Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Waktu terus berjalan, dan perlahan tapi pasti, kehadiran Alexa mulai mengubah seluruh tatanan di rumah kecil itu. Bukan hanya soal kebersihan atau makanan, tapi lebih kepada bagaimana gadis itu berhasil menyusup ke dalam rutinitas harian Genesis, membuat segalanya terasa lebih ringan dan teratur.
Pagi itu, seperti biasa, Genesis bangun dengan malas. Matahari sudah cukup tinggi menandakan ia hampir terlambat untuk berangkat kerja. Dengan gerakan setengah sadar, ia meraba-raba sisi tempat tidur mencari baju seragamnya yang biasanya ia lempar sembarangan.
Namun tangannya menyentuh sesuatu yang terlipat rapi.
Ia membuka mata, menoleh ke samping. Di sana, baju kemeja kerja dan celananya sudah disiapkan, dilipat dengan sangat rapi di atas bangku kecil. Bahkan kerah bajunya pun sudah disetrika hingga licin, tidak ada satu pun lipatan yang terlihat.
Genesis mengerjap, masih bingung. Ia menoleh ke arah dapur dan melihat sosok Alexa yang sedang sibuk menyiapkan bekal.
“Bangun sekarang, cepetan mandi. Nanti kamu telat lho,” seru Alexa tanpa menoleh, suaranya terdengar ceria di tengah suara air yang mengalir.
Genesis turun dari kasur, memegang baju itu dengan tatapan takjub.
“Lo… lo nyetrika baju gue?” tanyanya kaget. “Lo tau nggak sih setrika itu bahaya? Terus tangan lo halus gitu, cocoknya pegang barang mewah, bukan pegang setrika panas-panas.”
Alexa akhirnya menoleh, tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.
“Kan aku udah bilang, aku enggak manja. Lagian kalau baju kamu rapi gini, kan kamu kelihatan lebih ganteng dan pede pas kerja.”
Genesis mendengus, tapi pipinya tak bisa berbohong, memerah semburat merah muda tipis.
“Sombong amat lo. Gue emang udah ganteng dari sononya, mau baju kusut juga tetep ganteng.”
“Iya-iya, yang paling ganteng sedesa,” canda Alexa tertawa.
“Yaudah sana mandi cepat, sarapan udah siap. Aku juga bikinin bekal buat kamu bawa ke tempat kerja.”
Tangan Genesis berhenti saat mendengar kata ‘bekal’.
“Bekal? Buat apa? Gue kan bisa beli di warung.”
“Makanan di warung kan banyak micin, nanti cepet tua. Lagian lebih hemat kan kalau bawa sendiri,” jawab Alexa santai sambil menyodorkan kotak makan bekal yang sudah ditutup rapat.
“Nanti pas istirahat makan ya, jangan cuma rokok doang.”
Genesis menerima kotak itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menatap gadis di depannya dengan perasaan aneh. Selama ini hidupnya berantakan, serba ada yang kurang, serba terburu-buru. Tapi sejak ada Alexa, rasanya seperti ada tangan ajaib yang merapikan semua kekacauan itu.
“Makasih…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
“Hah? Apa?” Alexa mendekatkan telinga, pura-pura tidak dengar.
“Tadi bilang apa? Gak kedengeran nih.”
Genesis mendengus kesal, memalingkan wajah. “Gak ada! Gue bilang makasih! Puas lo?!”
Alexa tertawa lepas, suaranya renyah dan sangat menular. “Siaaap! Sana mandi! Jangan lama-lama!”
.
.
Siang harinya di tempat kerja, Genesis menjadi pusat perhatian rekan-rekannya. Bukan karena dia berbuat salah, tapi karena penampilannya yang hari ini terlihat sangat berbeda.
“Woy Gen! Lo abis dari mana sih? Wangi-wangi gitu, bajunya rapi pula,” ledek salah satu temannya sambil menyenggol bahunya.
“Biasanya kayak angin lalu, hari ini kok kayak mau ngelamar orang sih?”
Genesis yang sedang duduk di pojok untuk istirahat hanya mendengkus malas. “Emang kenapa? Gue gak boleh rapi apa?”
“Boleh dong, cuma aneh aja. Aneh banget malah,” temannya itu tertawa.
“Terus itu kotak apa? Kotak makan? Walah, sejak kapan lo bawa bekal Gen? Jangan-jangan lo udah punya pacar ya? Yang rapihin baju, yang bikinin bekal?”
Pertanyaan itu membuat jantung Genesis berdegup lebih cepat. Bayangan wajah Alexa langsung muncul di kepalanya. Gadis itu cantik, baik, tapi… ah entahlah, status mereka apa? Dia cuma numpang tinggal, itu saja.
“Banyak bacot lo,” potong Genesis cepat, membuka kotak makannya agar tidak terus-menerus ditanya.
Namun saat ia membuka tutup kotak itu, ia kembali tertegun.
Di dalamnya, nasi dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai wajah kelinci lucu, dengan potongan wortel dan telur dadar sebagai hiasannya. Bahkan saus sambalnya pun ditata rapi tidak tumpah kemana-mana.
Itu terlihat begitu sederhana, tapi begitu penuh usaha dan kasih sayang.
“Wah… ini beneran bekal rumahan? Gila sih, rasanya pasti enak,” komentar temannya yang lain ikut mengintip.
“Siapa yang bikinin Gen? Pasti cewek kan? Cewek mana yang seperhatian itu?”
Genesis tidak menjawab. Ia mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya. Rasanya persis seperti masakan rumah, persis seperti rasa yang ia rindukan. Setiap suapan terasa hangat di perut, dan entah kenapa membuat semangat kerjanya kembali memuncak.
Lo emang aneh, Lex. Tapi… gue suka. batinnya berteriak.
.
.
Sore harinya saat pulang, Genesis membawa sedikit kejutan. Dengan sisa uang yang ia tabung, ia membeli sekantong buah-buahan dan sedikit camilan manis. Ia tidak tahu kenapa ia membelinya, pikirannya hanya berkata bahwa Alexa pasti suka.
Saat membuka pintu rumah, ia melihat pemandangan yang membuatnya langsung berhenti melangkah dan terkekeh pelan.
Alexa sedang berdiri di depan ember besar berisi pakaian kotor. Wajahnya memerah menahan tenaga, lengan bajunya digulung tinggi memperlihatkan kulit putih mulusnya yang kini sedikit basah kuyup terkena air sabun.
Tapi yang paling lucu dan membuat Genesis ingin tertawa adalah cara dia mencuci.
Gadis itu memukul-mukul baju ke papan cuci dengan gaya… kaku dan aneh. Seolah-olah dia sedang marah besar pada baju-baju itu. Padahal dulu, saat menjadi Naura, dia mencuci dengan sangat luwes, tapi kini tubuh Alexa yang muda dan tidak terbiasa bekerja keras mulai protes.
“Aduh… berat banget sih…” keluh Alexa pelan, mengusap keringat di dahi dengan punggung tangannya hingga meninggalkan jejak sabun di pipinya. “Nih baju kenapa bandel banget sih, susah banget bersihinnya…”
Genesis akhirnya tidak bisa menahan tawanya.
“Hahaha! Woi! Nona Manis! Itu cara cucinya bukan dipukul gitu dong! Nanti bajunya sobek lho!”
Alexa tersentak kaget, langsung menoleh dengan wajah panik dan sedikit cemberut.
“Eh, kamu udah pulang?! Jangan ketawa! Ini susah tau! Airnya dingin, sabunnya juga aneh!”
Genesis mendekat, meletakkan tas dan buah belanjaannya. Ia mengambil baju dari tangan Alexa kasar tapi lembut.
“Minggir sana. Gue aja yang cuci. Lihat cara gue, ini bukan perang, tapi teknik.”
Ia mulai menggosok baju dengan gerakan cepat dan mahir. Air mengalir, busa meluncur bersih. Alexa berdiri di sampingnya sambil mengamati dengan mulut sedikit terbuka, matanya berbinar kagum.
“Wah… jago juga ya kamu…” puji Alexa tulus. “Tangan kamu kok kuat banget sih?”
“Ya iyalah, gue laki-laki. Kalau gue lemah gimana mau ngejalanin hidup?” jawab Genesis sombong, tapi senyumnya tak bisa hilang dari wajah.
“Lagian, kasian juga sih liat lo nyiksa baju gitu. Nanti kalau lo sakit gimana? Siapa yang masakin gue?”
Alexa tertawa kecil, ikut membantu membilas baju dengan air bersih. “Iya deh, jagoan. Makasih ya.”
Mereka bekerja berdampingan di halaman kecil itu. Sore yang panas terasa menjadi lebih sejuk karena kebersamaan itu. Tawa mereka mulai lebih sering terdengar, candaan ringan mulai terjalin, dan dinding dingin di antara mereka perlahan runtuh digantikan oleh kehangatan yang nyaman.
Genesis melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya. Wajahnya basah kuyup, rambutnya agak berantakan, tapi bagi Genesis, tidak ada pemandangan yang lebih indah dari ini.
Rasa nyaman itu mulai tumbuh subur. Ikatan itu mulai terbentuk kuat, melebihi sekadar orang asing yang saling membantu. Dan di dasar hati Genesis, sesuatu yang lain mulai bermekaran, sesuatu yang ia sendiri belum sadari bahwa itu berbahaya.
Sesuatu yang disebut cinta.