NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Pagi itu, SMA Nusantara tampak bersinar dengan dekorasi tenda putih dan panggung besar yang berdiri di tengah lapangan. Suasana penuh dengan tawa, aroma parfum mahal, dan kebaya-kebaya cantik yang dikenakan para siswi kelas XII. Namun, di balik kemeriahan itu, ada sebuah rencana gelap yang sudah matang sempurna.

Lulu berdiri di depan cermin kamarnya. Ia mengenakan kebaya putih sederhana—kebaya yang dibelikan Ibunya dengan sisa uang belanja bulan lalu. Meski hubungan mereka masih dingin, Ibunya tidak ingin Lulu terlihat menyedihkan di hari kelulusannya. Lulu menatap pantulan dirinya; matanya yang biasanya redup kini bersinar penuh harapan. Ia memegang catatan kecil dari Arlan yang sudah lusuh karena terlalu sering dibaca.

"Hari ini, semuanya akan berakhir," bisik Lulu pada dirinya sendiri. "Semua orang akan tahu kalau aku tidak seperti yang mereka bicarakan."

Pukul 10.00 WIB – Lapangan SMA Nusantara

Lulu duduk di barisan kursi belakang, terpisah dari teman-teman sekelasnya yang masih enggan berbicara dengannya. Ia melihat Arlan di barisan depan, tampak sangat tampan dengan jas hitamnya. Arlan sempat menoleh ke belakang, memberikan anggukan kecil dan senyum tipis yang membuat jantung Lulu berdegup kencang. Lulu merasa itulah kode bahwa "kejutan" itu akan segera datang.

Acara formal berlangsung membosankan bagi kebanyakan orang, namun bagi Lulu, setiap menit terasa seperti selamanya. Sampai akhirnya, tibalah saat pengumuman nilai tertinggi dan sambutan perwakilan siswa.

"Dan sekarang, kami mengundang Arlan Wiraguna ke atas panggung untuk memberikan sepatah dua patah kata sebagai perwakilan angkatan tahun ini," suara pembawa acara menggema.

Tepuk tangan riuh pecah. Reno, Gani, dan Arkan bersiul kencang dari kursi mereka. Arlan naik ke panggung dengan langkah tenang, memegang mikrofon, dan menatap ke seluruh lapangan. Matanya berhenti tepat di mata Lulu.

"Terima kasih," buka Arlan, suaranya terdengar sangat berwibawa. "Kelulusan adalah tentang kebebasan. Tentang melepaskan apa yang tidak lagi berguna bagi masa depan kita. Selama beberapa bulan terakhir, saya melakukan sebuah... eksperimen sosial. Atau mungkin lebih tepatnya, sebuah permainan."

Suasana mendadak hening. Lulu memiringkan kepalanya, bingung dengan arah pembicaraan Arlan.

"Ada banyak orang yang bertanya, kenapa seorang Arlan Wiraguna mau menghabiskan waktu dengan seorang siswi yang... yah, kalian tahu sendiri, sangat berbeda levelnya dengan saya," Arlan tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat asing di telinga Lulu. "Beberapa dari kalian mungkin ingat taruhan tentang angka 60,000 CAD."

Reno berteriak dari bawah panggung, "Bayar, Lan! Gue udah siapin rekening!"

Dunia Lulu seakan berhenti berputar. Taruhan? 60,000 CAD?

"Permainan ini cukup sederhana," lanjut Arlan tanpa beban. "Seberapa mudah mengubah seorang jenius menjadi seorang pemuja? Seberapa cepat menghancurkan masa depan seseorang hanya dengan sedikit perhatian? Dan hari ini, saya ingin menunjukkan hasilnya."

Arlan memberi kode ke operator layar besar di belakang panggung. Seketika, layar itu menampilkan rekaman suara dan tangkapan layar chat-chat pribadi Lulu. Suara Lulu yang menangis meminta maaf, chat Lulu yang memohon-mohon agar Arlan tidak meninggalkannya, bahkan foto Lulu yang tertidur di perpustakaan dengan catatan-catatan yang sudah dicoret-coret Arlan.

"Dia membakar bukunya untuk saya. Dia membohongi orang tuanya untuk saya. Dia bahkan mengabaikan sahabatnya yang pindah sekolah demi saya," Arlan menatap Lulu dengan tatapan paling kejam yang pernah ada. "Lulu, terima kasih sudah menjadi pion yang sangat patuh. Berkat kamu, Reno harus bayar taruhannya hari ini. Dan buat kalian semua... jangan pernah jadi orang bodoh yang mengatasnamakan cinta untuk menghancurkan diri sendiri. Itu menjijikkan."

Seluruh lapangan pecah oleh tawa dan sorakan. Tidak ada rasa kasihan. Yang ada hanyalah tontonan komedi di mana Lulu adalah pemeran utamanya.

Lulu mematung. Kebaya putihnya terasa seperti kain kafan yang membungkus tubuhnya hidup-hidup. Ia melihat sekeliling; guru-guru menunduk malu, siswa-siswa tertawa sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya, dan di sana, di dekat pintu keluar, ia melihat Ayahnya berdiri. Ayahnya yang sengaja datang diam-diam untuk melihat kelulusan anaknya, kini menyaksikan penghinaan paling mengerikan di depan publik.

Lulu tidak menangis. Ia tidak sanggup lagi mengeluarkan air mata. Rasanya seperti seluruh cairan dalam tubuhnya sudah mengering. Ia berdiri dengan kaki yang terasa mati rasa.

"Arlan..." suaranya hilang di tengah hiruk-pikuk tawa.

Arlan turun dari panggung, melewati Lulu seolah-olah Lulu adalah tiang bendera yang tak bernyawa. Ia bahkan tidak menoleh. Ia langsung menghampiri Reno dan mereka melakukan high-five dengan penuh kemenangan.

Lulu berjalan keluar dari barisan kursi. Setiap langkahnya diikuti oleh bisikan "60,000 CAD". Ia sampai di depan Ayahnya. Ayah Lulu tidak marah. Ia justru terlihat sangat hancur. Ayah melepaskan jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Lulu yang gemetar, menutupi kebaya putih yang kini terasa kotor itu.

"Ayo pulang, Nak," bisik Ayah dengan suara serak. "Selesai. Semuanya sudah selesai."

Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Lulu hanya menatap ke luar jendela. Ia melihat kalender di ponselnya. 25 Juni. Tanggal yang ia puja, tanggal yang ia perbaiki dengan isolasi bening, kini telah memberikan jawaban yang sejujurnya.

Ia kehilangan segalanya. Beasiswanya terancam karena nilainya hancur, harga dirinya diinjak-injak di depan umum, dan ia telah mengorbankan orang-orang yang tulus demi seorang monster yang menganggapnya sebagai angka dalam taruhan. Arlan sudah lulus—ia bebas terbang ke universitas ternama dengan uang ayahnya—sementara Lulu tertinggal di sini, di dalam reruntuhan hidupnya sendiri.

Lulu merogoh saku kebayanya, mengambil catatan kecil dari Arlan, lalu merobeknya menjadi serpihan kecil dan membuangnya ke luar jendela mobil yang terbuka. Serpihan kertas itu terbang terbawa angin, hilang seperti impian-impiannya yang kini telah menjadi abu.

1
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!