Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Arfan tersenyum tipis melihat senyuman bosnya itu, dia sudah mengenal lama bosnya dan dia memang tahu bagaimana perasaannya bosnya itu pada nyonya kesayangannya itu.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang bos?, bukankah tuan Taici juga akan bergerak, saya yakin nyonya Wina pasti sudah tahu siapa dia, jangan sampai nyonya Wina menyerangnya juga sebagai bentuk balasan karena telah bekerjasama untuk melenyapkannya". Ucapnya dengan khawatir.
Akan terjadi perang besar jika sampai Wina menyerang mafia itu, walau tuan Taici ingin membantu tetapi dia tetap bersalah karena tidak mencari tahu asal usul orang yang menjadi targetnya.
"Biarkan Wina melakukannya, dia tahu apa yang dia lakukan, pantau dan bantu saat dia membutuhkannya, biar Taici tahu jika perempuan yang dia incar untuk dihilangkan nyawanya itu bukan wanita lemah tanpa perlawanan".
Alex terkekeh pelan membayangkan wajah pucat dan frustasi Taici yang harus berhadapan dengan Wina nantinya, dia pasti akan merasa serba salah, dia sangat tahu jika Taici adalah pemimpin yang sangat royal dan baik pada bawahannya.
Jika Wina menyerang para bawahannya dia akan merasa marah dan serba salah, karena biar bagaimanapun Wina adalah anak dari orang yang berjasa besar pada hidupnya.
"Menarik sekali". Ucapnya sambil terkekeh pelan
"Bos seperti nya sangat senang padahal saya sejak tadi khawatir jika nyonya melakukannya".
"Wanitaku tak selemah apa yang kamu pikirkan Arfan, kalian tidak tahu saja jika dia menjadi singa yang menyerang, bahkan dia lebih mematikan dariku jika dia bertindak". Jawabnya tersenyum pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Dia betul-betul dibuat jatuh cinta berkali-kali oleh Wanita itu, dia tidak peduli status Wina yang janda beranak dua, baginya Wina adalah wanita spesial dan sangat mengagumkan.
Arfan mengkerut kan keningnya menatap tuannya itu dengan tatapan tidak percaya.
"Bagaimana mungkin wanita baik, lemah lembut bisa seperti itu? ". Pikirnya dalam hati.
Kini Alex malah tertawa melihat wajah Arfan yang tidak percaya dan masih khawatir serta penasaran yang sangat besar.
"Kamu tenang saja dan lihat pertunjukan yang dia lakukan baru kamu akan mengerti apa yang aku katakan, cukup awasi dan bantu dia nanti".
Arfan mengangguk saja, dia jarang melihat tawa bosnya yang lepas seperti itu, dia sadar jika cinta membuat orang yang dingin bahkan sangat kejam bisa bertekuk lutut.
"Baiklah bos, saya juga sangat penasaran".
Sedangkan Wina yang berada di kamarnya tengah melakukan pengobatan dan terapi, dia sangat memaksakan kakinya untuk bergerak seperti biasa, dia akan berusaha keras untuk bisa berjalan seperti biasa, dia harus kembali berlatih bela diri seperti sebelumnya.
Dia tidak pernah lagi melakukan latihan bela diri selama dirinya menikah dengan Reno karena fokus mengurus rumah dan meninggalkan kehidupan lamanya.
Dia bukan orang sama seperti yang dipikirkan oleh orang-orang itu selama ini, dia meninggal kan semua yang dia jalani semasa masih gadis untuk menjalankan tugasnya sebagai istri dan menantu serta ibu yang baik tapi balasannya sungguh tidak pernah dia bayangkan.
"Aku Wina Aditama yang baru, akan ku tunjukkan pada kalian semua siapa aku sebenarnya". Cicitnya dalam hati sambil berlatih.
"Jangan dipaksakan nyonya, nanti akan berdampak tidak baik pada kaki anda". Tegur sang dokter saat melihat Wina memaksakan kakinya saat terapi
Jika terjadi sesuatu pada sang nyonya bisa-bisa nyawanya melayang ditangan tuan Alexander.
Wina menatap dokter itu dengan tatapan sulit diartikan, dia kembali mengikuti instruksi sang dokter untuk terapi.
Setelah selesai terapi, sang dokter kembali memeriksa kaki Wina dengan telaten dan hati-hati seolah nyawanya berada pada keadaan kaki sang nyonya.
"Sudah lumayan dibandingkan sebelumnya nyonya, mungkin pekan ini anda sudah bisa menggunakan tongkat dan bisa berjalan pelan untuk berlatih". Ucapnya sambil merapikan pekerjaannya.
"Berarti sebentar lagi sembuh, apakah saya bisa mengikuti latihan boxing setelah nya dokter?".
Mata dokter itu membesar sempurna, dia menatap Wina tanpa kedip seolah pertanyaan itu sangat horor untuknya.
" Maaf nyonya, anda tidak bisa melakukannya, itu akan membahayakan kaki anda kembali, saya khawatir kaki anda akan kembali sakit jika melakukannya ". Ucapnya dengan suara bergetar ketakutan.
Bisa mati dia jika sampai Wina kembali melakukan latihan boxing yang sangat dia tahu jika itu sangat keras dan fatal bagi kaki yang telah cedera dalam jarak waktu dekat
Wina tersenyum tipis, dia akan melakukannya nanti walau latihan itu tidak sekeras sebelumnya tanpa ada yang tahu.
"Apa tidak ada toleransi dokter? ". Tanyanya dengan pura-pura sedih.
"Jika anda ingin melakukannya nanti saja sekitar setahun atau dua tahun lagi nyonya, untuk saat ini itu tidak mungkin, anda akan membuat luka pada kaki anda semakin fatal".
Wina pura-pura mengangguk mengerti, dia tahu dokter ini sangat ketakutan mendengar apa yang dia katakan, dia yakin jika itu ada kaitannya dengan Alexander sehingga dokter itu begitu ketakutan.
"Besok akan di terapi dan diperiksa lagi nyonya, anda perlu melakukan gerakan yang telah saya ajarkan tadi kepada anda secara mandiri agar bisa cepat pulih".
Wina mengangguk pelan tanpa menjawab perkataan dokter itu, dia hanya memikirkan bagaimana dirinya secepatnya bisa sembuh total dan bisa membalas orang-orang yang selalu mencari gara-gara dengannya.
"Kalau begitu saya pamit nyonya, pastikan obat dan gerakan tadi anda perhatikan, itu untuk kesembuhan anda". Ucapnya memperingati dan keluar dari kamar itu.
Sedangkan keluarga Ahmad dan keluarga Hutama sedang terjadi keributan besar, mereka tidak menyangka jika Wina membalas mereka tanpa ampun.
Mereka kini tengah duduk diruang keluarga rumah utama untuk rapat darurat perusahaan mereka.
"Bagaimana Wina bisa tahu jika kita lah yang melakukan hal ini, bukankah kita sudah menyuruh mafia Jepang itu untuk melakukannya? ". Tanya Hutama dengan panik.
Perusahaan sedang mengalami gonjang-ganjing yang serius saat ini, entah bagaimana cara Wina melakukannya.
" Kakak yakin Wina yang melakukannya?, aku rasa Tuan Taici tidak mungkin melanggar janjinya kepada kita saat itu untuk merahasiakan identitas kita, lagian aku yakin Wina dan semua orang yang ada didalam pesawat itu pasti sudah mati". Ahmad mengusap wajahnya dengan kasar.
"Entahlah, aku yakin Wina yang melakukannya, kita bekerjasama dengan perusahaan nya selama ini untuk mencari keuntungan besar apalagi melalui orang dalam, tapi sekarang bahkan ada pemutusan semua akses kita kedalam perusahaan nya, hanya saja dia kan sudah mati, itulah yang aku bingungkan".
Dia memijit pelipisnya karena sangat pusing, keputusan mendadak ini membuat perusahaan mereka goyang, belum lagi entah bagaimana para investor tahu jika mereka bisa melakukan hal itu kepada Wina dan sahabat-sahabatnya sehingga mereka menarik semua saham mereka pada perusahaan nya.
"Atau jangan-jangan tuan Taici tahu jika orang yang dia berusaha singkirkan adalah Wina Aditama? ".