NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 - Perasaan Nyata

Pagi datang dengan langit kelabu dan udara lembap sisa hujan semalam. Jalan menuju kampus masih menyimpan genangan tipis di beberapa sisi, sementara daun-daun di sepanjang trotoar tampak lebih hijau setelah diguyur semalaman. Airel Virellia berjalan sambil memeluk map di dada, langkahnya rapi seperti biasa, tetapi pikirannya berantakan sejak membuka mata.

Ia tidur terlalu larut setelah mengobrol dengan Zevarion Hale. Percakapan mereka singkat dan sederhana, namun justru kalimat-kalimat kecil itu terus berputar di kepalanya sampai lewat tengah malam. Saat bangun pagi, rasa kantuk masih tersisa, begitu juga semua hal yang belum selesai di dalam hati.

Semalam ia akhirnya jujur pada dirinya sendiri. Tentang penantian yang sudah terlalu lama ia rawat, tentang wajah masa kecil yang mulai kabur, dan tentang seseorang yang kini hadir terlalu nyata untuk diabaikan. Dua rasa itu bercampur seperti hujan dan kabut, sulit dibedakan mana yang datang lebih dulu.

Kalista yang berjalan di sampingnya melirik beberapa kali. Temannya itu terlalu mengenal kebiasaan Airel untuk tidak sadar ada yang berubah.

“Kamu kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Wajah kamu kayak orang habis baca ending sedih.”

Airel menghela napas sambil menatap gerbang kampus di depan.

“Aku cuma kurang tidur.”

“Kurang tidur karena tugas atau karena chat?”

Airel menoleh datar.

“Kalista.”

“Iya?”

“Diam itu juga bentuk kasih sayang.”

Kalista tertawa puas dan merangkul lengannya sebentar.

“Berarti aku sayang banget sama kamu. Soalnya aku sering diam kalau kamu nyebelin.”

Mereka masuk ke gedung fakultas bersama arus mahasiswa lain. Suasana pagi cukup ramai, suara langkah kaki bercampur obrolan setengah sadar orang-orang yang masih mengantuk. Airel berusaha menenangkan isi kepalanya dengan memikirkan hal sederhana seperti jadwal kelas, tugas mingguan, dan daftar buku yang harus ia rapikan nanti sore di toko.

Sayangnya, pikirannya punya rencana lain.

Begitu masuk kelas dan duduk di tempat biasa, matanya langsung bergerak ke sisi kanan belakang ruangan. Kursi yang sering ditempati Zev kosong. Tidak ada tas hitamnya, tidak ada kopi kertas di meja, tidak ada sosok tinggi yang biasanya datang santai lima menit setelah dosen membuka materi.

Airel memalingkan wajah cepat seolah tidak sengaja melihat ke sana.

Kuliah dimulai dengan suara dosen yang datar dan presentasi yang penuh angka. Kalista mencoret-coret pinggir buku catatannya, sedangkan Airel berusaha fokus menulis. Namun setiap beberapa menit, tanpa sadar pandangannya kembali ke kursi kosong itu.

Tidak ada.

Setelah hampir satu jam, ia mulai kesal pada dirinya sendiri. Sejak kapan satu kursi kosong bisa mengganggu konsentrasinya begini.

Kalista berbisik pelan sambil menahan senyum.

“Belum datang juga?”

“Siapa?”

“Yang kamu lihat dari tadi.”

“Aku lihat papan tulis.”

“Kursinya di belakang.”

Airel menutup bukunya sedikit lebih keras dari perlu.

“Kalista, kalau kamu banyak waktu luang, pinjemin ke aku.”

Temannya itu hanya tertawa kecil lalu kembali menulis.

Saat kelas selesai, Airel langsung keluar lebih dulu. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa ia hanya ingin membeli minum karena tenggorokan kering. Namun kakinya justru membawa dirinya ke kantin, tempat yang sering Zev datangi pagi-pagi.

Ia melihat sekeliling sambil pura-pura membaca menu.

Tidak ada Zev.

Ia membeli air mineral hanya agar keberadaannya di sana terlihat masuk akal. Setelah itu, ia berjalan ke taman belakang kampus. Bangku kayu di bawah pohon besar yang belakangan sering mereka tempati tampak kosong, masih sedikit basah di bagian ujung.

Angin pagi berembus pelan. Airel berdiri sebentar menatap bangku itu, lalu mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

Menyedihkan sekali.

Saat jam makan siang, ia kembali bertemu Kalista di koridor.

“Makan yuk.”

“Nanti.”

“Kamu nunggu siapa?”

“Aku mau ke perpustakaan.”

“Kamu kalau bohong matanya suka ke kanan.”

Airel memicingkan mata.

“Kamu tuh hobi banget mengamati orang.”

“Aku belajar dari seseorang yang hobi ngelihatin orang.”

Airel tahu siapa yang dimaksud. Ia memilih berjalan pergi sebelum temannya makin menjadi.

Perpustakaan tenang seperti biasa. Udara dingin dan bau buku yang khas biasanya selalu menenangkan dirinya, tetapi hari itu bahkan tempat favoritnya pun tidak banyak membantu. Ia membuka laptop, menyalin dua paragraf tugas, lalu mendapati dirinya menatap layar tanpa membaca apa pun.

Sesekali pintu perpustakaan terbuka dan ia refleks menoleh.

Setiap kali yang masuk bukan Zev, ia langsung kesal lagi.

Sore menjelang, ia pergi ke toko buku tempatnya bekerja paruh waktu. Lonceng pintu berbunyi beberapa kali selama satu jam pertama. Seorang ibu membeli buku resep, dua siswa mencari alat tulis, lalu seorang bapak memilih majalah otomotif.

Bukan Zev.

Ia menyusun rak novel sambil menghela napas sendiri.

Rekan kerjanya, Sinta, yang sedang mengecek stok di meja kasir menatapnya curiga.

“Ada yang hilang?”

“Enggak.”

“Kamu dari tadi lihat pintu terus.”

“Aku lihat pelanggan.”

“Yang masuk bapak-bapak beli majalah motor.”

Airel diam.

Sinta menyeringai. “Oh, jadi bukan pelanggan yang ditunggu.”

“Aku enggak nunggu siapa-siapa.”

“Kalau gitu wajah kamu jangan kecewa tiap pintu bunyi.”

Airel mengambil tumpukan buku lain agar punya alasan menjauh. Ia benar-benar mulai membenci betapa mudah orang membaca dirinya hari ini.

Menjelang magrib, hujan turun tipis. Toko semakin sepi, hanya terdengar musik pelan dari speaker atas dan bunyi plastik sampul buku di meja kasir. Airel sedang menempel label harga baru ketika ponselnya bergetar di saku seragam.

Ia mengeluarkannya sambil setengah malas.

Di luar.

Hanya dua kata.

Jantungnya langsung berdebar keras.

Airel menoleh ke pintu kaca depan toko. Di bawah kanopi, seorang pria berdiri dengan jaket gelap dan rambut sedikit basah di bagian depan. Tangan kanannya masuk ke saku, sementara tangan kiri memegang ponsel yang baru saja mengirim pesan.

Zev.

Ia tidak sempat memikirkan ekspresi apa yang harus dipakai. Kakinya sudah bergerak sendiri menuju kasir.

“Sinta, aku keluar bentar.”

“Yang di luar ya?”

Airel pura-pura tidak dengar.

Ia membuka pintu dan berjalan cepat ke depan. Udara hujan langsung menyentuh kulitnya, dingin dan segar.

“Kamu ke mana aja seharian?”

Kalimat itu keluar lebih dulu sebelum sempat disaring.

Zev menatapnya tenang.

“Kamu nyariin aku?”

Airel langsung salah tingkah.

“Enggak. Aku cuma nanya.”

“Suara kamu kayak marah.”

“Aku capek.”

“Hm.”

Nada singkat itu selalu menyebalkan karena terdengar seperti ia tahu lebih banyak dari yang Airel akui. Zev menatap wajahnya beberapa detik, lalu bersandar ringan ke tiang kanopi.

“Aku ke kampus tadi pagi.”

“Terus?”

“Kamu keliatan aneh.”

Airel mengernyit.

“Makanya aku pergi.”

“Logika kamu jelek.”

Zev menghela napas kecil.

“Aku pergi urus sesuatu cepat. Habis itu ke sini.”

“Buat apa?”

Tatapannya berpindah ke mata Airel, lurus dan tenang.

“Mastiin kamu baik-baik aja.”

Suara hujan mendadak terasa lebih jelas. Kendaraan lewat di jalan depan, memercikkan air ke aspal basah. Namun bagi Airel, semua suara lain seperti menjauh.

“Kamu datang cuma buat itu?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Zev tampak berpikir sebentar, lalu mengangkat bahu tipis.

“Karena dari tadi kepikiran.”

Jawaban sesederhana itu justru membuat dadanya sesak. Tidak ada rayuan, tidak ada gaya berlebihan, hanya pengakuan polos yang terdengar jauh lebih jujur.

Airel memalingkan wajah sebentar.

“Di sini dingin. Ke samping aja.”

Mereka berjalan ke lorong kecil di sisi toko yang beratap seng. Tempat itu sempit tetapi cukup teduh. Lampu kuning redup menyala di atas pintu gudang belakang, sementara suara hujan memantul di atap seperti irama pelan.

Airel bersandar ke dinding. Zev berdiri di depannya dengan jarak beberapa langkah, cukup dekat untuk terasa akrab, cukup jauh agar tidak membuatnya gugup berlebihan.

“Sekarang jawab,” kata Airel. “Aku keliatan aneh kenapa?”

“Kamu capek.”

“Semua orang capek.”

“Bukan itu.”

Ia menatapnya lebih dalam.

“Kamu kayak lagi bawa sesuatu sendirian.”

Kalimat itu menembus pertahanannya terlalu mudah. Airel menunduk, memperhatikan ujung sepatunya yang terkena cipratan air.

Semalam ia memang merasa sendirian. Hari ini pun sama, sampai pria ini datang hanya karena merasa ada yang salah.

“Aku cuma banyak pikiran,” gumamnya.

“Soal apa?”

“Kalau aku jawab, kamu juga pusing.”

“Aku tahan.”

Airel tertawa kecil meski matanya mulai panas.

“Kamu selalu pede ya.”

“Enggak. Aku cuma sabar.”

Ia diam sebentar, lalu akhirnya berkata jujur.

“Aku bingung sama diri sendiri. Aku nunggu sesuatu lama banget, sampai itu jadi kebiasaan. Terus sekarang ada hal baru datang, dan aku enggak tahu harus gimana.”

Zev tidak memotong. Ia hanya mendengarkan seperti biasa, seolah setiap kata Airel layak ditunggu.

“Hal baru itu ganggu?” tanyanya pelan.

“Iya.”

“Buruk?”

“Enggak.”

“Berarti bagus.”

“Enggak sesederhana itu.”

“Biasanya iya.”

Airel menggeleng sambil tertawa pendek.

“Kamu selalu nyebelin pas serius.”

“Biar kamu enggak tenggelam di kepala sendiri.”

Ia lalu melangkah satu langkah lebih dekat.

“Kalau sesuatu yang lama bikin kamu terus lihat belakang, dan sesuatu yang baru bikin kamu pengin jalan ke depan, kenapa pilih yang bikin kamu diam?”

Airel menatapnya lama. Air menetes dari ujung rambut Zev ke bahunya. Wajah pria itu tetap tenang, tetapi matanya menyimpan perhatian yang sulit dipalsukan.

Di saat itu, banyak hal terasa jelas.

Ia dulu menunggu seseorang yang memberinya janji.

Sekarang ia menyukai seseorang yang memberinya kehadiran.

Dan kemungkinan bahwa dua sosok itu adalah orang yang sama tiba-tiba tidak terasa mustahil.

“Airel.”

“Iya?”

“Kamu nangis?”

Ia menyentuh pipi dan baru sadar ada air mata tipis di sana.

“Enggak.”

“Bohong.”

“Ini cuma... aku capek.”

Zev mengeluarkan saputangan bersih dari saku jaket dan menyodorkannya.

“Kamu alasan capek terus.”

“Aku konsisten.”

Sudut bibir Zev terangkat tipis. Airel menerima saputangan itu sambil menahan senyum.

Mereka berdiri dalam diam beberapa saat. Hening di antara mereka tidak pernah terasa kosong. Selalu ada sesuatu yang tenang di sana.

Ponsel Airel berbunyi dari dalam saku. Pesan dari Sinta menyuruhnya kembali karena ada pelanggan.

“Aku harus masuk.”

Zev mengangguk lalu mundur selangkah.

“Habis kerja kabarin.”

“Kamu nyuruh terus.”

“Iya.”

“Kalau aku enggak kabarin?”

“Aku datang lagi.”

Detak jantungnya kembali berantakan.

Zev berbalik menuju ujung lorong. Saat hampir keluar ke hujan, ia menoleh sekali lagi.

“Airel.”

“Hm?”

“Jangan mikir sendirian terus.”

Lalu ia berjalan pergi menembus gerimis. Sosoknya perlahan hilang di balik lampu jalan dan kendaraan yang lewat.

Airel tetap berdiri di tempat, memegang saputangan putih di tangannya. Kain itu masih hangat sedikit, entah karena dari saku jaketnya atau karena ia terlalu banyak membayangkan.

Dadanya penuh oleh sesuatu yang kini tidak bisa disangkal lagi.

Selama tujuh tahun ia percaya bahwa menunggu berarti setia pada waktu, tempat, dan janji lama. Hari ini ia sadar, menunggu bisa berarti mencari rasa yang sama tanpa tahu bentuknya.

Rasa dipilih.

Rasa dicari.

Rasa dipahami tanpa banyak penjelasan.

Rasa dijaga tanpa diminta.

Dan semua itu kini datang dari satu orang.

Airel menutup mata sejenak, membiarkan suara hujan mengisi keheningan.

Di dalam hati, ia akhirnya berani mengakui hal yang selama ini ia hindari.

Aku jatuh cinta pada Zevarion Hale.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!