"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Penyesalan Semu & Kebohongan sang Pelayan
Bab 27: Penyesalan Semu & Kebohongan sang Pelayan
Tiga hari setelah malam berdarah itu, Hana akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah. Langkah kakinya saat memasuki pelataran rumah mewah kota terasa begitu ringan, namun dingin. Tidak ada lagi raut kesedihan, tidak ada lagi air mata. Wajah Hana tampak seperti pualam yang beku—indah namun mati.
Adrian berjalan di sampingnya, mencoba memegangi sikut Hana dengan sikap yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat manis dan penuh perhatian. Rasa bersalah yang teramat besar karena telah mengutuk darah dagingnya sendiri sebelum gugur kini benar-benar menghantui malam-malam Adrian.
"Han, pelan-pelan jalannya. Sini, biar aku bantu sampai kamar atas," ucap Adrian dengan suara yang dilembutkan, matanya menatap Hana penuh kecemasan semu.
Hana menghentikan langkahnya tepat di undakan tangga pertama. Ia menarik lengannya dari cengkeraman Adrian dengan gerakan yang sangat halus, namun tegas. Tanpa sepatah kata pun, Hana menatap Adrian dengan sepasang mata yang kosong, lalu melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua seorang diri, mengabaikan keberadaan suaminya seolah-olah pria itu hanyalah hembusan angin lalu.
Adrian menghela napas berat, meremas rambutnya frustrasi di bawah tangga. Di saat hatinya dirundung penyesalan, sebuah langkah kaki ringan mendekat dari arah lorong dapur.
Santi keluar dengan mengenakan pakaian rajutnya yang ketat, membawa segelas air jahe hangat. Wajah pelayan itu tampak dibuat sedemikian rupa agar terlihat ikut berduka, namun kilatan matanya tidak bisa membohongi ambisinya yang takut tergeser dari rumah ini akibat rasa bersalah Adrian pada Hana.
"Mas Adrian..." panggil Santi dengan suara yang teramat lirih, langsung berdiri di hadapan Adrian dan menyodorkan gelas tersebut. "Diminum dulu, Mas. Santi sedih melihat Mas Adrian terus-menerus menyalahkan diri sendiri sejak pulang dari rumah sakit."
Adrian menerima gelas itu tanpa minat, menatap kosong ke lantai. "Anakku sudah tidak ada, Santi... Aku yang salah. Aku mengutuk kandungan Hana malam itu."
Mendengar itu, Santi langsung menggenggam jemari Adrian dengan erat. Ia memajukan tubuhnya, menatap langsung ke dalam manik mata Adrian dengan binar manipulatif yang kuat, siap menyuntikkan racun kebohongan baru.
"Mas, jangan bicara begitu. Ini bukan salah Mas Adrian, bukan juga salah Santi atau Ibu," bisik Santi dengan nada meyakinkan. "Santi kemarin tidak sengaja mendengar obrolan Ibu dengan orang pintar dari kampung. Katanya... Mbak Hana itu sejak awal rahimnya memang sudah lemah dan dingin, Mas. Ditambah lagi, Mbak Hana itu orangnya egois dan keras kepala, selalu menyimpan energi negatif di dalam rumah ini karena cemburu pada Santi. Keguguran ini murni karena kondisi tubuh Mbak Hana sendiri yang menolak anak itu, bukan karena bentakan Mas Adrian."
Santi merapatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada Adrian yang bidang sembari berbisik manja. "Mas Adrian masih punya Santi... Santi masih muda, rahim Santi subur. Kalau nanti Mas Adrian sudah tenang, Santi bisa memberikan Mas Adrian anak laki-laki yang jauh lebih sehat... anak yang lahir dari rahim perempuan yang selalu menurut dan berbakti pada Mas..."
Kebohongan dan rayuan murah dari Santi di tengah kerapuhan psikologis Adrian kembali bekerja bagai obat bius. Adrian memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh Santi, dan membiarkan rasa bersalahnya perlahan terkikis oleh ego kelelakiannya yang kembali dimanjakan oleh sang ular. Adrian tidak menyadari bahwa di atas sana, di balik celah pintu kamar lantai dua yang sedikit terbuka, Hana sedang berdiri menatap interaksi menjijikkan mereka dengan seulas senyuman yang teramat dingin.