Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Hubungan Guru-Murid
Angin bertiup pelan, menggoyangkan dedaunan di atas kepala mereka. Jian Po duduk sambil memegangi lututnya, masih bernapas sedikit terengah-engah setelah duel singkat tadi.
Sementara itu, Cang Li duduk di sampingnya sambil menatap halaman dalam diam.
Namun seperti biasa, Jian Po tidak tahan terlalu lama jika suasana terlalu sunyi.
“Guru,” panggilnya tiba-tiba.
“Hm?”
“Guru pasti akan menang di turnamen nanti, kan?”
Cang Li menoleh sedikit.
Mata anak itu bersinar penuh keyakinan, seolah pertanyaan itu bahkan tidak butuh jawaban.
“Dua bulan lagi turnamennya dimulai di ibu kota,” lanjut Jian Po dengan semangat. “Aku benar-benar ingin melihat Guru mengalahkan semua orang di sana!”
Mendengar itu, Cang Li tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak bertahan lama.
“Jangan terlalu berharap padaku, Jian Po,” katanya pelan. “Aku tidak sekuat yang kau kira.”
Jian Po langsung mengerutkan dahi.
“Itu tidak benar!”
Cang Li meliriknya.
Jian Po menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan penuh keyakinan.
“Guru menyelamatkanku dari empat perampok waktu itu! Guru mengalahkan mereka semua dengan mudah!”
Cang Li menggeleng kecil.
“Mereka hanya pencuri biasa,” jawabnya. “Mereka bahkan tidak punya kekuatan kultivasi.”
Ia lalu menatap tangannya sendiri.
“Turnamen nanti berbeda.”
Nada suaranya terdengar lebih rendah.
“Orang-orang yang akan datang ke sana adalah petarung sungguhan. Mereka bukan lawan yang bisa dihadapi hanya dengan semangat.”
Jian Po menatap wajah gurunya beberapa saat.
Meski belum sepenuhnya mengerti dunia para kultivator, ia cukup paham satu hal—
gurunya sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Namun pada akhirnya, Jian Po tetap tersenyum.
“Kalau begitu, Guru tinggal menjadi lebih kuat lagi.”
Kalimat polos itu membuat Cang Li sedikit terdiam.
Sesederhana itu cara anak kecil memandang dunia.
Dan anehnya... justru karena sederhana, kalimat itu terasa menancap lebih dalam.
Tak lama kemudian, Jian Po berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya.
“Aku harus pulang sebelum Ibu mencariku!” katanya sambil mengangkat tongkat kayunya lagi. “Besok aku datang latihan lagi, Guru!”
Cang Li mengangguk pelan.
“Hati-hati di jalan.”
Jian Po lalu melambaikan tangan dengan ceria sebelum berlari meninggalkan halaman.
Cang Li memperhatikannya sampai sosok kecil itu menghilang dari pandangan.
Lalu halaman kembali sunyi.
Namun kali ini, sunyi itu terasa lebih berat.
Karena setelah Jian Po pergi, tidak ada lagi suara lain yang bisa mengalihkan pikirannya dari kenyataan.
Malam pun tiba.
Langit di atas Desa Jianxin dipenuhi cahaya bintang, sementara rembulan menggantung tenang di antara awan tipis. Dari dalam kamar kecilnya, Cang Li duduk sendirian di tepi tempat tidur sambil menatap kedua tangannya.
Jemarinya sedikit gemetar.
Bukan karena takut.
Melainkan karena frustrasi yang selama ini terus ia tekan.
Ia teringat kembali pada hari di bukit itu.
Pada pria berjubah hitam yang bergerak jauh lebih cepat darinya.
Pada rasa tidak berdaya ketika pedangnya ditahan hanya dengan dua jari.
Pada kalung yang direnggut dari lehernya begitu saja.
Dan pada kenyataan pahit bahwa ia bahkan tidak mampu mempertahankan satu-satunya benda yang paling berarti baginya.
Tangan Cang Li perlahan mengepal.
Namun sebelum pikirannya tenggelam lebih jauh, pintu kamarnya terdengar diketuk pelan.
“Cang Li,” suara Ye Ruoxi terdengar dari luar. “Bibi masuk, ya.”
Pintu terbuka perlahan.
Ye Ruoxi melangkah masuk dengan wajah lembut, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia datang bukan hanya untuk berbincang ringan.
Cang Li segera menegakkan duduknya.
“Ada apa, Bibi?”
Ye Ruoxi duduk di kursi kayu dekat tempat tidur, lalu menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.
“Cang Li,” katanya pelan, “apakah kau benar-benar ingin menjadi lebih kuat?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tetapi entah kenapa, dada Cang Li terasa sedikit sesak saat mendengarnya.
Ia menatap bibinya sejenak sebelum akhirnya menjawab,
“Tentu saja.”
Suaranya rendah, tetapi jelas.
“Aku tidak ingin menjadi beban lagi bagi siapa pun.”
Ye Ruoxi memandangnya dalam diam.
Ia tahu kalimat itu bukan sekadar jawaban.
Itu adalah luka yang selama ini disimpan Cang Li sendirian.
Melihat keheningan itu, Cang Li kembali berkata,
“Aku sudah terlalu sering kalah, Bibi.”
Tatapannya menurun ke arah tangannya sendiri.
“Aku kalah melindungi orang-orang di akademi. Aku kalah menjaga kalung itu. Dan aku bahkan tidak tahu siapa sebenarnya orang-orang yang selama ini bergerak di sekelilingku.”
Suaranya terdengar lebih berat.
“Kalau aku tetap seperti sekarang... aku tidak akan bisa melakukan apa-apa.”
Mata Ye Ruoxi sedikit bergetar.
Namun ia segera menenangkan dirinya sebelum berbicara.
“Ye Chen meninggalkan sebuah pesan untukmu.”
Mata Cang Li langsung terangkat.
“Paman?”
Ye Ruoxi mengangguk.
“Dia sudah menyiapkan seseorang untukmu. Teman dekatnya. Namanya Ling.”
Cang Li terdiam.
“Dia adalah seorang pendekar pedang yang sangat kuat,” lanjut Ye Ruoxi. “Kalau kau benar-benar ingin melampaui batasmu, maka dia adalah orang yang bisa membantumu.”
Untuk beberapa saat, Cang Li hanya duduk diam sambil mencerna kata-kata itu.
Nama Ye Chen saja sudah cukup untuk membuat hatinya bergetar.
Apalagi jika itu berkaitan dengan jalan menuju kekuatan.
Di kepalanya, bayangan demi bayangan mulai bermunculan.
Kekalahannya dari pria berjubah hitam.
Tatapan merendahkan Zuo Cangtian.
Turnamen dua bulan lagi.
Dan kalung yang harus ia rebut kembali.
Semua itu seolah mendorong satu jawaban yang sama ke dalam hatinya.
Ia membutuhkan kekuatan.
Bukan kekuatan setengah-setengah.
Bukan kekuatan yang hanya cukup untuk bertahan.
Tetapi kekuatan yang benar-benar bisa mengubah nasibnya.
Cang Li mengangkat wajahnya dan menatap Ye Ruoxi dengan mantap.
“Aku mau.”
Nada suaranya kali ini jauh lebih tegas.
“Aku akan pergi.”
Wajah Ye Ruoxi perlahan melunak, dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum lega muncul di wajahnya.
“Kalau begitu, bersiaplah,” katanya lembut. “Besok pagi kau harus berangkat ke Desa Sura.”
“Di sanakah Ling menungguku?”
Ye Ruoxi mengangguk.
“Ya. Dan mulai besok... hidupmu mungkin akan jauh lebih berat dari sebelumnya.”
Anehnya, kalimat itu justru membuat dada Cang Li terasa lebih ringan.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa sedang benar-benar melangkah menuju sesuatu.
Bukan lagi sekadar bertahan.
Bukan lagi sekadar menyesali masa lalu.
Melainkan bergerak maju.
Setelah Ye Ruoxi keluar dari kamarnya, Cang Li tetap duduk di tempatnya untuk beberapa saat.
Cahaya bulan yang masuk dari jendela jatuh lembut ke lantai kayu, membentuk bayangan panjang di dalam kamar yang sunyi.
Ia menatap langit malam dari balik jendela.
Lalu perlahan, jemarinya mengepal lebih erat.
Besok pagi, ia akan meninggalkan desa untuk memulai latihan baru.
Dan jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal dengan sangat jelas—
perjalanan untuk menemukan kebenaran tentang Yel Feng, merebut kembali apa yang hilang, dan menjadi cukup kuat untuk menghadapi masa depan...
akhirnya benar-benar dimulai.
End Chapter 20