Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Pesan dan Rahasia yang Mulai Terbuka
Pagi hari, babak utama kedua datang dengan langit yang lebih cerah
Wei Mou Sha duduk di tepi ranjang, masih menggenggam batu biru kehijauan dari Bibi Yao sejak semalam. Ia memeriksa kondisi segel di dalam dirinya.
Lebih stabil.
Retakan itu masih ada, percabangannya juga tidak hilang, tapi tekanan yang kemarin terasa liar kini berubah menjadi denyutan yang lebih teratur.
Ramuan itu bekerja, persis seperti yang dikatakan Lian Zhu Yue.
Ia meletakkan batu itu di meja, lalu keluar.
Langkahnya membawanya ke distrik tengah, ke toko ramuan Bibi Yao.
Toko kecil itu sudah buka meski matahari baru naik sedikit di timur. Aroma yang familiar sudah tercium bahkan sebelum ia masuk.
Bibi Yao berdiri di belakang, mengatur stoples di rak. Ia belum menoleh tapi sudah bicara lebih dulu.
"Apakah tidur mu nyenyak?"
"Lebih nyenyak dari biasanya."
"Bagus." Tangannya tetap sibuk memindahkan stoples. "Duduklah"
Wei Mou Sha duduk di bangku kecil di depan meja kasir dan menunggu.
Beberapa saat kemudian, Bibi Yao selesai, berbalik, lalu menyeka tangannya dengan kain. Matanya yang kecil menatap Wei Mou Sha lebih dalam.
"Kamu bermimpi," katanya.
"Ya."
"Gambarnya?"
Wei Mou Sha menatapnya. "Kamu tahu tentang segel itu."
Sejak awal, Bibi Yao tidak pernah terlihat terkejut. Seolah ia selalu tahu sedikit lebih banyak dari yang ia katakan.
Bibi Yao duduk di kursinya, jemarinya saling bertaut di atas meja. Ia terlihat seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk jujur, tapi masih memilih untuk diam.
"Tidak semuanya," katanya pelan. "Tapi cukup untuk tahu bahwa ramuan semalam bukan hanya untuk menstabilkan qi."
"Lalu untuk apa?"
"Untuk membuka jalur yang terlalu lama tertutup." Tatapannya lurus. "Segel seperti yang ada di dalam dirimu tidak bisa dibuka dari luar. Tapi bisa diingat dari dalam. Dan untuk mengingat… jalurnya perlu dilonggarkan sedikit."
Wei Mou Sha diam dan mulai mencerna.
"Kamu bicara tentang kehidupan sebelumnya."
"Aku bicara tentang apa yang tersegel di dalam dirimu." Bibi Yao tidak mengiyakan, tidak juga menyangkal. "Sisanya… kamu yang akan menemukan jawabannya."
"Kebetulan kamu tahu semua ini?"
Ada sesuatu yang bergerak di sudut mata Bibi Yao. Bukan senyum, lebih seperti pengakuan yang tidak diucapkan.
"Pergilah ke arena," katanya akhirnya. "Pertandingan mu hari ini penting. Bukan karena hasilnya… tapi karena lawanmu."
"Xue Han Ye."
"Ia datang ke Wanhua bukan untuk turnamen," kata Bibi Yao, kali ini lebih serius. "Tapi juga bukan sebagai musuh. Ingat itu."
Wei Mou Sha berdiri.
"Bukan musuh," ulangnya. "Lalu apa?"
Bibi Yao sudah kembali ke raknya.
"Pergi," katanya singkat. "Kamu akan tahu sendiri."
Arena pagi itu lebih ramai dari kemarin, bukan hanya jumlahnya, tapi orang-orangnya.
Wei Mou Sha melihat beberapa wajah baru. Pakaian mereka lebih baik, sikap mereka lebih terukur. Mereka bukan sekadar penonton. Tetapi Perwakilan sekte. Pengamat. Orang-orang yang datang dengan tujuan.
Namanya yang mulai dikenal menarik perhatian yang berbeda.
Wei Mou Sha tetap berjalan tanpa mengubah ritme.
Di area peserta, suasananya juga berubah. Peserta yang tersisa hanya delapan orang. Tidak ada obrolan ringan. Semua menjaga jarak, tenggelam dalam fokus masing-masing.
Wei Mou Sha berdiri di sudut. Mengamati.
Xue Han Ye ada di sisi kanan ruangan.
Duduk tegak, tangan di atas lutut. Tidak santai, tapi juga tidak tegang. Matanya setengah tertutup, tapi jelas tidak lengah.
Xue Han Ye tidak membuka mata. Tapi bibirnya bergerak.
"Kamu sudah mengamatiku sejak masuk."
Wei Mou Sha tidak menyangkal. "Ya."
"Aku juga mengamatimu," kata Xue Han Ye, lalu membuka mata sepenuhnya. Matanya coklat gelap, seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak.
"Aku tahu."
"Kamu melihatku di kisi-kisi area tunggu."
"Ya."
Keheningan terjadi sejenak.
"Kamu tidak bertanya kenapa," kata Xue Han Ye.
"Aku akan tahu di arena."
Ekspresi Xue Han Ye berubah tipis. "Benar, di arena."
Pertandingan pertama bukan milik Wei Mou Sha.
Feng Bai melawan murid Aula Api Sejati, pertarungan yang sudah ditunggu banyak orang.
Wei Mou Sha menonton dari tribun.
Feng Bai menang dalam tujuh menit. Lebih kuat dari sebelumnya.
Di menit keenam, sebuah teknik baru muncul, qi pedang yang dipadukan dengan getaran suara. Lantai arena bergetar dengan frekuensi yang mengganggu konsentrasi lawan. Bukan sesuatu yang bisa dihindari begitu saja.
Wei Mou Sha menyimpan itu. Jika bertemu di semifinal, pendekatannya harus berbeda.
Namanya akhirnya dipanggil.
Ia turun dari tribun. Orang-orang memberi jalan tanpa diminta.
Xue Han Ye sudah menunggu di tengah arena berdiri dengan sikap yang sama seperti sebelumnya.
Di tribun, suara akhirnya mereda.
Instruksi juri akhirnya diberikan. Lonceng berbunyi.
Tidak ada yang bergerak sama sekali. Lima detik. Sepuluh. Lima belas.
Dua orang berdiri di tengah arena dalam diam.
Penonton mulai bingung.
Wei Mou Sha tetap diam karena mengamati. Xue Han Ye tetap diam karena menunggu.
Menunggu apa?
Di detik kedua puluh, Xue Han Ye akhirnya bicara.
"Segel Kekosongan Abadi."
Wei Mou Sha tidak bergerak. Tidak menunjukkan reaksi apapun.
Namun di dalam dadanya, segel itu berdenyut sekali, berbeda dari sebelumnya. Seperti seseorang yang mendengar namanya dipanggil dari kejauhan.
"Kamu tahu nama itu," kata Wei Mou Sha, suaranya tetap datar.
"Aku tahu lebih dari itu." Xue Han Ye akhirnya bergerak, satu langkah maju, hanya satu. "Aku tidak datang untuk menangkap mu. Juga bukan untuk membunuh mu."
"Lalu?"
"Untuk memastikan." Tatapannya lurus. Mata coklat gelap itu kini terlihat lebih dalam, dan ada sesuatu di dalamnya yang belum bisa Wei Mou Sha pahami sepenuhnya. "Dan untuk menyampaikan pesan."
"Dari siapa?"
"Dari seseorang yang sudah menunggu lebih lama dari yang kamu bayangkan."
Di tribun, keheningan mulai pecah menjadi bisikan kebingungan. Ini tidak terlihat seperti pertarungan, ini lebih seperti percakapan.
Wei Mou Sha menilai Xue Han Ye dengan cepat. Tidak ada tanda tipu daya. Tidak ada gerakan tersembunyi. Tidak ada perubahan aliran qi yang menunjukkan serangan akan datang.
Bibi Yao bilang dia bukan musuh.
"Kamu bisa menyampaikan pesan itu di luar arena," kata Wei Mou Sha.
"Bisa." Xue Han Ye mengangguk ringan. "Tapi pesan ini butuh konfirmasi. Dan konfirmasi hanya bisa didapat dengan satu cara."
"Bertarung."
"Bertarung." Xue Han Ye bergerak lebih dulu.
Dan dalam sekejap, Wei Mou Sha mengerti, tubuhnya sendiri adalah senjatanya.
Bukan seperti Lu Tian yang mengandalkan kekuatan fisik. Ini berbeda. Lebih halus dan lebih rumit. Setiap gerakan Xue Han Ye menghasilkan gelombang qi yang terstruktur, seolah seluruh tubuhnya adalah alat, setiap bagian bisa menghasilkan frekuensi yang berbeda.
Serangan pertama bahkan tidak menyentuh secara fisik.
Gelombang qi dari telapak tangannya menyebar, dan datang dari tiga arah sekaligus: depan, atas, dan bawah. Terlalu bersamaan untuk dihindari satu per satu.
Wei Mou Sha membiarkan dua di antaranya mengenainya.
Tidak sakit. Lebih seperti gangguan, fokusnya pecah sejenak, persepsinya bergetar seperti telinga yang berdengung setelah suara keras.
Teknik resonansi.
Ia menenangkan diri dalam dua detik, lalu bergerak maju.
Tiga menit berikutnya tidak terasa seperti pertarungan biasa.
Xue Han Ye tidak benar-benar mencoba melukainya, itu jelas dari caranya menyerang. Ia sedang menguji. Setiap gerakan seperti pertanyaan, menekan dan mencari respons.
Wei Mou Sha menjawab dengan cara paling sederhana, yaitu menghindar, menahan dan sesekali membalas, cukup untuk menunjukkan kemampuan tapi tidak lebih.
Di menit ketiga, Xue Han Ye berhenti.
Ia berdiri dua meter di depan, mengatur napas, lalu menatap Wei Mou Sha.
Ekspresinya berubah. Ia sudah mendapatkan jawabannya.
"Cukup," katanya pelan.
"Kamu sudah mendapat konfirmasimu?"
"Ya."
Xue Han Ye mengangkat tangan dan menyerah.
Lonceng berbunyi.
Tribun menjadi lebih bingung. Pertandingan yang dimulai dengan percakapan, berlanjut dengan tiga menit pertukaran yang terasa seperti bermain, lalu berakhir dengan penyerahan diri tanpa luka.
Pengumuman hasil terdengar sedikit ragu. "Peserta nomor dua belas… menang."
Di koridor menuju area peserta, jauh dari keramaian, Xue Han Ye berjalan di sampingnya.
"Segel itu aktif, Lebih aktif dari laporan terakhir."
"Kamu itu siapa?"
Xue Han Ye tidak langsung menjawab.
Ia mengeluarkan sesuatu, sepotong giok kecil dengan ukiran sangat halus. Polanya asing dan tidak dikenal.
Saat giok itu muncul, segel di dada Wei Mou Sha berdenyut sangat lama.
"Ini bukan dari Ordo Kekosongan," kata Xue Han Ye. "Dan bukan dari sekte mana pun yang kamu kenal."
Wei Mou Sha menatap giok itu. Polanya seolah bergerak saat terkena cahaya atau mungkin hanya terlihat begitu.
"Pesannya?"
Xue Han Ye meletakkan giok itu di telapak tangannya.
"Waktunya semakin dekat," katanya. "Seseorang yang tidak bisa datang sendiri memintaku menyampaikan ini, apa yang ada di dalam segel itu bukan sesuatu yang perlu kamu takuti. Tapi juga bukan sesuatu yang bisa kamu buka sembarangan."
"Siapa dia?"
"Seseorang yang sudah mengawasi mu sebelum kamu lahir." Tatapannya sekali lagi tertuju padanya.
"Bukan Tao Xu Ying. Bukan sekte mana pun. Seseorang dengan tujuan yang berbeda dari semuanya."
Wei Mou Sha menggenggam giok itu.
Segel di dalam dadanya berdenyut lagi, kali ini berbeda.
"Namanya," kata Wei Mou Sha.
"Belum waktunya kamu tau," jawab Xue Han Ye. "Tapi akan tiba."
Ia berbalik dan pergi tanpa terburu-buru.
Wei Mou Sha masih berdiri di koridor itu.
Giok di tangannya terasa berat. Denyutan di dadanya belum berhenti.
Sore hari, setelah semua pertandingan selesai, Wei Mou Sha duduk di atap penginapannya.
Giok itu masih di tangannya. Pola di permukaannya kini terlihat diam… tapi tetap terasa berbeda dari ukiran biasa.
Di papan pengumuman, namanya sudah masuk semifinal, dan lawannya adalah Feng Bai. Di sisi lain, Chen Liang Huo juga menang.
Jika semuanya berjalan sesuai prediksi.
Final. Wei Mou Sha melawan Chen Liang Huo.
Tapi pikirannya tidak di kesana. Seseorang yang sudah mengawasi mu sebelum kamu lahir. Bukan Tao Xu Ying. Bukan sekte mana pun.
Lalu siapa?
Angin malam lewat menggerakkan rambutnya.
Wei Mou Sha menutup tangannya di atas giok itu dan menatap langit yang mulai gelap.
Selalu ada lebih banyak yang tidak ia ketahui. Dulu, itu bukan masalah.
Sekarang, untuk pertama kalinya itu terasa seperti sesuatu yang harus segera ia pecahkan.
Di sisi lain kota, dalam kamar sederhana yang sudah dikosongkan, Xue Han Ye berdiri di depan jendela.
Tugasnya selesai. Konfirmasi didapat. Pesan tersampaikan. Giok sudah berpindah tangan.
Ia seharusnya pergi sekarang.
Tapi ia tetap berdiri di sana lebih lama, menatap ke arah kota.
Wei Mou Sha.
Segel Kekosongan Abadi yang aktif. Qi yang tidak bisa dikategorikan. Cara bertarung yang tidak ada catatannya.
Dan mata itu Kosong. Tapi bukan kosong biasa.
"Semoga berhasil," gumam Xue Han Ye pelan.
Lalu ia mengambil tasnya.
Dan pergi.