Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. mempertemukan Alyssa dan Brayen.
Hari yang baru seharusnya membawa harapan, namun bagi Brayen pagi hanyalah lanjutan dari siksaan yang sama.
Ia terbangun dengan napas tercekat, dadanya terasa sesak seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya.
Pandangannya langsung tertuju pada sisi tempat tidur yang kosong, tempat di mana seharusnya Maudy terbaring, mengeluh manja karena bangun terlalu pagi, atau sekadar tersenyum malas sebelum kembali menarik selimut.
Namun yang ia temukan hanyalah dingin.
"Hah…" helaan napas berat keluar dari bibirnya, penuh kelelahan yang tak pernah usai.
Tangannya terulur gemetar meraih figura di meja kecil di samping ranjang.
Jarinya mengusap wajah Maudy di dalam foto itu dengan sangat hati-hati, seolah takut jika terlalu kuat, bayangan wanita itu akan lenyap sepenuhnya.
"Apa kamu sudah puas, Maudy?" bisiknya lirih, suara yang pecah oleh rindu.
"Kenapa kamu membuatku seperti ini…"
Matanya memerah, pandangannya mengabur oleh air mata yang menolak jatuh namun tak sanggup lagi ditahan.
"Sampai kapan aku harus menunggu?" desahnya putus asa.
"Kamu pergi terlalu lama, tanpa kabar… seolah bumi benar-benar menelanmu hidup-hidup. Tapi kenapa aku tidak bisa melupakanmu… kenapa sampai detik ini aku masih sangat mencintaimu?"
Tangannya mengepal di atas dadanya sendiri.
"Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Hanya kamu. Cuma kamu."
Air mata itu akhirnya jatuh, membasahi punggung tangannya, membasahi foto yang setiap hari ia tatap seperti pengganti nyawa.
"Meskipun nantinya aku akan menikah dengan wanita lain…" suaranya merendah, hampir seperti pengakuan dosa.
"Maafkan aku. Tapi aku bersumpah, aku tidak akan pernah menyerahkan hatiku padanya. Aku akan membuat hari-harinya menderita, karena hanya kamu yang pantas menjadi istriku… bukan wanita lain."
Matanya menajam, memancarkan tekad yang berbahaya. Entah apa yang ia rencanakan yang jelas itu bukanlah sesuatu yang baik.
Tok tok tok.
Ketukan di pintu memecah keheningan itu seperti tamparan. Brayen menoleh dengan tatapan penuh kebencian.
Seorang perawat masuk dengan raut gugup.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Brayen dingin, nyaris menggeram.
"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya ingin membantu."
"Tidak usah." Potongnya cepat.
"Aku tidak butuh bantuanmu."
Namun perawat itu justru melangkah mendekat. Tangannya menyentuh lengan Brayen, terlalu lama, terlalu dekat hingga Brayen merasa risih dibuatnya.
"Kenapa Tuan terus menolak saya?" katanya lembut mendayu.
"Saya hanya ingin menjalankan tugas saya. Kalau Tuan menolak terus, bukankah sama saja saya makan gaji buta?"
Usapan itu membuat rahang Brayen mengeras. Napasnya memburu menahan amarah dalam dadanya.
"Pergi…" peringatnya.
Namun wanita itu tak mengindahkan. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya.
Dan saat itu, kesabaran Brayen runtuh, baginya perawat itu sudah keterlaluan ibu bukan lagi membantunya melainkan tengah menggoda dirinya.
tanpa berpikir panjang ia mendorong perawat itu sekuat tenaga.
Brak!
Kepala wanita itu menghantam meja. Ia menjerit kesakitan, darah segar mengalir dari dahinya.
"Akh! Kenapa Tuan kasar sekali!" tangisnya pecah dan dramatis seolah olah dirinyalah yang teraniaya.
Lita yang kebetulan melihat kejadian itu langsung masuk ke kamar dan menatap anaknya tajam.
"Apa yang kamu lakukan, Brayen?!" teriaknya histeris.
Ia segera membantu perawat itu berdiri, menekan luka di dahinya dengan sapu tangan.
"Apa kamu tidak apa-apa?"
"Untuk apa Mama peduli dengannya," dengus Brayen.
"Diam kamu!" Lita menatap anaknya dengan mata bergetar.
"Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu setelah apa yang kamu lakukan. Mama tahu kamu frustasi, tapi ini sudah keterlaluan. Ini bukan sekali, Brayen. Sudah berkali-kali kamu menyakiti perawat-perawat yang Mama pekerjakan. Sebenarnya di mana hati nuranimu?"
"Karena mereka semua tidak tulus!" bentak Brayen.
"Mereka wanita murahan yang berusaha menggodaku!"
Hati Lita seperti diremas.
"Mereka hanya ingin membantumu, Nak."
"Bohong!" Brayen menuding.
"Mereka menginginkan sesuatu dariku. Aku sudah muak! Aku sudah melarang Mama mengirim mereka, tapi Mama terus saja melakukan ini. Apa Mama sungguh ingin terjadi sesuatu antara aku dan mereka?!"
Air mata Lita jatuh. Tuduhan yang Brayen berikan begitu menyakitkan, tangannya terulur mengusap air matanya kasar dan menatap anaknya penuh kekecewaan.
"Mama tidak pernah berniat seperti itu…" lirih Lita terluka.
"Mama hanya mengkhawatirkan kamu, Brayen. Mama tahu kamu tidak sanggup mengurus dirimu sendiri dengan keadaan seperti ini. Tapi kalau kamu ingin Mama berhenti… baiklah."
Ia menatap anaknya dalam-dalam.
"Mama akan mempercepat pernikahanmu dengan Alyssa."
Tatapan Brayen berubah tajam. Keputusan sepihak yang ibunya katakan membuka luka baru dalam hatinya.
"Apa hubungannya semua ini dengan pernikahanku?!"
"Justru ada hubungannya," jawab Lita tegas.
"Dengan Alyssa menjadi istrimu, dialah yang akan membantumu. Mama tidak perlu lagi mengirim perawat. Dan kalau kamu menolak… jangan salahkan Mama jika besok kamu melihat mayat Mama di depan kamarmu."
Kata-kata itu meluncur dingin sebelum Lita berbalik pergi menjauhi anaknya dengan membawa perawat itu bersamanya.
Brayen meraung marah, melemparkan semua benda di sekitarnya. Lita hanya mampu menghela napas panjang di balik pintu.
Ia harus tega… meski hatinya hancur.
...
..
..
Satu jam kemudian.
Di dalam mobil, Brayen membisu menatap lurus ke depan.
"Kamu masih marah pada Mama?" tanya Lita pelan.
Tak ada jawaban.
"Tidak apa-apa jika kamu tidak mau bicara. Tapi nanti saat bertemu Alyssa, Mama mohon… bersikaplah ramah."
"Jangan harap," sahut Brayen dingin.
"Aku menikahinya hanya karena Mama memaksa."
Lita menutup mata sejenak, lelah yang dalam merayapi dadanya. Ia tau anaknya tidak mudah dibujuk akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Alyssa. Ia harap Wanita itu bisa sabar menghadapi anaknya.
Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah sakit.
Mereka bergegas menuju kamar dimana ibu Alyssa dirawat, lorong demi lorong mereka lewati namun bukannya Alyssa yang mereka temui, melainkan Bela yang sudah melambaikan tangan dari kejauhan.
"Dasar anak itu, pagi pagi sudah sampai sini " dengus Lita, mempercepat langkahnya dan menemui Bela.