NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Pagi itu, jam baru menunjukkan pukul enam lewat sepuluh, namun suara klakson mobil yang berulang kali dibunyikan sudah memecah keheningan lingkungan perumahan tempat Alena tinggal. Suaranya nyaring, jelas, dan cukup mengganggu telinga siapa pun yang masih menikmati tidur pagi.

Alena yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin kamar langsung mengerutkan dahi kesal. Ia mengenali suara mobil itu—mobil sedan hitam milik Elio yang selalu terawat mengkilap, seolah ingin memamerkan diri ke mana pun ia pergi.

“Belum sempat sarapan saja sudah bikin ribut,” geram Alena sambil melangkah cepat keluar kamar, menuruni tangga dengan langkah yang terdengar berat.

Begitu membuka pintu utama, matanya langsung bertemu dengan sosok Elio yang sudah bersandar santai di pintu mobil, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjang seragam sekolahnya. Wajahnya terlihat tenang, bahkan sedikit santai, seolah tidak sadar kalau ia baru saja membangunkan seluruh tetangga di jalan itu.

“Kamu tidak punya sopan santun ya? Pagi-pagi sudah membunyikan klakson keras-keras. Mau bikin malu aku saja?” bentak Alena begitu berdiri di ambang pintu, tangannya masih memegang tas ransel.

Elio mengangkat alisnya sedikit, lalu menjawab dengan nada datar dan sedikit sinis. “Bukan keinginanku juga berdiri di sini menunggu gadis yang biasanya butuh waktu satu jam hanya untuk bersiap-siap. Kakekku yang memerintahkan aku untuk menjemput dan mengantarmu setiap hari, jadi jangan salahkan aku kalau kamu merasa terganggu.”

Alena melipat kedua tangannya di dada, menatap Elio dengan tatapan menolak. “Aku tidak butuh dijemput. Aku bisa berangkat sendiri seperti biasa, naik sepeda motor atau naik angkutan umum. Katakan pada kakekmu aku menolak aturan ini.”

“Kalau begitu, sampaikan saja langsung pada mereka. Aku hanya menjalankan perintah, sama seperti kamu yang sudah sepakat mengikuti kesepakatan satu tahun itu. Ingat, kalau kita melanggar sedikit saja, mereka bisa menganggap kita sudah setuju sepenuhnya,” balas Elio tak kalah tegas. Ia membuka pintu penumpang dengan gerakan lebar, lalu menoleh sambil menambahkan, “Jangan buat aku menunggu lebih lama lagi. Kalau kita terlambat, nanti jadi bahan omongan satu sekolah, dan itu justru yang tidak kita inginkan, bukan?”

Alena menggigit bibir bawahnya, menahan rasa kesal yang meluap-luap. Ia tahu ucapan Elio ada benarnya. Jika mereka menolak mentah-mentah, bisa saja kedua kakek itu menganggap mereka sudah menerima perjodohan ini sepenuhnya. Dengan langkah berat dan wajah masam, Alena melangkah mendekati mobil, lalu masuk dengan gerakan yang sedikit kasar hingga pintu mobil tertutup agak keras.

“Pelan-pelan saja, pintunya bukan barang mainan,” protes Elio sambil berjalan ke sisi kemudi.

“Kalau kamu tidak memaksaku masuk, aku tidak akan menutupnya sekeras ini,” balas Alena cepat, matanya menatap lurus ke depan, enggan sekadar melirik ke arah laki-laki itu.

Perjalanan menuju sekolah pun dimulai dalam keheningan yang terasa sangat kaku. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah suara mesin mobil dan detak jarum jam di dasbor. Alena duduk menjauh serapat mungkin ke sisi jendela, bahkan menyandarkan kepalanya ke kaca seolah ingin memisahkan diri sepenuhnya dari ruang dalam mobil itu. Elio pun tidak banyak bicara, hanya sesekali melirik sekilas ke arahnya dari sudut pandang, lalu menggeleng pelan melihat sikap gadis itu.

Sesampainya di gerbang sekolah, suasana langsung berubah. Begitu mobil Elio berhenti dan keduanya turun dari kendaraan, hampir semua mata yang ada di sekitar gerbang langsung tertuju pada mereka. Ada yang berbisik-bisik, ada yang melirik dengan tatapan penasaran, bahkan ada yang tersenyum miring seolah sedang menebak-nebak sesuatu.

Alena langsung merasa tidak nyaman. Ia berjalan cepat mendahului Elio, berharap bisa menghindari tatapan-tatapan itu. Namun, ia lupa perintah yang diberikan kedua kakek—mereka harus terlihat baik dan tidak bertengkar di depan umum.

“Tunggu sebentar!” panggil Elio, lalu melangkah cepat menyusul dan berjalan berdampingan dengannya.

Alena menoleh cepat dengan wajah terkejut. “Kamu mau apa? Jangan berjalan dekat-dekat denganku, nanti orang-orang salah paham!” bisiknya dengan nada cemas.

“Justru itu. Kalau kita terlihat saling menjauh dan bermusuhan, nanti kabar itu sampai ke telinga kakek kita. Kita harus berpura-pura akur, setidaknya di depan orang lain. Ingat tujuan kita: membatalkan perjodohan ini dalam satu tahun,” jawab Elio pelan namun tegas, sambil tetap berjalan dengan tenang seolah tidak ada yang terjadi.

Belum sempat Alena menjawab, sebuah suara lantang terdengar dari arah samping.

“Wah, apa kabar nih? Baru pagi-pagi sudah terlihat kompak sekali.”

Mereka berdua menoleh dan mendapati Bima, teman dekat sekaligus sahabat karib Elio, berdiri di sana dengan senyum usil yang sulit disembunyikan. Di belakangnya ada beberapa teman lain yang juga menatap dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Bima melirik ke arah Elio, lalu ke arah Alena bergantian, sambil mengangkat kedua alisnya berulang kali. “Mobilmu yang biasanya hanya mengangkut dirimu sendiri, hari ini malah berbagi tempat duduk dengan ‘musuh bebuyutan’ seantero kelas. Ceritakan dong, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah sudah ada gencatan senjata secara diam-diam?”

Alena langsung merasa panas di telinga. Sebelum Elio sempat menjawab, ia sudah membuka mulutnya lebih dulu. “Jangan salah paham, Bima! Ini hanya kebetulan saja. Rumahku searah dengan jalan yang biasa dilalui Elio, jadi dia sekalian lewat saja. Tidak ada maksud apa-apa!”

“Benar sekali, hanya kebetulan,” sambung Elio sambil tersenyum tipis, mencoba mendukung penjelasan itu meskipun ia tahu penjelasan itu terdengar sangat lemah.

Namun, Bima dan teman-temannya justru semakin penasaran. Bima mendekat sedikit, menurunkan suaranya seolah sedang membocorkan rahasia besar. “Kebetulan yang berulang kali, ya? Kalau cuma sekali mungkin aku percaya, tapi kalau besok dan lusa juga terlihat seperti ini, bagaimana? Jangan-jangan kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari kita semua?”

Pertanyaan itu membuat Alena dan Elio terdiam sejenak, saling pandang dengan tatapan panik. Mereka sadar, jika ini terus berlanjut, kabar yang salah akan segera menyebar ke seluruh sekolah. Hari itu pun berlalu dengan perasaan yang tidak tenang bagi keduanya. Setiap kali berpapasan di koridor atau bertemu di dalam kelas, mereka bisa merasakan tatapan teman-teman yang terasa berbeda—bukan lagi tatapan biasa, melainkan tatapan yang penuh dugaan.

Sore harinya, jam pelajaran usai. Seperti yang diperkirakan, Elio sudah menunggu di depan gerbang sekolah dengan mobilnya. Begitu melihatnya, Alena langsung berjalan memutar berusaha keluar lewat pintu samping agar tidak terlihat. Namun, sialnya, Elio sudah mengantisipasi hal itu. Ia berdiri tepat di jalur yang akan dilewati Alena.

“Mau lari ke mana lagi?” tanya Elio dengan nada menghibur diri melihat wajah kesal gadis itu.

“Kenapa kamu tidak mengerti saja? Kalau kita terus terlihat bersama seperti ini, nanti semua orang akan mengira kita punya hubungan khusus!” seru Alena sambil berhenti melangkah, tangannya mengepal kuat.

“Dan apakah itu hal yang paling buruk dibandingkan membatalkan kesepakatan kita? Dengarkan baik-baik, Alena. Tadi malam Kakek Baskara menelponku dan menegaskan lagi: jika sampai ada kabar yang menyebutkan kita saling menghindari atau bermusuhan, maka kesempatan satu tahun itu akan dibatalkan seketika. Kita tidak punya pilihan lain selain mengikuti aturan main ini,” jelas Elio dengan nada serius.

Alena terdiam, napasnya terasa berat. Ia tahu Elio tidak berbohong. Kedua kakek mereka memang sangat tegas dalam hal ini. Dengan perasaan yang kacau, ia akhirnya mengangguk pasrah dan masuk ke dalam mobil.

Perjalanan pulang pun kembali penuh keheningan yang tidak nyaman. Namun, kali ini Alena memecah keheningan itu dengan suara lirih namun tegas.

“Kalau begini terus, bagaimana caranya kita membuktikan bahwa kita tidak cocok? Kalau kita dipaksa terlihat akur setiap hari, nanti kakek-kakek kita malah semakin yakin bahwa kita akan cocok,” ujarnya sambil menatap keluar jendela.

Elio mengangguk setuju, lalu menjawab sambil tetap memegang setir. “Kamu benar. Kita harus membuat rencana. Kita akan terlihat akur di depan umum dan di depan mereka, tapi di belakang layar, kita tetap bisa bersikap biasa saja—atau setidaknya menjaga jarak agar tidak ada perasaan yang tumbuh. Kita harus tetap mengingat tujuan utama kita.”

“Setuju. Jangan sampai ada satu momen pun yang membuat kita berpikir sebaliknya,” jawab Alena tegas, meskipun di dalam hatinya ia merasa sedikit aneh mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya sendiri.

Namun, rencana yang mereka susun itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Keesokan harinya, kejadian yang sama terulang kembali. Elio datang menjemput, Alena menolak, lalu akhirnya masuk juga setelah diberi penjelasan panjang lebar. Dan seperti biasa, saat tiba di sekolah, tatapan curiga dari teman-teman sudah menanti mereka.

Bima kali ini tidak sendirian, ia ditemani oleh dua orang teman lainnya. Begitu melihat Elio dan Alena turun dari mobil dan berjalan berdampingan, Bima langsung menyambut mereka dengan senyum lebar.

“Lihat, aku bilang apa? Sudah dua hari berturut-turut. Cerita ‘hanya kebetulan’ itu sudah tidak bisa dipakai lagi, kawan,” kata Bima sambil menepuk bahu Elio ringan. “Jujur saja, apa yang sedang terjadi? Apakah kalian diam-diam menjalin hubungan di belakang kami?”

Mendengar tuduhan itu, wajah Alena langsung memerah padam. “Jangan bicara sembarangan! Tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan dia! Dia hanya sedang menolong saja karena kakeknya meminta tolong mengantarku, itu saja!”

Elio hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mencari alasan yang lebih masuk akal. “Iya, benar. Orang tua kami memang meminta tolong. Jangan dipikirkan yang bukan-bukan, nanti jadi salah paham.”

Namun, semakin mereka berusaha menjelaskan, semakin terlihat mencurigakan di mata teman-teman mereka. Bahkan saat jam istirahat tiba, ketika Alena duduk di meja makan bersama teman-teman perempuannya, mereka pun mulai mengajukan pertanyaan yang sama.

“Alena, benar tidak apa yang dikatakan banyak orang? Kamu dan Elio sudah dekat sekarang?” tanya Sari, salah satu teman dekat Alena dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Alena hampir tersedak air minumnya. “Dekat? Jangan bicara seperti itu! Dia itu tetap musuhku, percayalah. Kalau bisa, aku tidak mau bertemu dengannya selamanya.”

“Tapi kenapa dia selalu menjemput dan mengantarmu? Orang yang tidak dekat tidak akan melakukan hal itu setiap hari, kan?” tambah Rina yang juga ikut penasaran.

Pertanyaan itu membuat Alena bingung harus menjawab apa. Ia hanya bisa menghela napas panjang dan berharap waktu satu tahun itu segera berlalu.

Sementara itu, di sisi lain ruang kantin, Elio juga mendapat pertanyaan serupa dari Bima dan teman-teman laki-lakinya.

“Wah, Elio, kamu memang pandai menyembunyikan perasaan. Selama ini terlihat selalu bertengkar, ternyata menyimpan rasa juga ya?” goda Bima sambil tertawa.

Elio menatap temannya dengan tatapan datar. “Jangan mengada-ada. Kalau aku bisa memilih, aku lebih baik mengantar tas sekolah saja daripada harus mengantar dia. Percayalah, rasanya seperti sedang mengendarai mobil yang berisi bom waktu—setiap saat bisa meledak kapan saja.”

“Kalau begitu kenapa dilakukan? Pasti ada alasannya yang lebih dalam, kan?” desak Bima lagi.

Elio terdiam sejenak, lalu menjawab singkat, “Hanya urusan keluarga. Itu saja.”

Meskipun jawabannya terdengar misterius, Bima tidak lagi memaksanya bertanya lebih lanjut, meskipun rasa penasarannya tetap saja membara.

Sore itu, saat dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa lebih berat dari biasanya. Alena sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi.

“Lihat akibatnya sekarang! Semua orang sudah mulai berbicara macam-macam. Kalau terus begini, nama baikku akan tercoreng hanya karena terlihat berdekatan denganmu!” seru Alena dengan nada tinggi.

Elio pun tidak kalah kesal. “Kamu pikir aku senang dengan situasi ini? Aku juga merasa terganggu dengan pandangan teman-temanku. Tapi apa daya? Kita terjebak dalam situasi ini. Kalau kita melanggar, rencana kita untuk membatalkan perjodohan ini akan gagal total.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa terus-menerus menjadi bahan omongan orang!” bentak Alena, tangannya tanpa sadar menepuk pelan paha kursi di sampingnya.

Elio mengerem mobilnya sedikit mendadak di pinggir jalan yang sepi, lalu menoleh menatap Alena dengan tatapan yang serius namun juga sedikit lelah. “Dengarkan aku, Alena. Kita tidak punya jalan keluar lain selain menjalani ini dengan sabar. Satu tahun itu bukan waktu yang lama. Kalau kita bisa bertahan dan tetap bersikap biasa saja, tanpa membiarkan perasaan apa pun tumbuh, maka akhir tahun ini kita akan bebas. Apakah kamu mengerti?”

Alena menatap mata Elio dalam-dalam. Untuk sesaat, ia melihat ketulusan dalam tatapan itu, bukan lagi tatapan ejekan atau kebencian yang biasa ia lihat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, namun ia segera menggelengkan kepalanya keras-keras untuk menghilangkan perasaan aneh itu.

“Aku mengerti. Tapi ingat, jangan sampai kamu melakukan hal yang membuatku merasa nyaman bersamamu. Kita tetaplah musuh, hanya berpura-pura akur saja,” jawab Alena tegas, meskipun nadanya sudah tidak setajam sebelumnya.

Elio mengangguk pelan, lalu melanjutkan perjalanan kembali ke jalan raya. “Setuju. Musuh yang berpura-pura akur selama satu tahun. Itu kesepakatan baru kita.”

Malam itu, keduanya kembali memikirkan hari yang telah berlalu. Alena berbaring di tempat tidurnya sambil memandang langit-langit kamar, membayangkan tatapan mata teman-temannya dan percakapan dengan Elio tadi sore. Ia mengakui, meskipun masih kesal dan menganggap Elio sebagai orang yang menyebalkan, namun ada sisi lain yang mulai terlihat—sisi yang lebih sabar dan bertanggung jawab, meskipun ia berusaha keras untuk tidak mengakuinya.

Di sisi lain, Elio pun merasakan hal yang sama. Ia mengakui bahwa Alena memang gadis yang keras kepala dan cerewet, namun di balik itu ia melihat keteguhan hati dan kejujuran yang jarang dimiliki orang lain. Meskipun ia terus mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap menjaga jarak, namun setiap kali melihat wajah gadis itu, hatinya terasa sedikit berbeda dari biasanya.

Mereka tidak sadar bahwa perjalanan satu tahun ini tidak akan berjalan semudah yang mereka bayangkan. Setiap pertemuan, setiap perjalanan bersama, dan setiap tatapan mata yang tertukar akan perlahan mengubah pandangan mereka satu sama lain. Benih-benih perasaan yang tidak mereka inginkan itu mulai tumbuh diam-diam, di tengah kebencian dan perselisihan yang selama ini mereka bangun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!