Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 - Erlangga dan trik-nya
Sesampainya di basement apartemen Pandji, Aga memarkir mobilnya tanpa banyak pikir. Ia langsung keluar dan melangkah cepat menuju lift. Detak jantungnya terasa tak tenang, berisik di dadanya sendiri.
Lift berhenti. Ia keluar tanpa menunggu lama.
Jarinya menekan kode pintu yang sudah di luar kepala. Bunyi klik pelan terdengar, lalu pintu terbuka perlahan.
Sunyi.
Lampu ruang tamu menyala redup, menyisakan bayangan panjang di lantai. Namun keheningan itu tidak benar-benar kosong—dari arah kamar tamu, terdengar suara lirih yang tertahan.
Tangis.
Langkah Aga terhenti sepersekian detik.
Dadanya terasa berat.
Ia melepas jasnya dan meletakkannya sembarangan, lalu berjalan pelan menuju sumber suara itu. Pintu kamar tamu tidak tertutup rapat.
Aga berhenti di ambang pintu, tidak langsung masuk.
Ia hanya berdiri, menatap Gwen yang masih menangis pelan. Beberapa detik berlalu dalam diam.
Ia menarik napas pelan, lalu melangkah masuk.
“Baby…”
Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan.
Gwen tersentak. Ia buru-buru menghapus air matanya, meski napasnya masih bergetar. Saat menoleh, matanya langsung bertemu Aga.
“Aga…? Kok kamu di sini?” suaranya parau.
Aga masuk pelan dan duduk di sampingnya. Ia tidak langsung memeluk, hanya menyentuh punggung Gwen dengan lembut, mengusap naik-turun perlahan.
“Pandji menelepon,” jawab Aga singkat. Tangannya terangkat, menghapus sisa air mata di pipi Gwen dengan gerakan pelan. “Dia khawatir. Dan aku… aku nggak bisa diam kalau kamu lagi kayak gini.”
Gwen meremas ujung dress kuningnya yang kusut. Jemarinya sedikit memucat.
“Aku berantem sama Ibu,” katanya pelan, suaranya masih bergetar. “Lagi. Tapi kali ini… parah, Ga. Aku… aku keluar dari rumah.”
Ia menarik napas, tapi terasa berat.
“Aku nggak tahu harus ngapain. Aku cuma… aku capek pura-pura kuat.”
Aga diam sejenak, matanya lembut menatap Gwen. Tangan yang tadi menghapus air mata kini berpindah ke punggungnya, mengusap pelan dengan gerakan menenangkan.
“Pasti berat banget buat kamu,” ucapnya pelan. “Tapi seberat apa pun itu, ingat ya… sekarang kamu punya aku. Bagi bebanmu denganku, biar lebih ringan. Mungkin aku nggak bisa selesaikan semuanya, tapi setidaknya aku bisa kasih pelukan yang hangat.”
Gwen menunduk lagi, air matanya jatuh ke bantal. "Maaf… aku bikin repot. Harusnya aku sendiri saja malam ini."
"Bukan repot," balas Aga cepat. "Aku justru senang bisa nemuin kamu malam ini. Meski aku lebih suka kalau kamu tersenyum, bukan menangis."
Ia memberanikan diri memeluk Gwen pelan. Gwen tidak menolak, bersandar di dada Aga. Aroma parfum yang familiar membuatnya merasa jauh lebih aman. Isakannya perlahan reda, napasnya mulai teratur.
"Malam ini aku temani kamu ya," bisik Aga sambil mengusap rambut Gwen. "Kamu tidur, aku jagain."
Gwen menggeleng pelan. "Nggak usah. Kamu tidur di kamar Pandji saja, Ga. Dia kan lagi di Jakarta."
Aga melongo. Matanya melebar, mulutnya sedikit terbuka. "Hah?" Ia menatap Gwen tidak percaya. "Kamu… mau aku pindah?"
Gwen mengangguk pelan, meski matanya tidak sepenuhnya meyakinkan. "Lebih nyaman di sana. Kasur lebih besar."
Tapi sebelum Gwen sempat menambah alasan lain, Aga sudah naik ke ranjang dengan cepat. Pria itu bergelung di sampingnya, menempelkan tubuhnya sekuat tenaga seolah tak mau dilepas.
"Aga!"
"Kamar ini nyaman ya," ucapnya mengalihkan pembicaraan, matanya berbinar puas. "Aku udah berkali-kali main tapi belum pernah masuk kesini."
"Keluar." Gwen memotong, suaranya datar. "Sekarang."
Aga mengangkat kepala perlahan. Matanya yang tadi berbinar-binar mencari celah, kini berusaha tampak serius. Ia duduk, menurunkan kaki ke lantai, dan menatap Gwen dengan ekspresi penuh arti.
"Gwen," ucapnya pelan, hampir berbisik. "Apa kamu tahu… kamar ini ada hantunya."
Gwen mengangkat sebelah alis. "Hantu?"
"Iya." Aga mengangguk penuh semangat, mencoba membuat suaranya terdengar seram. "Sering muncul tengah malam. Katanya suka ganggu orang yang tidur sendirian."
Gwen diam. Ia menatap Aga dengan tatapan datar, namun di balik ketenangan itu, sesuatu bergerak liar di dalam dada—bukan ketakutan pada hantu, tapi pada sesuatu yang jauh lebih nyata, lebih berbahaya, lebih menggoda.
Lebih baik tidur dengan hantu daripada dengan Aga.
Kalimat itu muncul begitu saja, membawa serta banjir kenangan yang ia coba kubur dalam-dalam. Terakhir kali mereka tidur satu kamar—bukan di sini, tapi di cabin yang lebih kecil, lebih tertutup, lebih panas—tubuhnya penuh tanda keesokan paginya.
Bukan sekadar tanda. Itu adalah peta kepemilikan yang digambar Aga dengan bibir dan gigi di setiap inci kulitnya yang tersembunyi.
Kenangan itu datang tanpa permisi, begitu gamblang hingga Gwen hampir bisa merasakan sentuhan itu lagi: bagaimana Aga mendorongnya ke ranjang dengan lembut namun tak terbantahkan, bagaimana suhu ruangan yang seharusnya dingin malah terasa membara, dan bagaimana Aga menciumi leher dan bahunya dengan terlalu rakus—hampir seperti hewan lapar yang menemukan makanan setelah berpuasa berminggu-minggu. Setiap sentuhan bibirnya meninggalkan jejak merah keunguan yang dalam, tanda-tanda posesif yang sulit disembunyikan di balik kemeja berkerah tinggi keesokan harinya.
Gwen masih ingat bagaimana ia berdiri di depan cermin pagi itu, mata lebam karena kurang tidur, namun pipinya merona karena malu. Lehernya penuh dengan kiss marks —bukan satu atau dua, tapi belasan—seolah Aga sengaja memastikan dunia tahu siapa yang telah menyentuhnya. Bahkan saat ia mencoba menutupi dengan bedak, bekas-bekas itu tetap menonjol, berteriak tentang malam yang panas dan dosa yang lezat.
Dan sekarang, di kamar ini, dengan Aga yang duduk begitu dekat di tepi ranjangnya, Gwen bisa merasakan panas yang sama mulai menjalar—dari leher yang dulu dicium, ke pipi yang kini memanas, ke seluruh tubuh yang berusaha keras menolak mengingat.
Pipinya terasa panas. Sangat panas.
"Oh ya? Aku nggak takut," ucap Gwen datar, suaranya terlalu cepat, terlalu tajam. Ia menyilangkan tangan di dada, membangun benteng antara dirinya dan lelaki itu. Tatapannya tetap tenang, tapi jantungnya berdetak liar—bukan karena hantu, tapi karena manusia di depannya yang jauh lebih mampu merusaknya. "Menurutku, manusia jauh lebih mengerikan daripada hantu itu sendiri."
Aga mengangkat sebelah alis, senyumnya melebar penuh arti. Ia berdiri, mendekati Gwen dengan langkah pelan namun pasti—seperti predator yang tahu persis mangsanya sudah terpojok.
"Manusia seperti apa?" tanyanya, suaranya turun satu oktaf, berat dengan makna yang Gwen pahami terlalu baik.
Gwen menegang. Ia tahu Aga sedang bermain. Tangan lelaki itu berhenti di sampingnya, jari-jari panjang itu hampir menyentuh lengan Gwen namun sengaja dibiarkan melayang, menciptakan jarak yang menyiksa—begitu dekat hingga ia bisa merasakan panas tubuhnya, namun tetap menggantung, membuat Gwen merindukan sentuhan yang seharusnya ia takutkan.
Seperti kamu.
Kata-kata itu bergema di kepala Gwen, tapi ia menahannya di bibir. Sebaliknya, ia mundur selangkah, menciptakan jarak yang sia-sia karena Aga langsung menyusul.
"Baby, kamu kenapa?" tanya Aga dengan nada menggoda, matanya menelusuri garis rahang Gwen turun ke lehernya—ke tempat yang sama persis di mana ia biasanya meninggalkan tanda. "Hayo lagi mikirin yang jorok ya?"
Gwen langsung melotot, wajahnya semakin memanas—bukan hanya karena malu, tapi karena Aga benar. Ia memang sedang memikirkan "yang jorok". Ia sedang memikirkan bagaimana bibir itu terasa di kulitnya, bagaimana tangan itu menahan pinggangnya terlalu erat, bagaimana setiap "takut" dan "jangan" yang ia ucapkan malah membuat Aga semakin rakus.
"Apaan sih!" serunya, suaranya terlalu tinggi, terlalu defensif.
Tanpa banyak bicara lagi, ia mendorong tubuh Aga dengan kedua tangan, berusaha mengusirnya keluar dari ranjang—keluar dari kamar—keluar dari jangkauan yang membuatnya ingin menyerah.
"Tidur ga!" bentaknya kesal. "Keluar sekarang!"
Aga tertawa kecil sambil berusaha menahan dorongan Gwen, tapi kali ini Gwen mendorong lebih kuat dan konsisten. Ia harus mengusirnya. Sekarang. Sebelum kenangan tentang kiss marks itu berubah menjadi keinginan untuk menciptakan yang baru.
"Ayo keluar! Serius, Aga!"
Aga tertawa kecil, tapi kali ini ia tidak melawan terlalu lama. Saat Gwen mendorongnya hingga hampir jatuh dari ranjang, ia tiba-tiba membungkuk cepat.
Dalam sekejap, bibirnya mendarat lembut di bibir Gwen—sebuah kecupan singkat, hangat, dan nakal.
Gwen tersentak, matanya melebar.
Bukan di leher. Bukan di bahu. Kali ini di bibir—terbuka, terlalu berbahaya, terlalu mudah untuk diperdalam.
Sebelum Gwen sempat bereaksi atau memukulnya, Aga sudah melompat turun dari ranjang dengan lincah. Ia berjalan mundur cepat sambil tersenyum lebar, tangannya terangkat seperti menyerah.
"Selamat malam, Baby," katanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Dalam hitungan detik, ia sudah membuka pintu kamar tamu dan kabur keluar. Bunyi klik pintu yang ditutup pelan terdengar dari belakangnya.
Ruangan langsung sunyi.
Gwen masih terdiam di tempat, tangannya terangkat setengah jalan seolah ingin memukul, tapi sekarang hanya menggantung di udara. Pipinya terasa semakin panas, kali ini bukan hanya karena malu mengingat kiss marks di leher, tapi juga karena kecupan tadi yang tiba-tiba—yang terlalu singkat, terlalu ringan, terlalu tidak cukup.
Ia menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jari, ekspresi antara kesal, kaget, dan… entah apa lagi. Sesuatu yang berdegup liar di dada, sesuatu yang ingin mengejar Aga dan menuntut lebih.
"Dasar Aga…" gumamnya pelan, suaranya setengah kesal setengah menggerutu.
Tapi kali ini, ketika Gwen menarik selimut kasar sampai menutupi seluruh tubuhnya, memeluk bantal erat, dan memejamkan mata kuat-kuat—ia tidak berusaha melupakan kiss marks di lehernya.
Ia berusaha melupakan kecupan di bibirnya yang terasa terlalu sebentar, terlalu tipis, terlalu seperti janji yang belum ditepati.
Dan untuk pertama kalinya, Gwen bertanya-tanya: mungkin, hanya mungkin, tidur dengan hantu memang lebih aman. Tapi tidur dengan Aga—meski berbahaya, meski merusak, meski meninggalkan tanda yang tak terhapus—jauh lebih membuatnya merasa hidup.
Hatinya berdegup lebih cepat dari biasanya, dan kali ini, ia tidak berusaha mengabaikannya.
...__KejarTenggat__...
Tiga puluh menit kemudian.
Aga berdiri shirtless hanya memakai celana kargo pendek milik Pandji. Untungnya tinggi mereka hampir sama, meski Aga sedikit lebih tinggi. Handuk kecil masih melingkar di lehernya, rambutnya masih agak basah.
Ia melipat tangan di depan dada, wajahnya mendongak ke atas sambil memerhatikan AC yang bekerja dengan sempurna tanpa suara berisik sedikit pun. Handuk kecil masih menggantung di lehernya.
“Gimana caranya bikin AC rusak?” gumamnya pelan. Jemarinya mengetuk pada lengannya, berpikir.
Alasan pertama tentang Hantu jelas sudah gugur.
Alasan kedua mimpi sambil berjalan juga tidak akan mungkin.
Alasan AC rusak dan cuaca panas adalah satu - satunya jalan agar dia diperbolehkan masuk dan tidur di kamar yang sama dengan Gwen. Jadi dia bergerak, memindahkan kursi untuk naik mencari steker. Mengumpat beberapa kali ketika tak menemukan colokan itu beberapa menit kemudian dia hampir berteriak ketika matanya mengangkap colokan yang tersembunyi, tertutup kotak tak kasat mata kalau diperhatikan dengan baik.
Dengan satu gerakan bersemangat, akhirnya sambungan listrik ke AC telah terputus. Dia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan handuk setelah turun dari kursi. Ini bagus, dibalik perjuangan keras akan ada hasil yang memuaskan. Senyum mesum Aga langsung tergambar di bibirnya.
Yakin bahwa Gwen masih sibuk di kamarnya, dengan langkah lebar - lebar, pria itu menuju ruang tamu, mengeset AC ke suhu panas, lalu memukulkan remotenya beberapa kali hingga tidak lagi berfungsi. Ini sempurna.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
kalau "kita" berarti yang diajak berbicara ikut terlibat....