Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Wajah dalam Ingatan Samar
Pagi itu, Shaka terbangun lebih dulu dari biasanya.
Cahaya matahari masuk tipis melalui celah tirai kamar. Udara masih terasa dingin, dan rumah baru mereka masih tenggelam dalam keheningan. Untuk beberapa saat, Shaka hanya menatap langit-langit kamar, tubuhnya masih berbaring di sofa yang semalam kembali menjadi tempat tidurnya.
Punggungnya terasa kaku.
Lehernya sedikit pegal.
Namun bukan itu yang membuatnya diam.
Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak ia membuka mata.
Bayangan samar dari tadi malam.
Seorang perempuan berdiri di hadapannya dalam cahaya redup. Wajahnya lembut. Kulitnya putih bersih. Matanya cokelat terang, teduh, dan basah seperti baru selesai menangis.
Mata itu seperti Jenna.
Bukan.
Itu memang mata Jenna.
Shaka mengerutkan kening.
Ia mencoba mengingat lebih jelas, tetapi ingatannya seperti tertutup kabut. Ia ingat merasa dingin, lalu ada seseorang menyelimutinya. Ia ingat membuka mata sedikit. Ia ingat melihat wajah perempuan tanpa cadar.
Sangat cantik.
Terlalu lembut untuk terasa nyata.
Apakah itu benar-benar Jenna?
Atau ia hanya sedang bermimpi?
Shaka duduk perlahan di sofa. Tangannya menyentuh selimut yang kini menutupi tubuhnya dengan rapi. Semalam ia jelas ingat selimutnya sempat jatuh sebagian. Namun pagi ini, selimut itu berada sempurna sampai ke dadanya.
Berarti seseorang memang menyelimutinya.
Dan di kamar ini, hanya ada satu orang selain dirinya.
Jenna.
Shaka menoleh ke arah ranjang.
Jenna masih tertidur di sisi kanan. Tubuhnya tertutup selimut. Khimarnya tetap rapi, dan cadarnya sudah kembali menutupi wajahnya. Ia tidur menghadap sedikit ke samping, napasnya pelan dan teratur.
Shaka menatapnya cukup lama.
Sekarang, wajah itu kembali tertutup.
Hanya matanya yang akan terlihat jika ia bangun nanti.
Namun justru karena itu, rasa penasaran Shaka semakin besar.
Ia benar-benar melihat wajah Jenna tadi malam?
Kulit putih halus itu.
Wajah lembut itu.
Mata teduh yang sama dengan mata yang selama ini mengganggu pikirannya.
Shaka mengusap wajahnya pelan.
Aneh.
Ia adalah suaminya. Secara agama dan hukum, Jenna adalah istrinya. Namun ia bahkan belum benar-benar mengenal wajah perempuan yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
Dan yang lebih aneh, rasa penasaran itu membuat dadanya tidak tenang.
Bukan rasa penasaran yang kasar.
Bukan keinginan untuk menuntut hak.
Lebih seperti seseorang yang tanpa sengaja melihat sesuatu yang indah, lalu tidak bisa berhenti memikirkannya.
Shaka berdiri dari sofa dan merapikan selimutnya. Gerakannya pelan agar tidak membangunkan Jenna. Namun baru beberapa langkah ia berjalan menuju kamar mandi, Jenna mulai bergerak.
Mata Jenna terbuka perlahan.
Beberapa detik kemudian, ia sadar Shaka sudah bangun. Jenna segera bangkit dan duduk di atas ranjang, menjaga sikap seperti biasa.
“Mas Shaka sudah bangun?” tanyanya pelan.
Shaka menoleh.
“Iya.”
Tatapan mereka bertemu.
Dan Shaka kembali diam.
Mata itu.
Mata yang sama dengan bayangan tadi malam.
Kini mata itu kembali tertutup jarak. Tenang, tetapi tidak hangat. Sopan, tetapi tidak dekat.
Shaka hampir bertanya.
Semalam kamu yang menyelimuti saya?
Atau lebih jauh.
Apa saya benar-benar melihat wajahmu?
Namun ia menahan diri.
Pertanyaan itu terasa terlalu tiba-tiba. Terlalu pribadi. Apalagi setelah semua batas yang ia buat sendiri.
Jenna menurunkan kakinya dari ranjang.
“Jenna mau sholat Subuh dulu.”
Shaka hanya mengangguk.
“Silakan.”
Jenna berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Saat melewatinya, Shaka mencium samar aroma lembut dari tubuh Jenna. Bukan parfum yang menyengat. Lebih seperti wangi bersih bercampur sedikit aroma bunga.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Shaka menghela napas pelan.
Ia semakin yakin.
Itu bukan mimpi sepenuhnya.
Setelah Jenna selesai sholat, Shaka bergantian mandi dan bersiap. Pagi itu ia mengenakan kemeja putih, celana bahan hitam, dan jam tangan yang biasa ia pakai ke kantor. Penampilannya kembali rapi, tegas, dan berjarak seperti Arshaka Zayd Kalandra yang dikenal banyak orang.
Jenna sudah berganti pakaian saat Shaka keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan gamis warna biru muda lembut dengan khimar senada. Cadarnya tetap terpasang rapi, menyisakan mata cokelat yang membuat Shaka kembali teringat bayangan semalam.
Jenna sedang merapikan sisi ranjang ketika Shaka berkata, “Hari ini saya mulai kembali bekerja.”
Gerakan tangan Jenna berhenti sebentar.
Lalu ia mengangguk.
“Baik, Mas.”
Shaka memperhatikan reaksinya.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada protes.
Tidak ada kalimat seperti, bukankah Mas masih cuti?
Jenna hanya menerima.
Datar.
Sopan.
Seperti biasa sejak hari pertama pernikahan mereka.
Shaka merasa tidak nyaman lagi.
“Ada beberapa hal yang harus saya urus di kantor,” tambahnya, entah kenapa merasa perlu menjelaskan.
Jenna menatapnya sekilas.
“Iya, Mas. Tidak apa-apa.”
Shaka mengencangkan jam tangannya.
“Kamu ada rencana hari ini?”
Jenna menunduk sebentar, lalu menjawab, “Jenna nanti akan ke kafe.”
Shaka langsung menatapnya.
“Ke Jenna’s Bloom Café?”
“Iya. Ada beberapa pesanan bunga yang harus Jenna cek. Selain itu, Jenna juga ingin memastikan persiapan untuk akhir pekan berjalan baik.”
Shaka mengingat kejadian kemarin.
Sagara.
Tatapan laki-laki itu kepada Jenna.
Panggilan Kak Sagara yang terdengar terlalu akrab di telinganya.
Dadanya kembali terasa tidak nyaman, tetapi kali ini ia lebih hati-hati menyembunyikannya.
“Sendiri?”
Jenna menatap Shaka.
Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi Jenna bisa menangkap nada yang berbeda.
“Jenna bisa minta sopir mengantar.”
“Saya akan minta sopir mengantar dan menjemput.”
Jenna diam sesaat.
“Sebenarnya Jenna bisa pulang sendiri.”
“Pakai sopir.”
Nada Shaka tegas.
Jenna menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
“Baik.”
Lagi-lagi tidak ada perdebatan.
Namun justru kepatuhan yang terlalu datar itu membuat Shaka merasa aneh. Jenna menurut bukan karena nyaman, melainkan karena tidak ingin memperpanjang urusan dengannya.
Shaka mengambil ponsel dan dompet dari meja.
“Kalau ada apa-apa, hubungi saya.”
Jenna terdiam.
Kalimat itu terdengar seperti perhatian. Namun setelah semua yang terjadi, Jenna tidak tahu harus menerimanya sebagai apa.
Akhirnya ia hanya menjawab, “Iya, Mas.”
Shaka menatapnya.
Ada dorongan kecil untuk mengatakan sesuatu yang lain. Sesuatu tentang malam tadi. Sesuatu tentang rasa terima kasih karena Jenna menyelimutinya. Sesuatu tentang wajah yang ia lihat samar-samar.
Namun lagi-lagi, ia tidak menemukan kalimat yang tepat.
Yang keluar justru, “Jangan terlalu lelah di kafe.”
Jenna sedikit terdiam.
Matanya melembut sepersekian detik, tetapi segera kembali tenang.
“Iya.”
Setelah itu, mereka turun untuk sarapan.
Meja makan sudah disiapkan oleh pekerja rumah. Ada roti panggang, bubur ayam, telur rebus, buah potong, teh hangat, dan kopi hitam untuk Shaka. Mereka duduk berhadapan seperti malam sebelumnya.
Masih ada keheningan.
Namun tidak seberat kemarin.
Shaka sesekali memperhatikan Jenna yang makan dengan tenang. Ia memperhatikan caranya memegang sendok, caranya menunduk, caranya mengucapkan terima kasih kepada pekerja rumah yang menuangkan teh.
Semua hal kecil itu membuatnya berpikir.
Jenna begitu terjaga.
Begitu sopan.
Begitu hati-hati.
Dan ia membuat perempuan seperti itu merasa tidak aman sejak hari pertama.
Rasa bersalah kembali datang.
Setelah sarapan selesai, Shaka berdiri lebih dulu.
“Saya berangkat.”
Jenna ikut berdiri, lalu menunduk sopan.
“Hati-hati di jalan, Mas.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa, Shaka berhenti.
Ia menatap Jenna cukup lama sampai Jenna merasa sedikit bingung.
“Mas?”
Shaka tersadar.
“Iya.”
Ia berbalik hendak pergi, tetapi langkahnya berhenti lagi di dekat pintu.
“Jenna.”
Jenna menoleh.
“Iya?”
Shaka diam sebentar.
Di kepalanya, pertanyaan itu hampir keluar.
Semalam kamu yang menyelimuti saya?
Namun ia menelannya kembali.
“Jangan lupa kabari kalau sudah sampai kafe.”
Jenna mengangguk pelan.
“Iya, Mas.”
Shaka keluar dari rumah.
Di dalam mobil menuju kantor, pikirannya kembali dipenuhi wajah samar itu.
Ia menatap jalan di depan, tetapi bayangan Jenna tanpa cadar terus muncul.
Kulit putih halus.
Wajah lembut.
Mata teduh.
Shaka mengencangkan genggaman pada kemudi.
Ia semakin kepo.
Sangat kepo.
Namun ia tahu, ia tidak bisa meminta Jenna membuka cadarnya hanya untuk memuaskan rasa penasarannya. Setelah semua yang ia katakan, meminta hal itu sekarang hanya akan membuat Jenna semakin merasa tidak aman.
Ia harus menunggu.
Atau lebih tepatnya, ia harus membuat Jenna percaya.
Pemikiran itu membuat Shaka terdiam.
Membuat Jenna percaya.
Ternyata, untuk melihat wajah istrinya sendiri, hal pertama yang harus ia lakukan bukan menuntut.
Melainkan memperbaiki luka yang ia buat.
Sementara itu, di rumah, Jenna berdiri di dekat jendela ruang tamu, melihat mobil Shaka meninggalkan halaman.
Ia menghela napas pelan.
Hari baru dimulai.
Shaka kembali bekerja.
Ia akan kembali ke kafe.
Hidup mereka mungkin akan terlihat normal dari luar.
Namun di dalam hati Jenna, semuanya masih jauh dari baik-baik saja.
Meski begitu, ia tetap berdoa dalam diam.
Semoga hari ini sedikit lebih mudah dari kemarin.
Dan semoga, sedikit demi sedikit, hati yang dingin itu benar-benar bisa diluluhkan.