Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SESERAHAN DAN HIASAN PENUH MAKNA
Waktu berjalan begitu cepat, kini hitungan mundur tinggal menyisakan dua hari lagi. Suasana di rumah Pak Bimo dan Bu Saras sudah terasa sangat hidup, meriah, dan penuh kehangatan. Semua orang bergerak dengan semangat, saling bahu-membahu menyambut hari bahagia Arum dan Angkasa.
Sejak pagi buta, Intan sudah ada di rumah Arum. Sebagai sahabat sekaligus tetangga sebelah rumah, Intan adalah orang pertama yang datang dan orang yang paling lama berada di sisi Arum. Dia tidak pernah lepas dari Arum, selalu ada untuk menemani, mendengarkan, dan membuat sahabatnya itu tetap tersenyum dan tenang di tengah kesibukan yang melanda rumah itu.
"Udah dibilangin dari kemarin, kamu duduk manis aja di sini, Rum. Jangan banyak gerak, nanti capek. Biar aku sama yang lain yang urus semuanya," ucap Intan sambil merapikan selendang di bahu Arum, lalu duduk di sebelahnya sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Duh, calon pengantin cantiknya aku... Tinggal dua hari lagi loh, nanti udah resmi jadi Nyonya Angkasa."
Arum hanya tersenyum malu sambil menunduk, wajahnya bersinar bahagia namun ada sedikit rasa gugup yang terselip. "Kamu sih,Tan... bikin aku makin deg-degan aja. Kamu nggak capek ya dari pagi bantuin sana-sini terus nemenin aku?"
Intan tertawa renyah, menepuk pelan punggung tangan Arum. "Capek apanya? Justru aku seneng banget bisa ada di sini, lihat kamu sampai di titik ini. Udah kayak adik sendiri aku rasanya. Lagian, ibuku juga lagi sibuk banget bantuin Ibu Saras di dapur, nggak mungkin aku diam aja di rumah."
Benar saja, di ruang dapur yang luas, Ibu Intan terlihat sangat sibuk dan akrab sekali bekerja sama dengan Bu Saras. Sebagai sahabat lama Bu Saras sejak muda, Ibu Intan sudah dianggap saudara sendiri. Dia yang paling paham kebiasaan Bu Saras, dia yang paling sigap membantu mengatur jamuan, membagi tugas para ibu-ibu tetangga, dan memastikan semua masakan tersaji dengan baik.
"Saras, ini adonan kue udah siap semua, nanti pas tamu datang tinggal tata aja ya. Kamu jangan terlalu banyak angkat berat, nanti tanganmu sakit sebelum hari H, nanti siapa yang nyuapin pengantin?" canda Ibu Intan sambil mengaduk kuah besar di kuali, wajahnya penuh keringat tapi senyumnya tak pernah hilang.
Bu Saras tersenyum lelah namun sangat bersyukur. Dia berhenti sejenak, memegang bahu sahabatnya itu dengan penuh rasa terima kasih. "kalau nggak ada kamu, entah gimana aku. Bantuanmu ini luar biasa banget. Makasih ya, sudah selalu ada buat aku, dari dulu sampai sekarang lihat anak-anak kita mau nikah."
"Sama-sama, Saras. Kita kan sahabat, juga tetangga. Kebahagiaanmu itu kebahagiaanku juga. Arum itu kan kayak anakku sendiri, mana mungkin aku diam aja," jawab Ibu Intan tulus, lalu kembali sibuk mengatur perlengkapan makan.
Sementara itu, di halaman depan yang luas, suara palu memaku dan tawa riuh terdengar jelas. Di sana, Bapaknya Intan berdiri tepat di samping Pak Bimo, menjadi tangan kanan yang paling andal dan sigap. Sejak pagi, Bapak Intan sudah memimpin para pemuda dan bapak-bapak tetangga untuk mengerjakan persiapan fisik rumah. Dia yang mengatur letak tiang, dia yang memastikan ukuran tenda pas, dan dia yang memastikan semua berjalan lancar sesuai rencana Pak Bimo.
"Pak Bimo, ini tarub (tenda) bagian depan sudah mulai dipasang kerangkanya. Janur-janur indah ini nanti kita pasang melengkung di sepanjang jalan masuk, biar kelihatan gagah dan penuh berkah. Gimana, Pak? Sudah pas belum posisinya?" tanya Bapak Intan sambil menunjuk ke arah kerangka hiasan yang mulai terbentuk.
Pak Bimo mengangguk puas, menepuk bahu sahabatnya itu dengan bangga. "Pas banget, Pak. Bagus sekali idenya. Makasih banyak ya, Pak... Bapak sekeluarga emang paling bisa diandalkan. Rasanya seneng banget, tetangga sekaligus sahabat yang tulus kayak gini nggak semua orang punya."
Bapak Intan tertawa sambil mengelap keringat di dahinya. "Ah, pak Bimo ini ngomong apa sih? Kita kan sudah kayak saudara. Arum itu anak kesayangan kami juga, mana mungkin kami biarin Bapak kerja sendirian. Santai aja, Pak, sampai hari H nanti kami bakal bantu penuh."
Pukul delapan pagi, acara Nglawang atau Nyawer pun dimulai. Ini adalah prosesi adat penyerahan perlengkapan pengantin atau seserahan dari pihak calon pengantin pria kepada pihak wanita. Meski sifatnya opsional, keluarga besar sepakat melaksanakannya sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur dan tanda keseriusan.
Rombongan dari pihak Angkasa datang dengan tertib dan sopan. Di barisan depan berjalan Bapak dan Ibu Dewa yang bertindak sebagai wakil orang tua Angkasa, diikuti kerabat dekat, serta Dewa yang ikut membawa salah satu baki berisi seserahan.
Angkasa sendiri berjalan di tengah, tampak gagah dan berwibawa mengenakan pakaian adat yang sopan, wajahnya bersinar namun tetap menundukkan pandangan penuh rasa hormat. Sesuai aturan masa pingit, dia belum boleh bertemu langsung dengan Arum.
Rombongan itu disambut hangat oleh Pak Bimo, Bu Saras, dan kerabat keluarga. Di belakang Bu Saras, Intan berdiri dengan antusias, sesekali melambaikan tangan kecil ke arah Dewa yang sempat mencuri pandang dan tersenyum ke arahnya.
Prosesi penyerahan pun berlangsung sakral dan indah. Satu per satu baki berisi seserahan diletakkan di meja: ada pakaian lengkap, perlengkapan ibadah, alat tulis, perhiasan, serta buah-buahan dan makanan manis yang melambangkan harapan agar rumah tangga mereka nanti selalu manis, rukun, dan berkah.
Bapak Dewa menyampaikan maksud kedatangan mereka dengan bahasa yang halus, menyerahkan segala seserahan ini sebagai bukti keseriusan dan tanggung jawab Angkasa. Pak Bimo menerima dengan tangan terbuka, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Di balik tirai jendela ruang tengah, Arum mengintip diam-diam. Di sampingnya, Intan berdiri setia memegangi bahu sahabatnya itu, ikut mengintip dan berbisik pelan.
"Lihat deh, Rum... Mas Angkasa itu matanya nggak lepas dari jendela ini. Kangen banget tuh dia, tapi nggak boleh masuk. Sabar ya, bentar lagi ketemu beneran," bisik Intan sambil mencubit pipi Arum yang memerah malu.
Arum hanya bisa tersenyum sambil menahan tangis bahagia. Jantungnya berdegup kencang melihat sosok yang akan menjadi suaminya itu berdiri gagah di sana. "Dua hari lagi, Mas... Tunggu aku," batinnya berbisik.
Setelah rombongan Angkasa pamit kembali, kesibukan tidak berhenti. Masih di rentang waktu pagi hingga siang hari, pekerjaan besar Persiapan Akhir terus berlanjut.
Pemasangan Tarub (Tenda), Janur, dan Kerangka Hiasan dilakukan secara besar-besaran. Halaman depan rumah yang luas kini berubah total. Tenda-tenda besar berwarna putih bersih dengan pinggiran berwarna-warni mulai tertutup rapat, menaungi hampir seluruh halaman agar nanti tamu terlindung dari panas atau hujan.
Di ujung-ujung tiang dan sepanjang jalan masuk, dipasang janur kuning yang melengkung indah, lambang kebahagiaan, kesuburan, dan doa agar segala hal yang tumbuh dalam rumah tangga Angkasa dan Arum nanti berjalan baik dan penuh berkah.
Bunga-bunga rangkai, hiasan daun, dan kerangka pelaminan mulai dipasang rapi. Suasana rumah yang biasanya sederhana, kini berubah menjadi sangat megah, indah, dan meriah.
Bapak Intan masih terus memimpin pemasangan ini bersama Pak Bimo, memastikan semuanya kokoh dan indah. Di dalam rumah, Ibu Intan dan Bu Saras mengatur hiasan di ruang tamu dan ruang tengah. Sementara itu, Arum tetap duduk tenang ditemani Intan, hanya sesekali keluar ke teras belakang melihat pemandangan indah di depannya, didampingi sahabatnya yang tak pernah beranjak dari sisi.
"Rum, lihat deh... rumah kita udah kayak istana ya? Nanti pas kamu keluar pakai baju pengantin, istana ini makin lengkap isinya karena ada putrinya yang paling cantik," puji Intan sambil memeluk bahu Arum dari samping.
Arum tersenyum haru, matanya berkaca-kaca melihat semua kerja keras dan kasih sayang orang-orang di sekitarnya. "Makasih ya, Tan... Makasih buat semuanya. Kalian semua bikin aku ngerasa jadi orang paling beruntung sedunia."
"Itu semua berhak kamu dapetin, Rum. Kamu baik, kamu sabar, kamu cantik. Dan sebentar lagi, kamu bakal hidup bahagia sama Mas Angkasa," jawab Intan lembut.
Siang itu berlalu dengan penuh kebersamaan dan kerja keras. Semua persiapan fisik sudah hampir seratus persen beres. Tinggal penataan kecil-kecilan saja nanti malam.