Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Menunggu
Bab 2
“Mbak Andin,” panggil Aya mendapati Andin berjalan sambil menatap sekitar. Pasti mencari keberadaan dirinya. Ia pun bergegas menghampiri.
“Udah lama?” tanya Andin.
“Nggak, barusan aja kok.”
“Ayo, poli rawat jalan di sebelah sana.”
Berjalan bersisian menuju arah yang ditunjuk Andin. Koridor di mana berderet ruang periksa dokter spesialis dan suasana di sana cukup ramai, tapi tertib. Sebenarnya ia bosan dan muak dengan segala macam pengobatan yang harus dilakukan. Apalagi selama ini keluarganya memperlakukan seolah Aya begitu lemah, termasuk Andin.
“Duduk dulu, mbak konfirmasi ke perawat.”
“Mbak, padahal gak usah begini. Aku nggak pa-pa, udah sehat.” Aya menahan dengan memegang lengan Andin.
“Nggak pa-pa kamu bilang. Apa nggak sempat ngaca, wajah kamu pucat Aya dan kemarin vertigo kamu kumat. Mbak nggak mau ambil resiko, selama kamu tinggal dengan kami. Ikuti aturan dan arahan mbak dan mas Dani.”
Aya menatap sekeliling. Suasana rumah sakit, dengan ciri khas cat putih untuk hampir semua area dinding. Juga aroma antiseptik dan karbol yang lumayan menyengat. Pandangannya tertuju ke arah pintu ruang periksa.
Poli Penyakit Dalam – dr. Edward Wijaya, Sp.PD.
Bibir Aya mengulas senyum mengingat nama tokoh vampir di salah stau film yang pernah ia tonton.
“Agak bule, nggak tua-tua banget sih. Ganteng juga,” gumamnya melihat foto pada identitas dokter. “Moga nggak nyebelin.” Dokter yang pernah menanganinya dan tempat konsultasi rutin, sudah senior. Kerap mengomeli kala ia nakal tidak mematuhi apa yang harus dihindari atau dipantang.
Sempat fokus pada ponsel menunggu gilir4nnya dipanggil. Aya berdecak saat pesan masuk dari salah satu orang yang dia hindari.
...Mas Aditya Waskita...
Dek, pulang. Jangan begini, sudahi ngambekmu
Adit adalah pria pilihan orang tuanya. Aya mengabaikan pesan itu dan membaca pesan lain. Grup kelas saat kuliah dan grup lainnya. Hanya menjadi silent reader. Malah ada pesan lagi dari Adit.
...Mas Aditya Waskita...
Dek, pulang. Jangan begini, sudahi ngambekmu.
Aku akan dengarkan syaratmu, tapi pulang dan kita menikah
^^^Maaf, mas. Aku tidak bisa. Kita tidak saling mencintai^^^
Orangtuaku tidak saling cinta, tapi mereka bahagia dek. Begitu pun dengan orangtuamu. Sudah tradisi dan adat kita sebagai priyayi, mendapatkan jodoh sesuai dengan bobot, bibit dan bebet
^^^Anggap saja standar ku jauh dari bobot bibit dan bebet yang keluarga Waskita inginkan^^^
Cahaya!!
^^^Maaf mas, jangan memaksa. Aku tidak nyaman^^^
Kamu jodohku, cahaya
“Hish.” Aya mematikan layar ponsel dan lalu memasukan ke dalam tas. Selalu begitu, kalau bukan Romo, Adit lalu ibunya. Bergantian mengirim pesan berujung membuatnya emosi.
“Kenapa?” tanya Andin melihat ia mendadak emosi dan bad mood.
“Nggak, nggak pa-pa.” Aya menggeleng cepat dan mengalihkan pandangan, tidak ingin membahas tentang Adit.
“Cahaya Sekar Janitra.”
“Iya,,” sahut Andin.
Memasuki ruang pemeriksaan, sang dokter sedang fokus layar komputer
“Selamat siang, dokter Edward,” sapa Andin.
“Selamat siang, silahkan duduk!”
Aya memandang sang dokter, ternyata aslinya lebih muda dan tampan. Bibirnya mengulas senyum tipis. Sadar kalau dokter itu sedang menatap ke arahnya, langsung menggeleng pelan agar fokus dan tidak berpusat pada fisik dokter yang sayang untuk diabaikan.
“Pasiennya ….”
“Adik saya dok. Cahaya Sekar Janitra.”
Dokter Edward mengangguk lalu membaca identitas pasien di layar komputer dan memandang bergantian Andin dan Cahaya. “Kamu perawat di sini?”
“Iya, dok. Bangsal khusus ibu nifas.”
Edward mengangguk lagi, rupanya ini yang dibicarakan oleh Rama tempo hari, pikirnya. Rekan sejawat yang ingin mengajukan konsultasi untuk keluarganya.
“Ada keluhan apa?” tanya Edward memandang Aya. First impression yang ditangkap dari pasien ini adalah … cantik. Paras ayu dan lembut, wajah khas gadis Indonesia. Meski terlihat sedikit pucat dan dingin karena sejak tadi yang bicara malah kakaknya.
Andin menjelaskan singkat riwayat kesehatan Aya dan menunjukan rekam medik dari dokter dan rumah sakit tempat melakukan pengobatan sebelumnya.
“Anemia kronis,” gumam Edward. “Kapan tindakan operasinya?”
“Sekitar tiga tahun lalu, dok,” jawab Andin lagi. Tatapan Edward tertuju pada pasiennya, yang sejak tadi hanya diam.
Membaca lagi rekam medik yang diserahkan Andin. “Jadwal medical cek up harusnya bulan ini. Apa sudah dilakukan?”
“Sudah belum?” tanya Andin, dijawab Aya dengan gelengan pelan. “Kamu ini, kok gak bilang mbak sih.”
“Belum ya, hari ini kita tes lab dulu. Cek HB,” jelas Edward. “Naik ke ranjang ya, saya mau periksa.”
Cukup lama dan detail Edward bertanya dan melakukan pemeriksaan dasar untuk mengetahui kondisi Aya.
“Setelah ini langsung ke lab. Beres dari Lab, 30 menit balik ke sini lagi.”
“Dari rekam medik ini diketahui kalau anemia kronis kamu disebabkan dari peradangan di ginjal dan sudah ada tindakan operasi untuk mengatasi peradangan itu. Tapi siklus hb tiga tahun ini belum menunjukan kondisi normal. kIta cari tahu apa penyebabnya.”
***
Aya membuka plastik berisi vitamin dan obat yang harus diminum. Hasil tes lab menunjukan kadar darah merah cukup rendah dari batas normal. Edward mempercepat medical cek up dua hari lagi.
“Hah.” Aya mendessah pasrah. Kadang ia merasakan tubuhnya tidak bugar, kadang pusing dan berputar atau mendadak sesak. Bahkan pernah beberapa kali tidak sadarkan diri. Karena itulah ia dianggap lemah dan penyakitan.
...Mbak Andin...
Tunggu di cafe. Makan dan minum vitamin juga obat kamu. Tunggu sampai mbak beres. Nggak lama lagi kok
“Cafenya di … oh, itu dia.” Aya melihat penunjuk arah menuju café. Perutnya memang sudah lapar, padahal ia ingin ke kantin. Tenant makanan di sana terlihat menggiurkan, tapi cukup ramai dan banyak asap rokok karena smoking area.
Saat berbelok, pandangan Aya ke arah koridor dimana beberapa nakes mendorong brankar pasien dengan tergesa dan …
Bugh.
“Eh ….”
astaga naga romo itu menantu mu loh
Lbh nyesek lg klo aya tiba2 palang merah auto buka puasanya semingguan 🫣🤣🤣
sabar dok kan engga yg pertama² bgt yeekan 🤣
Bang Anji lak mesti sibuk live steaming trussss dan yg pasti tukang kompor 🤣🤣🤣 ini untung Rama gk ikut , klo ada yg pasti hebohnya ngalah2i satu Rt 😂😂😂