Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Persahabatan dengan Baek Ho
Matahari mulai condong ke barat saat pertandingan babak pertama selesai. Dari tiga puluh dua peserta, hanya enam belas yang tersisa. Seol adalah salah satunya. Cheonmyeong juga. Seol Hwa, Kang Jin, dan beberapa nama besar lainnya juga melaju.
Area istirahat peserta sekarang lebih sepi. Hanya mereka yang lolos yang masih berada di sini, sebagian besar duduk di bangku-bangku batu dengan wajah lelah atau termenung mempersiapkan diri untuk babak berikutnya.
Seol duduk di sudut, pedang Seol Hwa tersandang di pangkuannya, matanya terpejam. Ia tidak sedang berlatih. Ia hanya menikmati keheningan sejenak sebelum badai berikutnya datang.
“HEY!”
Suara itu memecah keheningan seperti batu yang dilempar ke kolam tenang.
Seol membuka matanya. Di depannya, Baek Ho dari Sekte Tulang Besi berdiri dengan senyum lebar, tangan kanannya masih terbalut perban dari luka yang Seol buat, tetapi ekspresinya tidak menunjukkan rasa sakit sama sekali. Malah, ia tampak seperti anak kecil yang baru saja menemukan teman baru.
“Kau di sini!” serunya, suaranya bergema di seluruh area istirahat. Beberapa peserta lain menoleh dengan ekspresi kesal, tetapi Baek Ho tidak peduli. “Aku mencari ke mana-mana! Ternyata kau di sudut sini, bersembunyi!”
Seol tidak bisa menahan senyum kecil. “Aku tidak bersembunyi. Aku istirahat.”
“Istirahat? Apa yang kau istirahatkan? Tubuhmu? Kau tidak terluka sama sekali dalam pertarungan kita! Aku yang terluka!” Baek Ho mengangkat tangannya yang terbalut, tetapi senyumnya tidak berubah. “Tapi itu luar biasa! Aku belum pernah kalah seperti itu sebelumnya! Biasanya aku dikalahkan karena lawan lebih kuat secara fisik. Tapi kau… kau mengalahkanku dengan kecepatan dan teknik! Itu… itu luar biasa!”
Ia duduk di samping Seol tanpa diundang, tubuh besarnya membuat bangku batu itu berderit. Seol bergeser sedikit untuk memberi ruang, tetapi tetap tidak ada cukup tempat.
“Jadi,” kata Baek Ho, matanya berbinar, “ceritakan tentang teknik itu! Pedang Bayangan, kan? Aku mendengar namanya dari senior-senior di sekteku. Mereka bilang itu teknik yang sudah hilang. Bagaimana kau bisa menguasainya? Siapa gurumu? Sudah berapa lama kau berlatih?”
Seol tersenyum. Pemuda ini tidak bisa diam. Tapi ada sesuatu yang menular dari semangatnya—sesuatu yang membuat Seol tidak merasa terganggu.
“Itu rahasia,” kata Seol.
“Rahasia? Ah, benar. Semua pendekar punya rahasia.” Baek Ho mengangguk dengan serius. “Tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa. Tapi setidaknya ceritakan tentang dirimu! Dari mana asalmu? Berapa lama kau belajar di Sekte Pedang Surgawi? Apa makanan favoritmu?”
Seol tertawa. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia benar-benar tertawa.
“Kau selalu sebersemangat ini?”
“Selalu!” Baek Ho mengangkat tinjunya ke udara. “Hidup ini singkat! Kenapa harus murung? Lebih baik tertawa dan berjuang!”
Ia merogoh saku jubahnya yang besar dan mengeluarkan sesuatu—sebotol kecil minuman keras. Bukan botol besar, tetapi cukup untuk dua orang.
“Ini,” katanya, menyerahkan botol itu pada Seol. “Rasakan. Ini minuman khas sekteku. Dijamin hangatkan tubuhmu!”
Seol menerima botol itu dengan ragu. “Kita tidak boleh minum sebelum pertandingan.”
“Pertandingan besok! Hari ini kita istirahat! Dan satu teguk kecil tidak akan memengaruhi apa pun!” Baek Ho sudah membuka botolnya sendiri—ternyata ia punya satu lagi—dan meneguknya dengan puas. “Ah! Segar! Ini buatan sendiri, dari ramuan yang tumbuh di gunung sekteku. Tidak terlalu keras, tapi hangat. Cocok untuk malam yang dingin.”
Seol mencium bau minuman itu. Aromanya manis, sedikit pedas, dan ada sesuatu yang familiar—seperti aroma jahe dan madu bercampur.
Ia meneguk kecil.
Panas menyebar dari tenggorokannya ke dada, lalu ke seluruh tubuh. Bukan panas yang menyengat, tetapi panas yang nyaman, seperti selimut di malam dingin. Di dalam dadanya, pusaran qi-nya berputar sedikit lebih cepat, tetapi tidak kacau—justru lebih stabil.
“Ini… enak,” kata Seol, sedikit terkejut.
“Kan sudah kubilang!” Baek Ho tertawa lebar. “Senior-senior di sekteku bilang minuman ini bisa membantu pemulihan qi. Tapi jujur, aku minum karena rasanya enak!”
Mereka duduk berdampingan di bangku batu itu, di bawah langit senja yang mulai berubah jingga, menyesap minuman keras buatan Sekte Tulang Besi. Seol tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Di Klan Ryu, ia tidak punya teman untuk minum bersama. Di Sekte Pedang Surgawi, ia terlalu sibuk berlatih dan bertahan dari intimidasi Kwak Jung. Tapi sekarang, di sini, bersama pemuda besar yang ia kalahkan beberapa jam lalu, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
Kenyamanan.
---
Baek Ho dari Sekte Tulang Besi
“Kau tahu,” kata Baek Ho setelah beberapa saat, suaranya menjadi sedikit lebih pelan, “aku bukan orang yang pandai bicara. Aku hanya… suka bertarung. Sejak kecil, aku sudah besar di sekte. Tidak punya keluarga. Tidak punya kampung halaman. Hanya sekte dan latihan.”
Seol menoleh. Wajah Baek Ho yang biasanya penuh senyum kini terlihat berbeda. Ada kesedihan di sana—kesedihan yang ia sembunyikan di balik tawa dan teriakannya.
“Tapi aku bersyukur,” lanjut Baek Ho. “Sekte Tulang Besi bukan sekte besar. Kami tidak punya teknik rahasia yang hebat. Tidak punya pedang pusaka. Yang kami punya hanya tubuh dan tekad. Latihan setiap hari, memukul batu, mematahkan tulang, membiarkannya tumbuh kembali lebih kuat. Itulah teknik Tulang Besi. Sederhana. Brutal. Tapi efektif.”
Ia mengepalkan tangannya yang terbalut perban.
“Aku sudah berlatih selama lima belas tahun. Tubuhku sudah seperti batu. Tidak ada pedang biasa yang bisa melukai aku. Tapi hari ini…” Ia menatap Seol dengan mata berbinar. “Kau melukai aku. Dengan pedang pinjaman. Dengan teknik yang belum pernah aku lihat sebelumnya.”
“Aku minta maaf,” kata Seol.
“Maaf? Untuk apa?” Baek Ho tertawa. “Kau membuka mataku! Aku selama ini mengira kekuatan adalah segalanya. Bahwa dengan tubuh yang kuat, aku bisa mengalahkan siapa pun. Tapi kau menunjukkan padaku bahwa ada yang lebih penting dari kekuatan. Kecepatan. Teknik. Strategi.” Ia mengepalkan tangannya. “Aku akan belajar dari kekalahanku. Aku akan menjadi lebih kuat. Dan lain kali kita bertemu, aku akan mengalahkanmu!”
Seol tersenyum. “Aku akan menunggu.”
“Kau tahu,” kata Baek Ho, tiba-tiba menjadi serius, “aku suka padamu. Kau tidak sombong seperti murid-murid Pedang Surgawi lainnya. Kau tidak meremehkan lawan. Kau bertarung dengan jujur, dengan segala yang kau miliki. Dan ketika kau menang, kau tidak menghina.” Ia mengulurkan tangannya yang tidak terluka. “Aku ingin kita berteman. Aku tidak punya banyak teman. Dan kau… kau berbeda.”
Seol menatap tangan itu. Tangan besar, kasar, penuh kapalan, dan perban yang mulai kotor. Tapi ada kehangatan di sana—kehangatan yang tidak ia rasakan sejak meninggalkan Desa Cheonho.
Ia menjabat tangan itu.
“Aku juga tidak punya banyak teman,” katanya. “Baiklah. Kita berteman.”
Baek Ho tersenyum lebar. Senyum yang tulus, tanpa pretensi, tanpa kepalsuan.
“Bagus! Mulai sekarang, kau bisa memanggilku Baek Ho. Tanpa embel-embel sekte. Kita teman!”
“Baiklah, Baek Ho.”
“Dan aku akan memanggilmu Seol! Seol! Nama yang bagus! Pendek dan mudah diingat!”
Mereka tertawa bersama. Di kejauhan, matahari mulai tenggelam di balik pegunungan, meninggalkan sisa-sisa cahaya jingga yang memudar menjadi ungu tua. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit, dan udara malam mulai terasa dingin.
Tapi Seol tidak merasa dingin. Minuman Baek Ho dan kehangatan persahabatan baru ini cukup untuk menahan dingin.
---
Peringatan di Balik Tawa
Tawa Baek Ho perlahan mereda. Ia meneguk minumannya sekali lagi, lalu meletakkan botol di sampingnya. Wajahnya yang biasanya ceria kini berubah menjadi serius—lebih serius dari yang Seol lihat sepanjang hari ini.
“Seol,” katanya, suaranya tidak lagi berteriak. “Aku harus memberitahumu sesuatu.”
Seol menatapnya. “Apa?”
Baek Ho menoleh ke arah tribun timur—ke tempat di mana barisan jubah merah Kultus Darah duduk berjam-jam lalu. Tribun itu sekarang kosong, tetapi bayangan mereka seolah masih tertinggal di sana.
“Peserta dari Kultus Darah,” kata Baek Ho pelan. “Mereka berbeda.”
Seol menunggu.
“Aku sudah bertarung melawan banyak lawan dari berbagai sekte. Ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang sombong, ada yang rendah hati. Tapi peserta dari Kultus Darah…” Ia menggigit bibirnya. “Mereka tidak bertarung seperti manusia.”
“Apa maksudmu?”
“Mereka tidak merasakan sakit. Atau setidaknya, mereka tidak menunjukkan rasa sakit. Dalam pertarungan, mereka bisa menerima pukulan yang seharusnya melumpuhkan, tetapi mereka tetap berdiri. Mereka terus menyerang. Dan qi mereka…” Baek Ho menggenggam erat botol di tangannya. “Qi mereka terasa dingin. Sangat dingin. Seperti menyentuh es di musim dingin. Tapi es itu… hidup. Bergerak. Mencoba masuk ke dalam tubuhmu, membekukan qi-mu dari dalam.”
Seol merasakan dadanya sesak. Ia ingat Cheonmyeong. Ia ingat qi gelap yang ia rasakan saat duel di hutan belakang dulu. Dan ia ingat Kwak Jung, dengan cahaya merah di ruang bawah tanah, dengan bayangan bertanduk di dinding.
“Aku sudah mendengar tentang teknik mereka,” kata Seol hati-hati. “Teknik yang menggunakan darah sebagai penggerak qi.”
“Bukan hanya darah.” Baek Ho menatapnya dengan mata yang tidak pernah seserius ini. “Mereka menggunakan nyawa. Nyawa orang lain. Mereka membunuh untuk menjadi lebih kuat. Dan semakin banyak mereka membunuh, semakin kuat mereka.”
Ia menunjuk ke arah tribun kehormatan, di mana para pemimpin sekte duduk.
“Senior-senior di sekteku bilang bahwa Kultus Darah sedang menyusun kekuatan. Mereka tidak hanya ingin memenangkan turnamen. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka tidak lagi bisa diremehkan. Bahwa mereka adalah kekuatan yang harus diperhitungkan.”
Ia menoleh kembali ke Seol.
“Dan wakil mereka—Ryu Cheonmyeong—adalah yang paling berbahaya. Senior-seniorku bilang bahwa ia bukan manusia biasa lagi. Ia telah melakukan ritual pengikatan darah tingkat tinggi. Tubuhnya sudah berubah. Qi-nya sudah tercampur dengan qi iblis. Dan ia tidak akan berhenti sampai ia membunuh semua orang yang pernah menghinanya.”
Seol tidak bergerak. Tangannya yang memegang botol minuman tidak gemetar.
“Kau tahu tentang dia?” tanya Baek Ho. “Kalian memiliki nama keluarga yang sama. Kau… kau mengenalnya?”
Seol menarik napas dalam-dalam. Ia sudah lama tidak membicarakan masa lalunya. Tapi Baek Ho adalah temannya sekarang. Dan teman sejati berhak tahu.
“Dia sepupuku,” kata Seol. “Dari Klan Ryu. Kami tumbuh bersama di desa yang sama. Tapi kami tidak pernah akrab. Ia adalah jenius. Aku adalah sampah. Ia menghinaku setiap hari. Dan ketika aku mulai menunjukkan kekuatan, ia mencoba membunuhku.”
Baek Ho terdiam. Mulutnya terbuka sedikit, tetapi tidak ada suara yang keluar.
“Aku selamat,” lanjut Seol. “Tapi ia bergabung dengan Kultus Darah. Sekarang ia kembali. Dan aku tahu ia akan mencariku di turnamen ini.”
Keheningan menyelimuti mereka. Angin malam bertiup, membawa dingin yang menusuk.
Kemudian Baek Ho meletakkan botolnya, berdiri, dan berdiri di depan Seol. Tubuhnya yang besar menghalangi cahaya bulan, tetapi Seol bisa melihat matanya—matanya yang tidak lagi ceria, tetapi penuh dengan tekad.
“Aku akan membantumu,” kata Baek Ho. “Jika ia mencoba sesuatu di luar arena, aku akan berada di sisimu. Aku mungkin kalah darimu di atas panggung, tapi di luar sana, tubuh besiku masih berguna.”
Seol menatapnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Selama ini, ia selalu sendirian. Gu adalah satu-satunya yang membantunya, tetapi Gu adalah jiwa dalam batu, bukan manusia. Sekarang, untuk pertama kalinya, ada manusia yang menawarkan bantuan tanpa pamrih.
“Kenapa?” tanya Seol. “Kita baru berteman hari ini.”
Baek Ho tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa keraguan.
“Karena itulah yang dilakukan teman. Kau bilang kita berteman, kan? Maka aku akan berada di sisimu. Tidak peduli apa pun yang terjadi.”
Ia mengulurkan tangannya lagi. Seol meraihnya.
Genggaman itu kuat. Hangat. Dan untuk pertama kalinya dalam perjalanannya yang panjang, Ryu Seol merasa bahwa ia tidak sendirian.
---
Malam Hari – Kembali ke Penginapan
Seol berjalan kembali ke penginapan yang disediakan untuk peserta Sekte Pedang Surgawi. Di sampingnya, Baek Ho berjalan dengan langkah berat, tubuhnya yang besar membuat bayangan panjang di bawah cahaya bulan.
“Kau tahu,” kata Baek Ho tiba-tiba, “aku tidak hanya memperingatkanmu tentang Cheonmyeong. Ada yang lain. Peserta Kultus Darah lainnya. Mereka semua berbahaya. Tapi ada satu yang paling aneh.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu namanya. Tapi ia bertarung hari ini melawan murid dari Sekte Pedang Sakti. Pertarungannya berlangsung hanya sepuluh detik. Lawannya langsung jatuh tanpa bisa bergerak. Dan ketika ia berdiri di atas lawannya, ia tersenyum.” Baek Ho menggigil. “Senyum yang tidak terlihat seperti senyum manusia. Seperti ia menikmati rasa sakit lawannya.”
Seol mengingat kembali pertandingan-pertandingan yang ia saksikan hari ini. Ada satu pertandingan yang menarik perhatiannya—seorang pemuda kurus dengan jubah merah gelap, wajah pucat, dan mata yang tidak berkedip. Ia tidak menggunakan pedang. Ia hanya berdiri di tempatnya, dan lawannya jatuh. Tidak ada yang mengerti apa yang terjadi.
“Aku akan waspada,” kata Seol.
“Lakukan.” Baek Ho berhenti di depan pintu penginapannya. “Dan Seol… hati-hati di babak berikutnya. Jika kau bertemu dengan peserta Kultus Darah, jangan coba-coba bertarung seperti kau bertarung denganku. Mereka tidak akan memberimu waktu untuk berpikir. Mereka akan langsung menyerang. Dan jika kau memberi mereka celah…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Seol mengangguk. “Aku tahu.”
Baek Ho tersenyum. “Bagus. Besok kita akan bertarung lagi, ya? Masing-masing di babak kita. Dan jika kita bertemu di final…” Ia mengepalkan tinjunya. “Aku tidak akan kalah lagi!”
Seol tertawa kecil. “Kita lihat nanti.”
Baek Ho masuk ke penginapannya, meninggalkan Seol berdiri di bawah cahaya bulan. Angin malam bertiup, membawa aroma bunga dari kebun sekte.
Ia meraih Batu Giwa di sakunya. Batu itu hangat—hangat seperti biasanya ketika Gu bangun.
“Teman yang baik,” bisik Gu di kepalanya. Suaranya lemah, tetapi ada kebanggaan di dalamnya. “Kau pantas mendapatkannya.”
Seol tersenyum. “Terima kasih, Gu.”
Ia berjalan ke penginapannya, melangkah ke dalam kamar sederhana yang disediakan untuknya, dan berbaring di tempat tidur. Besok, babak berikutnya akan dimulai. Lawan-lawannya akan lebih kuat. Cheonmyeong akan semakin dekat.
Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut. Ia punya teman sekarang. Ia punya Gu. Dan ia punya tekad yang tidak akan pernah padam.
Ia memejamkan mata, dan tidur datang dengan cepat, membawanya ke mimpi tentang pertempuran-pertempuran yang akan datang—dan tentang kemenangan yang akan ia raih.
---