NovelToon NovelToon
Dalam Dekap Bayangmu

Dalam Dekap Bayangmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

"Assalamualaikum.." ucapan salam dari kanaya, mendapat balasan serentak dari ibunya dan pak ardi.

Mata ibunya menatap tajam, memindai kanaya dan kala bergantian, ada selidik dari sorot mata bu risma.

Kanaya menyadari tatapan mata ibunya itu namun dengan takzim ia mencium pipi ibunya, dan duduk di sisi wanita kesayangannya itu, tanpa bersuara sedikitpun.

Kala mengambil posisi duduk di sisi pak ardi, yang kelihatan sedikit kikuk dan canggung, karena majikannya duduk disisinya.

Mata buk risma, masih menatap penuh selidik namun bibirnya tersenyum ramah.

"Nak kala dan pak ardi, makan siang disini yah, masakan kanaya enak loh..!"

Ibu menoleh kearah kanaya dengan tatapan perintah, kanaya ingin menolak namun jawaban kala membuatnya terdiam, dan mendelik kaget menatap pria itu.

"Iya bu..sudah lama juga saya tidak makan masakan naya"

Ibu menoleh, melihat kala dengan tatapan penuh tanya.

"Nak kala pernah makan masakan naya?"

Kala yang menyadari, kalau dia keceplosan tersenyum kikuk.

"Anu bu.." belum sempat kala menjawab, kanaya menyela dengan cepat.

"Sudah jam 2 siang juga bu, mungkin pak kala ingin segera kembali ke jakarta.."

Kanaya dan kala saling tatap, netra kanaya penuh dengan permohonan akan pengertian kala.

Keengganan terlihat jelas dari sorot mata pria itu, tingkah mereka berdua tak lepas dari tatapan bu risma.

"Kenapa kamu mengusir tamu kita, nduk?"

Kanaya menoleh, menatap ibu yang menatapnya penuh selidik. Ada sorot marah di mata ibunya, kanaya tergugu.

Tatapan mata ibunya membuat kanaya merasa tak enak hati, mau tak mau ia diam, tertunduk malu.

"Maaf bu.." suara kanaya terdengar lirih,

"Bu.." panggil kala tiba-tiba memecah kesunyian yang sempat tercipta.

Kanaya mendongak, ternyata pria itu sedang menatapnya.

"Saya ingin bicara hal yang sangat serius dengan kanaya dan keluarganya, bolehkah malam ini saya menginap..?"

Mata ibu menyipit, menatap kala dan kanaya bergantian. Wanita paruh baya itu melihat putrinya gelisah, sementara kala menatap penuh harap kepadanya.

"Boleh saja nak.., kalau begitu istirahatlah dulu, naya dan ibu akan menyiapkan makan siang dulu...

siapkan kamar untuk mereka nduk, malam ini kamu tidur dengan ibu yah" perintah sang ibu yang menatap kanaya, putrinya itu mengangguk pelan.

Kanaya beranjak memasuki kamarnya, merapikan kamar, memastikan kamarnya layak untuk dipakai kala istirahat.

Tiba-tiba pria itu masuk kedalam kamarnya, ketika kanaya masih mengganti seprai dan sarung bantal dengan yang baru.

Kanaya terkejut menatap kala, yang duduk manis di kursi meja hiasnya, menatapnya dengan sorot mata bersalah.

"Maaf naya, aku tidak minta ijin kepadamu terlebih dahulu, tapi aku ingin menyelesaikan semua masalah yang terjadi diantara kita, aku ingin keluargamu tahu siapa aku, dan hubungan kita sebelumnya"

Kanaya mengumpulkan sarung bantal dan seprai yang kotor, helaan nafasnya terdengar berat, ia duduk di ranjangnya dan meletakkan kain kotor itu dipangkuannya.

"Seharusnya kamu meneleponku terlebih dahulu, kala... agar aku bisa menjelaskan terlebih dahulu kepada ibu" desah kanaya sendu,

"Keluargaku tidak tahu bahwa kamu mantan suamiku, yang mereka tahu aku dinikahi pimpinan perusahaan tempat aku bekerja"

Kala termangu menatap kanaya, ada rasa bersalah menyelinap dalam hatinya.

"Maaf naya.., aku tidak berpikir sejauh itu"

Kanaya menoleh, melihat pria itu yang terduduk lesu, rasa bersalah di wajah kala, membuat hatinya terenyuh, ia bangkit dari duduknya.

"Tapi..sudahlah, lebih cepat kita jelaskan kepada keluargaku akan lebih baik juga, semoga setelah ini urusan diantara kitapun selesai selamanya.."

"Apa maksudmu naya..?"sambar kala cepat, sorot matanya terlihat terkejut mendengar ucapan kanaya barusan.

"Aku.."

"Apakah kamu tidak memahami ucapanku tadi ketika kita di cafe? apakah kamu tak memahami arti dari rasa rinduku" tanya kala sedikit tersinggung.

Matanya menatap kanaya dengan sorot tajam, kanaya tersentak, ia terkejut mendengar nada suara kala yang sedikit tajam.

Kanaya merasa tak enak hati, ia menyadari ucapannya tadi memang sedikit kasar,

"Maaf..." bisiknya lirih,

"Maafkan aku..,"

Kala melengos, tatapan kanaya membuat jantungnya berdetak kencang, hatinya sedikit tersinggung oleh jawaban kanaya.

Namun ia tak mampu membohongi hatinya, tatapan mata indah milik kanaya itu selalu berhasil membuatnya luluh, ternyata sebesar itu rasa yang ia miliki untuk wanita ini.

"Istirahatlah dulu, aku akan menyiapkan makan siang"

Kanaya melangkah perlahan hendak meninggalkan pria itu yang masih terdiam.

"Terima kasih..naya" ucap pria itu tulus, tepat sebelum kanaya menutup pintu kamarnya. Kanaya tersenyum manis, menganggukan kepalanya.

"Nduk..apakah kamu tidak mau menceritakan pada ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya ibu risma hati-hati.

Kanaya menarik nafasnya berat, pembicaraan serius tidak akan mampu ia elakkan.

Sembari merapikan masakan yang sudah selesai ia olah, kanaya menatap ibunya dengan ekspresi khawatir.

Seandainya kanaya menceritakan siapa kala sebenarnya, kanaya takut berita itu akan menggoncang perasaan ibu, dan hal itulah yang paling ia takutkan saat ini.

"Nduk.., ibu memang sudah tua, tapi ibu bisa merasakan, ada sesuatu diantara kalian, tak maukah kamu menceritakan apapun pada ibu?"

Kanaya duduk di depan ibunya, yang sedang duduk di meja makan, masih menatapnya penuh tanya.

"Kala nanti akan menjelaskan semuanya ibu, kita tunggu saja, penjelasan dari dia" tukas kanaya singkat, masih berusaha menghindari tatapan ibunya. Mata bu risma masih melihat kanaya dengan sorot mata penasaran.

"Apakah kala, mantan suami kamu nduk?"pertanyaan ibunya membuat kanaya tersontak kaget, matanya menatap ibu terkejut.

"Ibu.."

"Keterkejutanmu sudah menjawab pertanyaan ibu nduk"

"Ibu, maafkan naya, naya takut mengatakannya ke ibu. Naya takut ibu terkejut" jelas kanaya lirih, meraih jemari ibunya, meremas jemari ibunya lembut dan menatap ibunya dengan rasa bersalah.

"Ibu memang tidak tahu apa yang terjadi denganmu dan pernikahanmu, juga tentang perceraianmu dan juga sebabnya, namun mata ibu ndak buta, nduk

Cara nak kala menatapmu, cara kamu menatapnya, ibu tahu kalian punya hubungan" sambung bu risma dengan tenang.

"Ibu tahu, dari sorot matamu nduk, kamu masih mencintai pria itu bukan?"

"Ibu..."panggil kanaya lirih, seperti berbisik.

"Kamu menolak ibu jodohkan dengan nak zayyan, karena diakan nduk?"

Pertanyaan ibunya semakin membuat kanaya tertunduk, ia tak menyadari jika ibu mengetahui semuanya.

"Bagi ibu, kebahagiaanmu adalah yang terpenting dania, walaupun ibu gak bisa bohong, ibu menyukai zayyan dan putrinya, tapi tentu saja, kebahagiaan putriku lebih penting dari apapun"

Buk risma menyentuh jemari kanaya lembut, sorot mata tuanya terlihat sangat menenangkan.

"Ibu lebih sedih melihatmu setiap malam menangis di kamar sendirian, kemudian berpura-pura kuat keesokan harinya"

Kanaya mendongak terkejut mendengar penjelasan ibunya, ia tak tahu tangisan malam yang selalu ia tahan dan sembunyikan ternyata diketahui oleh ibunya.

"Tangisanmu untuk diakan nduk? Untuk nak kala?"

Air mata kanaya menetes tanpa ia sadari, perlahan ibunya menyentuh dan menghapus air mata kanaya lembut.

"Kamu berhak bahagia nduk, ibu gak berhak merampas kebahagiaanmu, hanya ibu harap, jelaskan kepada ibu dan adik-adikmu, apa penyebab sebenarnya perceraianmu, kami ini keluargamu nduk, bukankah itu artinya sebuah keluarga?"

"Ibu..maafkan naya, naya sangat takut menceritakan yang sebenarnya, naya takut terjadi hal yang menakutkan jika naya nekat memberi tahukan ke ibu.."

"Apa..?, kamu takut ibu mati" potong ibunya cepat sembari tersenyum.

"Ibu.." pekik kanaya tak suka mendengarkan ucapan ibunya.

"Jangan ngomong gitu ibu,..naya mohon"

"Nduk, kamu lihatkan belakangan ini ibu sudah semakin membaik, kamu tahu mengapa?" tanya ibunya menatap kanaya yang menggelengkan kepalanya pelan.

"Karena ibu melihat, kamu sudah lebih sering tersenyum dan jarang menangis, kamu lebih bahagia ketika kamu mulai sering bertemu alita, itulah yang membuat ibu bahagia nduk, melihat kamu bahagia"

Pipi kanaya basah, air mata yang jatuh tak mampu lagi ia bendung, hatinya diliputi rasa haru.

Kanaya tahu ibunya menyayangi dirinya, namun ia tak menyangka sebesar itu rasa sayang ibu terhadapnya.

Kanaya terisak, namun dengan lembut ibunya menyeka air matanya, dan memeluk putri sulungnya itu dengan hangat. Kanaya merasa puncak kepalanya di elus ibunya, air matanya semakin deras berjatuhan.

Bersambung...

1
Bungatiem
boleh kala boleeeh
Bungatiem
boleh dooong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!