NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Malam Dingin

Arvin menarik diamnya segera.

Ketika hendak berlalu meninggalkan area ruang makan, sudut matanya menangkap ada sebuah mangkuk mengeluarkan uap di meja makan sana.

Sesaat, Arvin mengulir mata ke arah tempat Ayu menghilang. Lalu dia mulai melangkah tidak segan mendekati mangkuk itu.

Begitu melihat isi mangkuk, selera makannya melonjak meningkat. Lehernya menelan-nelan.

Di dalam mangkuk itu ada sup jamur, salah satu makanan kesukaan Arvin. Berwarna krem keemasan, dihiasi irisan jamur tipis dan taburan daun parsley.

Supnya berhasil dihidangkan secara berkelas seperti hidangan restoran.

Dia berfikir sejenak.

“Dia pasti nanya ke Alden lagi,” tebaknya pelan.

Dia lalu meraih sendok sup yang sudah berbaring siap di dekat mangkuk itu.

Kepala sendok mengais sup, terangkat, dan Arvin mencicipinya. Menyesap dan terdiam sebentar.

Brak!

Arvin memukul meja.

“Kenapa enak?” gumamnya, tak percaya.

Sementara itu, Ayu di seberang ruangan sana keluar dari kamarnya. Mengetahui itu, Arvin cepat-cepat ambil tempat dimana awal tadi ia berdiri menceramahi Ayu.

Dia baru akan mendatangi Ayu tapi terhenti karena mendapati wanita itu berbelok arah.

Ayu berjalan menuju pintu keluar, membuka pintu lalu melangkah melewatinya.

Alis Arvin mengerut, bertanya-tanya Ayu mau pergi kemana? Apalagi cuaca di luar sedang kurang bagus.

“Sudahlah biarkan saja,” gumam Arvin, duduk, kembali menyantap sup buatan Ayu.

Cuaca di luar memang sedang tidak terlalu bagus. Angin berhembus santai namun dinginnya cukup menyubit. Langit mendung kelam tapi yang jatuh hujan rintik-rintik.

Di dalam bus yang berkecepatan sedang, Ayu duduk menyamping, menghadap luar jendela. Bola matanya masih merah dan layu, membiarkan deretan silau cahaya kota bergantian menerpa wajah kecilnya sebelum akhirnya berlarian ke belakang.

Dia tidak tahu kali ini mau mengadu ke siapa, tapi yang jelas dia tahu bus ini akan melintasi wilayah mana.

Taman kota.

Di sana, Ayu bisa menghilangkan diri untuk sejenak, meredam gejolak badai kecewa dan pedih di hatinya, yang juga terasa memalukan.

“Aku terlalu b o d oh jadi manusia!” rutuknya.

Lantas, ingatan bersama Arvin di ruang makan tadi tiba-tiba terlintas kembali.

Air mata beningnya pecah lagi.

Ayu segera menghapus tangis dan sedihnya tapi tak bisa. Tersendat-sendat. Bernapas pun jadi kesusahan.

Isakan tangis Ayu sampai mengganggu kenyamanan ibu-ibu yang duduk di depan kursinya.

Ya mau bagaimana lagi. Ayu sejak awal bukannya tidak punya firasat curiga atau aneh kepada Arvin, hanya saja dia memang sengaja mengubur kecurigaannya tanpa ia sadari.

Itu semua karena harapannya kepada Arvin terlalu tinggi serta membutakan, sehingga membuatnya malas berfikir yang macam-macam.

Dan sekarang, Ayu menanggung resikonya.

Ketika bis angkutan umum menepi di halte area taman kota, Ayu segera turun. Gerakannya lemas.

Ayu kemudian melangkah pelan menuju tujuannya. Dia melintas lurus di area trotoar yang sedang sepi, hanya ditemani hujan rintik-rintik dan ingin malam yang mengganggu.

Ayu terus berjalan sambil memeluk tubuhnya sendiri erat-erat karena ia keluar lupa mengenakan pakaian hangat.

Sepanjang berjalan, tatapannya kembali kosong. Pikirannya kemana-mana.

‘Kalaupun aku malam ini lenyap, pak Arvin tidak mungkin juga kepikiran untuk mencariku.’

Ayu masih sibuk meladeni kata-kata di kepalanya, sementara kakinya sudah sampai di area penyeberangan jalan.

Taman kota ada di seberang jalan sana.

Namun, dia tidak sadar dengan langkahnya sendiri. Alhasil, Ayu melangkah terus tanpa tahu lampu lalu lintas penyeberang jalan masih merah.

Ayu berpijak di zebra cross, cukup jauh dari tepi jalan, dan ini posisi berbahaya.

Sebuah mobil datang melesat dari arah samping, diikuti suara klakson.

Tiit!

Ayu tersadar tapi mobil itu sudah terlalu dekat.

Lampu depan mobil itu menyilaukan Ayu.

“AAAHHH!”

Wus!

Seseorang tiba-tiba menyentak tubuh Ayu, menyeretnya cepat ke belakang.

Bruk!

Ayu dan pria yang menariknya sama-sama jatuh tersungkur ke belakang tepi jalan. Lolos dari maut.

Ayu yang menjadi gemetar dan sempat membeku pun bersusah payah berdiri lagi.

“Kamu tidak apa-apa?” Pria yang tadi tiba-tiba menolong datang membantu, memegangi lengan Ayu.

“Aku tidak apa-apa. Maaf saya tadi … Mas Raka!?” 

“Ayu!?”

Ayu dan Raka saling menukar tatapan heran sambil meredam keterkejutan di tengah pertemuan membahayakan ini.

Untuk sesaat, mereka sama-sama diam dan bertanya-tanya, sebelum akhirnya Raka bertanya duluan.

“Kamu kenapa nyebrang jalan sembarang begitu?” tegur Raka. 

Tangan pria itu menjulur, meraba dua sisi lengan Ayu, memeriksa apakah ada yang terluka dan perlu ditangani.

“Aku tadi melamun sampai lupa untuk hati-hati. Niatnya mau ke taman kota sana,” jelas Ayu, suaranya jelas masih gemetar karena masih syok.

“Tapi kamu enggak apa-apa, kan? Apa ada yang luka? Ayo kita ke dokter!” cecar Raka, jadi panik sendiri lalu menarik pergelangan tangan Ayu

Ayu melepaskan pelan.

“Aku enggak apa-apa. Cuma kaget.”

Raka menghela napas. “Syukurlah kalau enggak apa-apa.”

“Makasih ya Mas Raka. Udah nyelamatin aku.”

“Sama-sama. Apa masih niat mau ke taman sama. Aku bisa nemenin.”

Ayu menggeleng pelan.

“Oke.” 

Fokus Raka lalu teralihkan kepada wajah Ayu yang nampak seperti orang yang baru selesai menangis hebat. Apalagi merahnya bola mata Ayu belum kunjung hilang.

Ayu menunduk. Sadar dengan tatapan menelisik Raka, dia pun malu menunjukkannya.

Raka mengulas senyum. “Kalau gitu, gimana kalau nemenin aku nikmatin minuman hangat sebentar. Di sini dingin.”

Dan tawaran ini, Ayu bersedia ikut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!