Semoga terhibur. Jangan lupa jejak ya.
Season 1
Memimpikan pasangan yang lebih dewasa, namun selalu terjebak cinta dengan pria berusia muda.
Dia adalah Rina Malinda. Menjalin kasih dengan pria yang lebih muda bukanlah impiannya, namun rasa nyaman yang didapatkan membuatnya susah berpaling dari pesona pria muda yang berhasil masuk ke hatinya.
Restu Andika. Pintar, tampan, humoris dengan segala kesempurnaannya membuat siapa pun termasuk Rina susah menolak pesonanya.
Sempat putus dan harus menghadapi berbagai cobaan, akhirnya hubungan mereka berlabuh dalam ikatan pernikahan.
Season 2
Lima tahun melalui mahligai pernikahan, Dika dan Rina belum juga dianugerahi momongan, bagaimana mereka menghadapi situasi ini?
Andre, pemuda yang selalu berdiri di belakang Dika setelah Dedi menempuh study kini berubah menjadi sosok yang tak kalah keras dengan bosnya.
Bagaimana ia melunakkan hatinya yang keras saat ia justru jatuh hati dengan Hana, wanita berbahaya dan harus dihancurkan olehnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setan dan Demit
Ngobrol di teras rumah bergumul dengan asap rokok, itulah yang kini Dika dan Dedi lakukan sembari menunggu Rina dan Rista bersiap.
"Lu yakin bisa ngejalanin perusahaan sambil sekolah, nggak nyoba home schooling aja?"
"Segitu nggak sukanya kamu lihat aku di sekolah sampai nyuruh home schooling."
"Serah dah."
Keduanya tertawa bersama. Sejak putus dengan Rina, sepertinya ini kali pertama Dika bisa tertawa lepas seperti ini.
"Kakak....!"
Rista menghampiri Dika dengan riangnya.
"Rina belum kelar?" Dika menyudutkan rokoknya di asbak sebelum mendongak menatap Rista yang berdiri menjulang di sampingnya.
"Tuh..." Rista menunjuk dengan dagunya.
Tapa sadar Dika berdiri dan berjalan menghampiri Rina yang berhenti beberapa langkah di belakang Rista. "Kok imut gini sih..." Dika menatap penampilan Rina dari atas ke bawah.
"Nggak cocok ya?" tanya Rina yang ikut memperhatikan penampilannya. "Ini udah yang paling kalem. Kalau yang kayak dipakai Rista bukannya makin kayak bocah?"
Dika tak bersuara. Ia masih sibuk memperhatikan Rina.
Berbeda dengan Dedi yang sejak tadi sudah memperhatikan Rista tanpa diminta. Tak ada yang salah dengan penampilan Rista. Ia bergaya sesuai usianya. Namun karena memang posturnya yang tak biasa, membuat ia nampak lebih dewasa.
Dedi bahkan harus berusaha keras untuk tak terlalu memperhatikan bocah di hadapannya. Namun apa daya, sepasang miliknya seolah tertarik untuk terus menatap objek dihadapannya. "Imut, kayak anak SMP." Dedi mematikan rokoknya. "Tapi yang anak SMP beneran malah kayak anak kuliahan." Dia terkekeh setelahnya.
"Kak Dedi. Bisa nggak sih nggak jahatin Rista!"
"Jahat apanya? Aku lagi ngomongin fakta bocaahhh." Dedi tak juga mau mengalah.
"Udah udah. Yuk berangkat."
Dika segera melerai perdebatan adik dan juga sahabatnya. Perasaan hari ini mereka benar-benar seperti kucing dan anjing? Iya nggak sih? Dika kemudian berjalan melewati Tom and Jerry berwujud manusia itu.
Dika membuka pintu depan mobilnya untuk Rina, namun disaat yang sama Dedi nyelonong masuk di kursi kemudi. "Jangan suruh gue duduk di belakang sama Rista, please."
Belum juga Dika menjawab, Rista sudah datang dan menyerobot tempat di samping Dedi. "Jangan kemana-mana." Rista menahan tubuh Dedi yang hendak berpindah kembali.
Rina dan Dika mundur membiarkan keduanya berperang di bangku depan.
"Masalah nggak sih mereka duduk jejeran?" Rina menatap dua orang di depannya dengan tak enak.
Dika yang baru masuk segera mengelus surai Rina. "Nggak akan ada masalah." Dika melepaskan elusannya dan beralih mengutak-atik HPnya.
Dedi mulai menjalankan mobil masih dengan terus berdebat dengan gadis kecil di sampingnya.
Dika nampak sibuk dengan ponselnya, sementara Rina asik dengan pemandangan di luar jendela. "Ponsel kamu mana? Sejak tadi kayaknya aku nggak lihat kamu pegang ponsel?"
"Habis batrai, tadi aku charge di kamar Rista."
"Tante tahu?"
Rina mengangguk. "Tahu kok."
Dika menarik kepala Rina dan menyandarkan di bahunya. "Aku sambi kerja ya."
Rina tak menyahut. Dika pun kembali berkutat dengan jajaran e-mail yang masuk. Kamu nggak hanya dewasa saja, tapi juga begitu pintar. Aku tak yakin apakah kapasitas otakku mampu jika harus menjalankan semua aktivitasmu. Rina sesekali mencuri pandang, melihat wajah Dika yang tengah serius. Tak clengekan seperti saat masih menjadi kekasihnya.
"Ini mau kemana sih sebenernya?" Dedi bertanya dari balik kemudi.
"Terserah pengennya kemana." Dika berbicara tanpa menatap Dedi yang menanyainya.
"Kalau terserah, gue pengennya pulang nih," ancam Dedi.
"Kkaaaakkk, Rista kan udah bilang lagi pengen nonton."
"Elu kan masih bocah, ogah gua diajak nonton kartun." Dedi masih menjawabnya dengan ketus.
"Makan dulu aja deh, dari tadi belum pada makan kan?" sela Dika sebelum perdebatan mereka pecah lagi.
"Boleh tuh, apalagi gratis, hahaha."
Rista mengangguk semangat.
"Rina gimana?"
Rina mengangkat kepalanya dari bahu Dika. "Terserah kalian aja."
"Rista pengen ayam penyet, sate kambing, seblak, mi ayam..."
"Busset dah, gendut tahu rasa kamu." Dedi kembali mencibir adik sahabatnya ini.
"Kan gendutnya masih bisa di makan tinggi. Wleee." Rista menjulurkan lidahnya dan kembali memikirkannya makanan yang ia inginkan.
"Tapi nggak ada satu tempat yang nyediain semua makanan yang kamu pengen itu Dik."
"Iya juga ya." Tangan Rista bergerak seolah menghapus gambar makanan yang ia susun di atas kepalanya.
"Kalau seblak sama mi ayam yang enak aku tahu. Nggak jauh kok dari sini," ucap Rina tiba-tiba. Semua menatapnya, Rina yang sadar segera memperjelas ucapannya. "Warungnya dempetan gitu maksudnya."
"Di mana Kak?" Rista yang paling antusias segera menanyakan lokasinya.
"Di depan ini nanti kan ada perempatan, belok kanan. Nggak jauh kok dari situ."
"Rista mau Kak...."
"Gimana Ded?" Bukannya langsung menjawab, Dika justru menanyai sahabatnya.
"Anak kos mah ngikut wae, yang penting gratis!" ucap Dedi tak kalah bersemangat dengan Rista.
Akhirnya mereka sepakat untuk makan di sana. Tak membutuhkan waktu lama, Dedi kini memarkirkan mobil di sisi warung.
"Wah lesehan. Boleh juga Rin tempatnya, bersih." Ucap Dedi sambil memperhatikan warung di hadapan mereka.
"Selain tempatnya bersih, makanannya enak, murah lagi." Rina menjelaskan dengan antusias.
"The best pilihan kamu mah." Dika menarik pinggang Rina dan mengecup pipinya sekilas.
"Ck." Dedi berdecak dan melenggang memasuki warung.
Rista yang tak ingin menjadi obat nyamuk kemesraan Kakaknya segera menyusul Dedi. "Kak, pesen apa!?" Rista yang tengah memesan berteriak menanyai Dedi yang sudah berada di dalam.
"Ngikut kamu aja." Dedi menyambar sebotol soda dan meminumnya.
Rina yang sudah selesai dengan pesanannya segera menyusul Dedi. "Kakak doyan gituan?" tanya Rista yang menyaksikan betapa Dedi menikmati soda di tangannya.
"Kalau abis ngerokok aku suka minum ginian." Dedi kembali menenggak sodanya.
"Biar apa?" Rista bertanya dengan wajah polosnya.
Hahaha, bocah. Mukanya beher-bener kayak orang be*o. "Ehm," Dedi berdehem untuk menormalkan wajahnya. "Biar nggak ada setan kepo yang deket-deket." Dedi berucap dengan wajah sedatar mungkin.
"Jadi setan takut sama soda?"
Dedi nyaris menyemburkan tawanya. Pake dijawab lagi. Dasar bocah. "Nih." Dedi menyodorkan botol sodanya kepada Rista.
"Buat apa Kak?"
"Cobain deh," tawar Dedi.
Rista menggeleng.
"Udah coba aja."
"Aku nggak suka Kak." Rista menolak dengan mendorong pelan botol di hadapannya.
"Dikkiiit aja." Dedi masih kekeh membujuk Rista dengan bibir menahan senyum.
Akhirnya Rista meraih botol itu dan mencicipinya sedikit. Dia bergidik dengan mata terpejam. "Aku nggak suka Kakak."
Dedi sekuat tenaga menahan tawanya. "Inget nggak tadi aku minum soda buat apa?"
Rista yang masih menjulurkan lidahnya sesekali tak lantas menjawab pertanyaan Dedi.
"Inget nggak?"
Rista menggeleng sambil meratapi nasib lidahnya.
"Ck, biar setan kepo nggak betah deket-deket."
"Iya, Rista inget."
"Jadi?"
"Apanya yang jadi Kak...."
"Permisi...," seorang pelayan datang dengan membawa pesanan Rista. "Silahkan Mas, Mbak." Pelayanan itu segera pergi setelahnya.
"Makasih."
"Jadi....?" Dedi masih mengacuhkan makanan di hadapannya.
"Apa sih Kak...." Rista mulai kesal karena merasa dipermainkan.
"Yang nggak suka soda berarti.....?"
"Setan!" Ketus Rista dengan cepat.
"Hwahahahahaha......!"
Dedi tak lagi bisa menahan tawanya.
Rista disk beberapa saat. Dia baru ngeh kalau Dedi ternyata tengah menjahilinya. "Dedi demit....!!!" Rista melampiaskan kekesalannya yang kesekian kali pada Dedi hari ini.
Kluntang
Dika dan Rina yang sedang memesan makanan terkejut mendengar adanya suara benda. Sontak keduanya menetap ke dalam dan mendapati Rista tengah mencubit dan memukul Dedi sekenanya.
"Dika..."
"Biarin. Udah gede juga."
Rina dan Dika segera bergabung dengan keduanya setelah mereka menyelesaikannya pesannnya.
TBC
Maaf ya dear kalau ceritanya kadang nggak sesuai ekspektasi.
Meskipun bukan kisah nyata tapi inspirasinya emang based on true story.
Jadi biar nggak kehilangan alurnya kadang hal yang nggak sesuai norma pun masuk di cerita.
kurang bnyakkkkkkkk extrapart ya❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Tinggal Nunggu Kisah Dedi ama Rista
Ry Benci Pakpol Mampir
Menikah jg