NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Puing-puing kebohongan

Selena tidak langsung membalas, ia hanya menatap Andreas lama menimbang, bermain dalam diam. “Kalau aku memang sekejam itu,” ucapnya akhirnya, pelan, “kenapa kamu tidak menghentikanku waktu itu?”

Pertanyaan itu jatuh seperti pisau. Andreas membeku, tidak bisa menjawab, tidak ada kata yang keluar dan di situlah letak manipulasinya.

Selena tersenyum tipis. “Kamu selalu tahu banyak hal, Andreas,” lanjutnya lembut, “tapi kamu juga selalu… terlambat.”

Xabiru mengepalkan tangan, suaranya meningkat, “Ayah tidak pernah terlambat!”

“Tidak?” Selena menoleh, tatapannya menusuk. “Lalu di mana dia saat Marsha dibawa pergi?”

Tidak ada jawaban. Karena kenyataannya, Andreas memang tidak ada di sana saat itu.

Xabiru menahan emosi. “Setidaknya Ayah tidak pernah menyakitinya.”

Selena tertawa kecil, hampir terdengar ringan. “Ah… tentu saja.” Ia memiringkan kepala, mata yang tersenyum tipis itu tetap penuh sindiran. “Karena Marsha memang selalu lebih dekat dengan ayahnya, bukan?”

Kalimat itu terdengar ringan. Namun di dalamnya tersembunyi racun halus yang menusuk.

“Sejak kecil,” lanjut Selena, “apapun selalu tentang Ayahnya. Tangisnya tawanya bahkan keberaniannya.” Ia menatap Andreas, menekankan setiap kata dengan ketepatan yang membuatnya seolah benar, padahal manipulatif.

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. “Anak itu terlalu bergantung,” tambah Selena pelan, suaranya seolah merenung. “Dan kamu membiarkannya.”

“Itu bukan kesalahan kamu yang terlau manipulatif,” jawab Andreas singkat.

“Bagi seorang ibu?” Selena mengangkat alis. “Kadang… itu sudah cukup menjadi masalah.”

Suasana kembali menegang. Kali ini lebih gelap, lebih pekat, seperti ada bayangan yang menutup seluruh ruangan.

Selena merapikan tasnya, seolah percakapan itu sudah selesai baginya. “Jika kamu ingin bercerai, silakan,” ucapnya ringan. “Aku tidak akan menahan.” Ia melangkah ke pintu, namun sebelum keluar, berhenti.

“Oh ya…” Suaranya terdengar kembali, lebih pelan. “Kalian boleh terus mencariku sebagai penjahat dalam cerita ini.” Senyum tipisnya hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk menimbulkan keraguan.

“Namun jika suatu hari Marsha kembali…” Ia berhenti sejenak. “Pastikan kalian siap mendengar versi ceritanya.” Pintu tertutup. Dan kali ini, yang tersisa bukan hanya luka. Namun juga keraguan yang perlahan mulai tumbuh, bercampur dengan kebenaran yang selama ini diyakini.

___

Di ruang makan yang hangat, Marsha duduk tegak di kursinya, aroma masakan hangat memenuhi udara. Lampu gantung yang lembut menyoroti wajahnya, membuat senyum tipisnya tampak lebih menenangkan. “Gimana, sayang? Suka dengan makanannya?” tanya Shafira Hanazawa, ibunya, mata lembutnya memantul penuh kasih.

Marsha menatap sepiring makanan di depannya, mengunyah perlahan, lalu mengangguk. “Eumm… enak, Mom. Dan yang paling penting sehat, iya kan, Daddy?”

Erlan Dominic, ayahnya, tersenyum hangat, menepuk punggung putrinya. “Tentu saja, sayang. Semua ini dibuat supaya kamu kuat dan bahagia. Dan tentu saja, biar kamu punya energi untuk masa depanmu.”

Marsha tersenyum, menatap kedua orangtua angkatnya. Mereka berdua adalah dokter ternama, dengan dedikasi tinggi yang membuatnya kagum sejak kecil. Shafira selalu menekankan pentingnya empati dan kesabaran dalam merawat pasien, sementara Erlan mengajarkan ketelitian dan keberanian menghadapi situasi sulit. Dari mereka, Marsha belajar lebih dari sekadar teori medis dia belajar tentang kehidupan, tentang tanggung jawab, dan tentang cinta yang tak bersyarat. “Aku ingin menjadi dokter yang hebat, seperti kalian,” gumamnya pelan, penuh keyakinan. “Supaya aku bisa membantu orang… dan membuat kalian bangga.”

Shafira tersenyum, menatapnya dengan lembut. “Kamu sudah membuat kami bangga, sayang. Setiap langkahmu… setiap pilihanmu… kami selalu ada di sini untukmu.”

Erlan menambahkan, “Dan jangan lupa, kekuatanmu bukan hanya dari ilmu yang kau pelajari. Tapi juga dari hati yang selalu tulus, seperti yang selalu kami lihat dalam dirimu.”

Di sisi lain kota, jauh dari kedamaian ini, kemarahan Selena Ardith meledak di ruang kerjanya sendiri. “Sialan! Dua puluh tahun aku membuangnya dan kamu malah merusak rumah tanggaku! Marsha… seharusnya aku membunuhmu!” teriaknya, suaranya memecah keheningan, mengguncang setiap benda di sekitarnya.

Tangannya mencengkeram tepi meja, jari-jari menegang. Nafasnya tersengal, amarahnya seperti api yang tak terkendali, seluruh dunia seakan berputar di sekitarnya, penuh dendam dan rasa sakit yang ia simpan selama dua dekade.

Namun di meja makan, Marsha menikmati kehangatan yang dulu tak pernah ia rasakan. Dunia yang dipenuhi cinta dan rasa aman dari Erlan Dominic dan Shafira Hanazawa dua orang tua yang tidak hanya memberinya kehidupan, tetapi juga membentuknya menjadi sosok yang tangguh dan penuh kasih.

___

Di sebuah gudang tua di pinggiran Jakarta, Andreas menatap layar monitor yang disodorkan oleh Theodore. Rekaman hitam putih itu buram, namun sangat jelas memperlihatkan kekejaman yang tak terbantahkan.

Dalam video 20 tahun lalu di sebuah sudut sepi di Paris, Selena tampak menggandeng tangan Marsha kecil yang sedang memegang boneka. Selena kemudian berlutut, membisikkan sesuatu, lalu dengan sengaja melepaskan genggaman itu. Saat Marsha lengah melihat sebuah etalase toko, Selena melangkah cepat ke arah mobil yang sudah menunggu, membuang tas kecil berisi paspor dan identitas Marsha ke tempat sampah sebelum menghilang.

"Kau lihat itu, Andreas?" suara Theodore berat, penuh asap cerutu. "Dia tidak kehilangan anak itu. Dia mengeksekusi rencana pembuangan dengan presisi seorang pembunuh."

Andreas memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menegang. Air mata kemarahan menetes. "Dua puluh tahun... dia membiarkanku merasa bersalah karena tidak menjaganya, padahal dia yang membuang darah dagingnya sendiri."

"Sekarang kau punya segalanya," tambah Theodore. "Lokasi panti asuhan itu, nama pengadopsinya, dan bukti kriminal ini. Apa langkahmu?"

"Hancurkan dia," desis Andreas. "Jangan biarkan Selena Ardith memiliki satu sen pun dari harta keluarga ini. Dan setelah itu... aku akan menjemput putriku di London."

Di Ruang Sidang Tertutup

Suasana pengadilan agama di Jakarta terasa sangat mencekam. Selena duduk dengan dagu terangkat, mengenakan gaun desainer hitam, tampak tenang seperti biasanya. Ia yakin Andreas tidak punya bukti apa-apa selain kecurigaan lama.

"Andreas, berhentilah membuang waktu," ucap Selena dingin saat hakim belum masuk. "Gugatan cerai ini konyol. Tanpa aku, koneksi bisnismu akan hancur."

Andreas tidak membalas. Ia hanya memberi kode pada pengacaranya. Saat monitor di ruang sidang menyala dan menampilkan rekaman CCTV dari Paris, wajah Selena yang tadinya pucat karena bedak, kini berubah menjadi seputih kertas.

"Itu... itu rekayasa!" teriak Selena, suaranya melengking pecah.

"Rekayasa?" Andreas berdiri, menatap istrinya dengan kebencian murni. "Dua puluh tahun aku mencarinya ke ujung dunia, Selena. Theodore sudah menemukan panti asuhannya. Dia juga sudah menemukan siapa yang membawanya pergi."

Selena membeku. Nama 'Theodore' dan koneksi mafianya adalah sesuatu yang paling ia takuti. Ia tahu jika Theodore sudah turun tangan, tidak ada rahasia yang aman.

"Hakim," suara Andreas bergema mantap. "Saya tidak hanya menuntut cerai. Saya menuntut pidana atas penelantaran anak dan penghilangan identitas secara sengaja."

Setelah sidang diskors, Selena menyadari posisinya terancam. Ia tidak bisa dipenjara hanya dengan sisa-sisa koneksi dan uang yang ia sembunyikan, ia segera menuju bandara, pikirannya hanya satu Marsha putri u

Jika ia akan hancur, maka Marsha tidak boleh hidup bahagia. Logika Selena sudah patah oleh dendam dan rasa iri. Ia harus sampai di London lebih dulu. Ia harus melenyapkan "bukti hidup" dari kejahatannya sebelum Andreas menemukannya.

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!