Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Arga duduk bersila di atas sofa ruang tamu rukonya sambil memejamkan mata.
Dia memfokuskan pikirannya dan memanggil layar biru transparan milik Sistem Mancing Mania Mantap.
Malam ini dia akan menghadiri acara pelelangan dunia bawah yang sangat berbahaya.
Arga harus memastikan dirinya memiliki perlindungan ekstra selain mengandalkan kekuatan fisik semata.
"Buka Toko Sistem Gaib bagian perlengkapan pertahanan," perintah Arga di dalam kepalanya.
Layar biru itu langsung berubah menampilkan deretan gambar barang-barang aneh beserta harga poinnya.
Poin sistem Arga saat ini berada di angka dua ribu tujuh ratus empat puluh.
Mata Arga menelusuri daftar itu dan berhenti pada sebuah barang bernama Rompi Serat Baja Gaib.
Barang itu dibanderol dengan harga yang cukup mahal yaitu seribu lima ratus poin.
Deskripsi rompi itu menyebutkan bahwa pemakainya akan kebal terhadap tusukan peluru dan serangan energi kutukan tingkat menengah.
"Sistem, beli rompi serat baja ini satu sekarang," putus Arga tanpa ragu.
"Transaksi berhasil dilakukan dan poin Host telah dipotong otomatis," lapor sistem memproses pembelian.
Sebuah rompi hitam pekat yang bahannya terasa sangat ringan jatuh ke atas pangkuan Arga.
Arga segera melepaskan kemeja lengan panjangnya dan memakai rompi tersebut sebagai pakaian lapis dalam.
Ukurannya langsung menyesuaikan dengan bentuk tubuh Arga dan menempel pas tanpa membuat dadanya sesak.
Saat kemejanya kembali dikancingkan, tidak ada yang bisa melihat bahwa Arga sedang memakai pelindung anti peluru di balik pakaiannya.
Arga lalu memanggil ruang inventaris dan mengeluarkan kotak kayu berisi Giok Hitam Penyerap Kesialan.
Dia memasukkan kotak kayu kecil itu ke dalam saku bagian dalam jaket kulit yang baru saja dia pakai.
Malam hari akhirnya menyelimuti ibu kota Jakarta dengan cahaya bulan purnama yang bersinar sangat terang.
Arga turun ke lantai dasar dan berjalan keluar mengunci pintu kaca rukonya dengan akses sidik jari.
Dia masuk ke dalam mobil SUV hitamnya dan menyalakan mesin tiga ribu cc tersebut.
Tujuan perjalanannya malam ini adalah kawasan pinggiran kota yang sangat sepi dari hiruk pikuk penduduk.
Jalanan tol malam itu cukup lengang sehingga Arga bisa memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Sekitar satu jam kemudian, mobil Arga keluar dari jalan aspal dan masuk ke sebuah jalan tanah berbatu yang dikelilingi ilalang tinggi.
Di ujung jalan tanah tersebut, sebuah bangunan tua bekas pabrik gula peninggalan Belanda berdiri dengan angkuh.
Dinding bata merahnya sudah dipenuhi oleh lumut tebal dan beberapa bagian atap sengnya terlihat bolong.
Arga memarkirkan mobilnya di sebuah tanah lapang yang sudah dipenuhi oleh puluhan mobil mewah pabrikan Eropa.
Pemandangan ini sangat kontras dengan kondisi bangunan tua yang terbengkalai di depannya.
Arga turun dari mobil dan berjalan santai menuju pintu gerbang besi utama pabrik gula tersebut.
Dua orang pria berbadan sangat kekar yang memakai topeng hitam menutupi seluruh wajah berdiri menjaga pintu masuk.
"Tunjukkan undangan resmi Anda malam ini," ucap salah satu penjaga dengan suara yang berat dan serak.
Arga merogoh saku celananya dan mengeluarkan amplop hitam berlogo bunga teratai perak.
Penjaga itu mengambil amplop tersebut dan memeriksa keasliannya menggunakan sebuah alat pemindai kecil.
Bip.
Lampu indikator alat itu menyala hijau menandakan bahwa undangan Arga adalah asli dan valid.
"Silakan masuk dan ikuti jalur lampu merah untuk menuju aula bawah tanah," arah penjaga itu menarik tuas pintu besi.
Pintu besi itu terbuka dengan suara derit engsel berkarat yang sangat panjang dan memekakkan telinga.
Arga melangkah masuk ke dalam bangunan yang udaranya langsung terasa sangat lembap dan pengap.
Dia berjalan menyusuri lorong panjang yang hanya diterangi oleh deretan lampu bohlam berwarna merah redup.
Di ujung lorong terdapat sebuah anak tangga melingkar yang terbuat dari batu bata menurun tajam ke bawah tanah.
Suara dengungan percakapan banyak orang mulai terdengar jelas saat Arga menuruni anak tangga tersebut.
Ruang bawah tanah pabrik ini ternyata sudah disulap menjadi sebuah aula lelang tersembunyi yang sangat tertata rapi.
Sebuah lampu kristal besar menggantung di langit-langit beton memberikan penerangan maksimal ke seluruh sudut ruangan.
Ada puluhan orang berpakaian formal dan memakai berbagai macam jenis topeng duduk di kursi melingkar menghadap panggung.
Arga berjalan dengan langkah tenang mendekati meja panjang yang dijaga oleh tiga orang petugas berseragam merah gelap.
"Selamat malam Tuan, apakah Anda datang untuk mendaftarkan pusaka lelang hari ini?" sapa petugas wanita di tengah meja.
"Malam, iya saya bawa satu barang buat masuk ke daftar lelang utama kalian," jawab Arga mengeluarkan kotak kayunya.
Petugas wanita itu mengambil kotak kayu tersebut dan membukanya dengan sangat berhati-hati.
Hawa dingin langsung merambat keluar saat penutup kotak itu terbuka memperlihatkan batu giok hitam di dalamnya.
Petugas itu memanggil seorang pria tua bongkok yang duduk di belakang meja untuk melakukan proses penaksiran nilai.
Pria tua itu mendekat dan memasang sebuah kacamata pembesar khusus di mata kanannya.
"Ini adalah Giok Penyerap Energi Negatif yang sangat murni," gumam pria tua itu dengan nada suara terkejut.
"Apakah Anda mengizinkan saya menguji efek instan dari batu ini kepada hewan percobaan Tuan?"
"Silakan tes aja sepuas bapak biar semua orang di sini percaya sama kualitas barang gue," jawab Arga menganggukkan kepala.
Seorang petugas keamanan segera membawa sebuah kandang besi kecil berisi seekor tikus putih ke atas meja.
Pria tua itu menggunakan penjepit besi panjang untuk mengambil giok hitam dan menempelkannya ke tubuh tikus tersebut.
Tikus putih itu seketika meronta dengan sangat hebat dan menggigit jeruji kandang sampai giginya sendiri patah.
Hewan itu lalu tersandung mangkuk makannya dan jatuh telentang tidak bisa membalikkan badannya kembali.
"Sempurna, kutukan kesialannya bekerja tanpa perlu rapalan mantra perantara apa pun," puji pria tua itu menelan ludah.
"Barang Anda resmi masuk ke sesi lelang utama malam ini dengan harga pembukaan lima ratus juta rupiah."
Petugas wanita tadi memberikan sebuah plat logam bernomor dada empat puluh lima kepada Arga.
"Silakan duduk di kursi peserta dan nikmati jalannya acara malam ini Tuan," ucap petugas itu mempersilakan.
Arga berjalan mencari kursi kosong dan duduk di barisan tengah yang memiliki sudut pandang luas ke seluruh ruangan.
Dia mengaktifkan Keterampilan Penilaian Barang Gaib miliknya untuk memindai orang-orang yang duduk di sekitarnya.
Hampir semua tamu di aula ini memakai perhiasan atau jimat yang memancarkan energi gaib berwarna-warni.
Tepat pukul dua belas malam, seorang pria berpakaian jas putih rapi naik ke atas panggung utama membawa palu kayu.
"Selamat malam para kolektor pusaka, selamat datang di acara lelang bulan purnama Asosiasi Pusaka Nusantara," sapa pria itu memecah dengungan percakapan.
"Kita tidak perlu membuang waktu dan akan langsung membuka sesi lelang untuk barang-barang kelas menengah."
Sesi awal lelang berjalan dengan tempo yang sangat cepat dan agresif.
Barang-barang seperti keris tua berkarat dan lukisan yang konon terbuat dari darah laku terjual ratusan juta rupiah.
Arga sama sekali tidak tertarik untuk mengangkat plat nomornya karena barang-barang itu dianggap sampah oleh sistemnya.
"Kini kita memasuki sesi utama malam ini," seru pembawa acara dengan intonasi suara yang mulai meninggi.
Seorang asisten wanita membawa kotak kayu milik Arga ke atas meja panggung dan menyorotnya dengan lampu terang.
"Sebuah Giok Hitam Penyerap Kesialan yang efeknya mampu menjatuhkan lawan tanpa perlu sentuhan fisik sama sekali," promosi pembawa acara itu.
"Harga pembukaan kita mulai dari angka lima ratus juta rupiah sekarang juga."
Suasana aula bawah tanah itu seketika menjadi riuh oleh suara bisikan para tamu yang mulai berdiskusi.
Senjata pembunuh tanpa jejak seperti batu giok ini adalah barang yang paling dicari oleh para penguasa dunia bawah.