NovelToon NovelToon
CEO Itu Ayahku

CEO Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: T Moel

Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rania Hamil

Uweeeekk uweeeekk,.

Sepanjang subuh sampai pagi, Rania terus menerus muntah muntah. Namun yang keluar bukan makanan tapi cairan berwarna kuning. Badannya lemas karena terus menerus mengeluarkan cairan.

"Ran,seperti nya kamu hamil nak. " bu Arini berkata dengan mata berkaca kaca.

"Ran hamil bu. " butir bening keluar dari matanya.

"Iya nak, melihat tanda tanda seperti muntah muntah tidak nafsu makan, dan tubuh kamu semakin berisi. "

"Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang harus aku hadapi. Ibu maafkan Ran yang selalu menyusahkan ibu. " Rania memeluk erat ibunya.

"Sudah nak, semua ini sudah takdirnya, jangan pernah kamu menyalahkan diri sendiri. Kita akan hadapi semua ini bersama sama. Kamu harus tegar menghadapi badai hidup ini. " Bu Arini mengelus punggung Rania dengan penuh kasih sayang.

"Lebih baik sekarang kita periksa kalo kehamilan kamu ke dokter kandungan. Sekarang jangan menangis, ada ibu di sini yang akan melindungi mu. "

"Bu kalau Ran hamil, bagaimana dengan sikap tetangga sekitar rumah kita? "

"Tidak usah khawatir, ibu sudah lapor dengan pak Rt, sambil membawa surat kematian suami kamu. "

"Maksudnya...? "

Sebelum kita pindah ke sini, ibu sudah membuat surat kematian tentang suami kamu, sehingga orang orang yang ada di sini tahu nya kamu seorang janda. "

Rania hanya terdiam mendengar penuturan ibunya, mungkin saja ibunya melakukan semua ini karena ingin yang terbaik untuk Rania.

"Jadi ibu sudah mengantisipasi hal ini sebelumnya? "

"Iya, makanya ibu membawa kamu jauh dari ibukota untuk pindah ke sini. Setidaknya kecil kemungkinan orang yang mengenal kita tahu tentang kamu. "

Rania mengangguk dan hanya diam, mungkin ini lebih baik agar kehidupan mereka di tempat yang baru tidak ada orang yang tahu tentang kebenaran nya.

"Ayo kita bersiap siap, kita ke dokter obgyn memeriksakan kandungan kamu, ibu bahagia karena akan mendapatkan cucu."

"Tapi cucu ibu hasil dari pemerkosaan. " Rania menunduk.

"Darimana pun hasilnya, janin yang ada di perut kamu itu tetap cucu ibu. Sudah jangan banyak pikiran nanti bayinya ikut sedih. "

Rania merasa sangat beruntung memiliki ibu yang sangat menyayangi dirinya, apapun yang sudah terjadi ibu tetap berpikiran positif, sehingga Rania tidak merasa sendiri menghadapi persoalan hidup yang sangat pelik.

Bu Arini dan Rania sudah berada di klinik obgyn, mereka sedang mengantri menunggu panggilan. Banyak yang menunggu semua di antar oleh suaminya masing masing, Rania hanya bisa menghela nafasnya pelan melihat kemesraan yang terlihat di depan mata nya. Bu Arini menggenggam tangan Rania memberikan dukungan bahwa hidupnya tidak dak sendiri.

"Jangan menangis, tegakkan badanmu, jangan sampai mempengaruhi bayi yang ada di dalam kandungan mu. "

Rania hanya membalas dengan anggukan saja tanpa ingin berbicara lagi. Yang ada dalam hatinya saat ini sedang berdo'a dan memohon kebahagiaan untuk bayinya yang saat ini ada dalam rahimnya.

AI memanggil Rania, keduanya masuk ke dalam ruangan dokter, seorang dokter wanita dengan senyum ramahnya menyapa Rania.

"Halo bu Rania, perkenalkan saya dokter Anita yang akan membantu bu Rania memeriksa kandungannya nya. "

"Halo juga dokter, terima kasih atas bantuan nya. "

"Baiklah, sekay apa keluhan nya bu? '

" Sudah dua hari ini perut saya mual mual terus, badan saya sangat lemah. Namun ibu bilang katanya saya hamil. "

"Oh begitu, baiklah. Coba kita berbaring, saya akan mengeceknya. "

Di bantu suster, Rania tidur di atas brangkar untuk di cek kehamilan nya, kemudian dokter mengoleskan gel di atas perut Rania.

Dengan serius dokter Anita mulai menggeser alat pemeriksa. Rania dan bu Arini tampak deg degan melihat layar yang terpampang di depannya.

"Wah sudah terlihat ya bu, yang hitam ini yang sebesar biji kacang hijau adalah janin nya. usianya baru dua minggu. Tapi sebentar, ibu bisa melihat di sini ada dua titik hitam. Wah selamat ya bu, bayinya kembar. "

Air mata Rania menetes tanpa di komando, ada campur bahagia juga rasa sedih yang menggelayut dalam dadanya, bahagia karena akan mendapatkan bayi kembar, namun sedih karena harus hamil diluar nikah. Kembali Bu Arini menggenggam tangan Rania untuk menguatkan.

Selesai USG, Rania kembali duduk di depan dokter Anita, mendengar kan nasihat apa saja yang boleh di makan dan juga larangan nya, Rania mendengar kan dengan seksama.

"Maaf kalau boleh tahu, suaminya kemana ya? "

"Maaf dokter, menanti saya kecelekaan pesawat saat sedang keluar negeri, anak saya saat itu baru menikah. "

"Ya Tuhan, maaf ya bu. Semoga bu Rania tabah menghadapi nya. "

"Aaminn terima kasih do'anya dokter. "

Dokter Anita memberikan resep untuk mual dan penambah darah, Selesai memeriksa kandungan dan menebus obat di apotik yang ada di klinik tersebut, Bi Arini dan Rania bergegas pulang karena hari sudah sore.

"Sebelum pulang mau mampir beli sesuatu dulu? " Bu Arini bertanya karena biasanya orang hamil akan ngidam dan menginginkan sesuatu.

"Boleh ga Ran beli baso tapi sambelnya banyak, dari kemarin Ran mau makan itu. " Rania sambil menjilat bibirnya karena terbayang baso yang pedas.

"Boleh makan baso, tapi sambalnya jangan banyak banyak kasian dede bayinya nanti kepedesan. "

"Yaah kalau ga pedes ga enak dong bu. " Rania merajuk.

Bu Arini tertawa pelan melihat kelakuan anaknya sudah mau punya anak tapi masih seperti anak kecil.

"Ya sudah boleh saja, tapi satu kali ini saja selanjutnya tidak ada baso pedas. "

Wajah Rania seketika berubah cerah. Senyum manisnya menghiasi wajahnya cantik nya. Mungkin aura ibu hamil membuat Rania terlihat cantik dan juga segar.

Saat ini keduanya sudah ada di warung baso yang tidak jauh dari rumahnya. Rania tampak lahap sekali makan basonya. Bu Arini hanya menatapnya dengan matanya yang berkaca kaca.

"Seandainya Rania hamil dari pernikahan, mungkin saat ini adalah moment yang sangat bahagia karena akan mendapatkan momongan. "

Bu Arini tampak mengusap air matanya yang jatuh di pipi sebelum Rania menyadari nya. Rania tampak kepanasan karena sambal yang di makannya sangat banyak, wajahnya memerah dengan keringat yang bercucuran.

"Hah, ibu Ran puas banget. Mudah mudahan saja makanan yang sekarang masuk ke dalam lambung Ran tidak keluar lagi. Ran mau buang saja biar bapaknya yang mengalami muntah muntah dan juga ngidam." Rania menengadah kan tangannya.

"Aamiin, semoga ya nak, biar dia merasakan bagaimana rasanya ngidam. "

Bu Arini dan Rania tertawa bersama membayang laki laki itu mual mual dan juga ga ngidam sesuatu yang sangat sulit di dapatkan.

"Sudah yuk kita pulang, hari sudah malam. Tidak baik bumil masih berkeliaran di luar rumah malam malam. "

"Ayo bu. "

Setelah membayar baso yang sudah di makannya, keduanya segera pulang untuk beristirahat, karena hari ini terasa sangat melelahkan.

Apa yang diminta Rania dalam do'anya, ternyata hal itu menjadi kenyataan. Leon yang saat ini sedang makan malam bersama kedua orang tuanya tiba tiba saja perutnya bergejolak, makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya semua keluar.

Leon berlari ke westafel yang ada di dapur, hal itu membuat kedua orang tuanya menjadi khawatir karena Leon terlihat baik baik saja, namun tiba tiba Leon muntah muntah.

"Sayang kamu kenapa, apa kamu baik baik saja? "

Nyonya Erlina mendekati Leon yang sudah sangat kepayahan. Tengkuknya di pijit untuk mengurangi rasa tidak nyaman.

"Ngga tahu kenapa mah, Tiba tiba saja perut Leon seperti bergejolak. Dan dari tadi penciuman Leon juga sangat tidak nyaman seperti ada sesuatu yang aneh. "

"Panggilkan dokter biat di periksa, agar yakin apa yang terjadi dengan Leon "Tuan Aditama menambahkan.

" Iya pah sebentar mamah telpon dokter Andre. " nyonya Erlina mengambil handphonenya di atas meja.

Tak lama kemudian dokter Andre datang ke rumah Tuan Aditama dan mengecek Leon yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Wajahnya pucat badan tegapnya terlihat sangat lemah.

Dokter Andre memeriksa Leon dengan teliti, dahinya sedikit berkerut. Sehingga membuat papah dan mamahnya Leon bertanya.

"Dokter bagaimana keadaan Leon? "

"Maaf tuan nyonya, saya sendiri bingung, Leon mengalami sesuatu yang biasa di alami oleh ibu hamil, seperti mual dan muntah. Dan terlihat dari tubuhnya sangat tidak berdaya. Tapi tuan Leon belum menikah jadi mana mungkin akan mengalami kehamilan simpatik Atau sindrom couvade."

"Sindrom Couvade? " Tuan Aditama dan nyonya Erlina bersamaan.

"Iya sindrom couvade biasanya di alami oleh suami yang istrinya sedang hamil, dan istri tidak akan mengalami yang namanya ngidam atau mual dan muntah. "

Tuan Aditama dan nyonya Erlina sangat terkejut, karena setahu mereka, Leon anak yang baik tidak pernah main perempuan, Stela saja sebagian tunangannya selalu mengeluh kalau Leon selalu dingin jika mereka sedang berdua.

Setelah dokter Andre pulang, Tuan Aditama dan nyonya Erlina mendekati Leon yang masih memejamkan matanya, karena jika matanya terbuka rasa pusing dan mual akan sangat menyiksa nya.

"Sayang katakan pada mamah apa yang sudah terjadi dengan kamu apa ada yang tidak mamah ketahui agar mamah dan papah bisa membantu kamu. "

Dengan perlahan Leon membuka matanya, kemudian melirik ke arah mamah dan papahnya yang sedang duduk di pinggir tempat tidur dengan perasaan cemas.

"Papah tahu tentang pesta pernikahan anaknya tuan Hendrik dari perusahaan Hendrik Corp? "

"Iya papah tahu papah juga di undang, hanya saja saat itu papah dan mamah tidak datang karena harus ke luar negeri karena ada masalah dengan cabang perusahaan papah yang ada di Rusia. "

Leon menceritakan semua hal yang terjadi setelah pesta tersebut tanpa di tambah atau fi kurangi. Termasuk salah satunya tentang Rania yang sudah di lecehkan oleh dirinya. Mulut Nyonya Erlina ternganga kedua tangannya menutup mulut nya. Seakan tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi dengan putranya.

"Siapa saja yang tahu dengan kejadian ini? "

"Hanya Ryan asisten ku mah,. "

"Lalu bagaimana dengan nasibnya gadis itu? "

"Ryan sudah mencarinya, tapi gadis itu sudah pindah entah kemana, dan selama ini Leon masih tetap mencari keberadaan gadis itu. "

'Dokter Andre bilang kalau kamu mual karena kehamilan simpatik, itu tandanya gadis itu......" nyonya Erlina terdiam.

Suasana mendadak hening berkecamuk dengan pikiran nya masing-masing, dan kesimpulan nya mereka menerima kalau gadis itu sedang hamil anak Leon.

"Iya mah, mungkin gadis oti sedang hamil anak Leon, Leon merasa sangat bersalah. "

"Jadi kita sebenarnya mau punya cucu ya mah. " tuan Aditama yang sedari hanya di saja ikut bicara.

"Iya paham, kita akan mendapatkan cucu. Tapi kita tidak tahu di mana gadis itu berada. Semoga saja calon cucu kita dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan apapun juga. "

Leon yang masih terbaring di tempat tidur hanya bisa menghela nafasnya, dirinya berdo'a semoga anak yang ada dalam kandungan gadis itu dalam keadaan baik baik saja.

"Itu berarti kandungan gadis itu tidak di gugurkan. Dan aku akan menjadi ayah. " Ada rasa bahagia menyelinap dalam hati kecil Leon.

"Biarlah aku yang menanggung rasa mual ini, agar kamu tidak tersiksa dengan keadaan ini."

Leon sudah merasa tenang, dan akhirnya tidur dengan pulas.

Hari berganti pagi, Leon sudah siap dengan stelan kerjanya, memakai dasi dan pakaian yang warnanya senada. Hari ini tampak ada yang berbeda dengan penampilan Leon. Pakaian yang di pakainya berwarna pink.

Sesuatu yang sangat di bencinya. Namun entah mengapa hari ini Leon ingin sekali memakai pakaian tersebut.

Setelah selesai, Leon berjalan ke arah pintu, namun baru saja berjalan beberapa langkah, perutnya bergejolak kembali, dengan cepat Leon berlari ke arah kamar mandi lalu mengeluarkan isinya yang berupa cairan bening dan kuning karena memang Leon belum sarapan sehingga isi perutnya kosong.

Setelah rasa mualnya hilang, Leon membasuh wajahnya dengan air agar terasa lebih segar. Leon kembali ke kamar dan berjalan ke turun ke bawah untuk sarapan pagi.

"Halo sayang selamat pagi. "

"Pagi mah pah. "

"Gimana pagi ini, kamu mual lagi sayang? "

"Iya mah, tadi Leon mual lagi, tapi sekarang sudah tidak lagi. "

nyonya Erlina dan tuan Aditama saling melirik melihat pakaian yang dikenakan Leon, pink.

Ingin tertawa namun takut Leon tersinggung.

"Kamu kenapa sayang, apa mual lagi? "

"Nggak mah, tapi kok seperti ada bau yang menyengat ya. "

"Apa yang bau, mamah merasa tidak ada yang bau. " nyonya Erlina merasa heran.

"Sayang mungkin penciuman kamu yang sensitif, jadi semuanya terasa aneh. "

"Iya mungkin ya mah. "

"Sekarang mau makan apa? "

Leon melihat meja makan seperti nya tidak ada yang menarik untuk di makan. Tapi hatinya ingin sesuatu yang lain.

"Mah seperti nya makan rujak pasti enak, seget lagi. "

Tuan Aditama dan nyonya Erlina saling pandang dengan keinginan Leon. Mungkin ini yang ngidam Leon.

"Tapi ini masih pagi, nanti perut kamu sakit, lebih baik makan saja yang ada ya. "

"Tapi Leon sekarang lagi ingin makan rujak. Boleh ya, biar sedikit juga, dari semalam Leon ingin makan rujak. "

Nyonya Erlina tidak bisa lagi menolak karena ini adalah ngidam nya Leon. Akhirnya meminta art untuk membuat bumbu rujak dan kuda buah buahan yang segar. Walaupun penuh dengan tanda tanya namun art tidak banyak bertanya.

1
tia
lanjut thor
tia
cepat satukan thor kembar sama papa nya
Nadia salma: ada lika liku dulu kak, biar ada gregetnya
total 1 replies
tia
tambah lagi Thor 🫢,,suka cerita ny
Nadia salma: siap kak...
total 1 replies
tia
update yg banyak lah thor
Nadia salma: akan saya usahakan kak, karena saya sambil kerja membagi waktu. Terima kasih sudah menyukai karya saya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!