NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

"Satu kata saja keluar dari mulutmu, dan detik ini juga Papa pastikan kamu tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah Maheswari. Kamu mengerti, Aira?"

Desis tajam Perkataan papa mendarat tepat di telingaku, jauh lebih dingin daripada pendingin ruangan di ballroom hotel bintang lima ini. Cengkeraman tangannya di lengan atasku begitu kuat, hingga aku bisa merasakan ujung kuku-kukunya menekan kulitku di balik kain blus katun murah yang kupakai. Aku hanya bisa menunduk, menatap sepatu flat-ku yang sudah lecet, sangat kontras dengan lantai marmer yang berkilau di bawah kaki kami.

"Tapi itu desainku, Pa. Airin bahkan tidak tahu cara memegang jarum pentul dengan benar tanpa menusuk jarinya sendiri," bisikku dengan suara bergetar. Dadaku terasa sesak, seolah ada bongkahan es yang menyumbat saluran napasku.

Papa justru mengeratkan cengkeramannya, menarikku sedikit lebih dekat ke sudut gelap di balik tirai panggung. "Jangan menjadi parasit yang serakah. Airin adalah wajah keluarga ini. Dia punya pesona, dia punya Alvaro, dan dia punya masa depan. Sedangkan kamu? Kamu hanya gadis bermasalah dengan catatan medis yang hampir gila. Siapa yang akan percaya padamu? Diam, dan biarkan kakakmu bersinar. Itu satu-satunya gunamu malam ini."

Ia mengempaskan tanganku dengan jijik, lalu melangkah pergi menuju barisan kursi VIP dengan wajah yang seketika berubah ramah, menyapa kolega-koleganya seolah ia adalah ayah paling bangga sedunia. Aku meremas lenganku yang berdenyut perih, mencoba mengatur napas yang kian pendek.

"Dan sekarang, mahakarya yang paling ditunggu-tunggu malam ini... Airin Maheswari dengan desain bertajuk 'The Awakening'!"

Suara pembawa acara disambut riuh rendah tepuk tangan yang membahana. Lampu sorot utama mendadak menyala, membelah kegelapan panggung. Aku menahan napas saat sosok kembaranku melangkah keluar.

Rasanya seperti jantungku dicabut paksa. Itu gaunku.

Gaun sutra berwarna champagne itu berkilau indah di bawah lampu. Aku menghabiskan tiga bulan, ratusan jam tanpa tidur, dan ribuan tusukan jarum di jemariku untuk menciptakan detail drapery yang melilit tubuh itu seperti kelopak bunga yang baru mekar. Teknik 'Hidden Rose Stitch' yang kukembangkan sendiri—yang membuat motif mawar seolah-olah muncul dari balik serat kain—kini dipamerkan dengan angkuh oleh Airin.

Dia tampak sempurna. Airin berputar di tengah panggung, membiarkan ekor gaun itu menyapu lantai dengan elegan. Seluruh juri, termasuk para desainer tamu internasional, berdiri memberikan standing ovation.

Airin berhenti di depan mikrofon, matanya berbinar penuh haru—sebuah akting yang sangat memuakkan.

"Terima kasih," suara Airin terdengar bergetar lewat pengeras suara. "Banyak yang bertanya, apa inspirasi di balik 'The Awakening'. Sejujurnya, gaun ini adalah representasi dari perjuanganku menghadapi kesedihan mendalam. Tentang bagaimana rasanya dikelilingi oleh kegelapan dan orang-orang yang mencoba menjatuhkanmu, namun kamu tetap memilih untuk bangkit dan memberikan cinta."

Ia melirik ke arah tirai tempatku bersembunyi selama sedetik. Kilatan kebencian dan kemenangan terpancar di sana, sebelum kembali berubah menjadi binar suci.

"Aku menjahit setiap inci kain ini dengan doa," lanjutnya, sementara aku meremas jemariku yang penuh bekas luka di kegelapan. "Terima kasih untuk Papa, Mama, dan tentu saja... untuk seseorang yang selalu menjadi cahayaku, Alvaro Pratama."

Kamera beralih ke arah Alvaro yang duduk di barisan depan. Ia tampak begitu tampan dengan setelan tuksedo hitamnya. Ia bertepuk tangan dengan bangga, matanya menatap Airin dengan binar pemujaan. Ia tidak tahu bahwa setiap benang yang ada di tubuh Airin adalah tetesan keringat dan air mataku yang ia injak-injak tempo hari.

*

Perjamuan Dua Keluarga

Suasana di restoran privat hotel itu terasa begitu kaku bagiku, meski tawa riuh rendah terdengar dari sisi lain meja. Di tengah meja panjang itu, duduklah Kakek Alvaro—Sang Patriark keluarga Pratama yang memiliki kekuasaan hampir mutlak di dunia bisnis. Pria tua itu menatap Airin dengan mata elangnya yang tajam namun penuh persetujuan.

"Airin," suara berat Kakek Alvaro membuat suasana seketika hening. Ia meletakkan garpunya. "Aku jarang terkesan dengan hobi anak muda zaman sekarang. Tapi desainmu tadi... itu menunjukkan kelas. Kamu bukan sekadar gadis cantik, kamu punya visi."

"Terima kasih, Opa. Pujian Opa adalah kehormatan bagiku," Airin menjawab dengan nada suara yang begitu manis.

Prasetya tertawa bangga. "Airin memang anak yang sangat berdedikasi, Om. Dia menghabiskan seluruh malamnya di studio hanya untuk memastikan gaun itu sempurna."

Aku hampir tersedak air yang kuminum. Studio? Airin menghabiskan malamnya di bar atau menonton serial drama, sementara aku yang meringkuk di gudang mengerjakan gaun itu di bawah lampu belajar yang remang.

"Prasetya, Ratna," Kakek Alvaro beralih menatap orang tuaku. "Aku rasa kita tidak perlu menunda lebih lama lagi. Alvaro sudah cukup umur, dan Airin telah membuktikan bahwa dia sangat pantas berada di sisi cucuku. Penyatuan Pratama dan Maheswari bukan hanya soal bisnis, tapi soal martabat."

Jantungku berdegup kencang. Aku menoleh ke arah Alvaro. Ia tampak tertegun sejenak, namun kemudian ia mengangguk patuh.

"Setelah kelulusan bulan depan," lanjut sang Kakek, "kita akan meresmikan pertunangan mereka. Aku ingin pesta yang paling megah."

"Ini kehormatan luar biasa bagi kami, Om," Ratna menyahut dengan wajah berseri-seri.

Aku menatap Alvaro sekali lagi, mencoba menangkap matanya. Tapi Alvaro tetap menatap Airin. Ia meraih tangan Airin di atas meja, menggenggamnya erat. "Aku akan menjaga Airin dengan baik, Opa."

Rasa sakitnya begitu nyata, begitu menyesakkan. Aku melihat pria yang kucintai sejak kecil, kini secara permanen diikat dengan iblis yang telah mencuri seluruh hidupku. Tanpa sadar, aku berdiri, membuat kursi kayu itu berderit keras.

"Maaf, aku butuh udara segar," ucapku pelan sebelum ada yang sempat bertanya. Aku melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah seribu, mengabaikan tatapan tajam Papa yang seolah ingin membunuhku.

*

Aku berdiri di balkon sepi yang menghadap ke arah taman hotel. Udara malam yang dingin menerpa wajahku, namun tidak cukup dingin untuk mendinginkan kepalaku yang terasa seperti akan meledak.

"Aira? Apa yang kamu lakukan di sini? Papa mencarimu."

Aku berbalik. Alvaro berdiri di sana, di ambang pintu balkon. Ia tampak begitu sempurna, namun juga begitu asing bagiku sekarang.

"Alvaro," suaraku serak. Aku melangkah mendekat, mengabaikan jarak yang sengaja ia buat. "Tolong, dengarkan aku sekali saja. Hanya lima menit."

"Aira, jangan mulai lagi. Airin sedang bahagia, jangan merusak malam ini dengan—"

"Ingat pohon mangga besar di belakang rumah lama kita yang tumbang saat badai sepuluh tahun lalu?" potongku cepat.

Alvaro terhenti. Alisnya bertaut. "Apa maksudmu?"

"Waktu itu kamu menangis karena lututmu robek terkena dahan yang tajam. Kamu takut sekali disuntik dokter," aku melangkah lebih dekat, menatap langsung ke matanya. "Airin lari masuk ke rumah karena dia takut petir. Tapi ada satu orang yang tetap di sana, membebat lukamu pakai pita rambut warna merahnya sambil bilang kalau kamu itu ksatria yang kuat. Kamu ingat, Al? Siapa yang ada di sana?"

Alvaro terdiam. Aku bisa melihat jakunnya naik turun saat ia menelan ludah. "Airin... Airin yang melakukannya. Dia memberiku sapu tangan..."

"Bukan sapu tangan, Alvaro! Itu pita rambut! Aku mencurinya dari meja rias Mama karena aku tidak punya apa-apa lagi untuk menahan darahmu!" Suaraku naik satu oktav, air mata mulai mengalir deras di pipiku. "Airin tidak pernah suka kotor. Dia tidak pernah suka memanjat pohon. Dia hanya datang saat lukamu sudah kering dan mengaku-ngaku sebagai orang yang menyelamatkanmu!"

Alvaro mundur selangkah, tangannya yang memegang pagar balkon mulai gemetar. Matanya yang biasanya menatapku dengan kebencian, kini dipenuhi oleh binar keraguan yang sangat dalam. Ia seolah terseret kembali ke masa lalu, ke aroma tanah basah dan rasa perih di lututnya.

"Pita merah..." gumamnya lirih. "Aku... aku ingat ada sesuatu yang merah..."

"Tanya pada Airin, di mana dia membuang pita itu. Dia pasti tidak tahu, karena dia tidak pernah memegangnya!" aku mengejar, suaraku kini berbisik namun tajam. "Kamu merasa jiwamu tertarik padaku bukan karena aku gila, Alvaro. Tapi karena hatimu tahu siapa 'Ai' yang sebenarnya. Hatimu tidak bisa berbohong meski logikamu sudah diracuni oleh mereka!"

Alvaro menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tatapan yang haus akan kebenaran, namun dipenuhi ketakutan. Ia mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh pipiku, namun ragu. Di tengah bisingnya musik gala dari dalam gedung, keheningan di antara kami terasa begitu menyesakkan.

"Aira... benarkah itu kamu?" suaranya hampir tak terdengar, pecah oleh keraguan yang mulai meruntuhkan tembok keyakinannya.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan seluruh luka yang kusimpan sendirian. Di detik itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat pertahanan Alvaro retak. Dan aku tahu, malam ini bukan hanya panggung palsu Airin yang sedang dipamerkan, tapi juga awal dari runtuhnya kebohongan yang selama ini ia puja.

1
Ma Em
Aira seharusnya keluar saja dari rumah itu untuk apa Aira bertahan dirumah seperti neraka itu karena Aira tdk diharapkan dan selalu direndahkan tanpa Aira Airin hanya tong kosong hanya sampah Aira msh mau saja dibodohi .
Aletheia
gak semudah itu kak,kan nunggu Aira dewasa atau lulus SMA dulu
Allea
sampai bab ini masih mempertahankan kebodohannya ckck aira aira dah pergi aja sih,selama ada kemauan jalan selalu ada pergilah menjauh dari keluargamu buktikan kamu hebat
Ma Em
Semangat Aira buktikan kalau Aira bkn anak yg bawa aib bkn anak yg bawa sial tapi sebaliknya Aira anak yg berprestasi dan sangat bersinar buat ayah , ibu dan Airin menyesal dan bongkar semua kebohongan dan keburukan Airin didepan Alvaro dan bilang pada Alvaro bahwa teman masa kecilnya bkn Airin tapi Aira , Airin cuma ngaku2 saja jadi Aira , jgn mau memaafkan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu Aira .
Ma Em
Aira jgn takut dgn Alvaro , lawan dia kalau Aira takut Alvaro makin berani menghina Aira , semoga saja kebenaran tentang Airin yg ngaku2 teman Alvaro waktu kecil segera terungkap .
Ma Em
Aira bangkitlah lawan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu , bongkar semua keburukan dan kelicikan Airin agar kedua orang tuamu tau bahwa yg bodoh itu Airin bkn Aira , Aira jgn mau dipermainkan dan dimanfaatkan lagi sama Airin balas lah perbuatan mereka padamu Aira jgn takut ada Barra yg akan menjadi pelindungmu Air 💪💪💪.
Ma Em
Makanya Aira kamu hrs bangkit jgn mau diperalat sama Airin , buat Airin membayar semua perbuatan nya padamu Aira buat kedua orang tuamu menyesal juga Alvaro tunjukan pada mereka keahlianmu yg sebenarnya bkn Airin yg pintar tapi otak Aira yg digunakan Airin untuk mengelabui orang mereka .
Aletheia: sabar ya kak,kita buat supaya Aira bisa teguh jika nanti harus meninggalkan keluarganya☺️
total 1 replies
Ma Em
Bagus Aira bangkitlah dan balas semua perbuatan mereka yg sdh menyakiti dan memfitnah mu Aira terutama Airin jgn diberi maaf juga Alvaro buat dia menyesal .
Ma Em
Heran ya ada orang tua berat sebelah sama anak sendiri dijelek jelekan didepan orang lain hanya untuk dapat perhatian dari Alvaro , tunggu saja saat waktu sdh tiba dan kebenaran akan terungkap siapa Airin dan siapa Aira .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!