Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Kedua yang Disembunyikan
📖 BAB 26: Anak Kedua yang Disembunyikan
Suara sirene dari luar semakin dekat.
Lampu biru-merah menari di celah jendela gudang yang retak. Langkah kaki banyak orang mulai terdengar di area dermaga.
Namun di dalam Gudang 19, waktu seolah berhenti pada satu kalimat.
Kau punya saudara kandung asli yang belum pernah ditemukan.
Qingyan menatap foto USG di tangannya seolah benda itu bisa berubah jika ia berkedip.
Tulisan tangan Elena Qin masih jelas.
Jika aku mati, lindungi anak keduaku. Mereka tidak tahu aku menyembunyikannya.
Tangannya perlahan gemetar.
“Ini palsu.”
Adrian Vale yang masih duduk bersandar di lantai tertawa pelan.
“Reaksi yang sehat.”
“Ini palsu,” ulang Qingyan lebih keras.
“Kalau itu membantumu tidur nanti, silakan.”
Beichen mengambil kertas itu, memeriksa cepat, lalu menatap Adrian.
“Kenapa baru sekarang kau keluarkan?”
“Karena rasa lapar paling kuat muncul setelah orang diberi setengah kebenaran.”
Han masuk dari pintu samping bersama tim keamanan, napas ngos-ngosan.
“Saya datang membawa kabar baik: kalian hidup.”
Ia melihat wajah semua orang.
“Dan kabar buruk: kalian bikin suasana lebih seram dari tadi.”
---
Qingyan berjalan mendekati Adrian.
Setiap langkah penuh amarah.
“Di mana anak itu?”
“Aku tak tahu.”
Ia menendang kursi logam di samping kepala Adrian hingga terpental.
“Jawab yang benar.”
“Aku tak tahu.” Adrian menatapnya tanpa gentar. “Elena menyembunyikan kehamilan kedua dari semua pihak. Bahkan dariku.”
“Kenapa aku harus percaya?”
“Karena itu menyakitiku.”
Qingyan menahan diri untuk tidak menendang wajahnya.
Beichen menarik lengannya pelan.
“Cukup.”
“Dia tahu sesuatu.”
“Dia juga suka memancing.”
“Aku akan tenggelamkan dia.”
“Kemudian. Bukan sekarang.”
Han mengangguk serius.
“Saya suka bagian ‘kemudian’.”
---
Tim keamanan Gu memborgol Adrian.
Ia tetap tersenyum seolah ditangkap adalah bagian rencananya.
“Bawa dia ke fasilitas bawah tanah,” kata Beichen.
Han menatap Adrian.
“Dengan senang hati.”
“Aku minta pengacara.”
Han tersenyum.
“Aku minta banyak hal juga.”
Mereka menyeret Adrian keluar.
Sebelum menghilang di pintu, pria itu menoleh pada Qingyan.
“Kalau ingin menemukan saudaramu... cari wanita yang membenci musik klasik.”
“Pergi ke neraka.”
“Aku punya properti di sana.”
Pintu tertutup.
---
Gudang mendadak sunyi.
Qingyan masih memegang foto USG itu.
Selama ini ia berjuang memahami satu identitas.
Sekarang muncul kemungkinan seseorang lain—darah yang sama, luka yang mungkin sama, hidup yang entah seperti apa.
“Kenapa aku tidak ingat apa-apa?” bisiknya.
Beichen berdiri di dekatnya.
“Karena kau bayi.”
“Bukan lucu.”
“Aku tidak bercanda.”
Ia menatap lurus ke depan.
“Trauma besar menghancurkan banyak hal. Bukan hanya bangunan.”
Qingyan memejamkan mata.
“Aku bahkan tak tahu harus merasa senang atau marah.”
“Ambil keduanya.”
“Selalu praktis.”
“Efisien.”
Ia hampir tersenyum.
Hampir.
---
🌆 Pagi Hari – Penthouse Gu Group
Matahari naik malu-malu di balik gedung tinggi kota.
Ruang makan besar yang biasanya elegan kini berubah menjadi pusat perang.
Laptop terbuka.
Dokumen berserakan.
Monitor menampilkan berita nonstop.
QIN GROUP DALAM KRISIS
VIDEO EKSPERIMEN MENYEBAR
ADAKAH PEWARIS RAHASIA KEDUA?
Han meminum kopi ketiga.
“Saya tidur tujuh belas menit di mobil. Saya resmi bayi baru lahir.”
Mira duduk dengan bahu masih diperban, membaca dokumen.
Xue berdiri di dapur, makan buah tanpa izin.
“Kopi kalian buruk,” katanya.
“Itu rumah saya,” kata Beichen.
“Selera juga buruk.”
Qingyan terlalu lelah untuk ikut bertengkar.
Ia duduk di ujung meja menatap foto USG.
---
“Baik,” kata Han sambil menepuk meja. “Mari kita urutkan kekacauan.”
Ia menulis di papan digital:
Qin Group runtuh perlahan
Adrian ditangkap
Ada kemungkinan saudara kandung rahasia
Semua orang belum mandi
“Poin empat tak relevan,” kata Mira.
“Sangat relevan.”
Beichen menatap Han.
“Fokus.”
Han berdeham.
“Baik. Tulisan Elena menyebut ‘anak kedua’. Artinya setelah Qingyan lahir, ada bayi lain yang disembunyikan.”
“Atau sebelum,” kata Mira.
Han menoleh.
“Benar juga. Saya benci saat orang lain pintar.”
Mira melanjutkan.
“Elena cerdas. Kalau ia ingin menyelamatkan satu anak dari proyek, ia mungkin memalsukan urutan data.”
Qingyan mengangkat kepala.
“Jadi aku bisa anak kedua?”
“Bisa.”
Xue mengunyah apel.
“Atau kalian berdua salah dan ada bayi ketiga.”
Semua menatapnya.
“Apa? Aku kreatif.”
---
Beichen menaruh satu map baru di meja.
“Ini arsip rumah sakit swasta yang dipakai keluarga Qin dua puluh lima tahun lalu.”
Han bersiul.
“Kapan kau ambil?”
“Tadi malam.”
“Kapan tidurmu?”
“Tidak prioritas.”
Qingyan meliriknya diam-diam.
Pria ini benar-benar mesin yang kebetulan tampan.
Ia membenci pikiran itu.
Mira membuka arsip.
“Banyak data dihapus.”
“Bisa dipulihkan?” tanya Qingyan.
“Bisa, kalau server lama masih ada.”
Han tersenyum lebar.
“Akhirnya sesuatu yang romantis. Membobol server.”
---
Tiba-tiba layar berita utama berganti.
Wajah Qin Taishan muncul dalam siaran langsung dari lokasi tak diketahui.
Pria tua itu tampak rapi seperti biasa.
Tidak ada jejak kepanikan.
“Selamat pagi,” katanya dingin. “Keluarga Qin menjadi korban sabotase oleh pihak luar.”
Han menjatuhkan sendok.
“Dia benar-benar tak tahu malu.”
Taishan melanjutkan,
“Untuk menstabilkan perusahaan, kami akan mengumumkan pewaris sah hari ini.”
Xue mengangkat alis.
“Dia masih main game?”
Lalu nama muncul di layar:
QIN XUE – PELAKSANA WEWENANG SEMENTARA
Xue menelan apel perlahan.
“...Aku bahkan belum tanda tangan.”
---
Qingyan menatap layar.
“Dia pakai namamu sekarang.”
Xue tersenyum tipis.
“Bagus.”
“Apa bagusnya?”
“Semakin tinggi dia menaikkan aku, semakin sakit saat aku menjatuhkannya.”
Mira menatapnya lama.
“Kau serius mau melawan dia?”
“Dia ancam bunuh satu-satunya orang yang pernah menyelamatkanku.”
Untuk pertama kali, suara Xue kehilangan candaan.
“Jadi ya.”
Ruangan sunyi sesaat.
Qingyan memandang wanita yang wajahnya hampir seperti dirinya.
Untuk pertama kali, ia tak melihat pesaing.
Ia melihat cermin luka yang berbeda bentuk.
---
🔐 Siang Hari – Ruang Interogasi Bawah Tanah
Adrian Vale duduk di kursi logam, tangan terikat.
Han masuk membawa kopi.
“Ini untuk saya.”
Ia duduk di depan Adrian.
“Baik, Pak Ilmuwan Gila. Mari bicara.”
“Aku ingin pengacara.”
“Aku ingin rambut lebih tebal.”
Han menyeruput kopi.
“Kita sama-sama kecewa.”
Adrian tersenyum kecil.
“Kau lucu.”
“Aku juga bersenjata.”
Ia meletakkan foto USG di meja.
“Siapa anak kedua?”
Adrian menatap foto itu lebih lama dari sebelumnya.
Ada sesuatu seperti penyesalan lewat sesaat.
Lalu hilang.
“Aku benar-benar tak tahu.”
Han menatap tajam.
“Kalau bohong, Tuan Gu akan masuk.”
Adrian menoleh ke cermin satu arah.
“Itu ancaman yang layak.”
Ia kembali menatap Han.
“Tapi aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Elena hanya percaya satu orang selain dirinya.”
Han membungkuk.
“Siapa?”
Adrian tersenyum tipis.
“Gu Zhengyuan.”
---
🌃 Malam Hari – Balkon Penthouse
Kota berkilau di bawah.
Qingyan berdiri sendiri, angin memainkan rambutnya.
Beichen datang tanpa suara, membawa dua gelas teh hangat.
“Kau minum ini saat stres.”
“Kau mengamatiku terlalu banyak.”
“Benar.”
Ia menyerahkan gelas.
Qingyan menerimanya.
“Ayahmu mungkin tahu soal saudaraku.”
“Ya.”
“Dan dia tak pernah bilang.”
“Ya.”
“Semua pria di sekelilingku menyebalkan.”
“Ya.”
Ia menoleh tajam.
“Kau menikmati ini?”
“Sedikit.”
Qingyan mendesah.
Lalu berkata pelan,
“Bagaimana kalau aku tak siap menemukan siapa pun?”
Beichen menatap kota.
“Kalau begitu kita cari pelan-pelan.”
“Kita?”
Ia menoleh.
Tatapan pria itu tenang.
“Aku sudah terlanjur masuk ke masalahmu.”
Jantung Qingyan kembali berkhianat.
---
Ponsel Beichen bergetar.
Ia melihat layar, wajahnya langsung berubah dingin.
“Apa?” tanya Qingyan.
Ia menunjukkan pesan itu.
Satu foto.
Seorang gadis muda berambut pendek berdiri di stasiun kereta asing, membawa biola di punggungnya.
Wajah gadis itu...
mirip Qingyan.
Di bawah foto tertulis:
Berhenti mencariku.
Aku tidak ingin keluarga ini menemukanku lagi.
— L
Qingyan tak bisa bernapas.
“Dia...?”
Beichen menatap pesan pengirim anonim.
“Mungkin.”
Han berlari keluar balkon sambil berteriak:
“JANGAN SENTUH APA PUN! Pesan itu dikirim dari server bergerak di Praha!”
Qingyan menatap foto gadis itu dengan tangan gemetar.
Saudara kandungnya mungkin masih hidup.
Dan dia sedang lari dari sesuatu.
BERSAMBUNG