menoleh.
Raka.
"Terserah."
jawab Nara.
Pria itu duduk di sampingnya.
Tidak bercanda seperti biasanya.
Tidak juga menggoda.
Hanya duduk.
Lalu berkata,
"Orang kantor memang suka membesar-besarkan sesuatu."
Nara tersenyum tipis.
"Itu bukan hal baru."
"Tapi aku tahu satu hal."
"Apa?"
Raka menatapnya.
"Damar tidak peduli pada gosip."
Nara terdiam.
"Itu sebabnya dia berbeda."
lanjut Raka.
"Kalau dia peduli pada pendapat orang, dia tidak akan sampai di posisi sekarang."
Ucapan itu membuat Nara berpikir.
Mungkin benar.
Selama ini Damar memang selalu fokus pada pekerjaannya.
Bukan pada omongan orang.
---
Menjelang malam.
Kantor mulai sepi.
Nara akhirnya berdiri untuk pulang.
Namun tepat ketika ia keluar dari gedung perusahaan...
Seseorang memanggil namanya.
"Nara."
Ia menoleh.
Bianca.
Lagi.
Wanita itu berdiri di dekat mobilnya.
Dengan senyum yang sulit ditebak.
"Ada yang ingin kubicarakan."
ucap Bianca.
Nara langsung memiliki firasat buruk.
Sangat buruk.
Karena dari cara Bianca menatapnya...
Jelas bahwa pembicaraan ini tidak akan sederhana.
Dan mungkin...
Akan menjadi awal konflik yang sebenarnya.
Bersambung...