NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik terendah

“Dipecat?”

Xavero menatap Adrian dengan penuh ketidakpercayaan. “Salah saya apa, Bos?” tanyanya pelan.

Adrian tidak langsung menjawab. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, terlihat jelas beban di rautnya. “Maafkan saya, Xavero. Saya juga hanya bawahan yang menjalankan perintah,” ucapnya berat.

Xavero mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menahan emosi yang mulai memuncak.

Masalah apa lagi ini… batinnya.

Xavero menunduk sejenak, napasnya tertahan di dada. Rahangnya mengeras, berusaha menahan emosi yang mulai naik perlahan.

“Perintah dari siapa, Bos?” tanyanya akhirnya, suaranya tetap rendah, tapi kini lebih tajam.

Adrian terdiam.

Tatapannya menghindar sesaat, seolah pertanyaan itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya dijawab.

“Xavero…” ucapnya pelan. “Lebih baik kamu tidak tahu.”

Xavero tersenyum tipis, bukan senyum hangat, tapi dingin.

“Kalau sampai saya dipecat tanpa alasan jelas, saya berhak tahu,” balasnya tegas.

Adrian menghela napas panjang. Tangannya mengepal di atas meja, terlihat ragu.

“Ini bukan keputusan saya,” ucapnya lagi, mencoba menegaskan. “Nama kamu… diminta untuk dikeluarkan.”

Hening.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Xavero mengangkat wajahnya perlahan. Matanya kini berbeda, lebih gelap, lebih dalam.

“Diminta… oleh siapa?” ulangnya.

Adrian akhirnya menatapnya.

“Orang besar,” jawabnya singkat. “Orang yang perusahaan ini tidak bisa tolak.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi cukup membuat suasana berubah.

Xavero terdiam. Ia menghembuskan napas pelan, lalu tertawa kecil tanpa suara.

“Baik,” ucapnya akhirnya.

“Terima kasih atas kesempatan selama ini, Bos.”

Adrian menatapnya, ada rasa bersalah yang jelas terlihat.

“Xavero… saya—”

“Tidak apa-apa,” potong Xavero pelan. “Saya mengerti posisi Anda.”

Dengan langkah berat, Xavero meninggalkan gudang. Tatapan para rekan kerjanya mengikutinya, namun tak satu pun dari mereka bisa berbuat apa-apa. Mereka semua hanya bawahan.

“Semoga lo dapat kerjaan yang lebih baik dari ini, Bro." ucap salah satu rekan kerjanya sambil memeluknya erat.

Xavero membalas pelukan itu. “Makasih, Bang. Sehat-sehat, ya, kalian.” ucapnya dengan suara serak.

Setelah berpamitan, Xavero benar-benar meninggalkan gudang itu.

Di dalam, Adrian masih berdiri diam di tempatnya. Tatapannya kosong, pikirannya berat. Xavero bukan sekadar bawahannya, ia sudah menganggapnya seperti saudara sendiri.

“Mungkin di luar sana ada yang lebih cocok buat lo…” gumamnya dalam hati.

°°

“Mau ke mana lo?” tanya Radit saat melihat Xavero berjalan dengan penampilan yang berbeda dari biasanya. “Ini belum pulang jam, woi.”

Xavero menoleh pelan. “Gue dipecat, Dit,” jawabnya lirih.

“Apa?! Lo jangan bercanda!”

Xavero menggeleng. “Gue serius, Dit.”

Radit terdiam, jelas tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Lo buat kesalahan apa?” tanyanya pelan.

Xavero hanya mengangkat bahu. “Gue nggak tahu, Dit. Semua tiba-tiba begitu saja.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Radit langsung memeluk Xavero.

“Gue baru aja mau mulai, Dit… tapi masalah datang lagi,” ucap Xavero dengan suara berat.

Radit menepuk punggung Xavero pelan, mencoba menenangkan sahabatnya.

“Lo gak sendirian, Ve,” ucapnya rendah. “Selama gue masih ada, lo gak akan jatuh sendirian.”

Xavero terdiam. Tangannya mengepal lemah di samping tubuhnya.

“Gue capek, Dit,” gumamnya pelan. “Setiap kali gue mau bangun, selalu ada saja yang narik gue jatuh lagi.”

Radit menghela napas, lalu sedikit menjauh untuk menatap wajah Xavero.

“Gue yakin… semua ini gak terjadi tanpa alasan, Ve. Lo kuat, makanya lo dikasih ujian seberat ini."

"Kalau pikiran lo lagi kacau, coba deh tenangin diri dulu. Dekat sama Tuhan… mungkin itu yang lo butuhin sekarang.”

°°

Xavero berdiri di depan gereja.

Bangunan itu tampak tenang, kontras dengan hatinya yang masih kacau. Beberapa detik ia hanya diam, menatap pintu besar di hadapannya, seolah ragu untuk melangkah.

Namun akhirnya, ia menarik napas panjang, lalu masuk.

Suasana di dalam begitu hening. Cahaya matahari menembus kaca patri, jatuh lembut ke lantai, menciptakan nuansa damai yang perlahan menenangkan.

Xavero berjalan pelan, lalu duduk di salah satu bangku kosong.

Kepalanya menunduk.

Untuk beberapa saat, ia tidak berkata apa-apa.

Hanya diam, mencoba menata pikirannya yang berantakan.

Lalu perlahan, bibirnya bergerak.

“Tuhan…” gumamnya lirih.

Tangannya saling menggenggam erat.

“Aku gak tahu harus mulai dari mana… tapi akhir-akhir ini semuanya terasa berat.”

Napasnya tertahan sejenak.

“Kalau ini ujian… aku mohon, kuatkan aku.”

Matanya terpejam.

“Jangan biarkan aku jatuh terlalu jauh… dan kalau memang ada jalan… tolong tunjukkan.”

Hening kembali menyelimuti.

Namun kali ini berbeda.

Tidak sesesak sebelumnya.

Xavero menghela napas panjang, lalu membuka matanya perlahan.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, hatinya terasa sedikit lebih ringan.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Setelah merasa cukup tenang, Xavero beranjak dari duduknya. Ia meninggalkan gereja dengan hati yang sedikit lebih tenang.

Baru saja ia melangkah ke luar, suara seseorang memanggilnya dari arah belakang.

“Xavero…”

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!