NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:18.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.

Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa

Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.

Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inara 17

Pukul lima pagi, Inara sudah terbangun di kamarnya yang dingin. Tubuhnya terasa begitu ringkih, sendi-sendinya linu akibat memaksakan diri menyelesaikan laporan Surabaya hingga menjelang subuh. Namun, wanita itu menolak untuk menyerah pada rasa sakitnya.

Dengan langkah perlahan, dia berjalan menuju dapur utama. Di bawah temaram lampu dapur yang sepi, Inara mulai sibuk. Dia menyalakan kompor, memotong sayuran, dan mengocok telur. Dia membuat nasi goreng mentega kesukaan Mahesa, lengkap dengan aroma harum yang perlahan memenuhi ruangan. Tak lupa, dia juga menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula persis seperti yang biasa Mahesa minum setiap pagi.

Inara tahu betul, semua ini kemungkinan besar berakhir di tempat sampah. Dia tahu suaminya mungkin akan menatap makanan ini dengan pandangan muak, atau memilih sarapan di luar bersama Clarissa. Namun bagi Inara, ini bukan lagi soal mengemis cinta. Ini adalah tentang sisa-sisa harga dirinya. Selama statusnya masih menjadi istri sah di atas kertas, dia akan menyelesaikan perannya dengan terhormat, agar kelak saat dia pergi, tidak ada satu pun celah bagi Mahesa untuk mencelanya.

Tepat pukul 06.30, langkah kaki yang berat dan tegas terdengar menuruni tangga. Mahesa berjalan masuk ke area ruang makan, sudah rapi dengan setelan kerja abu-abu gelapnya.

Langkah pria itu sempat terhenti sejenak saat melihat meja makan sudah dipenuhi sarapan yang masih mengepulkan asap. Matanya beralih menatap Inara yang sedang menata sendok dengan wajah yang sangat pucat, bahkan bibirnya nyaris menyatu dengan warna kulitnya. Ada binar bersalah yang kembali menyengat dada Mahesa mengingat kejadian semalam, namun egonya buru-buru mengambil kendali.

"Saya tidak minta dibuatkan sarapan," ujar Mahesa dingin, melirik nampan makanan itu sekilas lalu beralih memakai jam tangannya.

Inara tidak terkejut. Dia mendongak, menatap Mahesa dengan senyum tipis yang teramat datar.

"Saya tahu, Pak. Tapi ini tugas saya. Jika Anda tidak mau memakannya, silakan ditinggal saja."

Mahesa mendengus sinis apalagi mendengar panggilan Inara membuatnya semakin kesal. Pria itu sengaja meraih cangkir kopi hitam buatan Inara, namun pada akhirnya dia tetap meminum kopi buatan Inara. Dia masih kesal karena semalam Inara memilih tidur di kamar bawah di banding tidur di kamar utama.

"Taruh laporan Surabaya di mobil. Kita berangkat setelah sarapan," perintah Mahesa mutlak, bersiap melangkah menuju pintu depan.

"Tidak, Pak Mahesa," potong Inara cepat, suaranya pelan namun sarat akan ketegasan yang membuat langkah Mahesa seketika terkunci.

Mahesa berbalik, alisnya bertaut tajam.

"Apa kamu bilang?"

"Saya tidak akan berangkat bersama Anda lagi. Mulai hari ini, dan seterusnya," ucap Inara tenang. Dia meraih tas kerjanya dan sebuah map tebal berisi laporan yang sudah selesai dia jilid rapi.

"Saya akan pergi sendiri."

Mahesa terkekeh sumbang, melangkah mendekati Inara dengan tatapan mengintimidasi.

"Pergi sendiri? Kamu mau jalan kaki lagi seperti kemarin lalu pingsan dan merepotkan saya? Jangan membuat drama baru, Inara!"

"Saya tidak akan jalan kaki. Saya akan menggunakan ojek daring atau membawa motor matic tua saya yang ada di gudang belakang," sahut Inara, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya tanpa ada lagi rasa takut yang tersisa.

"Kamu gila?!" bentak Mahesa, suaranya meninggi di ruang makan yang sepi.

Kemarahan pria itu tersulut, bukan hanya karena perintahnya dibantah, melainkan karena ada rasa panik tersembunyi melihat kondisi fisik Inara yang bahkan untuk berdiri tegak saja tampak kesusahan. Membiarkan wanita dengan kondisi selemah ini membelah jalanan Jakarta dengan motor atau ojek daring sama saja dengan menyetujui wanita ini celaka.

"Kamu bahkan tidak bisa berdiri dengan lurus, Inara! Kalau kamu jatuh di jalan dan media melihat istri Direktur Utama Dirgantara Group naik motor tua, harga diri keluarga saya yang dipertaruhkan!" Mahesa mencari alasan di balik ego besarnya.

Inara tersenyum getir, sebuah tawa tanpa suara yang terasa begitu menyayat hati.

"Harga diri yang mana lagi yang Mas takuti?" tanya Inara lirih, kali ini panggilan 'Mas' lolos dari bibirnya, terasa begitu asing dan menyakitkan.

"Bukankah di kantor, aku hanya karyawan biasa? Bukankah Mas sendiri yang bilang kemarin kalau Mas malu jika ada yang melihatku keluar dari mobilmu?"

Inara melangkah maju satu tindak, membuat Mahesa tertegun diam.

"Mas tidak perlu khawatir. Saya akan turun satu blok sebelum kantor agar tidak ada satu pun relasi bisnis Mas yang melihat. Saya juga akan memakai helm yang tertutup rapat agar wajah menyedihkan saya ini tidak merusak reputasi Anda," bisik Inara tajam.

Dia menyerahkan map dokumen Surabaya ke dada Mahesa, memaksa pria itu menerimanya.

"Ini laporan yang Anda minta. Tugas saya sebagai karyawan lembur sudah selesai. Dan tugas saya sebagai istri pagi ini juga sudah selesai."

Tanpa menunggu jawaban dari Mahesa yang masih mematung dengan dada yang bergemuruh hebat, Inara berbalik. Dengan langkah yang sedikit goyah namun dipaksakan tetap tegap, dia berjalan melewati suaminya menuju pintu keluar, memilih untuk menerjang dinginnya angin jalanan dan sisa rasa sakit di tubuhnya, daripada harus terus dicekik oleh kemunafikan dan kemesraan palsu di dalam mobil mewah Mahesa.

Mahesa mematung di tengah ruang makan yang mendadak terasa begitu luas dan senyap. Di tangannya, map tebal laporan Surabaya terasa berat, namun tidak seberat rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit rongga dadanya.

Braaaak

Suara pintu depan yang tertutup menyentak Mahesa kembali ke realitas. Pria itu menatap nasi goreng mentega yang masih mengepulkan uap dan secangkir kopi hitam yang tak tersentuh di atas meja. Untuk pertama kalinya dalam setahun ini, Mahesa merasa sarapan yang disiapkan Inara tidak lagi terlihat seperti kewajiban seorang tawanan, melainkan seperti sebuah salam perpisahan yang anggun.

"Sialan!" umpat Mahesa.

Dia menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar. Ego dan rasa paniknya berpacu di dalam kepala. Begitu sampai di pelataran rumah, matanya menangkap sosok Inara di dekat gerbang samping. Wanita itu sedang bersusah payah menyalakan motor matic tua peninggalan almarhum ayahnya yang sudah berbulan-bulan berdebu di gudang.

Uhuuuuk! Uhuuuuk!

Asap knalpot mengepul hitam, membuat Inara terbatuk-batuk hingga tubuh ringkihnya terguncang. Wajahnya yang semula pucat kini tampak kian pasi. Saat dia mencoba menuntun motor itu keluar ke jalan raya, motor yang berat itu hampir saja tumbang dan menimpa kakinya jika saja sebuah tangan kekar tidak menahan stang motor tersebut dengan sentakan kasar.

"Sudah saya bilang, jangan keras kepala, Inara!" bentak Mahesa, napasnya memburu. Dia merebut paksa kunci motor dari stang dan memasukkannya ke dalam saku celananya sendiri.

Inara mendongak, menatap Mahesa dengan sepasang mata yang benar-benar kosong dari emosi.

"Kembalikan kuncinya, Pak Mahesa. Saya sudah terlambat."

"Masuk ke mobil!" perintah Mahesa, suaranya naik satu oktav.

Dia mencengkeram pergelangan tangan Inara. Namun, detik itu juga, Mahesa tersentak. Pergelangan tangan istrinya terasa sangat panas, berbanding terbalik dengan kulitnya yang semalam sedingin es. Wanita ini sedang demam tinggi.

"Kamu demam," desis Mahesa, kilat kekhawatiran yang sangat murni lolos dari matanya.

1
nely_48
Gavin kau bantu lindungi inara ya, sampe keadaan inara tenang n pulih dr trauma nya
Muft Smoker
waaaah ada apa niih ,,
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Dew666
🩵🩵🩵
sunaryati jarum
Harus sabar melihat kejutan untuk Mahesa
sunaryati jarum
Setelah lepas dari tekanan Mahesa kau menemui kebahagiaan,Insra
Mundri Astuti
Alhamdulillah ada Gavin, lega aqoh 😄
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuuut maaak 😘😘😘😘
Hary Nengsih
lanjut penasaran apa yg terjadi d gedung
Oma Gavin
up lagi kak pengen lihat mahesa nangis darah ngga diangkat jadi direktur utama dan dicoret dari ahli warisnya pak raharja
Anisa Nur
pasti gak jadi di angkat deh Mahesa sama papanya biar di tau rasa
Arin
Sekarang tinggal tunggu penyesalan Mahesa setelah Inara meninggalkannya
hasana
wah keterlaluan ini mahesa
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭
Hary Nengsih
jahat manget mahesa jngn sampe balikan m inara
nely_48
apa coba maksudnya s mahesa menyiksa lahir batin inara salama d nikahi oleh nya❓ edan boa s mahesa teh
Ambu Rinddiany Thea
selamat menikmati kehancuran mu mahesa , 😤😤😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
akhirnya semua berjalan bagai mana mestinya
Diana Dwiari
ah....ternyata Inara punya perusahaan sendiri....wah,bakal bumerang buat si kerbau tuh..... perusahaan Inara bakalan lebih maju
Rieya Yanie
bagus inara..
pergi yang jauh mulai kehidupan baru dengan ibumu😍
Marni Marlina
lnjutan nya mna
Ambu Rinddiany Thea
kudu d warah hela s mahesa mah beh mikir sampe ka usus buntu na .. 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!